
Arfan dan Mentari tiba di depan rumah sakit, mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Paman Faisal dan Nenek.
Setelah menanyakan dimana Paman Faisal saat ini dirawat, mereka bergegas menuju ke kamar rawat Paman Faisal.
Arfan mengetuk pintu dan masuk ke dalam dengan diikuti oleh Mentari.
Arfan memeluk Paman Faisal yang masih terlihat pucat. Sedangkan Mentari menyalami Nenek Wijaya dan Kakek Mahmud bergantian.
"Bagaimana keadaan Paman?" Tanya Arfan kepada Paman Faisal.
Paman Faisal tersenyum, "Terimakasih Fan, kau sudah membantu Paman menyelamatkan perusahaan." Jawab Paman Faisal yang justru tidak menjawab pertanyaan Arfan.
"Paman jangan khawatirkan itu karena aku pasti akan menjaganya dengan baik, justru aku yang seharusnya berterimakasih kepada Paman karena selama ini Paman sudah melakukan yang terbaik hingga perusahaan bisa maju seperti sekarang ini."
"Paman bahagia jika bisa menjaga amanah dengan baik Fan, tapi sepertinya Paman sudah saatnya beristirahat. Paman sudah terlalu lelah Fan."
"Jangan berbicara seperti itu Paman, perusahaan masih sangat membutuhkan Paman."
"Paman ingin menghabiskan masa tua paman dengan tenang bersama istri, anak-anak dan cucu Paman Fan. Paman juga sudah berbicara pada Nenekmu dan beliau setuju soal ini."
Arfan memandang ke arah Neneknya, dia sangat paham situasi yang ada saat ini.
"Baik Paman, aku mengerti."
"Saat ini yang terpenting buat Paman adalah sembuh dulu, jadi jangan pikirkan hal lain ya." Sambung Arfan untuk membesarkan hati Pamannya itu.
"Terimakasih Fan, kamu memang anak yang baik. Paman bangga kepadamu yang mampu mengatasi banyak masalah tanpa mengeluh."
"Paman terlalu berlebihan, justru aku yang bangga pada Paman sebab selama ini Pamanlah yang secara tidak langsung sudah banyak memberikan banyak pelajaran kepadaku."
Nenek mendekati Paman Faisal dan Arfan, "Faisal sebaiknya kau istirahat jangan terus meladeni Arfan, kamu harus segera sembuh dan kau Fan sebaiknya jangan terus-terusan mengajak Pamanmu berbicara karena dia butuh istirahat yang cukup, kalau terus diajak ngobrol kapan dia bisa beritirahat."
Arfan tidak menjawab Neneknya, "Paman aku pamit dulu ya, banyak-banyaklah beristirahat. Semoga Paman cepat sembuh dan kembali beraktifitas." Arfan memeluk Paman Faisal sekali lagi sebelum pergi.
"Terimakasih Fan, kami semua menyayangimu jadi lakukan yang terbaik untuk dirimu Fan."
"Akan aku ingat pesan Paman."
Arfan mengajak Mentari untuk keluar dari ruang rawat Paman Faisal setelah gadis itu juga menyapa Paman Faisal dan berdo'a untuk kesembuhan beliau.
Nenek Wijaya juga ikut keluar untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu, "Fan sebaiknya kalian langsung pulang ke rumah Nenek karena ada yang mau Nenek bicarakan denganmu."
"Apakah Nenek juga akan segera pulang?"
"Nenek sebentar lagi pulang, Nenek hanya sedang menunggu salah satu dari keluarga Faisal datang untuk menjaganya."
"Nenek rasa mereka sebentar lagi sampai kemari karena tadi mereka sedang dalam perjalanan."
"Baiklah Nek, kami akan menunggu Nenek di rumah."
"Baguslah, kalau begitu cepatlah kalian pulang. Mentari juga butuh untuk beristirahat."
Arfan dan Mentari meninggalkan Neneknya, mereka sangat lega setelah melihat Paman Faisal yang semakin membaik. Kini yang sedang Arfan pikirkan adalah dia harus segera bisa memutuskan mana yang terbaik bagi dirinya ke depan.
