My Old Star

My Old Star
#114 Sinyal



"Mungkin beberapa hari ini aku akan lebih sering di club, jadi kalau kamu mencariku datang saja kesana!" ucap Arfan sebelum memasuki mobilnya untuk berangkat ke kampus.


"Fan sesekali datanglah ke kantor, paman Faisal berharap sebelum beliau memasuki masa pensiun kamu sudah siap untuk menggantikannya." Arman mengingatkan Arfan jika paman Faisal mungkin saja sudah sangat lelah dan ingin memberikan semua tanggungjawab kepada Arfan secepatnya.


Arfan memakai kacamata hitamnya kemudian pergi meninggalkan Arman yang berada di belakang tanpa menggubris sedikitpun ucapan Arman.


"Dasar tidak pernah berubah!" umpat Arman yang sudah tahu watak Arfan yang memang keras kepala sejak dulu.


Arman memasuki mobilnya untuk pergi ke kantor, bagi Arman yang terpenting dia sudah berusaha menyampaikan pesan dari paman Faisal meskipun mungkin Arfan tidak mendengarkannya sama sekali.


Sejurus berikutnya terdengar ponsel Arman berdering, ada panggilan masuk dari Arfan.


"Hallo Fan, ada apa?"


"Sampaikan pada paman Faisal aku akan datang setelah pertandingan nasional usai."


"Saat ini aku harus berkonsentrasi pada club, jadi tolong bersabarlah sebentar lagi."


"Baiklah akan aku sampaikan pesan kamu pada paman Faisal." Arman tersenyum senang mendengar apa yang Arfan sampaikan kepadanya.


"Awas jangan kamu kurangi ataupun kamu tambahi sedikit saja pesanku itu."


"Idih mana berani melawan pak Bos, bisa-bisa dipecat!"


Arfan menutup sambungan telfonnya dan melepas handsfree yang dia gunakan tadi untuk disimpan.


Sementara itu, Mentari dan Siska tertidur di kabin belakang karena perjalanan yang harus mereka tempuh cukup jauh, sudah hampir setengah hari mereka melakukan perjalanan tapi belum sampai ke lokasi yang mereka tuju. Pak Reza mengobrol dengan supir yang mengantarkan mereka agar tidak bosan di dalam perjalanan.


Mentari terbangun tatkala mobil yang mereka tumpangi mamasuki jalanan berbatu karena terjadi guncangan yang mengusik kenyamanannya.


[Sudah sampai mana sayang? Jangan lupa makan ya, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku ya sayang]


Mentari membaca pesan teks yang Arfan kirimkan untuknya sekitar setengah jam yang lalu. Mentari bergegas membalas karena minimnya sinyal, dia khawatir semakin ke dalam maka sinyal ponsel akan hilang.


[Aku sudah memasuki sebuah desa kak, pemandangannya sangat indah karena kiri dan kanan jalan disuguhi hamparan sawah yang mulai menguning]


Balas pesan teks Mentari kepada Arfan, pesan itu terkirim cukup lama karena sinyal yang terbatas.


[Aku khawatir sinyal tidak menjangkau area penelitianku, jadi kakak jangan khawatir kepadaku ya, aku kirimkan lokasinya ya kak meskipun aku belum sampai ke tempat tujuanku, agar kakak tahu kemana harus mencari jika merindukanku. I love you my husband 💕💕💕]


Sambung pesan teks Mentari kepada Arfan yang mungkin masih di kelas sehingga tidak langsung membalas pesannya.


Seperti dugaan Mentari, semakin masuk ke dalam sinyal timbul tenggelam. Kadang ada pun hanya satu, kadang hilang sama sekali.


Mentari sudah tidak bisa membaca balasan dari Arfan ketika mungkin suaminya membalas pesan darinya. Siska juga mengalami hal yang sama, bahkan dia belum mengabari Arman sama sekali karena tadi tidak mengecek ponselnya.


"Duh Mentari gimana ini tidak ada sinyal sama sekali," keluh Siska yang juga di dengar oleh pak Reza.


"Tempat ini memang berada pada sebuah lembah jadi hanya titik-titik tertentu saja yang terjangkau oleh sinyal dari provider telekomunikasi yang biasa kita gunakan." Pak Reza menjelaskan kondisi mereka saat ini.


"Tapi kalian jangan khawatir sudah ada beberapa rumah penduduk yang memasang jaringan internet jadi mungkin kita bisa meminta bantuan mereka ketika sampai nanti."


Mentari dan Siska merasa sedikit lega sebab selama ini mereka tidak pernah hidup tanpa sinyal. Mereka akan mengalami susah sinyal ketika listrik padam itupun tidak akan sampai memakan waktu berjam-jam.


