
Tomi dan Zaki dengan diikuti Marryana di belakang keduanya sontak tertawa melihat kejadian di dalam kamar, kondisi kamar sudah tidak berbentuk dengan semua barang berserakan.
Mona yang kaget reflek menutupi tubuhnya dengan selimut, "Wanita tidak bermoral masih punya malu kamu rupanya hah??!" Marryana sedikit menarik rambut Mona.
"Maafkan aku Marry, bukankah aku temanmu?"
Marryana tertawa mendengar kata teman dari mulut Mona, dia tidak pernah berpikir jika Mona ternyata memiliki otak busuk seperti itu. Bahkan Marryana teringat jika pernah malam hari dia menelfon Mona namun suara seperti orang sedang bertarung di atas ranjang justru didengarnya secara tidak sengaja karena Mona tidak menutup sambungan telfon mereka.
"Mon aku tidak pernah menyangka jika kamu memang hobi melakukan hal seperti ini, ternyata ucapan orang-orang di luar sana tentang kamu itu semuanya benar." Marryana bersedekap dan membuang mukanya, kecewa dengan orang yang selama ini dia anggap sebagai teman.
Marryana mengeluarkan ponselnya kemudian memfoto Mona dengan menyibak selimut yang menutupi tubuh wanita itu.
"Ingat Mona jika kamu macam-macam maka foto ini akan ada di tangan wartawan dan nama baik kamu sebagai taruhannya!" ancam Marryana kepada Mona yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Marryana melemparkan baju Mona, "Pakai ini dan cepat pergi dari sini!" perintahnya.
Mona bergegas mamakai bajunya yang sempat dia tanggalkan untuk menggoda Arfan, namun sayang Arfan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki justru melawan dirinya hingga naik ke atas lemari demi mempertahankan harga dirinya sebagai seorang laki-laki yang setia terhadap istrinya meskipun secara fisik sedang tidak bisa bersama.
Marryana sibuk dengan Mona untuk memberikan wanita itu pelajaran sebagai sesama wanita, sedangkan Tomi dan Zaki sedang berusaha menurunkan Arfan dari atas lemari karena Arfan sudah tidak sadarkan diri, dia kehabisan tenaga karena terlalu keras menghindari Mona. Mereka berdua berhasil menurunkan Arfan dan membaringkannya di atas ranjang.
"Apa yang harus kita lakukan Tom?" Tanya Zaki.
"Panggil dokter," jawab Marryana.
"Tidak!!!" jawab Tomi dan Zaki secara bersamaan.
"Kalian kompak sekali!" Marryana bersedekap.
"Kalau kita memanggil orang lain tentu akan menyebabkan kekacauan di sini, kita tidak boleh memecah konsentrasi anak-anak karena hal ini."
"Kamu benar Tom, kita harus menjaga juga psikologis anak-anak, jangan sampai mereka terbebani karena hal ini." Jawab Zaki mendukung pendapat Tomi.
"Baiklah, kalian benar tapi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Marryana bertanya kepada Zaki dan Tomi. Keduanya menggeleng karena mereka juga tidak bisa melakukan apapun selain memberikan minyak kayu putih kepada Arfan agar bisa cepat siuman.
"Kita tunggu sampai dia terbangun!" ucap Tomi kemudian setelah mengoleskan minyak kayu putih di hidung Arfan.
"Marry bisakah kau mengambilkan sarapan untuk Arfan?" Zaki meminta tolong pada Marryana yang mengiyakan perintah dari Zaki.
"Jika ada anak-anak yang bertanya tentang kita, katakan saja kita sedang sarapan bersama di kamar Arfan." Pesan Tomi kepada Marryana sebelum wanita itu keluar dari ambang pintu kamar dimana Arfan menginap sekarang.
Perlahan Arfan menggercap-gercapkan matanya, dia sontak kaget karena sudah berada di atas ranjang. Hal pertama yang Arfan lakukan adalah memeriksa pakaiannya. Dia menghembuskan nafas lega ketika mengetahui jika pakaiannnya masih lengkap.
"Kalian ada di sini?" Tanya Arfan kepada Zaki dan Tomi.
"Jika kami terlambat sedikit saja, saat ini berita tentangmu pasti sudah tersebar luas di internet Fan."
Arfan mengingat-ingat kejadian yang menimpanya pagi ini.
"Bagaimana bisa wanita tidak berakhlak itu sampai disini Tom?"
"Aku juga tidak tahu Fan, sepertinya dia mencari informasi dimana keberadaan kita."
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Mona, hampir saja aku terjebak olehnya."
"Berterimakasihlah pada Marryana Fan, dia datang disaat yang tepat kemudian memanggil kami kemari." Zaki memberitahukan kepada Arfan.
"Hai apakah ada yang sedang menyebut namaku?" Marryana ternyata sudah muncul diambang pintu kamar Arfan.
"Kau sudah siuman Fan, syukurlah!"
Arfan mengangguk sembari tersenyum kepada Marryana, "Terimkasih An!"
"Tidak perlu sungkan begitu Fan, kau dan Mentari sekarang keluargaku jadi aku tidak mungkin membiarkan jika sampai terjadi apa-apa pada kalian!"
