
Zaki baru keluar dari kamar Steven setelah memandikan anak itu dan bermain sebentar dengannya. Dia harus kembali ke club pagi ini karena keluarga Marryana akan kembali ke luar negeri hari ini, mereka berencana mampir ke club terlebih dahulu sebelum pergi.
Zaki merasa tidak enak hati jika di saat keluarga pemilik club tiba dirinya tidak ada di tempat sedangkan Marryana sudah mengabarinya.
"Za kamu disini?" Tomi menepuk pundak Zaki dan duduk menghadap ke arahnya.
"Iya Tom, sebenarnya aku harus kembali ke club pagi ini. Keluarga bosku akan datang, tapi aku khawatir Steven akan mencariku nanti."
"Steven hari ini masuk sekolah Za, kamu bisa menjemputnya lagi nanti sepulang dari sekolah."
"Kenapa aku jadi lupa kalau hari ini dia ke sekolah, apa karena aku sudah tua?"
"Bukan karena sudah tua Za, tapi kamu terlalu lama menyendiri."
"Aku belum menemukan yang benar-benar cocok Tom."
"Marryana?" Tanya Tomi.
"Apa pantas jika aku bersamanya Tom, dia anak pemilik club."
"Apa kamu minder gara-gara Papinya Marryana melamar Arfan?"
"Kalau itu hanya setingan Tom, aku tahu itu."
"Lha terus apa lagi dong masalahnya Za, gas Za keburu diambil orang lain!" Tomi menertawakan Zaki sekaligus menertawakan dirinya sendiri, dulu dia sangat mencintai Sania namun wanita itu lebih memilih Zaki yang pada akhirnya cinta mereka harus berakhir karena Zaki tidak mau bertanggungjawab atas anak yang Sania kandung dan saat itulah dirinya berusaha mendapatkan cinta Mama dari Steven itu bahkan di bawah tentangan kedua orangtuanya.
Tomi memang pada akhirnya berhasil mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, Sania bisa bersamanya meskipun cinta Sania untuknya sangat lambat untuk tumbuh tetapi ketulusan Tomi menerima kondisi Sania apa adanya pada akhirnya meneguhkan hati Sania untuk tetap berada di sisinya hingga sekarang.
Kini mereka sudah bisa berdamai dengan keadaan, saling memaafkan dan mencoba hidup saling berdampingan satu sama lain demi tumbuh kembang Steven.
"Tom kamu melamun?" Zaki menggoyang-goyangkan tangannya di depan Tomi.
"Emmm... A-aku...," Tomi gelagapan.
"Kamu kenapa Tom?"
"Aku hanya sedang memikirkan masa lalu kita dulu Za, gelora anak muda. Tangis, canda, tawa hingga permusuhan kita bertahun-tahun. Aku merasa konyol sendiri kenapa aku bisa sangat membencimu Za. Tapi kini aku sadar kamu sudah berubah jauh lebih baik."
Zaki menarik nafasnya kemudian tersenyum, "Aku juga sangat menyesal Tom, aku sudah berbuat tidak baik kepada Sania. Wajar jika kamu membenciku Tom karena aku tahu kamu mencintai Sania sejak dulu saat Sania masih bersamaku. Maafkan aku Tom, aku telah merusak jodohmu."
"Sudahlah Za, sebaiknya kita pikirkan masa depan kita saja. Steven adalah tanggungjawab kita bersama, jika suatu saat nanti kamu menikah dengan Marryana maka tetaplah sayangi anak itu."
"Kamu bicara apa sih Tom, aku akan tetap menyayangi dan menjaga anak itu meskipun aku telah menikah. Tapi aku belum terpikirkan untuk menikah Tom, apalagi dengan Marryana. Rasanya aku takut wanita itu tidak bisa menerima keadaan dan masa laluku."
"Apapun itu aku akan mendukungmu Za selama kamu tidak berbuat tidak baik kepada orang lain."
"Terimakasih Tom, tapi ingat kita rival di lapangan!" Zaki tertawa.
"Hanya di lapangan kan?" Tanya Tomi.
"Siapa takut Za, kita bukan musuh di luar lapangan!" sambung Tomi.
Mereka berdua berpelukan, ternyata setelah berbicara berdua saja hati mereka jauh lebih tenang dan saling menerima satu sama lain.
