
Hari kepulangan Mentari pun tiba, dia sudah siap pagi ini dengan semua barang bawaannya. Seminggu berada di Desa Riko dengan keramahan para penduduknya membuat Mentari merasa berat meninggalkan semua kenangan, meskipun terjadi begitu singkat.
Mentari keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Riko secara tidak sengaja. Riko sudah terlihat lebih baik, sorot matanya mengisyaratkan keikhlasan akan kenyataan yang memang harus diterimanya.
"Mentari benarkah hari ini kau akan kembali ke Kota Z?" Tanya Riko dengan wajah sendu.
"Iya Rik, aku harus cepat pulang. Aku merindukan orangtuaku, Nenek dan yang lainnya."
"Apakah kau akan merindukan tempat ini?"
"Tentu saja dan aku akan kembali lagi kesini suatu saat nanti, terutama saat kau menikah jadi jangan lupa kabari aku ya?"
"Menikah?"
"Itu masih sangat lama," Riko tergelak membayangkan jika waktu itu nanti terjadi.
"Tidak akan lama jika kau mau menerima gadis itu."
"Gadis siapa maksudmu Mentari?" Tanya Riko penasaran.
"Seorang gadis di desa ini yang bahkan datang menemuiku kemarin."
"Kemarin kau bertemu dengan siapa memangnya?"
"Selama disini aku baru bertemu dengannya kemarin, dia mengaku bernama Fera. Bahkan dia cemburu padaku karena terlalu dekat denganmu Rik!" Mentari tersenyum mengingat kejadian kemarin.
"Oh ya ampun, rupanya Fera."
"Aku hanya menganggap Fera sebagai adikku."
"Maafkan dia ya, mungkin dia telah tidak sopan kepadamu, dia kadang di luar kendali."
"Tidak masalah Rik, itu membuat aku jadi tahu jika kau mempunyai fans berat!"
Arfan ternyata sejak tadi mendengarkan pembicaraan Mentari dan Riko, "Apakah sudah selesai ngobrolnya?" Arfan keluar dari persembunyiaannya.
"Kak Arfan, sejak kapan kau di sini?"
"Sejak kalian mulai mengobrol berdua."
"Jangan mulai deh Kak!"
"Tidak ada yang memulai, sudah yuk kita harus bergegas. Aku akan masukkan barang-barangmu ke mobil."
"Oh ya dokter Sandra sepertinya sudah harus kau kunjungi setelah sampai di Kota Z."
Mentari tersenyum, "Ternyata Kak Arfan sangat perhatian," Mentari membatin kemudian patuh dengan perkataan Arfan.
Mentari mengeluarkan barang-barangnya dan Siska dari dalam kamar untuk dipindahkan ke bagasi mobil yang berbeda karena Arfan dan Arman datang dengan membawa mobil mereka masing-masing.
Sebelum pergi mereka sarapan bersama untuk terakhir kalinya di desa itu.
"Pak Kades dan keluarga, kami mengucapkan banyak terimakasih atas tempat dan segala sesuatu yang telah Bapak berikan kepada kami selama kami ada di sini." Mentari membuka obrolan ketika sarapan telah usai.
"Maafkan kami telah banyak merepotkan Bapak dan Keluarga, terutama Mas Riko yang harus ikut kerepotan membantu kami padahal di minggu tenang seharusnya Mas Riko bisa belajar sambil beristirahat di rumah."
"Tidak perlu sungkan begitu Nak Mentari, kami membuka lebar siapapun yang datang berkunjung kemari dengan maksud yang baik."
"Kami juga mohon maaf jika kami di dalam memperlakukan kalian selama ada disini kurang baik, kurang sopan dan masih banyak lagi yang lain."
"Jika sempat datanglah kembali kesini Nak untuk berkunjung agar persaudaraan yang telah terjalin tidak hilang begitu saja." Bu Kades ikut menambahi ucapan suaminya.
"Baik Pak Kades dan Bu Kades, terimakasih atas kebaikannya kepada kami."
"Oh ya, kami sangat berterimakasih pada Pak Arfan yang berencana akan membangun jaringan telekomunikasi di desa ini. Semalam Pak Reza sudah menyampaikan kepada saya dan saya pribadi mewakili seluruh warga desa mengucapkan banyak terimakasih."
"Sama-sama Pak Kades, semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar dan dapat bermanfaat bagi semua masyarakat desa ini."
Arman yang juga ada bersama mereka ternyata sudah mempersiapkan semua berkas yang harus ditanda tangani oleh Pak Kades, semalam Paman Faisal mengirimkan email kepadanya dan semalaman dia kerjakan sesuai permintaan Arfan kepadanya.
Pak Kades membaca dokumen itu dengan seksama, sesekali beliau tersenyum sesekali juga beliau mengerutkan dahi seolah sedang berpikir cukup keras.
