My Old Star

My Old Star
#15 Perubahan Sikap Mona



Tengah malam Mentari baru bisa terlelap, berada jauh dari tempatnya yang seharusnya membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa meskipun hatinya merasa kurang nyaman, disaat begini biasanya dia akan bercerita dengan Siska, menumpahkan semua keluh kesahnya. Namun, kini dia hanya bisa menatap langit-langit dan menarik nafas agar bisa sedikit lega. Terlalu banyak pertanyaan dalam otak Mentari tentang Mona dan apa hubungannya dengan Arfan.


Pagi-pagi sekali Arfan mengetuk kamar Mentari, "iya sebentar," sahut Mentari dari dalam dengan rambut yang masih basah karena Mentari baru menyelesaikan mandi paginya dan sedang mengeringkan rambutnya.


"Kak Arfan, ada apa Kak?"


"Ayo kita pergi jalan-jalan ke depan!" ajak Arfan di ambang pintu.


"Bukannya hari ini ada latihan full dari pagi?" tanya Mentari heran.


"Cuma jalan sebentar ke depan, kamu pasti suka!"


Arfan menarik tangan Mentari setelah gadis itu merapikan dirinya dan membawanya jalan-jalan di sekitaran hotel. Mereka ke arah selatan, melihat lebih dekat aliran sungai Serayu yang akan bermuara di bendungan Panglima Besar Jendral Soedirman atau biasa disebut dengan waduk Merica, yang merupakan salah satu sumber pembangkit listrik tenaga air di Kabupaten Banjarnegara.


"Bagaimana apakah kau suka?"


"Sangat suka, udaranya sangat bersih, syegerrr...," Mentari tersenyum manis, rasa jengkelnya semalam seolah terobati dengan pemandangan yang membuat hatinya sejuk.


"Kalau ada waktu, sebelum pulang akan aku ajak kamu ke Dieng," janji Arfan.


"Jauhkah dari sini?"


"Dua jam perjalanan,"


"Ayo kita ambil foto disana!" tunjuk Arfan pada patung Liberty tiruan yang ada ditaman itu.


Selain patung Liberty, mereka juga berfoto di patung Merlion simbol negara Singapura, Kincir Angin Belanda dan terakhir berkunjung ke tiruan Ka'bah Arab Saudi. Berjalan-jalan disini seolah sedang berkeliling ke beberapa negara, meskipun itu hanya simbol negaranya saja.


"Apakah kau senang?" tanya Arfan ketika mereka berdiri di pagar pembatas tepi sungai Serayu.


"Sangat senang Kak, terimakasih karena kau selalu membuatku bahagia."


"Mentari kecil, aku memang tidak bisa menjajikan apapun terhadapmu tapi percayalah jika hati ini hanya akan terisi namanu sekarang dan sampai kapanpun," Arfan mengacak rambut Mentari, membawa gadis itu ke pelukannya.


Arfan melihat sosok Zaky dari kejauhan sedang bersama Tomi, mereka tampak sedang mengobrol serius terlihat dari wajah keduanya yang tegang.


"Putramu sudah besar sekarang, dia aman bersama ibunya jadi aku mohon jangan pernah usik kehidupan mereka lagi setelah kau membuangnya!" ucap Tomi kepada Zaky.


"Dia darah dagingku, sedangkan kau hanya Ayah sambungnya saja. Kau tidak memiliki hak untuk melarangku bertemu dengannya!" ucap Zaky tak kalah sengit.


"Ayah...kau bilang ayah hah?! Tomi mencekal kerah kemeja Zaky.


"Apa kau tahu bagaimana menderitanya Sania saat kau membuangnya, mengacuhkannya hingga anaknya harus lahir tanpa sosok Ayah!"


"Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya,"


"Silahkan saja jika Sania dan Steven mau menerima seorang Zaky yang egois, demi karir kau membuang mereka!" Tomi menutup wajah dengan telapak tangannya.


Disaat itulah Arfan dan Mentari sampai di tempat mereka yang sedang bertengkar hebat. Mentari mengekori Arfan, dia memang tidak tahu apapun tentang permasalahan yang terjadi, namun tidak dengan Arfan yang tahu betul bagaimana titik permasalahan mereka yang tidak lepas dari kenangan buruknya sepuluh tahun yang lalu.


"Ada apa ini Tom?"


"Tanya saja pada manusia egois itu!" Tomi berjalan meninggalkan semuanya, Arfan mengejar Tomi dan membiarkan Zaky seorang diri.


"Kak Zaky mohon maaf Tari duluan ya Kak," pamit sopan Mentari kemudian mengejar langkah Arfan dan Tomi.


Mereka memasuki loby hotel, Tomi terduduk di sebuah kursi.


"Tom...apa kau baik-baik saja? Ini minum dulu!" Arfan menyerahkan sebotol air mineral agar Tomi sedikit lebih tenang setelah meminumnya. Arfan mengambil tempat duduk di sebelah Tomi.


Arfan memberikan kode kepada Mentari agar ikut duduk bersama mereka.


"Maafkan aku Fan, aku tidak bisa bersikap profesional kali ini."


"Tidak usah dipikirkan Tom, aku tahu kamu pasti sangat sakit menerima kenyataan pahit ini."


"Aku tidak mau dia membawa Sania dan Steven dari hidupku, dia tidak boleh mengambil mereka." Tomi mengacak rambutnya frustasi.


