My Old Star

My Old Star
#47 Rekaman CCTV



Arfan berbincang cukup lama disambungan telfon, kemudian turun menemui Mentari yang masih bercengkrama dengan neneknya.


"Ayo aku antarkan pulang!" Arfan mengajak Mentari pulang ke rumah orangtuanya.


"Kenapa kalian buru-buru, makan malamlah dulu di sini." Nenek Wijaya tidak ingin Mentari buru-buru pergi.


"Aku ada urusan nek, jadi aku harus antarkan Mentari sekarang."


"Nek aku pamit pulang dulu ya, lain kali aku pasti akan makan malam di sini, aku janji nek." Mentari berusaha meyakinkan nenek Wijaya agar jangan bersedih karena dia tinggal pulang.


"Baiklah kalau seperti itu, pulanglah sayang hati-hati di jalan ya!" nenek Wijaya melepaskan Mentari untuk pulang ke rumahnya meskipun hatinya sebenarnya masih enggan.


Mentari dan Arfan meninggalkan rumah nenek Wijaya setelah berpamitan kepadanya.


Arfan memacu mobilnya setelah mengantarkan Mentari ke rumah orangtuanya. Arfan memasuki sebuah tempat yang sudah dia pesan via aplikasi tadi saat ke luar dari rumah nenek. Dia akan bertemu seseorang malam ini.


Arfan menyetujui rekomendasi dari pihak kampus, sebab meskipun dia berada di pihak yang benar tetap saja dia membutuhkan seorang pengacara untuk menangani kasusnya. Dia butuh penasehat ahli agar jangan sampai salah jalan dalam menghadapi permasalahan yang sedang menimpanya.


"Silakan duduk," Arfan mempersilakan orang itu duduk di meja yang dia pesan.


"Apakah sudah menunggu lama?" Tanya orang itu.


"Tidak pak Ayesh, saya juga baru saja sampai."


"Panggil saja Ayesh, sepertinya kita seumuran bukan?"


"Baiklah kalau seperti itu, panggil saja saya Arfan."


Pertemuan pertama mereka begitu akrab dan cair, tidak ada kecanggungan diantara mereka. Arfan banyak bercerita tentang bidang olahraga yang dia geluti saat ini, ternyata Ayesh satu server dengan Arfan yang sama-sama menyukai olahraga sehingga cerita mereka nyambung dan tidak membosankan bagi keduanya.


Baru pernah bertemu sehingga mereka harus pandai membangun komunikasi agar kerjasama mereka berjalan dengan baik.


Setelah makan malam bersama, baru Arfan menyampaikan inti masalah yang sedang menyandungnya saat ini. Sebelumnya Arfan sudah menceritakan terkait permasalahannya di sambungan telfon kepada Ayesh.


"Fan apakah kamu pernah terpikirkan, jika mungkin saja ada orang lain di balik semua ini?"


"Maksud kamu Yesh?"


"Begini Fan, jika memang benar Ilyas itu seorang mahasiswa dengan beasiswa dan berasal dari keluarga biasa saja, tidak mungkin dia bisa memiliki bodyguard. Semua ini pasti sudah di rencanakan secara rapi, apalagi dia bisa melaporkan kamu dengan tuduhan penganiayaan padahal dirinya ada di balik jeruji besi."


"Dengan kata lain sebenarnya Ilyas ini adalah umpan untuk mencapai tujuan dari orang yang menyuruhnya."


"Orang ini tentu sangat paham dengan situasi kalian dan bagaimana hubungan kalian selama ini, sehingga memanfaatkan pihak yang paling lemah diantara kalian sebagai senjata mereka."


Ayesh menyampaikan analisis sementaranya berdasarkan cerita dari Arfan.


"Kenapa aku tidak terpikirkan sampai ke situ Yesh, analisis kamu sepertinya ada benarnya juga." Arfan ikut membenarkan apa yang menjadi pemikiran Ayesh.


"Kapan kamu akan memenuhi panggilan penyidik Fan?"


"Besok siang Yesh," jawabnya.


"Kalau begitu kita lihat saja apa yang ingin mereka ketahui dari kamu, aku akan datang untuk menangani semuanya."


"Baik terimakasih banyak Yesh." Arfan sangat bersyukur bisa bertemu dengan pengacara seperti Ayesh, ternyata pihak kampus merekomendasikan orang yang tepat untuknya.


Ayesh melirik jam di tangannya, "Fan sepertinya aku harus pulang sekarang, nyonya rumah nanti khawatir jika aku pulang terlalu larut." Ayesh pamit undur diri kepada Arfan yang menyambutnya dengan berjabat tangan.


"Terimakasih sudah bersedia untuk datang."


"Sama-sama Fan, tidak perlu sungkan." Ayesh kemudian pergi meninggalkan Arfan.


Tidak berselang lama, Arfan juga meninggalkan tempat itu. Di parkiran lagi-lagi dia bertemu dengan Mona.


"Fan kebetulan sekali kita bertemu di sini?" Mona tersenyum penuh arti.


Arfan cuek dengan sapaan Mona dan hendak membuka pintu mobilnya, "Fan aku dengar kamu sedang terkena masalah, pasti karena gadis itu kan?" Ucapan Mona berhasil menghentikan tangan Arfan untuk membuka handle pintu.


"Itu bukan urusanmu Mona!" jawab ketus Arfan.


"Satu lagi, semua ini tidak ada hubungannya dengan Mentari jadi jangan sekali-kali kamu bawa dia dalam permasalahan ini!"


"Aku akan carikan pengacara untukmu Fan, aku pasti akan membantumu lepas dari permasalahan ini."


Arfan masuk ke dalam mobilnya, dia sudah tidak ingin lagi mendengarkan bualan Mona.