Kini saatnya mereka fokus pada pertandingan, membuang jauh-jauh sengketa pribadi mereka, meredam segala emosi dan yang tersisa tinggalah kenyamanan hati untuk siap bersaing secara sehat.
"Permisi nak Tomi, ibu pamit mau menjenguk Ilyas. Ibu juga mengajak neng Sania untuk menemani Ibu setelah mengantarkan Steven." Ibu Ilyas muncul saat mereka sedang berpelukan haru setelah benar-benar berdamai. Mereka mengurai pelukan satu sama lain.
"Iya tidak apa-apa Bu, lagi pula kasihan Sania kalau harus sepi di rumah sendirian. Kami juga harus pergi untuk berlatih."
"Kalau begitu bareng sekalian sama saya saja Bu, saya juga mau berpamitan karena harus pulang ke club." Zaki menawarkan diri karena sekolah Steven dengan club searah.
"Wah nanti malah merepotkan nak Zaki." Ibu Ilyas merasa tidak enak dengan Zaki karena mereka memang tidak begitu saling mengenal.
"Tidak merepotkan sama sekali Bu, jangan sungkan begitu."
"Kalau begitu Ibu akan tanya neng Sania dulu, mau ikut sekalian dengan nak Zaki apa tidak."
Ibu Ilyas masuk kembali ke dalam dan memberitahukan soal tawaran Zaki kepada mereka.
Sania berpikir sejenak dan memutuskan untuk ikut bersama Zaki karena tidak ada salahnya jika mereka pergi bersama toh mereka perginya ramai-ramai.
Tomi mengizinkan mereka untuk pergi bersama Zaki karena dirinya juga akan pergi membawa anak-anak berlatih dan tidak sempat untuk mengantarkan mereka terlebih dahulu.
Steven duduk di depan bersama Zaki sedangkan Sania duduk di kabin belakang bersama Ibu Ilyas, dia tidak mungkin duduk di depan karena ingin menjaga supaya jangan sampai timbul fitnah untuk mereka.
Zaki terlebih dahulu mengantarkan Steven ke sekolahnya dan berjanji akan menjemput anak itu nanti siang.
Kini Zaki tinggal mengantarkan Sania dan Ibu Ilyas ke tempat tujuan mereka.
"Terimakasih nak Zaki, sudah mengantarkan Ibu dan neng Sania kesini. Maafkan Ibu jadi merepotkan nak Zaki."
"Sama-sama Bu, tidak merepotkan sama sekali, jika nanti butuh dijemput tinggal hubungi aku saja Bu."
"Tidak perlu sungkan begitu Sa, Steven ada karena aku ikut andil di dalamnya dan aku sungguh minta maaf kepadamu."
Sania tersenyum mengingat semua luka yang tertancap begitu dalam meskipun dia sendiri sudah memaafkan Zaki.
"Tidak perlu diingat lagi Za, sekarang kita fokus pada masa depan kita masing-masing."
"Baiklah terimakasih Sa, aku pergi dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik." Zaki meninggalkan Sania dan Ibu Ilyas yang juga masuk ke dalam untuk menjenguk Ilyas yang sudah beberapa bulan ini tidak dapat menghirup udara bebas.
Sementara itu, Arfan dan Mentari sedang berada di kampus mereka masing-masing. Arfan seharian ini lebih sering melamun saat tidak mengajar apalagi Marryana juga tidak masuk karena orangtuanya akan pulang ke luar negeri hari ini.
Marryana biasanya akan menghampiri Arfan dan mengobrol bersama ketika mereka sedang jeda tidak mengajar.
Mentari menemui Pak Reza di ruangannya untuk menyampaikan jika dia siap untuk berangkat melakukan penelitian.
"Benarkah Arfan sudah mengizinkanmu untuk pergi?" Tanya Pak Reza saat Mentari yang ditemani oleh Siska sudah duduk di depan meja kerja sahabat Arfan itu.
Mentari mengangguk, "Iya pak, kak Arfan sudah mengizinkan saya pergi."
"Kalau begitu lusa kita akan berangkat, Siska kamu ikut juga ya. Temani Mentari agar tidak kesepian disana."
