My Old Star

My Old Star
#116 Saran Ibu Ilyas



Mentari memulai aktivitas penelitiannya dengan ditemani oleh Riko dan Siska pagi ini seusai mereka sarapan bersama. Mereka bahu membahu membantu Mentari agar gadis itu lebih mudah mengaplikasikan alat yang telah dia buat.


Riko sering kali mengambil kesempatan untuk bisa dekat dengan Mentari yang memang cuek saja dengan pemuda itu. Dia fokus dengan apa yang harus dia kerjakan. Dia justru merindukan Arfan dan bahkan lebih kepada khawatir kepadanya jika pagi menjelang.


Mentari masih takut jika suaminya mengalami morning sickness kembali meskipun Arfan mengaku jika dia sudah baik-baik saja. Namun, Mentari sering melihat Arfan lama sekali di kamar mandi. Mentari tahu jika Arfan menyembunyikan sesuatu kepadanya dan tidak ingin membuat istrinya khawatir.


Mentari menghembuskan nafasnya berkali-kali saat mengingat Arfan, "Semoga kakak baik-baik saja pagi ini." Harap Mentari di dalam hatinya.


Arfan sendiri berada di club, dia belum bisa keluar dari kamar karena merasa sangat lemas. Sejak subuh tadi Arfan sudah harus bolak-balik ke kamar mandi karena mual yang tidak tertahankan. Beruntung karena kampus libur hari tenang sebelum pelaksanaan ujian semester jadi Arfan tidak harus terburu-buru masuk kelas untuk mengajar.


Sania yang tidak melihat Arfan bergabung di meja makan bersama anak-anak untuk sarapan pagi merasa sedikit cemas.


"Tom bisa kamu cek Arfan di kamarnya?"


"Nanti aku cek Sa, kamu jangan cemas. Sekarang antarkan Stev ke sekolah dulu."


Sania mengangguk kemudian pergi untuk mengantarkan Steven ke sekolah, saat ini Steven sedang ulangan akhir semester jadi dia tidak boleh sampai terlambat masuk agar konsentrasinya tidak terpecah.


Tomi mengetuk pintu kamar Arfan berkali-kali namun tidak ada sahutan dari dalam, Tomi memutuskan untuk masuk karena kamar Arfan ternyata tidak dikunci.


Tomi menemukan Arfan bersandar disebelah ranjang dengan wajah yang pucat pasi.


"Fan kamu kenapa?" Tanya Tomi yang segera mengambil minyak kayu putih untuk membaluri tubuh Arfan supaya lebih hangat setelah membantunya naik ke atas ranjang.


"Aku akan ambilkan teh hangat untukmu, tunggu sebentar disini!"


Tomi menuju dapur untuk mengambil teh hangat dan memberitahukan kondisi Arfan kepada ibu Ilyas.


"Ibu akan buatkan sup hangat untuknya nak, kamu cepat bawa teh ini ke kamarnya!"


"Baik bu," Tomi berjalan dengan setengah berlari, dia sangat khawatir jika sampai terjadi sesuatu kepada Arfan, sedangkan mereka harus bersiap hari ini untuk berangkat keluar kota karena lusa pembukaan turnamen nasional akan segera dimulai.


"Fan ini minum dulu!" Tomi menyodorkan gelas yang dibawanya kepada Arfan.


"Apa setiap pagi kamu mengalaminya?"


Arfan hanya bisa mengangguk lesu, dia seperti tidak memiliki tenaga lagi hanya untuk sekedar berbicara membalas pertanyaan Tomi.


"Fan kamu harus banyak beristirahat, anak-anak biarlah menjadi urusanku."


"Tom aku akan baik-baik saja, ini hanya terjadi jika pagi hari."


"Tapi aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya Fan?"


"Ini karena kehamilan Mentari Tom, aku mengalami kehamilan simpatik dan bau tubuh Mentari obat bagiku, jika berada di sisinya aku tidak seperti ini."


"Dia pasti akan segera kembali, kamu bertahanlah!"


Arfan mengangguk dan tersenyum, "Terimakasih Tom, aku selalu merepotkanmu."


"Tidak perlu sungkan begitu Fan, aku yang sangat berterimakasih kepadamu."


Sania masuk ke dalam kamar membawakan sup hangat yang dibuat oleh ibu Ilyas ketika mereka berdua masih berbincang.


"Bagaimana keadaanmu Fan?" Tanyanya khawatir.


"Aku baik Sa, ada Tomi yang membantuku tadi."


"Ini makanlah dulu, biar perutmu terisi. Ibu yang membuatkannya untukmu!" Sania menyodorkan semangkuk sup hangat untuk Arfan yang justru membuat mualnya kembali muncul. Dia berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan dengan bau sup yang dibawa oleh Sania.


