
Pagi-pagi sekali Arfan dan Mentari pamit dari rumah Nenek, mereka harus ke kampus pagi ini.
"Sayang nanti ujianmu sampai jam berapa?" Tanya Arfan ketika mereka sedang dalam perjalanan ke kampus setelah terlebih dahulu pulang ke rumah mereka untuk bersiap dan mengambil peralatan untuk dibawa ke kampus.
"Hari ini sampai jam dua Kak, ada dua ujian yang harus aku ikuti. Setelahnya tinggal menyusun hasil penelitian dan menyelesaikan tugas akhirku Kak."
"Iya sayang semoga di permudah ya," Arfan mengacak rambut Mentari.
"Kamu hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa cepat kabari aku."
"Iya Kak, aku akan lebih berhati-hati."
Mereka berpisah di kampus karena menuju fakultas yang berbeda.
Di depan kelas Mentari disambut oleh Siska yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Mentari akhirnya kamu datang juga!"
"Kamu sudah lama Sis?"
"Sudah dong, ayo masuk Mentari!"
Mentari dan Siska telah menyelesaikan ujian pertama dan kedua mereka, rasanya begitu lega karena ini merupakan semester terakhir bagi keduanya. Setelahnya mereka akan lulus setelah menyelesaikan tugas akhir.
"Mentari apakah kamu sudah dijemput?"
"Belum Sis, sepertinya Kak Arfan masih sibuk."
"Bagaimana kalau kita susul saja?"
"Boleh, ayo Sis."
Arfan baru keluar dari kelas saat Mentari dan Siska sampai di tempatnya biasa mengajar. Arfan yang melihat mereka berdua menghampiri keduanya dengan wajah sumringah karena tidak menyangka jika Mentari akan menyusulnya.
"Sayang kamu kesini?"
"Iya Kak, aku tidak mau menunggu sendirian. Jadi aku kesini deh."
"Kalian apakah mau bertemu seseorang?" Tanya Arfan kepada keduanya.
"Siapa Kak?"
"Tunggu saja sebentar lagi dia pasti keluar."
Tidak seberapa lama, orang yang dimaksud oleh Arfan keluar dari kelasnya setelah menyelesaikan ujian hari ini.
"Tuh orangnya!" Arfan menunjuk seorang pemuda yang baru keluar dari kelasnya.
"Riko?" Panggil Mentari.
Riko yang merasa namanya dipanggil, tersenyum begitu bahagia melihat siapa yang tadi memanggilnya.
"Mentari, Siska kalian kesini?"
"Iya Rik, kamu baru selesai ujian?"
"Iya nih, Pak Arfan bikin soalnya susah banget." Riko terkekeh menjawab pertanyaan Mentari.
"Soalnya yang susah atau kamu yang tidak belajar?" Arfan bersedekap.
Riko nyengir kuda, "Bapak tahu saja!"
"Rik ayo main ke rumah?"
"Kapan-kapan saja Mentari, aku mau belajar buat besok."
"Kalau begitu kita pamit dulu ya Rik, kalau butuh apa-apa telfon saja."
"Baik siap Mentari!"
Arfan dan Mentari mengantarkan Siska ke asramanya sebelum mereka pulang karena Siska harus berkemas untuk pergi ke luar kota malam ini. Selanjutnya, Arfan membawa Mentari ke rumah orangtuanya karena memang mereka sudah lama sekali tidak berkunjung.
"Mentari sayang sudah lama sekali baru datang, bagaimana kabarmu Nak?"
"Apakah bayinya sehat Nak?"
"Iya sehat Bu, maafkan aku ya Bu karena jarang bisa kesini."
"Tidak apa-apa Nak, yang terpenting kalian semua sehat."
Mereka berdua hanya sekitar dua jam berada di rumah orangtua Mentari, mereka harus pulang ke rumah karena sama dengan Siska mereka juga harus segera bersiap pergi ke luar kota.
Sesuai janji Arfan, dia akan datang saat mereka berhasil masuk ke babak final untuk menyaksikan pertandingan mereka secara langsung. Sekaligus jika mereka berhasil memenangkan pertandingan di babak final, ada bonus besar dari Arfan untuk para pemain.
Tengah malam mereka sampai di hotel tempat anak-anak menginap, Mentari dan Siska ditempatkan dalam satu kamar sedangkan Arfan dan Arman memilih sekamar dengan Tomi.
"Terimakasih Tom, aku percaya kamu bisa melakukannya dengan baik."
"Jangan begitu Fan karena aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan. Anak-anak juga sangat mandiri dan kompak jadi aku tidak mengalami kesulitan."
"Baiklah Tom, kalau bagitu ayo kita istirhat. Aku lelah sekali Tom."
