My Old Star

My Old Star
#18 Saling Mencemburu



Mentari berjalan mengikuti kemana arah Arfan membawa langkahnya pergi, Mentari benar-benar merasa beruntung karena Arfan selalu memperlakukannya dengan sangat baik.


Arfan bagi Mentari adalah seorang pengayom seperti Ayahnya, dirinya merasa nyaman dan aman jika berada dekat di sisinya. Mungkin sosok Arfan yang lebih dewasa membuat perasaan Mentari selalu demikian.


Meskipun kejadian di Banjarnegara kemarin terkait perseteruan antara Zaky dan Tomi masih menjadi ganjalan di hatinya, tapi untuk saat ini Mentari tidak ingin menanyakan hal itu kepada Arfan, dia akan menunggu sampai Arfan mau menceritakan semua itu kepadanya dengan inisiatifnya sendiri. Mentari yakin jika kejadian kemarin erat kaitannya dengan masa lalu Arfan.


"Mentari kecil kenapa kamu melamun?" Arfan membuyarkan lamunan Mentari.


"Eh...emmm...anu...enggak...," jawab Mentari gugup.


Arfan tersenyum simpul, "Ayo masuk, kita sudah sampai!" Arfan membawa Mentari masuk ke sebuah restoran untuk makan malam.


Seorang pelayan datang membawakan daftar menu untuk mereka, "Silahkan tuan dan Nona kecil," ucap pelayan itu.


Pelayan yang sedang melayani mereka mungkin saja berpikir jika keduanya adalah kakak beradik sehingga pelayan itu terus saja memandangi Mentari seakan dia tersihir dengan kecantikan gadis di depannya. Arfan menyadari jika tatapan sang pramusaji bukanlah tatapan biasa, sengaja menggoda pelayan tersebut.


"Sayang kau boleh pilih apa saja yang kau suka, anggap kita sedang berkencan untuk ke sekian kalinya," Arfan mempersilahkan Mentari untuk memilih makanan yang ingin dia pesan dan menyamakan pesanan dirinya dengan Mentari.


Pelayan itupun pergi meninggalkan meja mereka untuk menyiapkan pesanan dengan perasaan malu karena telah mengagumi kekasih orang lain di depan kekasihnya langsung.


Mentari memang tidak menyadari jika Arfan sebenarnya sedang cemburu karena pelayan tadi, malah tampak biasa-biasa saja. Arfan tersenyum bangga karena sepertinya di dalam pikiran dan hati Mentari hanya terukir namanya seorang, sebenarnya ini hanyalah pikiran narsis seorang Arfan. Dia tanpa sadar tersenyum sendiri.


"Kak kenapa kau tidak bilang akan kembali hari ini?" tanya Mentari yang melihat Arfan sedang tersenyum sendiri seperti ada hal manis yang sedang dipikirkannya.


"Aku demam karena merindukanmu Mentari," ucap spontan Arfan.


"Apa?!"


"Kau demam Kak? Apakah sekarang masih sakit?" Mentari menempelkan punggung tangannya di kening Arfan dengan wajah panik.


"Kau membuatku khawatir, kau berjanji akan menghubungiku ketika sampai, tapi kau tidak melakukannya." Arfan seolah sedang menyalahkan Mentari dengan kata-kata yang dia ucapkan.


"Aku ngantuk dan capek sekali Kak, aku lupa." Mentari menyeringai seolah tak bersalah.


"Maafkan aku Kak," Mentari tampak menyesali perbuatannya yang telah membuat orang lain begitu mengkhawatirkannya.


Disaat itu pelayan datang membawakan pesanan mereka. Pelayan kali ini berbeda dengan pelayan yang sebelumnya, jika tadi seorang laki-laki kali ini seorang perempuan yang terus saja memandang Arfan tanpa berkedip.


