My Old Star

My Old Star
#72 Overthingking



Mentari sudah siap dengan koper besarnya dan juga tas ransel dipunggungnya. Dia benar-benar mengira jika Arfan mengusirnya dari club.


Pagi ini dia harus segera pindah dari club, Mentari tampak tidak bersemangat karena harus meninggalkan club dan juga anak-anak, terlebih Steven dan orangtuanya masih ada di rumah sakit, dia tidak bisa berpamitan dengan mereka.


"Jangan sedih, kamu masih bisa main ke sini kok. Hanya untuk sementara waktu saja."


Arfan tahu jika Mentari sangat sedih harus pulang ke rumah orangtuanya. Mentari yang terbiasa dengan anak-anak, mungkin akan kesepian nanti ketika berada di rumah karena tidak ada yang bisa dia ajak bermain bersama.


"Kakak ipar mau pindah?" Yudi merasa sedih dengan kepindahan Mentari karena jika dia dimarahi oleh Arfan tidak ada lagi yang bisa dia jadikan tameng.


"Iya Yud, aku harus pulang ke rumah. Sudah tidak ada tempat lagi bagiku di sini Yud."


Arfan diam saja mendengar ucapan Mentari, dia merasa tidak ada yang perlu dia jelaskan kepada semuanya mengenai kepindahan Mentari dari club.


"Yah jadi sepi lagi club ini," anak-anak yang sudah nyaman tinggal bersama Mentari tidak rela jika Mentari harus pindah.


"Jangan sedih aku akan sering main kesini jadi jangan khawatir ya!"


Acara perpisahan Mentari dan anak-anak harus diakhiri segera sebab jika tidak maka akan semakin siang mereka baru bisa pergi dari club.


"Kak aku ingin menjenguk Stev dulu," pinta Mentari saat mereka sudah beberapa kilometer meninggalkan club.


"Nanti saja bagaimana setelah dari rumah kamu, ada yang harus kita urus segera!"


"Baiklah...," jawab Mentari lirih.


Mentari memilih untuk tidak banyak protes kepada Arfan, dia benar-benar bingung dan overthinking. Mentari berpikir jika Arfan akan mengembalikannya ke rumah orangtuanya.


Mungkin saja semalam saat makan malam, isi pembicaraan mereka tidak mencapai kata sepakat sehingga orangtuanya menginginkan agar Arfan mengembalikan dirinya dan tidak melanjutkan rencana pernikahan mereka.


"Kenapa sih kalian tega sekali kepadaku, kenapa aku harus tidak ikut bersama kalian?" Mentari membatin kesal, tangannya sibuk *******-***** ujung kemejanya. Dia sebenarnya ingin marah tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Mereka terlalu egois menurut Mentari.


Kini mereka sampai di depan rumah orangtua Mentari, rumah yang sudah lama Mentari tinggalkan.


"Ayo kita masuk!" Arfan membawa koper milik Mentari masuk ke dalam rumah.


Mereka disambut oleh ayah dan ibu Mentari yang memang sudah menunggu mereka sejak tadi.


"Fan bawa langsung kopernya ke kamar Mentari ya!" perintah pak Mahendra.


Mentari tidak habis pikir kenapa ayah dan ibunya bersikap sangat manis kepada Arfan padahal Arfan tidak lagi menjadi calon menantu mereka.


"Aku naik dulu!" pamit Mentari mengikuti langkah Arfan masuk ke kamarnya.


"Aku harus letakkan dimana barang kamu ini Mentari?"


"Di situ saja kak!" tunjuk Mentari ke sebelah kanan ranjang.


"Kak apakah kita sudah berakhir di sini?"


"Apa yang kamu ucapkan sayang?"


"Bukankah kakak mengantarkanku pulang karena ayah dan ibuku berubah pikiran mengenai pernikahan kita?"


Arfan mendekat kepada Mentari yang berdiri di samping ranjang, dia memeluk Mentari dan mencium dahi gadis itu.


"Jangan pernah berpikir terlalu jauh selama aku tidak mengatakan apapun kepadamu!"


"Paham tidak?"


Mentari mengangguk, "Aku mengerti kak, aku harus pulang karena kita akan segera menikah bukan?"


Mentari mengeratkan pelukannya, "Maafkan aku yang sudah berpikir terlalu jauh kak."


