My Old Star

My Old Star
#129 Penyelamatan Ibu Ilyas



Arfan mendekati Mentari dan memeluknya erat, "Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu dan calon bayi kita." Janji Arfan kepada istrinya.


"Kak jangan khawatir, Mona hanya butuh aku untuk membuka laboratorium itu kan?"


"Aku akan tetap bersamamu sayang, kita akan membebaskan Ibu tanpa menukarnya dengan siapapun."


Di gudang tua yang digunakan Mona untuk menyekap Ibu Ilyas, Mona sedang tertawa pongah. Dia sudah merasa menang karena akhirnya dia akan segera terbebas dari segala tuduhan dan yang paling penting dia akan mendapatkan Mentari tanpa harus gagal lagi seperti sebelumnya.


"Bram kau tahu, aku sedang sangat bahagia. Aku akan melenyapkan gadis itu beserta bayinya, dengan begitu aku akan mendapatkan Arfan!"


"Apakah itu artinya aku juga akan mendapatkan keuntungan darimu?"


"Tentu saja Bram, aku akan memberikan banyak uang kepadamu jika kita bisa mendapatkan Arfan dan juga perusahaan Nenek tua itu."


Mona dan Bram tertawa bersama, "Kita akan menunggu kedatangan mereka."


Ibu Ilyas yang mendengarkan pembicaraan Mona dan Bram merasa harus memiliki cara agar dia bisa kabur dari tempat itu. Dia tidak rela jika Arfan dan Mentari menjadi korban karena menyelamatkan dirinya, padahal selama ini mereka sudah sangat baik dan sudi untuk menampungnya yang harus hidup sebatang kara setelah Ilyas dinyatakan bersalah dalam kasus yang menimpanya.


"Aku harus segera meloloskan diri dari sini, wanita itu sungguh berhati iblis!" batin Ibu Ilyas.


Sementara Ibu Ilyas sedang mencari celah agar bisa kabur, Arfan dan Mentari sedang dalam perjalanan menuju ke tempat dimana dia harus menyelamatkan Ibu yang sangat berarti bagi mereka. Ibu Ilyas sudah menjadi keluarga bagi semua yang ada di club.


Zaki, Tomi, Arman dan yang lainnya berada agak jauh dari mobil Arfan. Hanya Sania dan Steven saja yang tidak ikut bersama mereka.


Kini Arfan sudah sampai di tempat yang Mona tunjukkan kepadanya. Tempat itu dipenuhi dengan ilalang yang tinggi.


Arfan menelfon Mona dan wanita itu keluar bersama Bram.


"Kalian datang juga rupanya!"


"Cepat serahkan Ibu kepada kami!"


"Tidak semudah itu Fan, aku butuh istrimu untuk membuka laboratorium itu!"


"Baiklah Tante Mona, mari aku tunjukkan dimana laboratorium itu berada dan aku akan membawa kalian masuk ke dalam sana." Mentari tidak memiliki rasa gentar sedikitpun menghadapi Mona, ini adalah kesekian kalinya dia harus berurusan dengan Mona.


"Baiklah ayo kita pergi sekarang!" Mona mengajak Bram untuk ikut bersamanya sedangkan orang-orang Mona diperintahkan untuk menjaga Ibu Ilyas agar tidak ada seorangpun yang bisa membawanya kabur.


"Tunggu Fan, apakah kalian bisa dipercaya?"


"Mona bukankah kaulah ratu liciknya?"


"Tidak perlulah kau khawatir begitu!"


Mereka naik ke dalam mobil masing-masing, Bram yang menaiki mobil bersama Mona mengikuti kemana Arfan mengendarai mobilnya. Tujuan Mona memang hanya satu menguasai barang bukti itu dan melenyapkan istri Arfan agar dia bisa menggantikan posisinya.


Ketika Arfan membawa Mona ke laboratorium, teman-teman Arfan mencoba memasuki gudang tua untuk menyelamatkan Ibu Ilyas.


Zaki dan yang lainnya harus berhadapan dengan orang-orang Mona dibantu oleh anak-anak sedangkan Marryana dan Siska mencoba menyelamatkan Ibu Ilyas.


"Siska kita harus cepat!"


"Iya Kak, ayo kita harus bisa menemukan Ibu segera!"


Mereka mencari Ibu dimana-mana namun tidak seorangpun bisa menemukannya, "Kak aku tidak bisa menemukan Ibu?"


"Sama aku juga Sis, entah dimana Ibu sekarang!"