Siska berpikir sejenak, "Saya akan izin kak Arman dulu Pak."
"Ribet sekali rupanya hidup kalian ini!" pak Reza mengelus dagunya merasa dunia mahasiswanya itu begitu ribet setelah memiliki pasangan.
"Baiklah izin saja dulu, jangan lupa cepat hubungi saya agar kita segera bisa berangkat karena jika tertunda terlalu lama kasihan Mentari."
"Baik pak kami mengerti, kalau begitu kami permisi dulu pak."
Mentari dan Siska keluar dari ruangan Pak Reza karena harus mengikuti mata kuliah selanjutnya, Mentari berkali-kali minta maaf pada Siska karena dia tidak menyangka jika Pak Reza meminta Siska untuk menemaninya ke luar kota.
"Tidak masalah bagiku Tari, asalkan kak Arman mengizinkan semuanya beres."
Siska meyakinkan Mentari jika dirinya sama sekali tidak merasa direpotkan karena itulah gunanya sahabat yang seharusnya ada disaat dibutuhkan.
Ibu Ilyas menunggu anaknya di ruang tunggu yang sedang dipanggil oleh petugas ditemani oleh Sania. Ibu Ilyas merasa sangat sedih karena mungkin saja Ilyas tidak nyaman berada di tempat itu.
Tidak seberapa lama Ilyas muncul bersama petugas yang memanggilnya dan duduk di depan mereka berdua, dia tampak lebih kurus dari sebelumnya. Anak itu terus menunduk, tidak kuasa menahan air mata saat tadi melihat Ibunya datang.
"Apakah kamu makan dengan baik nak, kamu terlihat lebih kurus." Ibu Ilyas memulai percakapan mereka.
"Maafkan Ibu yang baru bisa menjengukmu nak, bukan Ibu tidak merindukanmu tapi Ibu baru bisa menerima kenyataan jika anak Ibu yang Ibu didik selama ini harus berbuat tidak baik kepada orang lain yang jelas-jelas Ibu tidak pernah mengajari itu semua kepadamu."
Ilyas menggenggam tangan Ibunya, "Tolong maafkan Ilyas Bu, aku sungguh sangat menyesal!"
"Ibu sudah memaafkanmu nak, jika tidak mana mungkin Ibu akan datang kemari hari ini."
"Apakah Ibu baik-baik saja tinggal bersama mereka?"
"Ibu baik, bahkan sangat baik. Mereka orang-orang yang sangat menyayangi Ibu. Mereka selalu membuat Ibu bahagia bahkan ketika anak Ibu pernah berbuat tidak baik kepada mereka, tapi nyatanya mereka tetap baik dengan Ibumu ini nak."
"Ilyas kamu tidak perlu mengkhawatirkan Ibumu karena beliau baik-baik saja bersama kami, Arfan menanggung semua kebutuhan dasar beliau dengan sangat baik."
"Aku sungguh merasa malu kepada mereka Kak, terutama pada Pak Arfan."
"Jangan sungkan Yas karena kami sekarang adalah keluargamu."
"Kakak boleh bertanya sesuatu kepadamu Yas?"
"Boleh kak Sania."
"Sebenarnya siapa dibalik semua ini Yas?"
"Ma-maksud Kakak?"
"Siapa yang menyuruhmu Yas? Kamu harus jujur karena jika tidak maka selamanya kamu akan dihantui rasa bersalah."
Ilyas berpikir agak lama, dia tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Sania.
"Aku mohon jujurlah padaku Yas, demi Ibumu dan juga Arfan yang sudah sangat baik kepadamu Yas!"
"Baiklah kak, aku akan jujur tapi aku mohon lindungi Ibuku karena orang itu mengancamku."
"Kamu jangan khawatirkan itu Yas," Sania meyakinkan Ilyas.
"Sebenarnya yang menyuruhku adalah Mo--,"
"Mohon maaf waktu berkunjung sudah habis, silahkan bisa datang kembali esok hari."
Petugas yang tadi membawa Ilyas memotong ucapannya sebelum berhasil dia sampaikan kepada Sania dan Ibunya. Ilyas masih menggantung penjelasan kepada Sania hari ini yang malah membuat Sania semakin penasaran dengan inisial yang Ilyas sebutkan tadi.