My Old Star

My Old Star
#80 Sarapan



Mentari merasa tidak enak hati kepada nenek, harapannya untuk menimang cicit sangatlah besar sehingga Mentari pasti akan segera mewujudkannya meskipun dia harus berusaha lebih keras dalam membagi waktu karena kuliahnya belumlah selesai. Jika dia hamil maka dia harus ekstra dalam mengatur waktu agar dia tidak kelelahan.


"Nek kami bisa menikah saja sudah sangat bahagia, kita bisa tinggal di mana saja asalkan berdua nek." Mentari menyampaikan pendapatnya karena dia merasa nenek sangat berlebihan dengan memberikan banyak aset kepada mereka sebagai hadiah pernikahan.


"Mana boleh seperti itu sayang, meskipun Arfan memiliki club yang bisa kalian tinggali tapi kalian memiliki kehidupan pribadi yang harus kalian tata mulai dari sekarang karena tidak mungkin kalian selamanya akan tinggal di sana."


"Nenek juga tidak keberatan jika kalian tinggal di sini tapi nenek tidak mau kalian terusik karena adanya Mona yang sering datang kesini dan juga kakek Mahmud."


"Kalian tidak boleh menolak karena itu akan membuat nenek sedih."


"Terimakasih nek," Mentari memeluk nenek Wijaya.


"Sama-sama sayang," balas nenek sepuh itu dengan wajah yang berbinar karena sangat bahagia.


"Sekarang kalian lihatlah rumah itu, kalian pasti menyukainya. Nenek sudah menyuruh orang untuk membersihkannya. Jadi kalau kalian mau pindah secepatnya juga bisa."


"Baiklah nek, aku pergi ya. Ayo Mentari kita lihat rumah kita." Ucap Arfan kepada Mentari yang mengikutinya dari belakang.


Arfan membawa Mentari ke rumah yang neneknya berikan untuk mereka, rumah itu cukup besar, ada taman di depannya dengan pohon dan bunga-bunga yang indah, tidak lupa dilengkapi dengan kolam ikan yang menambah sejuk pemandangan, rumah itu terlihat asri dan nyaman untuk ditinggali.


"Bagaimana apakah kamu suka?" Tanya Arfan kepada istrinya begitu mereka masuk ke dalam rumah.


"Aku sangat menyukainya Kak, ini sangat keren. Nenek benar-benar menyiapkannya untuk kita dengan sangat baik kak."


Mentari melihat sekeliling, dia memasuki ruangan demi ruangan untuk mengecek kondisinya. Semua sudah tersedia mulai dari sofa, tempat tidur, alat-alat dapur hingga perabotan lainnya. Bahkan di dalam kulkas sudah terisi full bahan makanan yang lengkap.


"Wah... kak ini lihatlah, siapa yang belanja coba, kulkas kita sudah penuh begini." Ucap takjub Mentari ketika membuka kulkas yang begitu penuh.


"Sepertinya nenek sudah mempersiapkannya dan kita disuruh untuk pindah segera."


Arfan melihat jam di tangannya, "Sudah hampir malam sayang, apakah kita akan pulang sekarang?"


"Baik ayo kak!" Mentari menarik lengan Arfan untuk segera pergi dari rumah itu, tapi Arfan sepertinya enggan untuk pergi. Ada sesuatu di otaknya yang tiba-tiba terlintas.


"Kak ayo katanya mau pulang?"


"Aku lapar sayang, bagaimana kalau kita makan malam dulu di rumah ini." Arfan memberikan usul.


Mentari tampak berpikir sejenak, dia tidak mungkin membiarkan suaminya kelaparan, "Baiklah kak, aku akan masak untuk kamu. Kakak tunggu di sini ya."


Mentari pergi ke dapur untuk mulai memasak, dia mencuci beras kemudian memasukkannya ke dalam rice cooker sembari dirinya mengupas bawang dan memebersihkan sayur. Mentari juga sedang merebus air untuk membuat kopi. Arfan mengamati pergerakan Mentari dari jauh yang sangat lincah di dapur.


Arfan tidak menyangka jika Mentari selain pandai dalam belajar ternyata dia juga bisa mengurus dapur dengan baik.


Arfan mendekati Mentari dan memeluknya dari belakang, "Kak Arfan mengagetkanku saja, tunggu sebentar lagi makanan akan siap."


"Aku sudah sangat lapar sayang," Arfan berbisik lembut di telinga Mentari yang membuat bulu kuduknya berdiri.


"Kak lepaskan aku dulu, aku lagi repot nih!" protes Mentari karena Arfan bergelayut manja di pundaknya.


Arfan malah membalik tubuh Mentari agar menghadapnya, dia dengan sigap mematikan kompor dengan satu tangannya yang membuat masakan Mentari mungkin sampai besok tidak akan matang.


Arfan menarik dagu istrinya dan mencium bibir Mentari dengan lembut. Mentari reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Arfan. Merasa jika Mentari meresponnya, Arfan mengangkat tubuh Mentari untuk dia bawa ke dalam kamar dengan tidak melepaskan tautan bibirnya.


Arfan membaringkan gadis itu di atas ranjang besar yang nantinya akan menjadi kamar mereka berdua.


"Aku sangat lapar Mentari, aku akan memakanmu malam ini." Arfan kembali berbisik di telinga Mentari yang membuat pipi gadis itu berubah merah karena malu.


Arfan berhasil melucuti satu persatu baju yang menempel di tubuh istrinya hingga tak tersisa sehelai benangpun dan menutup tubuh mereka dengan selimut.


Suasana di luar mendadak hujan deras, alam begitu mendukung bersatunya dua insan yang telah menikah seminggu yang lalu namun belum bisa menuntaskan dahaga mereka karena banyaknya masalah yang harus mereka hadapi.


