My Old Star

My Old Star
#43 Kami Merestui Kalian



Arfan sampai di halaman rumah Mentari, dia bergegas turun dari dalam mobil karena melihat pintu depan rumah itu dibiarkan terbuka begitu saja. Arfan memasuki rumah, dia mendengar teriakan dari arah kamar Mentari dan suara barang-barang yang dilempar.


Sampai di depan kamar Mentari, dia dihadang oleh dua bodyguard yang sedang berjaga.


"Hei siapa kau kenapa ke mari hah?!!" salah satu orang suruhan Ilyas membentak Arfan.


"Seharusnya aku yang bertanya kepada kalian, sedang apa kalian di sini?!!"


"Jangan banyak omong!" Bodyguard itu menyerang Arfan begitu saja beruntung dia bisa segera menghindar.


Baku hantam tidak dapat terelakan, dua lawan satu. Di saat bersamaan ayah dan ibu Mentari memasuki rumah. Mereka berlari ke atas karena mendengar keributan di sana.


"Om... tante... cepat ambilkan kunci cadangan kamar Mentari, dia dalam bahaya!" ucap Arfan begitu melihat orangtua Mentari datang.


Bu Kartika bergegas mencari kunci yang Arfan pinta. Arfan sendiri masih menghadapi dua orang itu dengan dibantu pak Mahendra, orang-orang Ilyas berhasil mereka lumpuhkan.


Kunci tidak dapat masuk ke lubang kunci, sepertinya dari dalam kamar, kunci masih tergantung di pintu. Arfan berusaha mendobrak pintu kamar Mentari bersama pak Mahendra. Ibu Mentari sudah menangis karena sangat khawatir dengan putrinya. Dia bersumpah tidak akan pernah memaafkan siapapun orang yang berlaku buruk terhadap putrinya.


Mentari sendiri masih berusaha melawan Ilyas yang tampak seperti binatang buas yang siap menerkam kapan saja.


"Ilyas kita itu berteman, kendalikan dirimu Yas. Semua bisa kita bicarakan baik-baik."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Mentari, jika aku tidak bisa memiliki kamu berarti orang lain juga tidak boleh memiliki kamu!"


Ilyas terus mendesak Mentari hingga gadis itu terjatuh di ranjang, Ilyas menindih Mentari dan akan berbuat kurang ajar terhadapnya.


Mentari sudah menangis dan terus memberontak karena tidak menyangka jika Ilyas akan merusak dirinya.


Ilyas belum sempat melakukan apa yang dia inginkan dari Mentari ketika pintu kamar Mentari berhasil terbuka.


BRAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK....


Suara pintu kamar Mentari dibuka dengan paksa, Arfan dan pak Mahendra berhasil mendobraknya.


Arfan mendekat ke arah Ilyas dan meninjunya beberapa kali hingga Ilyas terkulai di lantai. Ilyas memang tidak melakukan perlawanan karena dia sudah tertangkap basah.


"Jangan harap setelah ini kamu bisa hidup tenang, akan aku pastikan kamu membusuk di dalam penjara!" Arfan masih memukuli Ilyas.


"Fan sudah cukup!" pak Mahendra menarik Arfan dan menjauhkannya dari Ilyas.


Bu Kartika memeluk Mentari dengan linangan air mata, "Maafkan ibu nak, ibu sangat menyesal!"


"Ibu tidak pernah menyangka orang seperti Ilyas bisa melakukan hal yang tidak sepatutnya dia lakukan terhadapmu."


Mentari masih terdiam, dia hanya bisa menangis dipelukan ibunya. Andai mereka terlambat sedikit saja, entah jadi seperti apa hidup Mentari saat ini.


Ilyas dibawa oleh pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya bersama dua orang suruhannya pun ikut diringkus dan dibawa ke kantor polisi.


Arfan menemui Mentari di kamarnya, bu Kartika yang merasa sungkan terhadap Arfan meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.


Bu Kartika paham jika mereka butuh berbicara berdua saja, "Maafkan aku yang terlambat menyadarinya Mentari kecil," Arfan memeluk Mentari.


"Terimakasih kak karena kau datang di saat yang tepat." Mentari mengeratkan pelukannya dan menangis sejadi-jadinya di dada Arfan.


"Kamu pasti sangat takut bukan? Tapi sekarang jangan takut lagi karena aku akan selalu ada bersamamu!"


Mereka menangis bersama, "Kami merestui kalian berdua!" suara bariton pak Mahendra di ambang pintu membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Arfan cepat-cepat menghapus air matanya.


"Itu benar, kami sudah memutuskannya!" bu Kartika juga ikut menimpali ucapan suaminya.


Mereka berdua mendekat ke arah Arfan dan Mentari, "Maafkan tante Fan, selama ini tante sudah mempercayai orang yang salah bahkan tante tidak pernah sedikitpun mempercayai ucapanmu." Bu Kartika menyesali semua sikapnya selama ini.


"Tante dan om berharap kamulah orang yang bisa melindungi dan menjaga Mentari kami di masa depan saat penjagaan kami tidak sampai kepadanya," lanjut bu Kartika.


"Terimakasih om, tante." Arfan merasa terharu karena kejadian ini membuat mata hati ibu Mentari terbuka untuk menerima kebenaran.


Arfan pamit kepada Mentari dan orangtuanya karena khawatir jika Steven mencarinya.


"Besok ikutlah denganku dan Stev untuk menjemput Tomi," Arfan berucap sebelum pergi.