"Pertahankan mereka sebisamu Tom, namun jangan pernah halangi Steven untuk tahu siapa Ayah kandungnya!"


"Sudah saatnya kita latihan, ayo kita ke lapangan!" ajak Arfan kepada Tomi.


"Mengenai kejadian ini, akan aku ceritakan nanti. Aku pergi dulu ya," Arfan mengacak rambut Mentari pelan sebelum meninggalkannya ke lapangan futsal.


Mentari mengangguk kemudian pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, Mentari keluar dari kamar untuk berjalan-jalan di luar. Dia berniat untuk menonton bioskop yang berada tidak jauh dari hotel. Langkah kecilnya terhenti karena Mona tiba-tiba muncul di depannya dengan senyum yang mengembang ramah.


'Tidak biasanya Kak Mona seperti ini,' pikir Mentari sebab perubahan sikap Mona yang terasa ganjil dibenaknya.


"Hai Mentari kau mau kemana?"


"Aku mau berjalan-jalan ke depan Kak,"


"Ayo ikut Kakak," Mona tersenyum licik.


"Aku main sendiri saja Kak, nanti merepotkan kalau Kakak harus menemaniku," tolak Mentari halus.


"Aku mau traktir kamu, bagaimana?"


"Ayo ikut saja, tidak perlu ragu begitu." Mona memaksa Mentari ikut dengannya. Mentari sebenarnya mau memberitahukan hal ini kepada Arfan, hanya saja dia tidak mau mengganggu pikiran Arfan apalagi jika tahu dirinya pergi bersama Mona.


"Kita nonton dulu ya, setelah itu kita cari makan!"


Seperti rencana Mentari di awal, dia memang mau menonton bioskop hanya saja kenapa sekarang harus bersama Mona. Tidak ada hal yang mencurigakan dari diri Mona selama menonton bioskop, dia bersikap sangat ramah dan sangat baik. Mona banyak bercerita tentang dirinya hingga seperti sekarang, termasuk awal mulanya bertemu dengan Arfan.


Kini mereka sudah berada di sebuah saung untuk makan siang, suasana disini cukup asri banyak pepohonan dan juga kolam ikan dengan ikan berwarna warni. Mona memesankan banyak makanan untuk Mentari dan dirinya sendiri.


"Kak kenapa banyak sekali?"


"Tidak apa-apa anggap saja aku sedang berbaik hati kepadamu, ayo makanlah!"


Mona kembali menyinggung soal Arfan saat mereka sedang menyantap makanan.


"Mentari kapan kamu bertemu dengan Arfan?"


"Belum lama ini Kak, bertemu tidak sengaja di toko buku, setelah itu selalu saja bertemu." Jawab jujur Mentari.


"Apakah kau menyukainya?"


"Tentu saja aku menyukainya Kak, dia pemuda yang sangat baik."


"Apa orangtua kalian merestuinya? Bukankah usia kalian terpaut cukup jauh?"


"Nenek Wijaya sangat sayang kepadaku Kak,"


"Lalu bagaimana dengan orangtuamu?"


"Mereka pasti akan mendukung apapun yang akan menjadi keputusanku Kak," Mentari menjawab setiap pertanyaan Mona dengan polos, karena begitulah Mentari selalu apa adanya.


"Apakah kau tahu jika Arfan memiliki kekasih lain?" ucap Mona memprovokasi.


"Siapa sih yang tidak kenal Arfan, seorang mantan atlit dengan prestasi yang bagus, tampan pula," sambung Mona.


Mentari menggeleng, "Aku tidak tahu kalau hal itu Kak,"


"Fix Arfan sudah membohongimu,"


"Siapa kekasih Kak Arfan yang lain Kak?" tanya Mentari ingin tahu, meskipun ada keraguan dalam dirinya mengenai hal ini. Arfan yang dia kenal bukan tipe orang yang suka mempermainkan hati wanita.


"Aku Mentari," tunjuk Mona pada dirinya sendiri.


"Lalu kenapa Kak Arfan cuek saja kepadamu dan kenapa Kak Mona malah baik kepadaku?"


Mona tertawa, "Kamu tahu menjadi kekasih Arfan itu harus pandai membawa diri, seperti layangan sesekali ditarik sesekali diulur agar tidak terputus, begitu pula sikapku kepadamu jika aku tidak bersikap baik tentu saja Arfan akan marah kepadaku."


Mentari yang cerdas tentu saja paham akan hal itu, hatinya mencelos saat ini. 'Apakah benar Kak Arfan membohongiku?' hatinya berdecak tak karuan, namun Mentari berusaha agar tetap tenang.


Disisi lain Arfan resah karena tidak menemukan keberadaan Mentari, dia sudah mengecek di beberapa tempat namun tidak menemukan Mentari kecilnya. Dia teringat jika ponsel Mentari telah terkoneksi dengan ponselnya, segera saja dia mengecek keberadaan Mentari saat ini.


'Kenapa pergi cukup jauh dia tidak mengabariku?' Arfan mengernyitkan dahinya sendiri.


Arfan bergegas menuju ke tempat dimana sekarang Mentari berada, rasa khawatir hinggap pada diri Arfan mengingat Mentari tidak mengenal betul kota ini, khawatir Mentari sedang bersama orang yang salah dan akan mencelakainya.