"Kak sepertinya kau butuh beristirahat, lihat matamu sudah hitam begitu." Ucap Mentari saat mereka sampai di parkiran.
"Benarkah?"
"Apakah aku menjadi terlihat jelek?"
Mentari tertawa melihat tingkah suaminya itu, "Kakak lucu sekali!"
"Sudahlah...yuk Kak, kita segera ke rumah Nenek." Mentari masuk ke dalam mobil dan duduk dengan anteng, perutnya yang sudah membuncit membuat pergerakannya sedikit terhambat.
"Sepertinya aku butuh di servis malam ini sayang," Arfan menggoda istrinya.
"Yang benar saja Kak, dengan perut seperti ini?"
"Justru kamu terlihat semakin menarik dengan perut seperti itu."
"Ihhhh...Kakak!!!"
Mentari menggelitiki Arfan yang sudah membuatnya panas dingin membayangkan bagaimana cara mereka melakukannya dengan kondisi perut yang sudah besar seperti itu, Mentari sebenarnya merasa kasihan dengan Arfan, selama Mentari hamil mereka sangat jarang bisa bersama menikmati hari berdua sebab mereka sama-sama disibukkan dengan aktivitas masing-masing.
"Ampun... Ampun Mentari sayang," Arfan yang tidak bisa lepas dari gelitikan Mentari meminta ampun agar istrinya itu menghentikan kejahilannya.
Mentari melepaskan Arfan setelah merasa puas dia bisa mengerjai suaminya.
"Makanya jangan berbicara sembarangan Kak, sungguh aku sangat malu." Muka Mentari masih terlihat memerah.
"Maafkan aku sayang, aku tidak akan lagi-lagi seperti itu."
Cup....
Arfan mendaratkan bibirya ke bibir Mentari secara tiba-tiba.
"Begini saja cukup kok sayang," Arfan tersenyum memandang Mentari lekat.
Mentari mematung mendapatkan sentuhan lembut bibir Arfan.
Arfan sendiri menyetater mobilnya dan melaju ke rumah Nenek.
"Aku akan membersihkan diri dulu, Kakak istirahatlah nanti aku bangunkan."
Mentari mengambil handuk di dalam lemari dan juga baju ganti, dia memilih yang cukup besar agar muat di badannya.
Arfan membaringkan tubuhnya di ranjang yang terasa dingin karena sudah lama tidak dia tempati, memandang langit-langit kamarnya. Menghitung baik buruk atas pilihan yang akan dia ambil. Dua-duanya sama-sama penting, bahkan menguasai kehidupannya. Namun, kali ini Arfan haruslah fokus pada salah satu agar berjalan dengan baik dan tentu saja dia harus mempercayakan yang satunya kepada orang yang benar-benar dia percaya.
Jika melihat kondisi Paman Faisal, tidak memungkinkan jika dirinya harus menunda untuk masuk ke perusahaan, tapi bagaimana dengan anak-anak yang masih sangat membutuhkan keberadaannya di club?
Mentari keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar, dia melihat Arfan yang tampak sedang berpikir sangat keras. Mentari tahu jika suaminya sedang bimbang.
"Kak bersihkan tubuh Kakak dulu ya, biar lebih nyaman." Mentari berbisik di telinga Arfan yang membuat laki-laki itu berbalik ke arahnya dan tersenyum.
"Ikut apa kata Nyonya Arfan saja," Arfan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Mentari tiba-tiba merasa lapar karena memang belum makan lagi setelah sarapan yang kesiangan sebelum mereka pergi ke rumah sakit.
Mentari menuruni tangga menuju ke dapur, dia ingin memakan buah. Saat Mentari sedang memotong-motong buah untuk dijadikan salad, dia mendengar suara ribut-ribut di depan rumah Nenek.
"Ada apa di depan Mbok, kenapa sepertinya ribut sekali?"
"Biar Mbok lihat sebentar ya Non,"
"Tidak usah Mbok, biar aku saja. Minta tolong teruskan memotong buahnya ya Mbok?"
"Baik Non."
