My Old Star

My Old Star
#133 Menit Terakhir



Indra masih duduk di tempatnya, perasaan takut bercampur menjadi satu. Dia tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh cucu dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja saat ini.


"Tu-tuan bo-bolehkah saya pulang sekarang?" Tanya Indra dengan suara yang terdengar terbata dan bibir gemetar.


"Apakah ada yang menyuruhmu untuk pulang?" Jawab Arfan yang tetap fokus dengan laptop di depannya.


Indra kembali terdiam, namun sebenarnya dia sedang mencari cara untuk bisa kabur dari tempat itu. Di ruangan Paman Faisal memang hanya ada Arfan, Mentari dan Indra, teman-teman mereka yang lainnya menyebar untuk bisa membereskan gangguan di tempat lain.


Arfan mengangkat kepalanya, dia tersenyum miring ke arah Indra. Dia tahu jika Indra sedang merencanakan untuk kabur, Arfan sangat paham gelagat orang yang memang bersalah.


Arfan kembali fokus dengan laptopnya, sembari tetap waspada. Dia juga menyuruh Mentari tetap berada di sisinya karena tidak mau jika Indra berbuat hal yang tidak di inginkan terhadap istrinya itu.


Tidak berselang lama Mentari mengangkat kepalanya dan meregangkan otot-ototnya, "Akhirnya selesai juga." Gumamnya bahagia karena dia berhasil mengatasi satu masalah.


"Sekarang istirahatlah sayang!"


"Tapi Kak, ini masih ada yang harus dibereskan."


"Serahkan saja kepadaku!"


Indra semakin gugup, sebab kata yang diucapkan Mentari tadi diikuti oleh teman-teman mereka yang lain.


"Fan komputer di ruangan yang lain sudah pulih seluruhnya." Arman datang memberikan laporannya.


"Kerja bagus!" jawab Arfan dengan memberikan kode kepada Arman agar bisa menangani Indra.


"Kau ikut aku!" ucap Arman kepada Indra yang diikuti oleh Zaki.


"Aku ikut Kak!" Siska ingin ikut Arman keluar dari ruangan.


"Kau di sini saja Sis, temani Mentari." Jawab Arman yang di patuhi oleh Siska.


"Kalian bertiga istirahatlah sebab sebentar lagi fajar menjelang."


"Aku akan menemanimu Kak!" Mentari tidak tega membiarkan Arfan mengatasi masalahnya sendirian.


"Tidak Mentari, kau dan bayi kita butuh istirahat."


"Arfan benar Mentari, sebaiknya biarkan saja dia. Ayo kita beristirahat sekarang!" Marryana mengajak Mentari dan Siska masuk ke ruangan yang memang digunakan untuk beristirhat oleh Paman Faisal.


Selepas ketiganya pergi, Ilyas mendekati Arfan.


"Saya akan membantu Bapak mengatasi ini!"


"Baiklah aku serahkan kepadamu Yas, aku akan menyelesaikan yang lainnya."


Mereka berdua kembali fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing, kembali berbagi tugas agar masalah mereka cepat terselesaikan sebab waktu sudah sangat mepet.


Sementara itu, di ruangan lain Indra terduduk lemas di kursinya. Arman dan Zaki duduk menghadap ke arahnya, sorot mata mereka tajam memandang ke arah Indra yang semakin ketakutan.


"Katakan siapa yang menyuruhmu?!!" tanya Zaki kepada Indra.


"Ma-maksud Anda?"


"Apa aku harus menjelaskannya?"


"Saya tidak paham dengan maksud Anda Tuan!"


"Katakan siapa yang menyuruhmu!!!" ucap Zaki sekali lagi dengan suara yang di tinggikan satu oktaf.


"Kalau kamu tidak mengaku maka kami tidak akan segan melaporkanmu ke polisi dan kami bisa pastikan kamu tidak akan pernah bisa diterima di perusahaan manapun karena telah menjadi seorang penghianat!" Arman menambahi ucapan Zaki.


"Mengaku merupakan jalan yang terbaik bagi kamu, jadi silakan pilih. Karirmu hancur atau melindungi orang yang menyuruhmu itu!"


"Tolong jangan sakiti saya Tuan, anak-anak saya masih kecil."


