My Old Star

My Old Star
#74 Rasakan Hatimu



Arfan memilih pergi dari hadapan Mona, mana mungkin dia akan dengan mudah menyerahkan apa yang dia jaga selama ini kepada wanita seperti Mona yang sekaligus adalah tantenya sendiri.


Arfan masih bisa berpikir jernih, dia hanya mencintai Mentari jadi sampai kapanpun dia tidak akan pernah sudi memenuhi keinginan Mona yang Arfan anggap sebagai perempuan yang sangat kotor.


"Kamu pasti akan menyesal Fan karena telah menolakku!" teriak Mona yang tidak lagi digubris oleh Arfan.


Menemui Mona merupakan keputusan yang salah menurut Arfan sebab Mona pasti akan semakin merasa di atas angin. Arfan menyesali tindakannya, dia ingin menemui Arman pun percuma sebab Arman tidak akan berubah pikiran. Arfan harus mencari cara lain agar bisa mencegah Mona supaya tidak bisa mengganggunya dan orang-orang terdekatnya.


Arfan kembali ke rumah neneknya, "Nek aku ingin pernikahanku dipercepat, kalau bisa minggu depan aku sudah harus menikah dengan Mentari." Arfan sengaja berbicara sangat lantang agar kakek Mahmud bisa mendengar permintaannya kepada nenek saat baru masuk ke rumah.


"Ada apa ini, apa yang terjadi kenapa mendadak begini Fan?" Tanya nenek Wijaya yang tidak paham dengan situasinya.


"Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri dari pengaruh buruk wanita yang mendadak statusnya berubah menjadi tanteku nek!"


Nenek Wijaya sudah mulai paham dengan apa yang sedang Arfan maksudkan.


"Baiklah Fan, nenek akan memenuhi permintaanmu segera. Akan nenek urus secepatnya!"


"Terimakasih nek, nenek memang segalanya bagiku." Arfan mengecup pipi kiri neneknya kemudian pergi naik ke kamarnya, dia berharap kali ini umpannya akan berhasil karena pasti kakek Mahmud akan memberitahukannya kepada Mona.


"Kak kenapa lagi cucumu itu?" Tanya kakek Mahmud setelah Arfan tidak kelihatan lagi dari bawah.


Arfan yang masih berdiri dibalik pilar yang tidak bisa dilihat dari bawah, tersenyum sendiri, "Aku sudah menduga jika kakek Mahmud pasti akan menanyakannya pada nenek," Arfan membatin.


"Sudahlah Mahmud tidak perlu dipikirkan, dia hanya ingin dipercepat pernikahannya, mungkin sudah tidak sabar. Maklum sudah terlambat, di saat usianya sudah kepala tiga dia baru akan menikah," jawab nenek Mahmud bijak karena tidak ingin membuat adiknya kepikiran dengan hal yang Arfan ucapkan.


"Tapi tadi sepertinya dia menyinggung soal Mona, siapa lagi tantenya kalau bukan Mona?"


"Aku juga tidak tahu, coba kamu tanyakan pada anakmu itu apa yang terjadi pada mereka!"


"Baiklah akan aku tanyakan nanti kak," kakek Mahmud pergi ke kamarnya, dia tidak tahu apa yang telah Mona lakukan pada Arfan.


Mentari dan Siska belum bisa tidur malam ini, Siska masih memikirkan soal Arman yang hingga larut belum juga mengirimkan pesan kepadanya, padahal biasanya Arman akan setiap saat memberikan kabar kepadanya. Mentari masih menemani Siska yang tampak sangat sedih.


"Apa sebaiknya kamu telfon kak Arman saja Sis, jangan biarkan pikiranmu berkelana jauh dan membuat hatimu sakit."


"Aku tidak mau Tari, aku ingin dia yang menghubungiku dulu. Bukankah dia yang seharusnya merasa bersalah karena telah menghianatiku?"


"Aku yakin kak Arman tidak akan pernah menghianatimu Sis, dia pasti memiliki alasan lain mengapa dia melakukan hal itu."