Arfan yang baru keluar dari kelas mengecek ponselnya karena tadi terasa bergetar hanya saja karena sedang berada di dalam kelas Arfan tidak bisa langsung mengeceknya.


Arfan tersenyum membaca pesan Mentari yang pertama, namun dia harus menelan ludahnya sendiri ketika membaca pesan yang kedua. Rencana yang sudah mereka susun harus tetap menjadi sebuah rencana karena terhalang susahnya sinyal.


Arfan memang harus mengerti kondisi yang ada, saat ini yang bisa dia lakukan adalah mendo'akan agar istri dan anaknya baik-baik saja.


[Baiklah sayang tidak mengapa, jaga dirimu dan anak kita dengan baik ya. Aku merindukanmu jadi cepatlah pulang]


Arfan membalas pesan teks dari Mentari yang entah kapan akan sampai kepadanya.


Saat Arfan baru selesai membalas pesan, ponselnya berdering karena ada telfon masuk dari Tomi.


"Ada apa Tom?"


"Ada yang harus kita bahas Fan terkait pertandingan yang waktu pelaksanaannya dipercepat dari jadwal sebelumnya."


"Aku belum tahu berita itu Tom."


"Aku juga baru mendapatkan kabarnya barusan Fan."


"Baiklah selesai mengajar aku akan segera ke club Tom."


Arfan menutup sambungan telfon mereka dan masuk ke ruangan dosen untuk beristirahat sebelum mengajar kembali nanti.


Marryana menghampiri Arfan yang sedang duduk menikmati minumannya.


"Hai Fan lama tidak bertemu." Sapa Marryana kepada Arfan.


"Iya An, kemana saja kamu ini hah?"


"Aku sibuk mengurus clubku Fan dan ini aku baru kembali dari cuti."


"Oh ya Fan, ada salam dari Papi untukmu. Katanya maaf tidak bisa menemuimu sebelum kembali keluar negeri."


"Sampaikan salam balik untuk beliau An, tidak masalah lain kali mungkin bisa bertemu lagi. Sampaikan maafku untuk yang waktu itu kepada beliau ya An."


"Kami yang minta maaf kepadamu Fan, Papi memang sengaja membuat berita itu. Sungguh aku minta maaf."


"Baiklah tidak perlu dipikirkan lagi, kamu baik-baik ya bersama Zaki. Ingat pesanku An, jaga dirimu."


Arfan mengecek jam di tangannya, "An sepertinya aku harus masuk ke kelas lagi."


"Iya Fan, aku juga mau ke kelas."


Arfan dan Marryana pergi ke kelas dengan berjalan bersama. Mereka memang tampak serasi tapi mungkin tidak berjodoh sehingga tidak mungkin ada hubungan yang lebih selain sebagai teman apalagi Arfan sudah menikah dan sangat mencintai istrinya.


Banyak mahasiswa yang berharap mereka berdua bisa menikah karena berita yang beredar waktu itu.


"Lihat deh mereka sangat cocok, tapi sayang ya pak Arfan sudah menikah dengan anak kecil seumuran kita."


Salah seorang mahasiswa Arfan melihat keduanya sedang berjalan bersama.


"Iya benar kamu Ras, pak Arfan lebih memilih anak kecil ketimbang wanita sempurna seperti bu Marryana." Sahut mahasiswa yang lainnya.


"Eh tapi kalau orang seperti pak Arfan melamarku, aku juga nggak akan nolak sih Ras. Jadi wajarlah kalau gadis itu mau dengan pak Arfan yang lebih tua dibandingkan dirinya. Biar tua tapi menggiurkan begitu."


"Ngarep ya kamu, mana mungkin pak Arfan mau sama kamu. Lihat dirimu, nggak ada pantas-pantasnya buat pak Arfan tahu."


"Ih kamu jahat banget sih Ras, tapi kalau jodohkan tidak akan kemana meskipun perbedaannya seperti bumi dan langit."


"Mau-maunya kamu ajah tuh, jodoh itu memantaskan diri. Jadi tidak akan berjodoh kalau kita tidak pantas untuknya."


Mereka berdua yang sibuk bergosip tentang dosennya tertawa bersama pada akhirnya, masing-masing membayangkan jodoh yang pantas untuk mereka.


Sampai di tempat penelitian, Mentari turun dari dalam mobil yang ditumpanginya. Dia mengambil koper di bagasi yang dicegah oleh Siska.


"Bumil sayang, biar aku aja sini. Tidak boleh mengangkat yang berat-berat sayang." Siska mengambil alih pekerjaan Mentari.


"Aku kuat kok Sis,"


"Iya aku tahu, tapi ingat rumah sakit jauh dari sini. Jadi mending berhati-hati ketimbang kita repot nantinya."


"Baiklah ikut apa kata Nyonya Arman saja!" Mentari berseloroh.


"Nyonya Arman? Lucu juga kedengarannya ya."