"Kami tidak akan menyakiti kamu, asalkan kamu mau berbicara jujur. Jika tidak mau mengaku maka bukti rekaman CCTV ini yang akan berbicara dan kau pasti tahu, apa konsekuensi dari seorang penghianat. Coba pikirkan bagaimana perasaan istri dan anak-anak kamu di rumah jika mengetahui semua ini."


"Anda sudah bisa memulihkan fungsi CCTV itu dan berhasil memperoleh rekamannya?" Tanya Indra keceplosan sebab ketakutan telah menguasai dirinya, hal ini disambut dengan senyum miring oleh Arman dan Zaki.


"Kena kau!" batin Zaki.


"Cepat katakan kapada kami!"


Indra pada akhirnya menyerah dan memilih untuk menceritakan semua kronologisnya kepada Zaki dan Arman.


"Se-sebenarnya yang menyuruh saya untuk menghancurkan perusahaan ini adalah wanita bernama Mona, tapi kini wanita itu menghilang tanpa jejak."


"Kapan pertama kali kamu bertemu dengan wanita itu?"


"Beberapa bulan yang lalu Tuan, dia datang kepada saya di saat saya sedang mengalami musibah. Anak saya yang paling kecil masuk ke rumah sakit dan saya tidak memiliki biaya untuk itu, dia menawarkan bantuan kepada saya dengan syarat saya membantunya mengambil data-data penting perusahaan tempat saya bekerja dan perlahan memasukan virus ke semua komputer kantor agar perusahaan mengalami kerugian yang besar."


"Lalu apa kamu sadar, jika perusahaan tempat kamu dan teman-teman kamu bekerja mengalami kebangkrutan, maka sama saja kamu sedang menghancurkan dirimu dan teman-teman kamu sendiri?"


"Berapa banyak karyawan dan keluarganya yang akan mengalami kesulitan perekonomian?"


"Betul apa yang Zaki katakan, kau tahu perusahaan ini terbuka untuk siapa saja. Paman Faisal tidak akan pernah tega membiarkan karyawannya mengalami kesulitan, jadi jika kau memiliki masalah keuangan, jangan pernah segan untuk mengatakannya!"


"Saya mengaku salah Tuan, saya tidak berpikir jauh karena kekalutan saya."


"Kali ini kami akan memaafkanmu tapi dengan berat hati terpaksa kami tidak bisa memperkerjakanmu lagi di tempat ini kecuali kamu mau menjadi saksi atas kejadian ini!" Arman berusaha menekan Indra agar dia semakin terpojok.


"Saya sanggup Tuan, kapanpun Anda membutuhkan saya untuk menjadi saksi maka saya bersedia asalkan saya tidak diberhentikan dari perusahaan ini, saya butuh pekerjaan ini demi anak dan istri saya di rumah."


"Kalau begitu tanda tangani ini!" Zaki memberikan surat pernyataan bermaterai kepada Indra.


Tanpa pikir panjang Indra langsung menandatangani surat pernyataan itu setelah membaca isinya.


"Kalau begitu sekarang ikut kami membereskan masalah yang terakhir, karena kau yang membuatnya tentu kau tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya."


Zaki dan Arman membawa Indra ke ruangan Paman Faisal kembali, disana Arfan masih sibuk mengutak-atik program yang masih bermasalah. Arfan memang menekuni bidang olahraga namun dia tidak berhenti untuk belajar teknologi dan bisnis sehingga dia mahir dalam hal ini.


"Fan sekarang serahkan kepada Indra untuk mengatasinya!" Zaki menyuruh Indra untuk duduk di kursi menggantikan Arfan.


"Tapi bagaimana Za, waktunya sudah terlalu mepet."


"Kau istirahatlah sejenak kawan, giliran Indra yang harus bisa mengatasinya, dia yang berbuat dia pula yang harus bertanggungjawab!"


Arfan akhirnya menyerahkan semuanya kepada Indra dengan Zaki dan Arman yang mengawasi. Tidak sampai sepuluh menit Indra sudah menyelesaikan semuanya menjelang satu menit terakhir kehancuran perusahaan milik keluarga Wijaya.


"Apakah dia berhasil?" Tanya Arfan yang tadi sempat mengatupkan matanya sejenak.


"Kau tenanglah, perusahaan Nenekmu berhasil diselamatkan!" Zaki menepuk pundak Arfan, dia tahu beban di pundak Arfan begitu besar sehingga pantas saja dia lebih tegang dibandingkan yang lainnya.