"Kita harus memberitahu Zaki dan yang lainnya Sis!"


Zaki dan yang lainnya berhasil melumpuhkan orang-orang Mona yang tidak seperti dugaan mereka, awalnya mereka mengira jika orang-orang Mona masih banyak seperti dulu tapi kali ini ternyata jauh lebih mudah mengalahkan mereka karena jumlah mereka yang sedikit.


"Man sepertinya Mona sudah banyak kehilangan anak buahnya!"


"Mereka banyak yang sudah bekerja diperusahaan milik Nenek Arfan Za."


"Bagaimana mungkin seperti itu Man?"


"Mungkin saja karena Arfan yang melakukannya Za!"


Zaki manggut-manggut, "Arfan memang sangat berbeda cara berfikirnya, aku salut kepadanya Man."


"Za aku tidak berhasil menemukan Ibu!" Marryana yang baru datang langsung melaporkan kondisinya kepada Zaki dan Arman.


"Jangan-jangan Mona membawa serta Ibu bersamanya!"


"Dasar wanita licik, kalau begitu Arfan dan Mentari berada dalam bahaya. Kita harus segera menyusul mereka Man!".


Mereka semua bergegas memasuki mobil, mereka akan menyusul Arfan dan Mentari.


"Sis apakah kau tahu tempatnya?"


Siska mengangguk, "Iya aku mengetahuinya!"


"Bagus kalau begitu akan menjadi mudah bagi kita untuk menemukan mereka."


Mona dan Bram merasa menang sebab dia berhasil menjebak teman-teman Arfan, mereka sudah memprediksi jika Arfan tidak mungkin datang hanya berdua saja dengan Mentari.


"Apakah kau yakin wanita tua itu akan baik-baik saja berada di dalam bagasi Mon?"


"Kau tidak perlu khawatir Bram, dia akan baik-baik saja."


"Kau tahu Bram, dengan begini kita hanya perlu selangkah lagi untuk menang. Arfan tidak memiliki pilihan lain kecuali menyerahkan istrinya kepadaku!" Mona tertawa pongah.


Kini mereka telah sampai di depan laboratorium mini yang dibangun oleh Mentari dan Ilyas sewaktu mereka sering melakukan penelitian bersama. Meskipun kecil, mereka memberikan pengamanan yang cukup ketat agar tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam tanpa seizin mereka berdua.


Sewaktu Ibu Ilyas hendak melarikan diri, dia diketahui oleh salah satu anak buah Mona kemudian dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil sebelum Arfan dan Mentari datang sehingga mereka mengira jika Ibu Ilyas masih disekap di dalam gudang.


"Ibu?!!" teriak Mentari yang tidak menyangka jika Ibu ada bersama mereka.


"Bagaimana Mentari, kamu ingin wanita tua ini selamat kan?"


"Cepat buka pintu laboratorium itu!"


Mentari memandang ke arah Arfan yang diangguki olehnya, perlahan Mentari memasukkan password dan menyecan wajahnya.


Pintu laboratorium perlahan terbuka, "Silakan kau bisa masuk tante Mona!"


"Tapi serahkan Ibu kepada kami!"


"Tidak semudah itu Mentari, aku akan pastikan jika barang bukti itu ada di tempat ini. Baru aku bisa menyerahkan wanita tua itu kepada kalian!"


"Bram awasi wanita tua itu jangan sampai lepas!"


Bram patuh dengan perintah Mona, sementara Mona masuk ke dalam laboratorium mencari benda yang akan menyelamatkan hidupnya.


"Bagaimana Mon, apakah ada disini apa yang kamu cari?" Tanya Arfan kepada Mona yang sebenarnya telah melihat dimana benda itu sekarang berada sebab Ilyas pernah menunjukkan kepadanya.


"Aku pasti akan segera menemukannya Arfan sayang," Mona masih sempat menggoda Arfan.


"Apakah kau yakin jika menemukannya kau akan bebas dari segala tuduhan Mon?"


"Tentu saja sebab rekaman itu sangat menentukan hidupku."


"Benarkah tante Mona?"


"Bagaimana dengan yang ini?" Mentari memperlihatkan rekaman di ponselnya.


"Bagaimana mungkin kau memiliki video itu gadis tengik!"


"Serahkan Ibu sekarang kepada kami jika tante Mona tidak mau video ini tersebar ke dunia maya, dimana reputasi tante menjadi taruhannya, bukankah selebgram seperti tante butuh popularitas agar pendapatan tante stabil?"


"Kau benar-benar licik gadis tengik!"


