My Old Star

My Old Star
#126 Kemenangan



Pertandingan bapak final pun dimulai, tim Arfan sudah bersiap di lapangan. Mereka sedang melakukan pemanasan sebelum bertanding agar otot-otot mereka tidak kaget saat harus bermain dengan durasi cukup ketat nantinya. Arfan memberikan arahan kepada timnya untuk menerapkan strategi yang sudah Arfan sampaikan kepada anak-anak sebelumnya.


"Ingat ada bonus besar untuk kalian setelah ini jika kalian berhasil memenangkan pertandingan selain kita akan maju ke kejuaraan Asia." Arfan memberikan motivasi sekaligus janji reward untuk anak-anak agar mereka lebih semangat untuk memenangkan pertandingan hari ini.


"Bagimana?"


"Apakah kalian siap?" Tanya Arfan kepada anak-anak.


"Siap Bos!" jawab mereka serempak.


"Kalau begitu lakukan yang terbaik untuk club!


Mereka semua mengangguk, setelah berdo'a dan bertos bersama untuk memacu semangat, semua yang akan bertanding masuk ke dalam lapangan karena pertandingan akan segera dimulai.


Arfan sangat berharap jika anak-anak yang dia asuh selama ini bisa mewujudkan impiannya yang telah pupus di masa lalu.


"Aku menaruh harapan besar kepada kalian, berikan semua kemampuan kalian untuk club dan kita akan harumkan negara ini!" tekad Arfan di dalam hatinya. Dia bersedekap di pinggir lapangan memantau anak-anak dengan Arman dan Tomi bersamanya.


Mentari dan Siska yang berada di kursi penonton ikut merasakan ketegangan yang terjadi, bagaimanapun juga tim yang harus mereka hadapi bukanlah tim sembarangan melainkan tim yang juga sudah terlatih dan kuat.


Mereka tidak boleh disepelekan karena kekuatan mereka sangat patut untuk diperhitungkan.


Kedudukan sementara saat ini satu nol dengan tim lawan yang berhasil memimpin, Arfan terus memberikan semangat kepada anak-anak agar mereka jangan sampai putus asa sebab mereka masih memiliki kesempatan selama waktu pertandingan belum habis.


Saat turun minum, Arfan memberikan banyak arahan agar anak-anak bisa memaksimalkan strategi agar berbuah poin untuk mereka.


Pertandingan pun kembali dilanjutkan, strategi dan arahan Arfan tadi berhasil membuat tim mereka menyamakan kedudukan.


Arfan menatap istrinya yang duduk di bangku penonton, mata mereka saling bertemu seolah saling berbicara dan saling meyakinkan jika mereka bisa menyelesaikan pertandingan dengan baik.


"Aku percaya kepadamu Kak, kamu pasti bisa!" ucap Mentari di dalam hatinya.


"Kamu adalah semangatku Mentari, kehangatanmu dan kepercayaanmu membuatku optimis membawa tim ini ke puncak tertinggi." Ucap Arfan di dalam hatinya.


Mereka berdua saling mengangguk dan tersenyum. Arfan kembali fokus ke lapangan pertandingan. Kini Dio berhasil membalikkan kedudukan dengan unggul satu poin dari tim lawan, namun mereka belumlah aman sama sekali karena tim lawan masih terus menyerang.


Waktu pertandingan tinggal lima menit lagi di waktu normal, mereka harus bertahan dan juga kalau bisa menambah poin lagi agar jangan sampai tim lawan mengejar keunggulan mereka saat ini.


Wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, tim Arfan berhasil memenangkan pertandingan dengan keunggulan dua satu.


Arfan bersujud tanda syukur atas kemenangan yang mereka peroleh, hasilnya memang sangat tipis tetapi timnya telah berusaha sangat keras untuk memenangkan pertandingan kali ini.


Anak-anak asuh Arfan semua berkumpul dan memeluk laki-laki itu dengan haru, Mentari dan Siska yang berada di tribun penonton pun saling berpelukan haru. Mereka tidak pernah menyangka jika mereka akan bisa sejauh ini mencapai hasil di puncak tertinggi.


Pembagian tropi kemenangan dilakukan oleh panitia, mereka semua terharu. Menangis dan saling berpelukan. Mencium medali di leher mereka masing-masing dan berfoto bersama.


"Ini untukmu Bos!" Dio berjalan mendekati Arfan dan memberikan tropi kemenangan mereka kepada orang yang paling mereka hormati di club.


Arfan tersenyum dan menerima tropi itu dari tangan Dio, "Terimakasih Dio, kalian telah memberikan yang terbaik untuk club dan mewujudkan mimpiku." Arfan menepuk pundak Dio dan memeluknya.


"Kami yang seharusnya berterimakasih Bos, karena kaulah kami bisa berhasil sampai sejauh ini."


"Sudah sana bergabunglah dengan teman-temanmu, rayakan kemenangan ini!"


Dio kembali bergabung dengan teman-temannya. Arfan naik ke bangku penonton dan menghampiri istrinya.