Pelayan itu meletakkan dan menata pesanan di meja, rasa kagumnya membuat dirinya tidak menganggap jika ada orang lain di meja tersebut selain Arfan. Pelayan itu mengira jika Mentari adalah Adik dari pemuda tampan yang sedang duduk di balik meja yang sedang dilayaninya. Dia bersikap sedikit genit terhadap Arfan, namun Arfan tetap dengan sikap cueknya sehingga membuat pelayan wanita itu malah semakin gemas dengan menggigit bibir bawahnya seolah pikirannya sudah traveling liar kemana-mana.


"Silakan," ucap pelayan itu ramah kepada Arfan dengan nada bicara yang dibuat-buat agar terdengar lebih seksi.


Mentari terus memandangi Arfan karena menyadari sikap tak biasa pelayan itu, dia ingin tahu reaksi seperti apa yang akan Arfan berikan terhadap perempuan yang sengaja ingin bersaing terang-terangan dengan dirinya bahkan di depan matanya langsung, Mentari juga berpikir jika di usia Arfan sekarang justru banyak sekali wanita yang menginginkan untuk dekat dengan Arfan. Ternyata pemuda di depannya meskipun berbeda jauh secara usia dengan dirinya memiliki daya tarik luar biasa yang kapan saja bisa membuat hati gadis-gadis meleleh bahkan ketika Arfan diam saja sekalipun.


"Terimakasih," jawab Arfan, sedangkan Mentari memanyunkan bibirnya.


"Kenapa?" tanya Arfan pura-pura tidak tahu akan kekesalan Mentari setelah pelayan itu pergi.


"Tidak apa-apa," jawab Mentari kesal sambil membuang mukanya.


"Cemburu?" goda Arfan.


"Ih...siapa bilang, enggak ada ya Kak!"


"Muka kamu kesal gitu,"


"Ah...sudahlah lupakan saja!"


"Makanlah dulu agar memiliki energi kalau nanti cemburunya kumat lagi," Arfan berkata dengan datar dan tanpa ekpresi.


"Kita impas Mentari kecil, sama-sama saling mencemburu karena kekaguman orang lain terhadap kita berdua," Arfan bermonolog di dalam hatinya.


Mentari semakin memanyunkan bibirnya melihat Arfan yang malah tersenyum seolah sedang menertawakan dirinya yang cemburu terhadap pelayan tadi, kesal sudah pasti. Tapi Mentari tetap tidak mau mengakui jika dirinya tidak suka jika Arfan disukai oleh orang lain.


Selesai makan malam, Arfan mengajak Mentari untuk duduk-duduk di taman dekat asrama. Ketika mereka sedang memandangi langit yang berhias bintang, tiba-tiba ponsel Mentari berdendang menandakan ada panggilan masuk untuknya, Mentari melihat jika itu panggilan dari Ibunya.


"Hallo Bu, ada apa?"


"Kau dimana Tari, di rumah ada temanmu datang bersama Ibunya."


"Aku sedang keluar Bu, teman...temanku siapa Bu?"


"Siapa?"


"Ibu Kak, aku disuruh pulang malam ini."


"Kenapa harus malam-malam begini?"


"Aku juga tidak tahu Kak,"


"Kalau begitu biar aku antar!"


Arfan mengantarkan Mentari ke rumahnya setelah gadis itu berpamitan kepada Siska bahwa dirinya harus pulang malam ini.


Mentari turun dari mobil Arfan, "Kak terimakasih sudah mengantarku!"


"Kau masuklah, aku pergi ya?" Arfan berpamitan kepada Mentari.


"Apa tidak sebaiknya masuk dulu Kak,"


"Kapan-kapan saja Mentari kecil, aku harus kembali ke club mengecek apakah anak-anak sudah sampai disana atau belum."


Arfan kembali mengemudikan mobilnya setelah memastikan Mentari masuk ke halaman rumah. Tanpa mereka sadari Ibu Mentari mengamati pergerakan mereka dari balik tirai jendela.