Disaat yang bersamaan, Mentari terpleset hampir masuk ke dalam kubangan lumpur, beruntung Riko dengan sigap menarik tangan Mentari ke pelukannya. Sepersekian detik mereka saling tertegun sebelum akhirnya tersadar.


"Terimakasih Rik," Mentari sama sekali tidak merasakan apapun terhadap Riko, namun berbeda dengan pemuda itu yang terlihat salah tingkah.


Siska mendekat ke arah Mentari, "Apakah kamu baik-baik saja?" Tanyanya mengamati tubuh Mentari.


"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya Sis, pagi-pagi begini pasti dia sedang mengalami kesulitan."


"Aku mengerti Mentari, tapi yang perlu kamu lakukan sekarang adalah fokus."


Mereka kembali melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda. Di sisi lain, Arfan kondisinya sudah lebih baik dari pada tadi pagi. Kini dia sudah bersiap untuk melihat sesi terakhir anak-anak latihan hari ini sebelum pertandingan sesungguhnya dimulai.


"Fan aku boleh berbicara sebentar?" Sania yang baru pulang menjemput Steven mendekati Arfan, dia ingin segera menyampaikan sebuah hal kepada calon Ayah itu sebelum dia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena untuk beberapa hari kedepan mereka tidak akan tinggal di club.


Arfan berpamitan kepada Tomi yang masih fokus mengamati anak-anak dan pergi menemui Sania.


"Fan cobalah kamu jenguk Ilyas sebelum pergi."


"Ada apa dengan Ilyas Sa, apa yang terjadi dengannya? Bukankah kalian baru saja menjenguknya beberapa hari ini?"


"Dengarkan aku dulu Fan,"


Sania menceritakan pertemuannya dengan Ilyas tempo hari saat mengantarkan ibu Ilyas menjenguk anaknya.


"Mo?"


"Ancaman?"


"Apakah mungkin itu Mona?" Tanya Arfan.


"Aku sepemikiran Fan karena siapa lagi kalau bukan wanita itu yang selalu membuat masalah dengan kita."


"Tapi kita tidak memiliki bukti apapun Sa."


"Temui Ilyas nak, ibu yakin Ilyas akan berkata jujur." Ibu Ilyas tiba-tiba muncul diambang pintu belakang.


Arfan dan Sania menoleh secara bersamaan, "Baik Bu, nanti aku akan menjenguknya." Jawab Arfan dan mempersilakan ibu Ilyas untuk duduk bersama mereka.


"Satu lagi nak, sebaiknya beri penjagaan untuk Mentari saat ini. Bisa saja dia dalam bahaya."


"Ibu benar Fan, apabila benar Mona yang menyuruh Ilyas saat itu tentu dia akan mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan kalian berdua." Sania menambahi saran ibu Ilyas dengan pendapatnya.


"Kalian benar!"


Arfan segera pergi meninggalkan club untuk menemui neneknya dan berpesan pada Sania agar Tomi bisa mengantarkan anak-anak sesuai jadwal sedangkan dirinya akan menyusul sebab tidak ada waktu lagi bagi Arfan.


Mungkin saja saat ini Mona sedang mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Mentari dan itu artinya dia sedang dalam bahaya karena tanpa penjagaan sama sekali.


Arfan menelfon Reza agar tidak memberikan akses kepada siapapun yang ingin mengetahui keberadaan Mentari saat ini. Reza paham maksud Arfan karena selama ini dia banyak mengetahui lika liku hubungan Arfan dengan mahasiswinya itu.


Arfan mencoba menghubungi Mentari dan Siska namun sayangnya Arfan tidak dapat menghubungi keduanya karena mungkin mereka sedang berada di lokasi yang tidak dapat dijangkau oleh sinyal dari provider manapun.


Arfan sampai di rumah neneknya yang disusul oleh Arman yang sudah ia kabari tadi sewaktu dalam perjalanan ke rumah nenek.


"Nenek mengerti Fan, serahkan saja pada nenek."


"Aku juga akan kesana setelah memastikan anak-anak sampai di tempat pertandingan dengan aman, jadi aku mengandalkanmu saat ini nek."


"Kamu tenanglah, cucu kesayangan nenek tidak boleh sampai lecet meskipun hanya sedikit saja."


Arfan kemudian pergi bersama Arman untuk menemui Ilyas, dia ingin tahu detail dari mulut Ilyas sendiri mengenai orang yang memanfaatkannya untuk berbuat kejahatan.


"Untuk apa kalian datang kemari?" Tanya Ilyas ketus saat sudah duduk di hadapan Arfan dan Arman.


"Apa kedatangan kalian bermaksud untuk menertawakanku?"


"Katakan!"