"Dasar pria tidak tahu diuntung!" umpat Mona kesal dengan sikap Arfan.


Arfan melajukan mobilnya ke arah club, bagaimanapun juga dia memiliki tanggungjawab besar terhadap club, meskipun sudah ada Tomi tapi tetap saja dia tidak bisa lepas tangan begitu saja.


"Apa dia ada hubungannya dengan semua ini, seperti perkiraan Ayesh?" Pikir Arfan.


Arfan berusaha membuang jauh-jauh prasangkanya, Arfan memasuki club. Dia melihat anak-anak sedang latihan bersama seperti biasanya. Tomi tampak sedang mengawasi mereka dari pinggir lapangan.


"Uncle kenapa baru pulang?" Steven menghampirinya.


"Iya Stev, uncle tadi banyak urusan." Arfan mengangkat tubuh Steven.


"Orang dewasa urusannya banyak ya uncle?"


"Iya sayang,"


"Kalau begitu Stev tidak mau menjadi dewasa, Stev mau tetap jadi anak kecil biar bisa main sepuasnya tanpa punya banyak urusan."


Arfan tertawa mendengar pernyataan dari Steven, "Nikmati pertumbuhanmu tanpa banyak beban Stev sayang,"


"Uncle mulai besok Stev akan bersekolah di sini."


"Wah benarkah Stev, kamu pasti akan menemukan banyak teman."


Tomi datang menghampiri mereka berdua, "Stev sayang sudah malam sebaiknya Stev bobo ya, kan besok mau sekolah nanti terlambat kalau bangun kesiangan!"


Steven turun dari gendongan Arfan, mematuhi ucapan Tomi untuk segera masuk kamar dan tidur, Sania sedang mempersiapkan segala macam keperluan sekolah Steven di kamar.


Tomi memperlihatkan hasil latihan anak-anak kepada Arfan, "Bagus, menurut catatan mereka memiliki stamina yang baik dan siap untuk bertanding." Arfan membolak balik catatan itu, Arfan merasa bangga sebab kedisiplinan yang dia tanamkan sejak mereka memasuki club ternyata membuahkan hasil, terbukti dengan meskipun tanpa dirinya dan Tomi yang mengawasi mereka tetap berlatih dengan baik dan teratur.


Arfan menyerahkan kembali catatan yang tadi ia baca kepada Tomi, "Tom besok apakah ada jadwal pertandingan?"


"Besok kita akan bertanding dengan club di bawah kepemimpinan Zaki, pertandingan persahabatan Fan."


"Oh tidak, apakah perlu kita batalkan saja?" Sambung Tomi.


"Tidak perlu Tom, lakukan saja pertandingan itu. Bukankah kita harus bersikap profesional?"


"Kamu benar Fan," jawab Tomi.


Arfan meninggalkan Tomi setelah memberikan beberapa instruksi kepadanya.


Hari ini Arfan merasa sangat penat, sehingga dia segera membersihkan dirinya dan naik ke atas ranjang untuk beristirahat.


Di tempat lain, Mentari sedang sibuk dengan proposal tesisnya. Dia ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Dia tidak ingin membebani Arfan jika suatu hari nanti mereka menikah.


Keesokan paginya, seperti biasa Arfan menjemput Mentari dan mengantarkannya ke kampus. Setelah menurunkan Mentari di depan gerbang kampus, Arfan pergi meninggalkan gadis itu.


"Mentari kenapa baru datang, ada berita heboh tentang dirimu di mading." Siska menyongsong Mentari dan segera membawa gadis itu ke tempat yang dia maksudkan.


Berita yang terpampang di mading membuatnya shock, "Kenapa bisa ada berita itu di sana Sis?"


"Aku juga tidak tahu siapa yang membuat berita bohong seperti itu."


"Ayo kita masuk kelas saja, anggap tidak terjadi apa-apa hari ini."


Berita yang terpampang di mading berkaitan dengan pertemuan dirinya dan Ilyas di gazebo kampus tempo hari yang disertai dengan foto yang memperlihatkan posisi seolah mereka sedang berciuman bahkan terdapat foto-foto pertemuan mereka di perpustakaan.


Berita di mading mengaitkan menghilangnya Ilyas dengan kejadian itu ada hubungannya sebab terdapat foto Arfan yang waktu itu juga ada di tempat kejadian.


Mentari mengirimkan pesan gambar kepada Arfan agar dia mengetahui kejadian tersebut.


Arfan membuka pesan itu dan mengepalkan tangannya, "Awas saja kalian, berani mengusik Mentariku maka tunggu saja apa akibat yang akan kalian tanggung!"


Arfan mengemudikan mobilnya ke arah Firma Hukum Akbar Group, dia ingin segera bertemu dengan Ayesh sebab kecurigaan Ayesh sepertinya memiliki dasar yang kuat untuk bisa dijadikan sebuah fakta.


"Fan apa kau tahu di sekitar tempat itu ada CCTV?" Ayesh bertanya setelah melihat gambar yang ada di ponsel Arfan.


"Seluruh bagian kampus dilengkapi dengan CCTV Yesh."


"Kalau begitu kita harus segera meminta rekaman CCTV pada hari itu, siapa tahu kita bisa menemukan orang yang mencurigakan di sekitar tempat kejadian yang bahkan sudah mengikuti Mentari sejak berada di perpustakaan."


"Aku akan menghubungi rekanku di fakultas MIPA, siapa tahu dia memiliki akses untuk itu."


Arfan mencoba menghubungi Reza sahabatnya, beruntung Reza bersedia untuk membantu sebab ini juga demi nama baik kampus juga.


Tidak seberapa lama Reza mengirimkan rekaman yang Arfan minta.


"Ketemu!" Ayesh berseru.