"Tante yang mengajariku, jadi maafkan aku berbuat seperti ini kepada tante."


"Sekarang silakan pilih, melepaskan Ibu Ilyas atau video ini tersebar ke dunia maya. Tinggal aku klik semua akan tahu dan aku yakin followers tante yang berjuta-juta itu akan serempak meninggalkan kamu tante!"


"Bram lepaskan wanita tua itu!" Bram melepaskan Ibu Ilyas, namun dia menendang tubuh Mentari hingga gadis itu tersungkur. Ponsel Mentari terlempar, namun Mentari sempat mengklik sekali ponsel itu. Dia tidak punya pilihan lain sebab mereka juga telah berbuat tidak baik.


Arfan dan Ibu Ilyas menolong Mentari yang kesakitan, " Mentari apakah kamu tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja Kak, jangan khawatirkan aku. Tangkap mereka Kak!"


Ibu Ilyas membantu Mentari berdiri, sedangkan Arfan menghajar Bram yang sudah menyakiti istrinya. Mona pun tidak tinggal diam, dia mengambil kursi dan mencoba melemparkannya ke arah Mentari. Namun, Zaki dan yang lainnya datang tepat waktu. Zaki berhasil menangkap Mona sebelum berhasil melemparkan kursi ke arah Mentari dan Ibu Ilyas.


"Lepaskan aku, kalian tidak perlu ikut campur urusanku!"


"Selama ini menyangkut Arfan dan Mentari, maka selamanya akan menjadi urusanku!"


Arfan berhasil melumpuhkan Bram dan membawanya keluar dari laboratorium, "Man bawa dia!" perintah Arfan kepada Arman.


Bram sempat melihat Marryana yang berdiri diantara yang lainnya setelah menolong Mentari.


"Marry ternyata kau disini juga, sejak lama aku mencintaimu. Aku berharap kau mau memaafkanku dan menerima cintaku!"


"Sudah terlambat Bung, wanita cantik ini adalah calon istriku. Dia yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku, jadi buang jauh-jauh harapanmu itu dan bertobatlah!" Zaki membuat Marryana tersipu malu, secara tidak langsung Zaki telah menyatakan perasaannya.


Ucapan Zaki tadi disambut riuh oleh anak-anak yang ikut bersama mereka. Sementara itu, Arfan kembali ke dalam laboratorium untuk mengambil barang bukti dan juga ponsel Mentari. Mereka telah berhasil melakukan penyelamatan Ibu Ilyas tanpa ada lecet sedikitpun, Arfan merasa lega sebab dia yang paling bertanggungjawab kepada Ilyas mengenai keselamatan Ibu.


"Kunci kembali laboratorium ini Mentari sayang, setelah ini tidak akan ada lagi yang mengganggu hidup kita."


Mentari meringis kesakitan, "Kau kenapa sayang?" Tanya Arfan panik.


"Nak sepertinya kita harus segera membawa Mentari ke dokter, Ibu khawatir terjadi masalah pada kandungannya."


Arfan terlihat sangat cemas, dia segera melarikan Mentari ke rumah sakit. Sedangkan Zaki dan Arman bertugas membawa Bram dan Mona ke kantor polisi dengan membawa barang bukti yang ada agar Ilyas bisa segera dibebaskan.


Tomi mengkomando anak-anak agar segera kembali ke club. Sedangkan Marryana dan Siska ikut ke kantor polisi.


Saat ini video Mona telah tersebar dijagat Maya, dalam waktu hanya beberapa menit saja para pengikut Mona membatalkan diri mereka sebagai pengikut setia Mona yang mereka kenal sebagai wanita yang sopan, sabar dan juga tahan banting dari berbagai macam ujian, namun kenyataan berbicara lain wanita itu tak ubahnya seperti penipu ulung yang berhasil menipu mata mereka selama ini. Jatuh sudah reputasi yang Mona bangun selama ini.


Setelah semua urusan mereka selesai, Zaki membawa Marryana untuk kembali ke club.


"Za apa yang kamu katakan sewaktu di depan laboratorium itu benar?" Tanya Marryana kepada Zaki.


"Akan menjadi benar jika kau juga menginginkannya Marry!" jawab Zaki santai.


Marryana tersipu malu, "Kalau begitu, ayo kita segera urus segala sesuatunya!"


"Secepat inikah Za?"


"Iya, kenapa?"


"Tidak mau?"


"Bu-bukan begitu Za, aku mau Za!"


"Kalau begitu ayo!"