Arfan kembali menemui orangtua Mentari di ruang keluarga.


"Nak ini surat-surat yang kamu butuhkan sudah tante siapkan!" bu Kartika menyodorkan surat-surat penting milik Mentari yang akan dia gunakan untuk mendaftarkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama di kota Z.


"Terimakasih tante."


Mentari memeluk ibunya, dia akan ikut pergi bersama Arfan terlebih dahulu ke beberapa tempat sekaligus menjenguk Steven di rumah sakit setelah urusan mereka selesai.


Mona yang mendengar jika Arfan akan segera menikah dengan Mentari sedang mengamuk di apartemennya, dia baru saja mendapat kabar dari bapaknya yang tinggal di rumah nenek Wijaya bahwa Arfan akan menikah dalam waktu dekat.


"Kenapa dia harus menikah secepat ini, kenapa dia memilih gadis kecil itu dan tidak memilihku!" Mona melempar semua barang-barangnya hingga tidak lagi berbentuk.


"Aku akan mencari cara untuk menggagalkan pernikahan mereka, pernikahan itu tidak boleh terjadi apapun caranya!"


Mona segera menghubungi Bram supaya datang ke apartemen, tetapi Bram tidak bisa dihubungi, saat ini Bram sedang bersenang-senang bersama Maya di sebuah hotel bintang lima yang sering mereka kunjungi bersama.


"Kemana sih si Bram ini, tumben-tumbenan susah sekali dihubungi!" Mona menjadi semakin kesal karena jika Bram tidak bisa dihubungi sudah dipastikan dia sedang bersama seorang wanita, Bram memang selalu seperti itu saat bersama Mona maka Bram akan sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada satupun orang yang bisa mengganggunya.


Mentari dan Arfan sudah menyelesaikan urusan mereka, semua persyaratan sudah masuk, tanggal sudah ditentukan hingga waktu pelaksanaan sudah mereka diskusikan dengan pihak yang akan membantu mereka terkait surat-menyurat.


Kini mereka tinggal menunggu hari yang sangat mereka nantikan, hari yang sakral yang akan menyatukan kedua keluarga mereka.


Nenek Wijaya sudah mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan keduanya sejak beberapa bulan yang lalu, sehingga prosesnya sudah rampung sekitar delapan puluh persen tinggal printilan-printilan kecil yang perlu nenek siapkan.


Nenek Wijaya sengaja melakukan hal itu tanpa sepengetahuan orang lain sebab dia tidak mau ada orang yang mengganggu terlaksananya pernikahan cucu satu-satunya yang sudah lama dia nantikan.


Kebahagiaan nenek Wijaya tidak bisa dibendung lagi, harapannya akan segera terwujud.


Arfan membawa Mentari menjenguk Steven di rumah sakit seperti janjinya kepada Mentari pagi tadi.


"Stev sayang, bagaimana keadaanmu?" Mentari memeluk Steven begitu masuk ke ruang perawatan Stev.


"Aku sudah sehat sekarang kak, aku akan segera pulang. Nanti kita main lagi ya kak."


"Iya sayang," jawab Mentari.


"Kak Sania aku bawa makanan untuk kak Sania dan Kak Tomi."


"Wah terimakasih Mentari, malah jadi merepotkan kamu Tari,"


"Tidak repot kok kak,"


"Oh ya kak kapan Stev boleh dibawa pulang?"


"Rencananya besok Mentari, dia sudah sehat sekarang."


Mentari dan Sania terus mengobrol di dalam ruangan, sedangkan Arfan meminta Tomi berbicara dengannya di luar.


"Tom aku berencana akan segera menikah, jadi untuk beberapa waktu ke depan aku serahkan anak-anak kepadamu, aku minta tolong urus mereka dengan baik."


"Jangan khawatirkan mereka Fan, itu biarlah menjadi urusanku. Kau kejar kebahagianmu dulu Fan."


"Terimakasih Tom, oh ya kemarin Zaki menemuiku. Dia tampak sangat sedih karena Stev."


"Iya Fan, ada sedikit kesalah pahaman diantara mereka. Aku ingin mereka bertiga duduk bersama memberikan pengertian kepada Stev karena anak itu berhak tahu kebenarannya."


"Kau benar Tom, aku juga berpikir hal yang sama."