My Old Star

My Old Star
#59 Salah Memilih Lawan



"Nek kami pergi dulu!" Arfan bangkit dari tempat duduknya dan membawa Mentari ke luar dari rumah neneknya.


Mentari sedikit bingung dengan sikap Arfan terhadapnya namun dia tetap patuh, "Aku pamit dulu ya nek, lain kali aku akan ke sini lagi." Pamit Mentari kepada nenek karena tidak mungkin dia akan pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Mentari mengangguk kepada Mona saat melewati wanita itu karena merasa tidak enak, Mona yang melihat Arfan pergi merasa sangat kesal. Arfan selalu saja menghindarinya, dia selalu tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya apalagi sekarang ada Mentari yang selalu bersama Arfan yang membuat pergerakan Mona semakin terbatas.


"Aku juga akan pulang saja!" ucap Mona tiba-tiba.


"Kenapa harus pulang nak, ini masih pagi dan kamu juga baru saja sampai." Cegah kakek Mahmud yang masih ingin bersama anak perempuannya itu.


"Untuk apa aku di sini jika mereka tidak menghargaiku sama sekali!"


Nenek Wijaya yang jengah dengan drama yang Mona buat akhirnya memilih meninggalkan meja makan ketimbang harus mendengarkan Mona yang tidak pernah berubah.


"Jangan berkata begitu nak, bukankah kalian sudah saling mengenal. Seharusnya kalian akan semakin dekat karena ada bapak di sini."


"Bapak tolong sampaikan ke mereka bolehkan ya kalau aku sering main ke sini apalagi kalau ada Arfan, bapak jangan lupa mengabari aku." Ucap Mona manja kepada bapaknya.


"Tentu saja nak, bapak akan bilang ke mereka." Janji kakek Mahmud kepada Mona.


Orangtua itu tentu akan memenuhi keinginan Mona sebab dia tidak tahu apa-apa mengenai sepak terjang Mona selama ini. Ditambah mereka baru bertemu kembali sehingga membuat hatinya sangat mudah luluh.


Di perjalanan, Arfan tampak masih kesal dengan pikirannya sendiri. Dia memukul-mukul kemudi beberapa kali yang membuat Mentari sedikit bergidik ngeri.


"Kak sebaiknya kita berhenti dulu, kakak sepertinya sangat emosi." Mentari memberanikan diri untuk memberikan pendapatnya.


"Apakah kamu takut denganku?"


"Kak...," Mentari memegang lengan Arfan dan mengusapnya lembut agar Arfan bisa sedikit tenang.


Arfan menepikan mobilnya, bagaimanapun juga Mentari tidak tahu apa-apa jadi tidak pantas jika dia yang menjadi pelampiasan kemarahannya.


"Sekarang ceritakan kepadaku kak, apa yang sebenarnya kakak pikirkan!"


"Mentari apa harus ya Mona masuk ke dalam keluarga Wijaya?"


"Maksud kakak?"


Arfan menceritakan jika Mona adalah anak perempuan kakek Mahmud yang baru mereka ketahui, itu artinya mereka memiliki hubungan darah dan Arfan tidak suka akan hal itu.


"Kak memiliki saudara itu sebuah takdir, entah siapa saja mereka itu kita tidak bisa menolaknya."


"Aku tidak menyukainya sama sekali Mentari, kamu tahu kan bagaimana dia mengangguku selama ini?"


"Kak jika kamu tidak suka, lakukan saja cara seperti selama ini kamu menghindarinya meskipun sekarang status kalian adalah saudara."


"Apakah kamu tidak marah jika dia mungkin akan ada di sekelilingku, bukankah kamu tahu jika dia menyukaiku?"


"Selama aku memiliki hatimu, apakah aku harus takut hanya karena kehadiran Mona dalam kehidupan kita?"


Arfan langsung memeluk Mentari, ternyata pikiran Mentari sangatlah dewasa. Gadis itu bisa memilih dan menempatkan diri pada situasi-situasi tertentu.


"Terimakasih Mentariku!"


Mereka melanjutkan perjalanan menuju club, akhir pekan ini Arfan ingin mengajak Mentari menyaksikan pertandingan kualifikasi turnamen futsal nasional. Gadis itu sangat gembira ketika boleh membawa Siska turut serta.


Hari keberangkatan mereka ke luar kota pun tiba, Mentari dan Siska telah bersiap dengan tas ransel mereka.


Mentari menolak duduk di kursi VIP bersama Arfan dan Tomi, dia dan Siska memilih duduk di bangku penonton biasa untuk bisa menikmati pertandingan sekaligus menjadi suporter seperti penonton lainnya.