"Sudah-sudah Fan, ini sarapanlah dulu!" Marryana memberikan makanan yang tadi dia ambil kepada Arfan.
Arfan mengambil sarapan itu dari tangan Marryana, kemudian memakan sesuap demi sesuap untuk mengembalikan tenaganya.
"Fan apakah setiap pagi kau akan seperti ini?"
Arfan hanya mengangguk karena dia masih mengunyah makananannya.
"Arfan akan baik-baik saja menjelang siang, tapi kalau ada Mentari dia tidak seperti itu. Ketika jauh saja dia akan seperti ini, semua terjadi semenjak Mentari hamil." Tomi membantu Arfan untuk menjelaskan kondisinya kepada Marryana dan Zaki.
"Lalu dimana Mentari sekarang kenapa dia tidak ikut denganmu kali ini Fan?"
"Dia sedang melakukan penelitian An, tidak mungkin aku membawanya kemari."
"Kalau begitu susul dia, kamu jangan kemari kalau tidak bersama istrimu itu, merepotkan kami saja!" Marryana bersedekap seolah sedang merasa direpotkan oleh Arfan.
"Marry benar Fan, sebaiknya kau susul Mentari. Kamu disini pun malah akan memecah konsentrasi anak-anak jika kondisimu terus begini." Zaki mendukung pendapat Marryana.
"Apakah aku semerepotkan itu sampai kalian kompak mengusirku?" Arfan pura-pura kesal.
"Tom apakah aku sebaiknya seperti itu?"
"Kau akan sendirian mengurus anak-anak kalau aku pergi Tom."
"Tidak masalah Fan, percayakan anak-anak kepadaku. Datanglah kemari bersama Mentari, jangan cemas karena anak-anak pasti akan paham kondisimu yang seperti ini."
Arfan menyelesaikan sarapannya kemudian membersihkan diri untuk segera berkemas meninggalkan tempat dimana mereka menginap, baru datang semalam tapi sudah harus pergi sebelum anak-anak mulai bertanding. Arfan sebenarnya tidak enak kepada Tomi karena selalu saja menyerahkan tanggungjawabnya kepada Tomi tapi mau bagaimana lagi jika kondisinya yang tidak memungkinkan.
Arfan menemui anak-anak sebelum pergi, menyemangati mereka kemudian berjanji akan kembali lagi saat mereka bisa masuk ke babak final. Arfan tidak tanggung-tanggung juga menjanjikan bonus yang fantastis bagi anak-anak jika berhasil melaju ke babak final.
Arfan melajukan mobilnya menuju ke tempat Mentari tanpa diketahui oleh gadis itu, dia menghubungi Arman yang masih dalam perjalanan menuju ke desa tempat Mentari dan Siska saat ini berada untuk mengirimkan maps kepadanya.
Mentari masih sibuk dengan penelitian yang dia lakukan. Riko dengan setia membantu Mentari melakukan pekerjaan yang dirasa berat bagi seorang perempuan, Siska sendiri bagian mencatat hasil yang diperoleh beserta dokumentasinya. Diperkirakan penelitian ini akan selesai lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.
Siska dibuat terkejut dengan kedatangan Arman ke tempat penelitian karena tidak menyangka Arman akan menyusul mereka sampai ke tempat itu, Siska mengira jika Arman akan menunggu mereka di rumah pak Kades karena dia khawatir jika Arman akan tersesat.
"Hai... apakah ada yang bisa aku bantu?" Sapa Arman dengan senyum penuh kebahagiaan karena bisa bertemu dengan gadis yang sangat dia rindukan beberapa hari ini.
"Kak Arman?" Siska reflek memeluk Arman.
"Beruntung aku menyukai Mentari bukan Siska, bisa jadi aku patah hati karena Siska sudah memiliki pacar!" Batin Riko.
"Duh yang disusul, serasa dunia milik berdua." Mentari menggoda Siska yang tidak sadar jika mereka tidak hanya berdua, Siska hanya tersenyum malu-malu.
"Kak Arman ini kenalkan Riko, anak pak Kades disini. Dia yang membantuku melakukan penelitian." Mentari memperkenalkan Riko kepada Arman.
Mereka berdua berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.
"Kalau begitu kita sudahi saja untuk hari ini Sis, lagi pula aku sangat lelah."
"Baiklah ayo kita pulang!"
Mentari dan yang lainnya kembali ke rumah Pak Kades untuk beristirahat, Arman juga ikut bersama mereka. Pak Kades menyambut Arman dengan ramah, beliau tidak pernah menyangka jika seorang mantan atlet terkenal datang ke rumah mereka.
"Mari Nak Arman, silakan masuk. Jangan sungkan anggap saja rumah sendiri."
Mereka banyak berbicara setelah makan siang bersama, Pak Kades yang juga menyukai cabang olahraga futsal banyak bertanya kepada Arman tentang olahraga tersebut.
Hujanpun turun di sore hari, Mentari dan Siska masuk ke kamar mereka untuk merekap data yang diperoleh. Arfan sendiri masih dalam perjalanan menyusul Mentari.
"Aku akan segera datang Mentari!"