
Sekitar pukul 11 malam Mentari sampai di Yogyakarta, dia malam ini akan menginap terlebih dahulu disalah satu penginapan yang telah di pesan oleh Dio via online sebelumnya karena tidak memungkinkan jika Mentari harus meneruskan perjalanan malam ini juga, terlalu berbahaya bagi Mentari jika memaksakan melakukan perjalanan darat malam-malam karena berpergian seorang diri. Arfan melarang hal itu, sehingga Mentari harus transit untuk menginap.
Keesokan paginya Mentari meneruskan perjalanan ke Banjarnegara yang akan ditempuhnya kurang lebih selama empat jam lamanya, perjalanan yang sungguh melelahkan sebenarnya bagi Mentari namun dia tidak ingin jika Arfan kecewa sehingga apapun itu dia harus yakin bahwa dirinya mampu untuk sampai di tempat tujuan sesuai permintaan Arfan.
Sekitar pukul dua belas siang Mentari sampai di kota yang terkenal dengan sebutan kota Dawet Ayu, Arfan menjemput Mentari di alun-alun, dia sangat senang ketika melihat gadis kecilnya berjalan ke arah dimana kini ia sedang duduk di bawah pohon beringin besar yang menjadi salah satu ikon Banjarnegara tersebut.
Arfan menyambut Mentari, "Terimakasih kau sudah mau datang sejauh ini," ucap Arfan menggandeng tangan Mentari.
"Apa kau lelah?" tanya Arfan lagi.
"Sedikit Kak," jawab Mentari dengan senyum manis memperlihatkan lesung pipinya.
"Kalau begitu kau harus istirahat!" Arfan membawa Mentari naik ke atas mobil yang akan membawa mereka ke hotel, disana latihan perdana akan segera dimulai.
Arfan memesankan kamar untuk Mentari tepat di sebelah kamarnya, Arfan menyuruh Mentari untuk segera beristirahat sedangkan dia akan ke lapangan melihat sesi latihan pertama yang akan mereka lakukan setelah usai makan siang.
"Kau beristirahatlah, setelah itu bersih-bersih dan makan siang!"
"Aku tinggal dulu Mentari kecil, jangan lupa kunci pintunya!" perintah Arfan lagi.
"Baik Kak, aku nanti bolehkah berkeliling?"
"Tentu saja boleh, tapi tunggu aku sampai kembali. Kau jangan kemana-mana tanpa aku, paham tidak?"
"Ya...ya...ya...baiklah...," Mentari menjawab dengan nada pasrah karena pengaturan Arfan untuk dirinya.
Arfan pergi menemui rekan-rekannya di meja makan untuk bergabung makan siang bersama mereka setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat. Sedangkan Mentari makan siang di kamarnya karena Arfan melarangnya untuk keluar, Mentari menatap ke jendela kamar yang ternyata di bawah kamar yang dia tempati merupakan wahana bermain air. Banyak anak-anak dan orang dewasa yang sedang bermain air disana, Mentari sebenarnya sangat tertarik dengan wahana bermain itu hanya saja dia tidak mau membuat Arfan khawatir sehingga Mentari memutuskan untuk beristirahat saja di kamar.
Mentari merebahkan dirinya di atas ranjang, "Hufttt...kenapa membosankan sekali, sudah pergi sejauh ini tapi hanya terjebak di dalam kamar," Mentari sedikit menggerutu dengan dirinya sendiri.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu dari luar membuat Mentari segera berlari ke arah pintu.
"Apa kau bosan?" tanya Arfan ketika Mentari membukakan pintu untuknya.
"Tentu saja, tanpa aktivitas begini bagaimana aku tidak bosan coba," jawab jujur Mentari.
Arfan masuk ke dalam kamar, "Kenapa makan siang kamu masih separuh?" tanya Arfan yang melihat piring makan siang Mentari masih setengah utuh.
"Aku sudah kenyang lagian makan sendiri apa menariknya," Mentari cemberut.
"Baiklah...baik akan aku temani kau selama disini," janji Arfan.
"Benarkah?" wajah Mentari terlihat antusias.
"Iya tapi kau juga harus bermain sendiri saat kami sedang berlatih,"
"Tidak masalah, asal jangan kurung aku di dalam kamar terus-terusan."
Arfan tersenyum, "Sinikan ponselmu!"
"Untuk apa Kak?"
Arfan mengutak-atik ponsel milik Mentari entah apa yang dia lakukan, kemudian menyerahkan kembali kepada pemiliknya, "ingat jika kemana-mana tanpa aku jangan pernah lupa untuk membawa ponselmu!"
"Paham tidak?"
"Iya kau tenang saja,"
"Kalau begitu bagus, apakah kau sudah tidak lelah?"
"Tidak...sudah beristirahat cukup lama tadi."
"Kalau begitu ayo kita keluar!"
Arfan membawa Mentari ke area bermain air, area ini sudah lumayan sepi karena memang sudah sore dan rata-rata pengunjung sudah pada pulang. Hanya terlihat anak asuh Arfan dan juga Zaki yang masih asyik bermain-main disana setelah berlatih bersama.
Mona mendekati Arfan dan Mentari yang sedang duduk di tepian kolam, "Hai Fan sedang apa kalian?"
Arfan tidak menjawab, rasa jengkel terhadap Mona masih hinggap di dalam hatinya. Hampir saja terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Mentari kemarin karena ulah Mona yang tidak tahu malu.
Mentari menoleh ke arah Mona dan memaksakan senyumnya, 'bukankah wanita ini yang malam itu ada di kamar Arfan?' batin Mentari.
