
Malam harinya Mentari merasa kesusahan untuk beristirahat karena masih terpikirkan olehnya kata-kata Arfan yang mengatakan jika dirinya adalah kunci, dia masih saja tidak paham dengan semua itu.
"Mentari apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Siska kepada Mentari karena melihat sahabatnya itu tampak gelisah.
"Aku masih tidak paham kenapa kak Arfan menyebutku sebagai kunci."
"Kita tanyakan nanti saja Mentari, sebaiknya kita istirahat karena besok kita harus melanjutkan pekerjaan kita, bukankah semakin cepat akan semakin baik bagi kita?"
"Kamu benar Sis, eh ya Sis aku lupa mengatakan kepadamu jika kak Arman sedang menyusul kita kesini. Coba kamu pastikan sudah dimanakah dia saat ini?"
"Kak Arman menyusul kita?" Tanya balik Siska dengan terkejut.
"Cepat hubungi dia Sis, aku khawatir dia tersesat."
Siska buru-buru mengambil ponsel, dia mencari nomor Arman dan menelfonnya namun tidak bisa menghubungi laki-laki itu karena panggilannya selalu di luar jangkauan.
"Tidak bisa tersambung, sepertinya kak Arman sudah masuk ke dalam wilayah tanpa sinyal."
"Mana di luar sedang hujan, kasihan sekali kak Arman pasti dia kedinginan di dalam mobil." Kini giliran Siska yang tidak bisa beristirahat karena memikirkan Arman yang saat ini malah sedang tertidur nyenyak di dalam mobil setelah makan malam yang dia bawa sendiri saat hendak mau melakukan perjalanan.
Arman sudah memperkirakan jika tempat yang akan dia tuju bukanlah tempat yang mudah dijangkau jadi dia benar-benar mempersiapkan diri untuk banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Arman sudah terbiasa untuk survive jadi tidak begitu sulit baginya jika hanya sekedar harus tidur di dalam mobil karena belum mencapai desa yang menjadi tempat penelitian Mentari saat ini sedangkan hari sudah malam ditambah hujan lebat yang mengguyur jalanan berbatu yang harus dia lewati sehingga tidak memungkinkan baginya untuk melanjutkan perjalanannya malam ini.
Arman memilih untuk menepi di tempat yang tidak jauh dari beberapa pemukiman penduduk yang berada di pinggiran jalan setelah meminta izin kepada penduduk agar tidak ada yang mencurigainya sebagai orang jahat.
Arfan sendiri baru saja sampai di tempat tujuan, dia langsung disambut oleh Zaki dan Marryana yang juga sudah ada di tempat itu.
Kebetulan mereka menginap di tempat yang sama sesuai dengan pengaturan dari panitia.
"Kamu baru sampai Fan?" Tanya Marryana yang melihat Arfan masuk.
"Iya An, diluar hujan jadi aku lebih berhati-hati dalam berkendara."
"Kalian kenapa belum beristirahat?"
"Aku masih ingin berbicara serius dengan Zaki, jadi ingat Fan kita tetap rival di lapangan!" Marryana tertawa setelah menyebut kata rival.
"Aku tidak akan takut sama sekali An!"
"Kita lihat saja tim siapa yang akan unggul di babak penyisihan!" tantang Marryana.
"Sudah-sudah kalian ini seperti anak kecil dan kau Fan sudah mau jadi Ayah tetap saja tidak bisa mengalah kalau berdebat!"
Arfan jadi teringat Mentari yang kini berada jauh dari dirinya, "Apakah Arman sudah sampai?" Pikirnya.
"Kenapa diam Fan, takut?" Marryana mulai lagi.
"Dahlah aku malas berdebat sama kamu An, aku masuk dulu!"
Arfan meninggalkan Zaki dan Marryana untuk masuk ke kamarnya, Arfan mencoba mengirim pesan kepada Arman untuk menanyakan apakah dia sudah sampai apa belum ke tempat tujuan namun sepertinya ponsel Arman tidak aktif.
Arfan pada akhirnya memilih untuk masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya dan bersiap untuk beristirahat.
Di luar hujan semakin deras, Arman yang terpaksa harus tidur di mobil terbangun karena merasa kedingan meskipun dia sudah memakai jaket dan juga selimut tebal yang memang sengaja dibawanya.
Arman ragu untuk meneruskan perjalanan malam ini karena tidak paham dengan jalan yang dia lalui sehingga khawatir nyasar masuk ke dalam hutan atau jurang sehingga dia memilih untuk beristirahat sambil menunggu langit pagi kembali menyapa.
Pagi akhirnya datang, Mentari dan Siska sudah berada di dapur untuk membantu Bu Kades menyiapkan sarapan sebelum mereka melanjutkan pekerjaan kemarin.
"Wah nak Mentari pintar sekali memasak rupanya," puji Bu Kades kepada Mentari.
"Ibu jangan berlebihan begitu, aku hanya paham teknik dasarnya saja Bu jadi hanya bisa memasak makanan tertentu."
"Tapi jarang anak jaman sekarang bisa masak lho nak, ini sudah sangat bagus."
"Terimakasih Bu, aku akan tata dulu ini di meja makan."
Siska mengikuti Mentari untuk menata masakan mereka di atas meja makan, Riko yang sedari tadi menyimak obrolan mereka bertiga di dapur, menghampiri Ibunya yang masih sibuk menggoreng cabai untuk membuat sambal.
"Bagaimana Bu, bukankah aku pintar memilih?"