"Benarkah?" Tanya Arfan tidak percaya yang kemudian mengecek bursa saham pagi ini dan benar saja saham perusahaan Nenek masih berada di level yang cukup aman bahkan berpotensi naik.


Arfan memeluk Zaki dan Arman secara bergantian, "Terimakasih karena kalian sudah membantuku menyelamatkan perusahaan Nenek."


"Jangan sungkan Fan, bukankah kita keluarga?"


Arfan tersenyum bahagia, "Lalu apa yang harus aku lakukan kepadanya?" Tanya Arfan menatap Indra.


"Kau tanya kepadaku Fan?"


"Bukankah kau bosnya?" Jawab Arman dengan nada bercanda.


Arfan mendekati Indra, "Pak Indra saya selaku cucu dari pemilik perusahaan ini mengucapkan terimakasih karena Anda telah membantu saya menyelamatkan perusahaan, meskipun pada dasarnya Anda yang membuat kekacauan ini tapi sebagai manusia saya memaafkanmu dan sebagai gantinya kau tetap boleh bekerja di perusahaan dengan catatan jika mengulangi perbuatan Anda kembali maka resikonya akan jauh lebih besar." Ucap Arfan lemah lembut di sisa-sisa tenaganya yang tersisa.


"Benarkah Anda memaafkan saya Tuan?"


"Iya atas nama Nenek, saya memaafkan Anda!"


"Terimakasih Tuan, atas kemurahan hati Tuan kepada saya. Sungguh saya menyesal telah berbuat jahat kepada Anda dan perusahaan ini. Sekali lagi saya minta maaf Tuan."


"Iya Pak Indra, Anda boleh pulang sekarang dan kembalilah bekerja esok hari karena hari ini saya akan meliburkan semua karyawan."


"Terimakasih Tuan, kalau begitu saya permisi." Indra memohon pamit kepada semuanya.


"Satu lagi Pak Indra, jangan sungkan untuk berkata jujur kepada pimpinan perusahaan jika Anda memiliki kesulitan keuangan, asalkan Anda bertanggungjawab tentu kami akan membantu mengatasi masalah Anda."


"Terimakasih Tuan, saya akan selalu mengingat kebaikan Tuan."


Indrapun berlalu meninggalkan ruangan Paman Faisal dan berlalu meninggalkan perusahaan. Indra bernafas lega, setelah kejahatan yang dia lakukan namun nyatanya masih ada orang baik yang mau memberinya maaf.


"Fan kau melepaskannya begitu saja?" Tanya Arman kepada Arfan yang masih duduk di atas sajadah mengucapkan syukur kepada Dzat yang maha memberikan kemudahan bagi dirinya.


"Apa kau tahu teladan Nabi kita itu sungguh luar biasa kawan, tidak semua kejahatan itu harus dibalas dengan kehatan pula bukan?"


"Wah pak ustadz yang satu ini memang tidak ada lawan." Zaki berseloroh merasa bangga dengan Arfan yang semakin berpikir dewasa dalam menghadapi setiap masalah.


"Oh ya Fan, bolehkah kami membawa bidadari-bidadari kami untuk pulang?"


"Tentu saja, kalian tahu bukan dimana pintu kalian bisa menjemput mereka?"


Arman dan Zaki membawa Siska dan Marryana yang masih terlihat sangat mengantuk.


Setelah kepergian sahabat-sahabatnya, Arfan berbaring di dekat Mentari yang terlelap dengan sangat damai.


"Sis apakah ini sudah subuh?" Tanya Mentari dengan mata masih terpejam.


"Tentu saja sudah dan kau hampir terlambat untuk sholat subuh sayang!"


Jawaban Arfan sontak membuat mata ngantuk Mentari terbuka lebar. Dia turun dari atas tempat tidur dan buru-buru mengambil air wudlu.


"Pelan-pelan sayang, ingat ada anak kita di dalam perutmu!" Arfan memperingatkan istrinya yang entah di dengar oleh Mentari atau tidak.


Arfan merebahkan tubuhnya kembali dengan kedua tangan yang dia jadikan sebagai bantalan, Arfan menatap langit-langit.


"Apakah ini saatnya aku harus masuk ke perusahaan Nenek?"