"Apakah kau bahagia sayang?"


"Pertanyaan macam apa itu Kak?"


"Tentu saja aku senang, sangat senang malahan."


"Kita akan terbang lebih jauh lagi, apakah kau siap?"


Mentari mengangguk dan memeluk suaminya, "Kau memang terbaik!"


Di saat bersamaan Arman dan Tomi juga naik menghampiri Arfan, "Saatnya kita kembali ke hotel Fan!"


"Baiklah Tom, ayo kita bawa anak-anak!"


Sebelum mereka keluar, Zaki dan Marryana mengejar mereka karena tadi tidak sempat memberikan selamat saat di lapangan.


"Selamat ya Fan, kamu memang pantas mendapatkan semua ini!" Zaki mengulurkan tangannya kepada Arfan.


"Maafkan kesalahanku di masa lalu Fan, aku tidak tahu jika kau memiliki potensi besar dan aku membuatmu harus mengubur impianmu!"


"Aku sudah memaafkanmu sejak lama Za, jangan khawatirkan itu lagi karena semua itu adalah takdir yang harus kita jalani."


"Aku mengerti Fan, tapi rasa bersalahku tidak membuatku lega."


"Sudahlah Za, kita tatap masa depan." Arfan mengurai pelukannya.


"An kemarilah!" Arfan memanggil Marryana.


"Kesinikan tanganmu An!" perintah Arfan.


"Dan kau juga Za!"


Mereka berdua memberikan tangan mereka kepada Arfan, "Aku merestui kalian, menikahlah karena itu akan menjadi lebih baik."


"Jagalah tunangan masa kecilku dengan baik Za, jangan perlakukan dia seperti kau memperlakukan Sania."


Arfan merangkul pundak istrinya, "Karena aku akan senantiasa hidup bersama Mentariku, jadi aku do'akan semoga kalian berbahagia."


Arfan melanjutkan langkah bersama Mentari dan yang lainnya.


"Hey Fan, bukankah aku belum menyetujuinya?" Zaki berteriak memanggil Arfan yang terus berlalu pergi bersama timnya.


"Apakah kau tidak mau Za?" Tanya Marryana kepada Zaki.


"Apa aku terlihat seperti itu?" Tanya Zaki dengan terus memegang tangan Marryana.


Marryana menggeleng, "Kalau begitu kita segerakan saja!" Zaki menggandeng Marryana untuk berjalan mengikutinya.


Marryana tersenyum mengikuti langkah Zaki, "Terimakasih Fan, aku akan tetap mengenangmu sebagai tunangan masa kecilku. Aku berjanji akan hidup lebih baik lagi dan bahagia bersama Zaki." Marryana membatin dengan terus melangkah.


Berita kemenangan tim Arfan terdengar ke banyak penjuru termasuk ke telinga Mona, "Aku harus segera melakukan sesuatu, lihat saja Fan. Aku akan membalas perlakuanmu kepadaku!"


Mona menelfon Bram dan memberinya sebuah tugas yang harus segera dilakukannya.


Mona juga mendesak Ibunya agar segera menikah kembali dengan Ayahnya.


"Aku tidak mau tahu Bu, setuju atau tidak. Ibu dan Bapak harus menikah kembali!"


"Mona kamu tahu kan Ibu sudah melakukan banyak kesalahan kepada mantan suami Ibu iti, jadi sebenarnya Ibu sudah kehilangan muka untuk kembali kepadanya Mon!"


"Apa Ibu ingin kita jatuh miskin?"


"Ibu tahu kan, aku sudah tidak seterkenal dulu. Penghasilanku terus menurun karena followerku semakin sedikit Bu. Apa Ibu mau kalau kita jatuh miskin dan kita tidak memiliki tempat untuk berlindung?"


"Mona mengertilah, tempo hari aku bertemu dengan Mahmud dan dia menolak Ibu."


"Apa dia tidak menghargaiku sebagai anaknya?"


"Kamu bukan anaknya Mon, dia sudah mengetahuinya."


"Apa?!!!"


"Aku bukan anaknya?"


"Ibu pasti berbohong kan?"


"Tidak Mon, Ibu tidak berbohong. Kamu memang bukan anaknya. Dia sudah melakukan tes DNA antara dirimu dan dia dan hasilnya negatif."


Mona terduduk lesu di lantai, "Tidak mungkin Bu!" Mona histeris dan Ibunya memeluknya.


"Maafkan Ibu Nak!"


Mona mendorong Ibunya, "Ini semua gara-gara Ibu, sekarang Ibu tidak lagi berguna bagiku. Jadi sekarang Ibu pergilah dari sini karena aku tidak mau lagi melihat wajah Ibu di depanku!" Mona mengusir Ibunya.


"Kamu tega mengusir Ibumu Mona?"


"Kenapa tidak karena kamu Ibu yang tidak berguna!" Mona berkacak pinggang di depan orang yang telah melahirkannya.


"Cepat kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini!"