"Apa maksud kamu Rik, Ibu tidak paham. Pagi-pagi jangan bikin Ibu bingung." Jawab Bu Kades yang tidak paham dengan maksud pembicaraan anaknya.
"Itu Bu... Mentari, masa ibu tidak bisa melihatnya."
"Jangan berharap terlalu tinggi nak, nanti kamu bisa kecewa."
"Tapi Ibu menyukainya kan?"
"Sekarang ayo kita sarapan dulu, nanti berangkatnya kesiangan. Kasihan Mentari dan Siska jadi lama menunggu."
Mereka sarapan sambil berbincang bersama pak Kades mengenai topologi Desa yang menyebabkan susahnya jaringan internet masuk ke desa mereka kecuali rumah-rumah yang memakai wifi padahal zaman dengan serba teknologi yang serba cepat dan semua serba online membutuhkan jaringan internet yang bagus agar pekerjaan bisa cepat terselesaikan.
"Aku akan menghubungi kak Arfan nanti untuk membicarakan hal ini," batin Mentari.
Mereka bertiga siap untuk melanjutkan penelitian dan berangkat ke lokasi. Mentari teringat pesan dari Arfan untuk mengenali tanda jika ada hal yang mencurigakan sehingga membuatnya lebih waspada.
Arman sudah selesai membersihkan diri dengan menumpang di Mushola terdekat dengan tempatnya bermalam di mobil semalam.
Kini dia siap melanjutkan perjalanan setelah tadi sempat sarapan seadanya sisa bekal yang dibawanya kemarin. Lain Arman lain juga Arfan yang masih berada di dalam kamarnya karena tidak bisa keluar sebelum mualnya mereda.
Tomi yang paham kondisi Arfan berniat menghampiri Arfan dikamarnya setelah memastikan anak-anak sarapan dengan cukup. Sebelum Tomi bisa menemui Arfan, ternyata Mona sudah lebih dulu menuju ke kamar Arfan.
Marryana yang baru keluar dari kamarnya sekilas melihat Mona yang menuju ke kamar Arfan.
Kali ini Marryana mengikuti Mona karena sudah tahu sepak terjang Mona selama ini. Dia khawatir jika Mona akan berbuat tidak baik kepada Arfan apalagi dengan baju yang seperti kurang bahan seperti itu. Mungkin saja Mona berniat menggoda Arfan seperti sebelum-sebelumnya.
Marryana sudah bisa menebak jika Mona akan melakukan sesuatu kepada Arfan.
Sayangnya Marryana bertemu dengan Bram di tengah perjalannya mengikuti Mona.
"Hai Marry kita bertemu disini rupanya," sapa Bram kepada Marryana.
"Kau disini juga?"
"Iya Marry ada tugas yang harus aku lakukan dalam pertandingan nasional ini."
"Oh...," jawab Marryana yang fokus mencari sosok Mona yang sudah menghilang.
"Apa kamu sedang mencari sesuatu?" Tanya Bram.
"Iya Bram, kita bicara nanti saja ya!" Marryana meninggalkan Bram yang masih berdiri di koridor.
"Nanti malam apakah ada waktu Marry?" Tanya Bram sedikit berteriak karena Marryana sudah berjalan cukup jauh.
"Aku sibuk Bram, mungkin lain kali."
Marryana terus membuntuti kemana Mona akan pergi dengan pakaian seperti itu. Benar dugaan Marryana jika Mona menuju ke kamar Arfan.
Mona mengetuk pintu kamar Arfan, "Siapa?" Tanya Arfan dari dalam.
Arfan yang masih lemas dan hampir tidak sadarkan diri membuka pintu kamar begitu saja tanpa menaruh curiga sedikitpun dan tidak menyangka jika Mona akan datang ke tempatnya menginap untuk menemuinya.
"Hai Fan, lama tidak berjumpa."
"Kau... kau siapa?" Tanya Arfan yang sudah lemas dengan pandangan yang sedikit kabur.
"Aku kekasihmu, lihatlah aku sebentar saja!"
"Pergi dari sini!" usir Arfan namun Mona tetap maju dan menutup pintu dari dalam kemudian menguncinya.
Marryana berlari menuju pintu namun terlambat karena pintu sudah tertutup dan terkunci dari dalam.
Marryana sudah mendengar jika Arfan akan lemas karena mual setiap pagi hari, jadi sudah dipastikan jika Arfan tidak memiliki tenaga untuk melawan Mona.
Marryana khawatir jika Mona memanfaatkan situasi ini. Dia menekan nomor Zaki untuk meminta bantuan.
Di dalam kamar, Arfan berusaha agar dirinya tetap sadar.
"Pergi kamu Mona!" Arfan yang perlahan bisa mengenali Mona mengusir wanita tak bermoral itu.
"Lihat aku Fan, apakah kamu tidak tertarik sama sekali?"
Mona mulai membuka bajunya yang kekurangan bahan hingga menyisakan bagian yang menutupi alat vitalnya dan dua gundukan miliknya.
"Mona kau gila!"
Arfan berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai terjebak dalam permainan ini. Dia berusaha sesadar-sadarnya meskipun masih lemas untuk bisa mengendalikan dirinya agar tidak terjatuh dan dimanfaatkan oleh Mona.
Zaki datang bersama Tomi dengan membawa kunci cadangan kemudian membuka kamar Arfan.
Braaaaaaakkkkk....
Pintu terbuka dari luar, semua ternganga karena melihat kajadian di dalam kamar.