"Aku akan menjemputmu besok jadi tunggu aku datang!" Arfan kemudian pergi dari rumah Mentari dan memacu mobilnya untuk kembali ke rumah nenek.


Mentari memeluk ibunya, "Terimakasih Bu!"


"Kamu tidak pantas berterimakasih, ibu yang seharusnya minta maaf kepadamu Mentari karena sikap ibu hampir saja membuat kamu celaka."


"Putri kecil ibu ternyata sudah besar, ibu akan segera menimang cucu dari kamu!" bu Kartika menoel hidung Mentari seperti sedang gemas dengan putri kecilnya.


"Bu aku merindukanmu yang seperti ini, lemah lembut dengan senyum menghiasi wajah ibu." Mentari memeluk ibunya hingga terlelap bersama.


Arfan sampai di rumah nenek, lampu ruang tengah masih menyala. Ternyata nenek Wijaya dan kakek Mahmud masih asyik menonton opera lawas.


"Malam nek, kek." Sapa Arfan kepada kedua orangtua itu.


"Kenapa malam sekali baru kembali?" Tanya nenek Wijaya.


"Aku ada urusan nek."


"Apa kau baru saja berkelahi, lihat wajah dan tanganmu lebam-lebam begitu!"


"Aku tidak apa-apa nek, aku mau melihat Stev dulu di kamar!"


"Aduh anak ini setiap kali ditanya tentang dirinya pasti kabur!" nenek Wijaya terlihat kesal sebab Arfan seringkali tidak mau terbuka kepada neneknya sendiri.


"Sudahlah tidak usah dipikirkan dia sudah besar, dia sudah tahu bagaimana cara melindungi dirinya sendiri." Mereka akhirnya fokus menonton kembali, sesekali terdengar suara tawa berderai dari keduanya.


Arfan membersihkan dirinya di kamar mandi dan mengompres lebam-lebam di wajahnya. Senyum tersungging di wajah Arfan ketika mengingat perkataan orangtua Mentari yang telah memberikan restu untuk mereka berdua.


Restu ini sangat berarti bagi Arfan, neneknya pasti akan sangat bahagia. Bahkan sebelum neneknya bertindak sesuai rencana yang telah mereka susun beberapa waktu lalu, dia sudah berhasil mengambil hati mereka dari sebuah kejadian yang tidak pernah terduga sebelumnya.


Arfan merebahkan dirinya di samping Steven kemudian terlelap begitu saja karena merasa sangat lelah hari ini.


Arfan sudah bersiap untuk menjemput Mentari bersama Steven, hari ini mereka akan ke rumah sakit karena Tomi akan segera di bawa pulang.


Mentari sudah siap ketika Arfan datang, "Ayo Kak aku sudah siap!"


"Fan apa tidak nanti saja perginya, minum teh dulu di sini." Bu Kartika sangat ramah terhadap Arfan.


"Mungkin nanti saja tante, khawatir orangtua Steven menunggu terlalu lama."


"Baiklah kalau begitu, tante mengundangmu makan malam di sini nanti malam!"


"Terimakasih tante, kami pamit dulu."


"Iya kalian hati-hati di jalan ya."


"Oma Stev juga pamit ya," ucap Steven yang membuat bu Kartika tersenyum bahagia, Steven sangat tampan dan sopan.


"Iya sayang, oma menunggumu untuk datang ke sini lagi."


"Siap oma cantik," Steven tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi.


Steven membuat suasana hati bu Kartika semakin baik, mereka meninggalkan bu Kartika menuju rumah sakit. Sesampainya mereka di sana, Sania dan Tomi memang sudah menunggu kedatangan Steven.


Sania memeluk Steven ketika melihat anak itu datang, "Kenapa kalian sangat lama?" Sania pura-pura ngambek.


"Beruntung kami benar-benar datang!" jawab Arfan cuek sambil meletakkan bobot tubuhnya di sofa ruang rawat Tomi.


"Ih kau ini benar-benar ya, tidak bisa sedikit saja diajak bercanda."


"Sudah-sudah sebaiknya kita bersiap!" Tomi melerai pertengkaran mereka.


"Ma bolehkah aku ke luar sebentar, aku mau menjenguk seseorang."


"Stev lain kali saja ya, kasihan papa mau cepat pulang karena sudah tidak betah di sini."


Steven sedikit cemberut tetapi dia tetap mematuhi ucapan mamanya.


Mereka bersiap ke luar dari ruang rawat setelah Arfan menyelesaikan semua administrasi rumah sakit.


Sania mendorong kursi roda Tomi ke luar diikuti oleh Steven dan yang lainnya, Arfan sendiri sibuk membawa barang-barang milik Tomi dan Sania selama mereka berada di rumah sakit, disaat bersamaan Arman juga ke luar dari ruangan mendorong kursi roda Zaki.


"Om baaaaiiikkkkkk!!!" pekik Steven sembari berlari ke arah Zaki yang terduduk di atas kursi roda, kemudian Steven memeluk laki-laki itu penuh rindu seolah sudah sangat lama tidak bertemu.


Mereka yang ada di sana merasa tercengang menyaksikan kejadian itu, kecuali Arman yang memang sudah mengetahui jika Zaki dan Steven sudah saling mengenal.


Tomi tidak pernah menyangka jika mereka akan bertemu secepat ini, bahkan Zaki akhirnya mengetahui jika Steven adalah anaknya.