"Saya menyetujui semua ini, kebetulan kami memiliki tanah kas desa di tempat yang cukup strategis sepertinya bisa digunakan untuk pembangunan towernya Pak Arfan." Ucap Pak kades setelah selesai membaca isi keseluruhan dokumen dan menandatanganinya.
"Baik kalau seperti itu Pak Kades, tim dari perusahaan kami akan segera mendatangi lokasi untuk kebutuhan survey dan perkiraan perencanaan kebutuhan material pendukung."
"Sekali lagi terimakasih Pak Arfan."
"Sama-sama Pak Kades, terimakasih karena telah menjaga Mentari dan Siska di sini."
"Oh ya Mas Riko apakah mau berangkat ke Kota Z bareng kami sekalian?" Arfan menawarkan tumpangan kepada Riko.
"Tidak usah Pak Arfan, saya pergi besok saja. Lagi pula saya membawa motor." Tolak Riko yang tidak mungkin ikut bersama Mentari dan Arfan sebab akan semakin menambah luka di hatinya jika melihat mereka berdua bercengkrama bahagia selama di perjalanan. Bukan tidak mengikhlaskan, namun semuanya butuh waktu untuk bisa kembali seperti semula.
"Kalau sudah kembali ke kampus, jangan lupa mampir ke rumah kami ya Rik." Mentari mengajak Riko untuk singgah ke rumah mereka.
"Iya kapan-kapan aku akan mampir."
Mentari berpamitan kepada keluarga Riko dan naik ke dalam mobil setelah memeluk Bu Kades yang sudah dia anggap seperti Ibunya sendiri.
Kini mereka perlahan-lahan mulai meninggalkan desa menuju jalan besar untuk kembali ke Kota Z.
"Mentari sayang, tempo hari aku menemui Ilyas seperti yang aku katakan kepadamu waktu itu." Ucap Arfan memecah keheningan diantara mereka.
"Lalu apa yang Ilyas katakan kepadamu Kak, aku ingin mendengarnya secara detail?"
"Ilyas bilang jika dalang dari semua yang dia lakukan adalah Mona yang mengancam Ilyas akan mencelakai Ibunya kalau sampai Ilyas mengungkap kejahatan yang Mona lakukan kepadamu sayang."
"Tante Mona benar-benar jahat, lalu bagaimana dengan Ibu Ilyas Kak?"
"Dia aman bersama kita sayang, selama kita semua pergi aku menempatkan penjaga untuk Ibu."
"Oh ya Mentari terakhir Ilyas berkata jika kamu adalah kunci, makanya anak buah Mona datang mencarimu, tapi mereka ditarik mundur karena tidak berhasil menemukan kamu."
"Aku akan menemui Ilyas nanti Kak, aku tidak paham kenapa aku menjadi kunci."
"Ilyas bilang satu-satunya yang bisa masuk ke dalam laboratorium kalian adalah kamu sayang karena Ilyas ada di dalam tahanan, sedangkan bukti-bukti yang memberatkan Mona disimpan oleh Ilyas di dalam laboratorium kalian."
"Sekarang tidurlah jika kamu lelah karena nanti malam kita baru akan sampai, sekarang jalan sudah lebih baik ketimbang yang tadi jadi kamu bisa beristirahat dengan nyaman."
"Nanti aku akan istirahat Kak, sekarang aku mau menemanimu dulu."
"Baiklah kalau begitu, Siska dan Arman juga ada di belakang kita jadi akan aku usahakan jangan sampai terpisah dengan mereka."
Mobil yang Arfan dan Arman kendarai memasuki sebuah pelataran masjid karena sudah masuk waktu dzhuhur, mereka akan menunaikan kewajiban mereka dulu sembari beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan mereka. Pak Reza tidak tampak bergabung bersama mereka karena sudah pulang lebih dulu subuh tadi karena ada pekerjaan yang harus dikerjakan sore nanti jadi tidak bisa pulang bersama-sama.
Usai sholat tadi, Arfan melihat ada pergerakan yang tidak biasa sehingga dia bergegas mencari Mentari dan Siska.
"Kalian jangan sampai terpisah ya, aku mencurigai sesuatu."
"Kamu menyadarinya juga Fan?"
"Iya Man, jadi sebaiknya kita cepat meneruskan perjalanan."
"Baiklah kita makan sambil jalan saja!"
Mereka memasuki mobil masing-masing dengan membawa serta pasangan mereka. Mentari berharap mereka akan baik-baik saja dan selamat sampai di rumah.
Arfan menelfon orang kepercayaan Nenek untuk datang menjemput mereka, khawatir orang-orang yang mencurigakan tadi mengikuti mereka.
"Baik Tuan, kami ada di dekat Anda sekarang karena kami memang tidak benar-benar pergi saat Anda memerintahkan kami untuk kembali ke Kota Z." Jawab orang kepercayaan Nenek melalui sambungan telefon.
"Kalian sudah mengetahuinya?"
"Benar Tuan, semua itu hanyalah pancingan saja."
"Jaga kami!"