Mentari keluar ke halaman melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak Satpam ada apa?"
"Ini Non, ada Ibu-ibu yang memaksa masuk. Dia ingin bertemu Tuan Mahmud. Saya sudah mengatakan jika Tuan Mahmud sedang tidak ada di rumah tapi wanita ini tetap tidak percaya dan memaksa masuk."
"Tante maafkan kami, tapi benar apa yang Pak Satpam sampaikan. Saat ini Kakek Mahmud sedang tidak ada di rumah, mungkin sebentar lagi akan kembali. Apa mau menunggu di dalam saja, nanti saya coba hubungi Kakek agar bisa segera pulang." Mentari mencoba menenangkan wanita yang tidak dikenalnya itu.
"Memangnya kau siapa hah?"
"Saya Mentari, saya istri dari cucu Nenek Wijaya. Kebetulan kami sedang mampir kesini."
"Kau istrinya Arfan?"
"Benar sekali Tante, saya istrinya Kak Arfan."
"Berarti kau yang sudah merebut Arfan dari anakku, dan ini pasti calon bayi kalian bukan?"
"Iya benar Tante, bayi ini calon anak kami."
"Dasar kau gadis tidak tahu diri!" Wanita itu mendorong tubuh Mentari secara tiba-tiba, beruntung Arfan datang di saat yang tepat dan menangkap tubuh istrinya yang hampir tersungkur ke tanah.
"Apa-apaan Tante ini hah?!!"
"Tante ingin anak dan istriku celaka?"
"Kau pasti pemuda bernama Arfan bukan?"
"Iya benar, apakah kita saling mengenal sebelumnya?"
"Kau pasti mengenal Mona bukan, jika bukan karena kalian. Anakku itu pasti tidak akan masuk penjara!"
"Tante itu bukan salah kami, Mona sendiri yang membuat dirinya seperti itu hingga dia harus menanggung akibat dari apa yang sudah diperbuatnya."
"Kau Fan, kenapa sih susah sekali sepertinya untuk kamu menerima Mona hingga dia nekat melakukan banyak cara demi mendapatkanmu."
"Tante cinta itu tidak bisa dipaksakan, jodoh juga sudah digariskan didalam takdir masing-masing."
"Aku tetap tidak bisa terima!"
"Kau harus menerimanya, karena dengan begitu maka hidupmu akan jauh lebih tenang." Ucap Kakek Mahmud yang baru turun dari mobil bersama Nenek Wijaya.
"Mahmud akhirnya kau datang juga."
"Ada perlu apa kau kemari?!"
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, aku mohon terimalah aku kembali. Setelah Mona masuk ke dalam penjara, aku sebatang kara Mahmud."
"Aku mohon terimalah aku kembali!"
"Maafkan aku, karena semuanya sudah terlambat." Jawab Kakek Mahmud tanpa memandang wajah Ibu dari Mona yang ternyata bukanlah putri kandungnya.
"Pak Satpam, tolong suruh wanita itu pergi dari sini!" perintah Kakek Mahmud kepada Pak Satpam sembari melangkah masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh yang lainnya.
Wanita itu berteriak-teriak, namun tidak ada yang memperdulikannya. Sudah cukup bagi mereka memberikan kesempatan kepada Mona dan Ibunya. Kini pintu yang dulu terbuka lebar, perlahan mulai tertutup karena ulah mereka sendiri.
"Kak...," Mentari mendongak memandang ke arah Arfan yang berjalan di sampingnya. Tatapannya penuh arti seolah meminta tolong kepada suaminya karena rasa iba terhadap Ibu Mona itu.
"Kita bisa ambil pelajaran dari kejadian hari ini sayang, kuatkan hatimu sebab tidak selamanya orang yang kita anggap baik akan berlaku sama dengan apa yang sudah kita lakukan. Kamu harus belajar bersikap masa bodoh atas orang yang tidak bisa menghargai apa yang sudah kita lakukan untuknya.
Mentari mengangguk mengerti, mereka terus masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintu depan sebagai pertanda jika mereka sudah tidak bisa memberikan kesempatan lagi untuk Mona dan Ibunya.