
Keesokan paginya saat Mentari keluar dari rumah Pak Kades untuk pergi melanjutkan penelitiannya bersama teman-temannya, dia seolah melihat Arfan berada tidak jauh darinya. Mentari merasa tidak percaya jika Arfan ada di tempat dimana dia berada saat ini. Namun, dia juga tidak begitu yakin jika benar itu Arfan atau mungkin orang yang hanya kebetulan mirip saja dengan suaminya.
"Bukankah seharusnya Kak Arfan sedang mengantarkan anak-anak bertanding?" Batin Mentari yang merasa jika dia sedang berhalusinasi.
"Kamu kenapa Mentari?" Tanya Riko yang juga keluar dari dalam rumah.
"Tidak ada apa-apa Rik, sepertinya aku melihat seseorang yang sangat aku kenal tapi apakah mungkin karena seharusnya sekarang dia sedang berada di tempat lain."
"Siapa Mentari, bukankah tidak ada orang di sekitar sini?"
"Aku juga tidak tahu Rik, tapi sudahlah ayo sebaiknya kita segera berangkat saja!"
Mentari masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil Siska yang masih mengobrol dengan Arman sedangkan Riko menunggu Mentari di luar.
Arman akhirnya turut serta dengan yang lainnya. Ketika Mentari dan teman-temannya sedang sibuk melanjutkan penelitian mereka, Arman pamit untuk pergi karena dia juga melihat Arfan yang memanggilnya dengan menggunakan kode. Mereka sengaja bersembunyi agar tidak ketahuan.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang kemari Fan, bukankah seharusnya kamu berada di tempat pertandingan nasional?" Tanya Arman yang penasaran karena tidak tahu jika Arfan akan benar-benar datang setelah semalam meminta maps kepadanya.
"Ceritanya panjang Man, nanti aku ceritakan detailnya kepadamu tapi yang jelas aku merindukan istri dan anakku yang belum lahir makanya aku menyusul kalian kemari."
"Man perintahkan orang-orang Nenek untuk kembali ke Kota Z, karena orang-orang yang Mona kirimkan kabarnya sudah ditarik karena pekerjaan mereka tidak membuahkan hasil!"
"Apa kamu yakin Fan?"
"Iya Man, sekarang aku sudah ada disini tugas menjaga Mentari adalah tanggungjawabku, kasihan mereka jika terlalu lama di tempat ini."
"Baik Fan, akan aku temui mereka secara langsung karena tidak ada sinyal disini jadi akan susah jika menghubungi mereka."
"Cepat pergilah selagi masih pagi, katakan kepada mereka rasa terimakasihku dan akan ada bonus dariku untuk mereka."
"Apakah aku juga akan mendapatkan bonus juga darimu Fan seperti mereka?"
"Kerja dulu yang benar!" jawab Arfan sambil berlalu, dia ingin cepat bertemu dengan Mentari. Berada cukup dekat dengan Mentari membuat dirinya lebih bisa menahan mual yang hampir setiap pagi menderanya.
"Eehheeeemmm...," Arfan berdehem.
Mentari menoleh ke sumber suara yang rasanya tidak asing baginya, dia sangat terkejut melihat Arfan berdiri tidak jauh darinya sambil merentangkan tangan.
Mentari berlari ke tempat dimana saat ini Arfan berdiri, "Kak Arfan?" Mentari sangat bahagia atas kedatangan Arfan yang menyusulnya secara tiba-tiba.
Mereka berdua berpelukan sangat lama, rasanya rindu itu membuncah. Beberapa hari tidak bertemu membuat dua insan itu saling merindu.
"Pak Arfan?" Gumam Riko yang sangat mengenal Arfan sebagai dosennya di kampus ditambah Riko yang harus menyaksikan pemandangan itu merasa sesak di dadanya, apalagi dia harus menerima kenyataan jika Mentari mungkin saja adalah istri Arfan karena kabarnya Pak Arfan telah menikah beberapa waktu lalu dan tidak mungkin jika Mentari bukan istrinya mereka akan berpelukan seperti itu seperti orang yang sedang dimabuk cinta dan saling merindukan.
Kaki Riko terasa lemas, dia terjatuh ke tanah meratapi nasibnya karena harus menerima kenyataan jika gadis yang disukainya sejak pandangan pertama bukanlah gadis lajang yang bisa dia cintai dengan bebas.
"Kamu kenapa Rik?"
"Kamu tidak apa-apa kan Rik?" Tanya Siska khawatir karena Riko tiba-tiba terjatuh ke tanah.
"Aku baik-baik saja Sis, tapi hatiku yang sedang tidak baik-baik saja!"
Siska mulai paham maksud dari perkataan Riko kepadanya, kecurigaan Siska beberapa hari ini berarti terbukti karena dia mengamati sikap yang tak biasa dari Riko kepada Mentari.
"Sebaiknya kita kemasi barang-barang ini Rik, sebab tidak memungkinkan kita melanjutkan semua ini sekarang."
Siska mengemasi barang-barang yang sebenarnya belum lama mereka keluarkan, tapi melihat Mentari yang sepertinya masih ingin bersama suaminya jadi mereka harus menunda esok hari untuk melanjutkan semuanya.