"Apakah tidak apa-apa jika kalian di bangku penonton biasa?" Tanya Arfan sebelum dia meninggalkan Mentari untuk duduk di kursi yang telah disediakan khusus untuknya.


"Tidak apa-apa kak, lebih seru di sini!"


"Baiklah tapi kalian harus hati-hati ya, jika ada apa-apa cepat kabari aku!"


Pertandingan dimulai, suara suporter dari kedua belah pihak saling bersautan silih berganti mendukung tim masing-masing.


Siska tampak ragu untuk menjawab, "Iy-iya boleh!"


Orang itu pun duduk dengan tenang tanpa membuka penutup kepalanya, "Mentari orang di sebelahku sepertinya mencurigakan, apa bisa kamu telfon pak Arfan?"


"Kita harus tenang Sis, kalau aku telfon kak Arfan sekarang akan menjadi heboh nantinya. Jadi kita cukup awasi saja gerak-geriknya."


Siska tersentak kaget ketika orang itu meraih tangannya, "Lepaskan aku, jika tidak mau aku teriak!" ancam Siska tetapi genggaman tangan orang itu malah semakin kencang.


Siska memberikan kode kepada Mentari, "Bagaimana ini, aku takut Mentari!"


"Tuan tolong lepaskan teman saya, ini di tempat umum. Jika anda tidak mau diamuk masa tolong jangan berbuat kurang ajar, bukankah tujuan kita ke sini untuk menonton jalannya pertandingan bukan untuk menganggu orang lain?!" Mentari mencoba memberikan provokasi kepada orang itu namun tetap tidak bergeming.


"Ayo kita teriak Sis, aku kasih aba-aba ya!"


"Satu... Dua... Tiiiiii...," belum selesai Mentari memberi aba-aba, orang itu membuka penutup kepalanya.


"Ini aku, kalian tidak perlu panik!" muncullah wajah Arman dari balik penutup kepala yang dia kenakan.


"Kak Arman!" ucap Siska kesal.


Mentari tertawa melihat ekspresi Siska yang terlihat antara senang dan panik, jika orang tadi bukan Arman tentu saja mereka sudah berteriak.


"Kenapa kakak bisa tahu jika kami ada di sini?"


"Tugas dari pak bos untuk menjaga bu bos!" jawab Arman.


"Jangan bilang kalau kalian bersekongkol?!"


"Tanyakan saja nanti pada pak bos!" jawab Arman santai.


Pertandingan pun usai dengan kemenangan di pihak Arfan, skor lima satu membuat club Arfan memenangkan pertandingan dan berhak melaju ke babak berikutnya.


Penonton satu persatu mulai meninggalkan area lapangan, Arfan menghampiri Mentari untuk pulang ke hotel karena esok kembali akan ada pertandingan jadi malam ini mereka tidak pulang dan memilih menginap di hotel agar bisa beristirahat lebih cepat.


"Bagaimana Man, apakah berhasil?" Tanya Arfan ketika bertemu dengan Arman.


"Kamu salah perhitungan Fan, bu bos ternyata seorang yang berani memberikan provokasi!"


"Aku mencium bau-bau persekongkolan di sini!"


Arfan tertawa melihat wajah Mentari yang tampak jengkel karena ulahnya, "Awas kalian ya, tunggu saja pembalasanku kak!"


"Ayo Sis kita pergi!" Mentari mengajak Siska meninggalkan Arfan dan Arman yang mencoba mengerjai mereka meskipun gagal total.


"Hei kalian mau kemana?"


Mentari dan Siska terus berjalan tanpa menengok lagi ke belakang, "Tuh kan Fan mereka ngambek!"


"Sudahlah, anak kecil kalau lapar pasti akan minta makan dan akan kembali lagi mencari kita!"


Kali ini ternyata perkiraan Arfan meleset, sudah malam sekali belum ada tanda-tanda Mentari dan Siska kembali ke hotel. Arfan mulai khawatir karena mereka tidak kunjung pulang, sedangkan ponsel mereka tidak aktif sepertinya mereka sengaja mematikan ponsel.


"Kenapa harus tidak aktif sih!"


"Bagaimana Fan, mereka sebenarnya kemana atau kita harus cari mereka sekarang?"


"Aku juga tidak tahu Man,"


"Ini semua gara-gara kamu Fan, siapa suruh mengerjai mereka jadi beginikan kejadiannya!"


"Idih kenapa jadi aku yang salah, kamu kali yang terlalu ekstrem mengerjai mereka jadinya mereka ngambek!"


"Kenapa jadi aku yang salah sih Fan, kita memang telah salah memilih lawan karena jatuhnya kita lagi yang malah dikerjai oleh mereka!"