Keesokan paginya, Arfan dan yang lainnya menemui anak-anak yang sedang sarapan. Anak-anak sangat terkejut karena tidak menyangka jika bos mereka datang untuk menepati janji. Apalagi dia tidak datang sendirian tetapi bersama Mentari dan yang lainnya.
"Bos kamu benar datang?" Dio mewakili teman-temannya.
"Bukankah aku selalu menepati janjiku?"
"Kami sangat beruntung karena memiliki bos sepertimu."
"Sudah sekarang kalian makan dulu, pertandingan masih nanti jam empat sore jadi kalian masih memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Jam sepuluh nanti kalian temui aku di kamar Manager!"
"Baik bos," jawab mereka serempak.
Arfan dan yang lainnya bergabung untuk sarapan bersama anak-anak, mereka banyak bercanda dan bercerita kesana kemari. Di saat itulah, Zaki dan Marryana datang menghampiri.
"Fan selamat ya, karena tim kalian berhasil masuk ke babak final, semoga hari ini bermain bagus dan bisa menang untuk mewakili negara kita ke turnamen tingkat Asia!"
"Terimakasih Za atas do'a dan dukungannya!"
"Selamat ya Fan, aku turut bahagia. Jangan lupakan kejadian pagi itu ya?" Marryana sedikit menyindir Arfan.
Mentari yang merasa penasaran dengan maksud ucapan Marryana akhirnya bertanya, "Kak Marry kejadian apa itu?"
"Kamu belum menceritakannya pada istrimu Fan?"
Mentari memandang ke arah Arfan, "Apakah ada rahasia yang Kakak sembunyikan dariku?"
"Nanti aku ceritakan ya, sekarang kita fokus pada pertandingan anak-anak dulu ya sayang."
Mentari memilih untuk meredam rasa penasarannya, sebab jika diteruskan mungkin dia bisa saja membuat konsentrasi anak-anak terpecah.
Marryana dan Zaki pamit undur diri, mereka sore nanti akan menonton pertandingan babak final sebelum mereka akan kembali ke club malam nanti. Hari ini mereka akan membawa anak-anak untuk jalan-jalan agar mereka merasa senang.
"Apakah kalian tidak sebaiknya segera menikah saja?" Goda Arfan kepada Zaki dan Marryana.
"Bicara apa kamu Fan, kita saja hanya berteman. Tapi ah sudahlah kami pergi dulu ya!" Zaki berjalan meninggalkan Arfan yang memang sengaja memancingnya.
"Do'akan saja ya Fan!" ucap Marryana sebelum menyusul Zaki yang sudah berjalan lebih dulu.
Arfan duduk kembali untuk sarapan bersama anak-anak dengan Mentari berada di sampingnya, Arfan merasa sangat nyaman pagi ini sehingga dia bisa sarapan dengan lahap tidak seperti biasanya.
Mereka menyudahi acara sarapan pagi ini, Mentari dan Siska memilih berkeliling bersama sedangkan Arfan dan yang lainnya membahas strategi yang akan mereka terapkan, mereka akan bertemu anak-anak pukul sepuluh nanti, jadi masih ada waktu sekitar dua jam untuk melakukan diskusi.
"Kalian hati-hati ya mainnya, jangan jauh-jauh!" pesan Arfan kepada Mentari dan Siska.
"Iya Kak, kami akan berhati-hati."
Setelah keduanya pergi, Arfan masuk ke kamar Tomi dan membahas beberapa pertandingan terakhir yang anak-anak lakukan, termasuk jatuh bangunnya mereka. Tidak lupa Arfan melakukan analisis kekuatan tim lawan dengan melihat strategi yang pelatih mereka terapkan dan juga pemain mana yang patut untuk dicurigai.
"Fan apa kamu tidak lihat jika mereka tim yang sangat tangguh?" Arman mengurai ketegangan diantara mereka.
"Setangguh apapun sebuah tim, tentu mereka memiliki kekurangan bukan?"
"Disinilah tugas kita untuk mencari kelemahan apa yang mereka miliki, jadi kita bisa mengatur strategi."
"Kamu benar Fan, disaat seperti ini sebagai manager aku butuh pendapat lain agar jangan sampai aku mengambil keputusan yang keliru."
"Tom bagaimana kalau kita bermain dengan strategi ini?" Arfan memberikan sebuah bagan pertandingan kepada Tomi.
"Fan bukankah itu strategi bermain kita ketika kita berhasil masuk ke kejuaraan nasional?"
"Kamu masih mengingatnya Man?"
"Bagaimana aku tidak ingat Fan, hari itu adalah hari terakhir kita bermain bersama di lapangan."
Arfan menarik nafasnya, dadanya masih saja terasa sesak jika mengingat masa lalu. Kini dia bisa membawa timnya kembali masuk ke kejuaraan nasional maka dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Baiklah mari kita lakukan dan ulangi sekali lagi!"