"Kau siapa?" tanya Mona kepada Mentari.
"Emmm...a-aku...," jawab Mentari terbata.
"Dia calon istriku!" jawab Arfan datar tanpa ekpresi yang membuat Mentari menutup mulutnya dengan kedua tangannya sebab tidak menyangka jika Arfan akan memperkenalkan dirinya dengan wanita itu sebagai calon istrinya.
"Sejak kapan kau berencana untuk menikah? Tapi kenapa dia masih terlihat sangat kecil sekali?" sambung Mona.
"Sejak kapan itu urusanku, kenapa aku memilih gadis kecil karena aku mencintainya dan sebaliknya dia juga mencintaiku,"
Mona tampak kesal dengan jawaban Arfan, 'Masih calon istri, berarti aku masih punya kesempatan! lagian apa hebatnya gadis kecil seperti dia ini!' batin Mona mencibir.
Mona tersenyum kepada Mentari, "Siapa nama kamu nona kecil?" Mona bersikap ramah kepada Mentari.
"Aku Mentari Kak," jawab Mentari lembut.
"Aku Mona, panggil saja Kak Mona. Aku akan ajak kau bermain, apakah kau mau?"
Mentari melihat ke arah Arfan seolah meminta persetujuan, "Boleh saja asal kau bisa jaga dia dengan baik, tergores sedikit saja aku akan sangat marah!" jawab Arfan memberikan peringatan.
"Kau tenang saja, akan aku jaga dia seperti adikku sendiri." Janji Mona kepada Arfan.
"Mentari...besok aku akan ajak kau bermain, sekarang aku pergi dulu!" Mona meninggalkan Arfan dan Mentari dengan kesal terlihat dari senyum yang dia paksakan.
"Kak bukankah dia yang malam itu ada di kamarmu?" tanya Mentari ketika Mona sudah jauh berjalan meninggalkan mereka.
"Kau melihatnya?"
"Tentu saja, kamu pikir aku tidak melihat kejadian malam itu?" Mentari bersedekap dan membuang mukanya.
"Apakah kau cemburu?" Arfan masih terus meledek Mentari yang malah semakin kesal.
"Ishh...bukan itu Kak, apa yang kalian lakukan malam itu?"
"Bukankah kau melihatnya, kenapa harus aku jelaskan?"
"Sambungan videonya terputus, bagaimana aku bisa tahu selanjutnya apa yang kalian lakukan!"
"Sudahlah jangan rusak suasana sore ini karena wanita tidak penting itu!"
Arfan menceburkan dirinya ke dalam kolam, "Kau bisa tanyakan sendiri nanti kepada Dio dan temannya apa yang terjadi kemarin!" ucap Arfan setelah berenang menjauh dari Mentari.
Mentari masih bersedekap, perasaannya masih campur aduk meskipun dia sangat yakin jika tidak mungkin Arfan akan menghianatinya, sebab Arfan cukup ketus terhadap wanita itu ketika menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan dari Mona tadi.
Bbyyurrrr....
Mentari terjatuh ke dalam kolam karena ada yang menarik kakinya dari dalam air, "Aaawwww...," pekik Mentari kaget.
Mentari berusaha naik ke permukaan, dadanya berdegup kencang karena takut. Dia pikir Arfan sudah berenang menjauh.
"Kau jahat sekali, lihat bajuku jadi basah kuyup begini!" protes Mentari kepada Arfan.
"Bukankah kau ingin bermain air, tidak akan menarik jika tidak sampai basah!"
"Kak Arfan nyebelin,"
"Oh ya?" jawab Arfan sambil menggelitiki pinggang Mentari.
"Kak sudah...lepaskan aku, geli Kak. Stop Kak aku mohon!" ucap Mentari memohon agar Arfan berhenti mengganggunya.
Arfan menghentikan aksinya, pandangan mata keduanya kini saling beradu, jarak wajah mereka hanya satu inchi saja. Arfan memandang Mentari lekat, 'gadis kecil yang sangat menarik,' batin Arfan.
Arfan terus mendekatkan wajahnya, sedangkan Mentari terus mundur hingga tubuhnya mentok di pinggiran kolam.
Cup....
Arfan mendaratkan bibirnya di bibir merah muda Mentari, keduanya beberapa saat menikmati sentuhan bibir masing-masing, hingga Arfan melepaskannya karena Mentari sudah kehabisan nafas.
Mentari tertunduk malu, sebab first kiss yang telah diambil oleh Arfan pemuda yang dicintainya.
Tanpa mereka sadari, Mona sejak tadi mengawasi pergerakan Arfan dan Mentari dari dalam kamarnya.
"Awas kau gadis kecil, berani-beraninya mengambil Arfan dariku, dia milikku!" Mona mengumpat kesal karena pemandangan romantis yang baru saja dilihatnya.
Mentari memutuskan untuk menyudahi bermain air sore ini, "Kak aku duluan!" pamit Mentari kepada Arfan yang kemudian menyambar kimono handuk yang ada di kursi dan meninggalkan Arfan yang masih ada di dalam kolam.
"Kau mau kemana? Bukankah kita belum selesai bermain?" teriak Arfan namun Mentari sudah menjauh.
'Kau ini lucu sekali Mentari kecil,' pikir Arfan sambil memegangi bibirnya yang tadi baru saja bersentuhan dengan bibir Mentari. Hal ini juga merupakan pengalaman pertama bagi Arfan, selama ini dia tidak pernah berpikir untuk mencintai seorang gadis manapun di dunia ini.
Arfan tersenyum sendiri, "Manis...sangat manis," ucap Arfan lirih.