Mentari masuk ke dalam rumah dan menemukan Ilyas bersama Ibunya sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Mentari menyapa Ilyas dan Ibunya sekilas kemudian masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Mentari kembali lagi ke ruang tamu untuk menemui keduanya, "Yas kenapa datang tidak bilang dulu kepadaku?" Mentari mengambil tempat duduk di seberang Ilyas.


"Tari tidak sopan menanyakan hal itu," cegah Bu Kartika.


"Tidak apa-apa Tante, Ilyas bisa maklum. Mungkin Mentari kesal karena dia harus terganggu karena kedatanganku dan Ibu kesini." Jawab Ilyas lembut namun kata-katanya sangat menusuk.


"Kamu memang sangat bijaksana Nak,"


Mentari merasa jika Ibunya mulai menyukai Ilyas, berbeda sekali ketika berhadapan dengan Arfan, Ibunya tidak akan selembut ini.


"Mentari ayo minta maaf kepada Ilyas karena kamu sudah salah bicara," perintah Ibunya.


"Minta maaf Bu? Memangnya Tari salah apa Bu?"


"Kau ini, otakmu kemasukan air atau bagaimana?" ucap sarkas Bu Kartika kepada putrinya.


"Sudahlah Tante tidak perlu dipermasalahkan," ucap Ilyas seolah sedang membela Mentari.


Mentari memutuskan untuk duduk, diam, menyimak perbincangan antara Ibunya dan Ibu dari Ilyas. Mereka tampak akrab sekali seolah telah lama saling mengenal. Ilyas mencuri-curi pandang ke arah Mentari yang tampak sibuk memainkan ponselnya.


"Nak Ilyas kau dan Mentari bisa jalan-jalan dulu di taman,"


"Tidak usah Tante...Ilyas dan Ibu mau pamit kembali ke penginapan karena sudah malam,"


"Mana boleh seperti itu, Ibumu biar tinggalah disini selagi kau di asrama. Kasihan Ibu kamu yang sedang sakit kalau harus tinggal di penginapan sendirian, jika butuh apa-apa bagaimana?" ucap Bu Kartika tanpa meminta persetujuan Ayah dan Mentari tentunya.


Mentari begitu terperanjat mendengar ucapan spontan dari ibunya.


"Tidak perlu Nyonya, saya biarlah di penginapan saja. Lagi pula sebentar lagi saya harus di rawat di rumah sakit."


"Jangan menolak Bu, tinggalah disini!" Bu Kartika terus memaksa agar Ibu Ilyas mau tinggal di rumahnya.


"Nak Ilyas besok kamu antarkan barang-barang milik Ibumu kesini ya, malam ini biarlah Ibumu tetap disini, kau kembalilah ke asrama dan tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Ibumu."


"Terimakasih Tante, maaf sudah banyak merepotkan,"


"Tidak mengapa Nak, kau kan teman Mentari. Ibu rasa kalian cocok, sering-seringlah datang kesini." Bu Kartika tersenyum penuh angan sedangkan Mentari jengah dengan kata-kata Ibunya yang sudah sedikit keterlaluan menurutnya.


"Huffffffttttt...," Mentari menghembuskan nafasnya kasar kemudian berbalik hendak masuk ke kamarnya.


"Mentari mau kemana kau, Ibu mau berbicara." Ucap Bu Kartika setelah mempersilakan Ibu Ilyas masuk ke kamar tamu.


---------------------------------------------------------------------


Hai Kak, maafkan Author yang baru bisa update ya karena baru saja sembuh dari sakit, ini sedang masa pemulihan. Sepertinya Author kelelahan karena aktivitas yang padat di real live yang menguras banyak energi jadi karena badan ini sudah tidak sanggup menanggung beban pada akhirnya tumbang juga (Edisi curhat nih 🤭🤭🤭). Do'akan Author cepat fit lagi ya agar selalu bisa update cerita ini. Terimakasih Kak 💕💕💕💕😘😘😘😘