Arfan mencium bibir Mentari berulang kali kemudian turun ke tulang selangka gadis itu, tangan Arfan dengan lihai bermain di atas dua gundukan milik Mentari yang membuat gadis itu melenguh yang dia coba tahan agar tidak mengeluarkan suara aneh.


Tangan Arfan kemudian turun ke lembah yang sangat Mentari jaga untuk mengecek apakah Mentari sudah siap untuk bersatu dengannya.


"Aku akan pelan-pelan sayang, jika terasa sakit katakan saja."


Arfan melebarkan kedua kaki Mentari, kemudian siap menghujamkan pusaka miliknya pelan-pelan.


Mentari merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana, untuk pertama kalinya dia ditembus oleh seorang laki-laki.


"Sakit kak," keluhnya.


"Tahan dulu sayang, kamu pasti akan menikmatinya. Awalnya memang sakit tapi kamu pasti akan merasakan nikmatnya nanti."


Arfan mulai menggoyangkan panggulnya, hingga mereka sampai pada puncak kenikmatan yang tidak bisa diungakapkan dengan kata-kata.


Malam ini Mentari benar-benar menjadi istri yang sesungguhnya bagi Arfan, perjalanan mereka memang tidak mudah hingga sampai ke titik ini.


Arfan mengecup kening Mentari yang sudah terlelap, sepertinya gadis itu kelelahan setelah dia gempur habis-habisan hingga beberapa ronde malam ini.


"Tidurlah sayang, aku mencintaimu." Arfan menyusul Mentari masuk ke dalam alam mimpi. Dia memeluk Mentarinya hingga pagi menjelang.


Mentari menggeliat dan merasakan ada tangan kekar di atas perutnya. Mentari mengingat-ingat kejadian panas semalam antara dirinya dan Arfan. Mentari merasa sangat malu melihat wajah suaminya yang masih terlelap dengan damai di sebelahnya.


Mentari sadar jika dirinya masih polos tanpa sehelai benangpun, begitu pula dengan Arfan sehingga dia tidak mungkin menyingkap selimut yang mereka pakai berdua dan membiarkan tubuh Arfan terbuka.


Mentari menciumi mata Arfan agar laki-laki itu terbangun, Arfan tersenyum dan kembali menindih Mentari di bawah kungkungannya padahal tadinya dia berniat membangunkan Arfan karena dia mau ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kak kita harus segera mandi dan sarapan, aku yakin masakan kita sudah tidak berbentuk sekarang."


"Bagaimana kalau kita sarapan dulu di sini, aku ingin sarapan bersamamu sayang. Aku menginginkannya lagi saat ini." Jawab Arfan membuat Mentari tidak lagi bisa berkutik karena tangan Arfan sangat aktif bermain di atas tubuhnya sehingga membuatnya harus menyerah, dan terjadilah adegan seperti tadi malam hingga Mentari merasa lemas dan harus Arfan gendong masuk ke dalam kamar mandi, intinya terasa sakit setelah di gempur habis-habisan.


"Sana kakak keluar saja, aku akan mandi sendiri. Aku tidak mau terjadi lagi disini kak kaya di film-film." Mentari mengusir Arfan agar keluar dari kamar mandi kemudian menutup pintunya.


Arfan kembali ke ranjang dan melihat noda bercak darah yang menempel di sprei, "Kamu benar-benar sudah memberikan mahkotamu kepadaku sayang, maka selamanya aku akan menjagamu dengan baik." Janji Arfan kepada dirinya sendiri sekaligus bangga karena Mentari sudah menjaga harta berharganya selama ini dan diberikan dengan sukarela kepada dirinya.


Mereka selesai membersihkan diri masing-masing, beruntung nenek meletakkan beberapa baju di lemari kamar mereka. Sepertinya nenek sudah merencanakan hal ini dengan sangat rapi hingga detail sekali.


Mentari kembali ke dapur dan melihat sayur yang semalam dia masak sudah tidak berbentuk karena dia biarkan di atas kompor sehingga terpaksa dia membuangnya karena sudah tidak layak untuk dimakan.


Mentari membuat nasi goreng untuk sarapan mereka berdua supaya lebih praktis karena sudah siang mereka baru bisa mengisi perut.


Sarapan yang sungguh sangat terlambat, Mentari juga terpaksa harus izin ke pak Reza karena batal menemui dosennya itu untuk bimbingan tesisnya yang sudah mulai berjalan setelah proposalnya disetujui oleh dosen pembimbing yang salah satunya adalah pak Reza.


Mentari membereskan piring bekas makan mereka dan mengangkatnya ke tempat cucian piring.


"Aaawww...," Mentari merasa kesakitan.


"Kamu tidak apa-apa sayang, mana yang terasa sakit?"


Mentari merasa malu untuk menunjukkan kepada Arfan namun Arfan sudah paham dengan apa yang Mentari keluhkan.


Arfan memapah pelan-pelan Mentari hingga ke sofa depan televisi.


"Duduklah, istirahat saja. Maafkan aku yang sudah membuat kamu begini." Arfan menciumi tangan Mentari, dia merasa bersalah sudah membuat Mentari kesakitan.


"Aku tidak apa-apa kak, tapi sepertinya kita belum bisa ke club untuk membereskan barang-barang kamu hari ini kak."


"Jangan pikirkan itu, kita bisa lakukan hal itu nanti yang penting kamu tidak sakit dulu."


Mentari tersenyum mengiyakan ucapan Arfan, Mentari meletakkan kepalanya di atas paha Arfan sembari berbaring santai di sofa. Tiba-tiba ponsel Arfan berdering memecah kesunyian diantara mereka.


"Nenek...," baca Arfan pada id call penelfon di ponselnya.