"Ayo Mentari sebaiknya kita pulang saja, tidak enak dilihat warga, nanti ada tanggapan miring terhadap kalian!"
"Tapi bagaimana dengan rencana pengamatan hari ini?"
"Sebaiknya kita kembali lagi esok hari saja, nikmati waktu kalian dulu!" Siska memberikan usul kepada Mentari yang langsung disetujui olehnya.
Mentari memperkenalkan Riko kepada Arfan dan mengatakan jika Riko telah banyak membantunya selama berada di kampung halaman Riko.
"Pak Arfan mengenal saya?" Riko merasa heran karena selama ini dia bukanlah seorang mahasiswa yang famous di kampus dan dia juga tidak terlalu aktif saat berada di dalam kelas.
"Saya mengenal semua mahasiswa saya Rik," Arfan menepuk pundak Riko.
Setelah semua selesai berkemas, mereka menyusuri jalan setapak untuk kembali ke rumah dengan Siska berjalan di depan dengan Riko yang mengikutinya di belakang Siska. Mereka kini sudah sampai di rumah Pak Kades. Riko masuk ke dalam dengan hati masam.
"Loh Rik kenapa mukanya ditekuk begitu?"
"Aku tidak apa-apa Bu, hanya sedang sedih saja." Jawab Riko yang memang sedang sangat patah hati bahkan sebelum dia sempat mengungkapkan perasaannya kepada Mentari, namun hal ini justru Riko syukuri sebab jika dia sudah mengatakan perasaannya dia akan sangat malu karena mencintai istri dari dosennya sendiri.
"Siapa di luar Rik?" Tanya Ibunya yang mendengar ada suara laki-laki di depan.
"Pak Arfan Bu, dosen Riko di kampus!"
"Wah benarkah, kenapa tidak disuruh masuk?" Ibu Riko kemudian ke depan untuk mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.
Riko sendiri memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, menangis dalam diam. Terluka sebelum berkembang memang sangat menyakitkan. Terlebih jatuh cinta kepada istri orang lain akan sangat sulit untuk mewujudkannya apalagi mereka terlihat saling mencintai satu sama lain.
"Bu Riko kemana?" Tanya Siska yang tidak melihat Riko ada di meja makan untuk makan siang bersama mereka.
"Sejak kalian pulang tadi dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan belum keluar sampai sekarang."
"Biarkan saja dia, kalian teruskan makannya nanti pasti dia akan keluar sendiri kalau merasa lapar."
Mentari berpikir yang mungkin sama dengan Siska sebab ketika kemarin Arman datang, Riko tetap bersikap biasa saja tetapi berbeda ketika kedatangan Arfan kali ini, dia lebih terlihat murung. Mentari memandang Siska yang makan dengan tidak bersemangat.
"Bolehkah saya memanggil Riko ke kamarnya Bu?" Mentari memberanikan diri meminta izin kepada Ibu Riko.
"Silakan Nak!" jawab Ibu Riko mempersilakan.
Mentari menuju ke kamar Riko setelah meminta izin kepada Arfan yang juga mengizinkannya untuk melakukan hal itu, sebagai tamu tentu Arfan tidak ingin membuat kesan tidak baik kepada tuan rumah.
Tok... Tok... Tok...
Mentari mengetuk pintu kamar Riko dan tidak mendapatkan jawaban dari dalam.
"Rik ini aku Mentari, buka pintunya Rik aku mau berbicara!"
Riko yang mengetahui Mentari ada di depan pintu kamarnya kemudian menyahut, "Tidak usah perdulikan aku Mentari karena tidak ada yang perlu kita bicarakan."
"Rik kalau aku ada salah denganmu aku minta maaf, tapi tolong jangan seperti ini karena sama saja membuatku merasa bersalah."
"Aku tidak akan keluar, pergilah Mentari dan biarkan aku sendirian."
Mentari yang tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Riko akhirnya kembali ke meja makan dan memberitahukan kepada semuanya bahwa dia tidak berhasil membuat Riko keluar dari kamarnya.
Malam harinya usai Mentari merekap hasil pengamatannya yang tidak terlalu banyak hari ini, dia meminta izin kepada Arfan untuk keluar menemui Riko di taman karena dia melihat Riko keluar dan duduk di bangku taman.
"Hai Rik...," sapa Mentari yang kemudian duduk di sebelah Riko.
"Untuk apa kamu kemari Mentari, bukankah seharusnya kamu menemani Pak Arfan?"
"Kalau aku ingin disini bersamu bagaimana?"
"Kamu lihat Rik, bulan di atas sana begitu indah." Mentari mendongakkan kepalanya menunjuk bulan yang sedang bulat penuh.
Riko memandang Mentari yang tersenyum begitu menawan, Riko tiba-tiba memeluk Mentari dan pemandangan itu disaksikan oleh Arfan dari depan teras rumah Riko. Suami Mentari itu hanya bisa menarik nafasnya, dia percaya jika Mentari tidak mungkin menghianatinya.
Mentari terkejut dengan pelukan Riko kepadanya, tapi dia berusaha bersikap biasa saja.
"Kau tahu Mentari, kamu sama halnya dengan bulan di atas sana yang begitu indah tetapi tidak bisa untuk di jangkau!"
"Glek...," Mentari paham maksud perkataan Riko kepadanya.