"Apa aku bisa seyakin itu Tari?"


"Coba rasakan hatimu Sis, apa yang hatimu katakan. Itulah kebenarannya, rasakan baik-baik."


Di tempat lain, Mona baru saja mendapatkan telfon dari bapaknya jika Arfan akan mempercepat pernikahannya dengan Mentari.


"Kurang ajar beraninya dia melawanku, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada Mentarimu itu!" Mona segera menghubungi Arman untuk memulai rencananya.


"Baiklah akan aku lakukan sesuai perintah!" jawab Arman di sambungan telfon.


Arman harus segera mengambil tindakan, dia harus memastikan Mentari tetap selamat.


Arman memberitahu paman Faisal jika permainan Mona akan segera dia jalankan jadi paman Faisal harus segera bersiap dengan segala kemungkinan yang ada.


"Fan maafkan anak kakek ya, kakek sudah menelfonnya semalam katanya dia sangat menyesal karena sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan kepadamu!"


kakek Mahmud mewakili anaknya meminta maaf saat mereka sedang sarapan bersama.


"Baguslah kalau dia sadar kek, tapi kakek juga harus tahu apa yang dia lakukan di luaran sana. Kakek harus bisa mengendalikannya bukan sebaliknya kakek yang dikendalikan olehnya!"


"Tidak apa-apa kak, aku juga berhak tahu apa yang putriku lakukan selama ini."


Arfan diam saja, dia tidak ingin menjelaskan apapun kepada kakek Mahmud karena khawatir dianggap mengarang cerita sebab Mona sangat pintar membolak balikkan fakta.


"Maafkan aku kek, aku tidak bisa menceritakan apapun. Kapan-kapan kakek mainlah ke apartemen tante Mona tapi jangan beritahu tante Mona jika kakek akan datang."


"Nek aku pamit dulu, aku harus menjemput Mentari." Pamit Arfan kepada neneknya, dia berharap provokasinya berhasil agar kakek Mahmud tahu siapa anaknya sebenarnya.


"Fan jangan lupa pulang dari kampus nanti kalian berdua harus viting baju pernikahan kalian!"


Arfan mengangguk kemudian pergi meninggalkan rumah nenek.


Mentari dan Siska sudah siap pergi ke kampus saat Arfan datang. Arfan berpamitan kepada ayah dan ibu Mentari sekalian menyampaikan jika dia ingin pernikahan mereka dipercepat.


"Iya nak, kami setuju saja bagaimana baiknya. Lebih cepat justru lebih baik. Nenek kamu juga sudah menyampaikan kepada kami semalam." Jawab bu Kartika yang merasa sangat bahagia karena Arfan benar-benar memiliki keberanian untuk menyampaikan kepada mereka dan tidak memilih berlindung di balik nama besar neneknya.


Wajah Mentari berubah merah, dia tidak menyangka jika Arfan memberikan kabar yang sangat mengejutkan pagi ini.


"Cie yang sebentar lagi akan berstatus sebagai istri!" Siska menggoda sahabatnya.


"Iiihhh... Apaan sih Sis." Mentari berlari ke arah mobil Arfan dan memilih masuk ke dalam mobil lebih dulu, dia sangat malu.


"Nanti siang aku jemput lagi, kita akan viting baju pengantin kita di butik langganan nenek!" ucap Arfan sebelum meninggalkan Mentari dan Siska di depan kampus mereka.


Mentari hanya mengangguk, jantungnya terasa berpindah tempat. Berdetak sangat kencang dan tidak beraturan.


Arman melambaikan tangannya ke arah Siska, "Tari kamu duluan saja ke kelas, aku akan temui kak Arman dulu!"


Mentari mencari-cari dimana keberadaan Arman dan pandangannya terkunci pada sosok laki-laki yang sedang berdiri di bawah pohon Angsana yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baiklah Sis, aku duluan ya!" Mentari melangkah ke arah kelas meninggalkan Siska.


"Bisakah aku berbicara sebentar Sis?" Pinta Arman saat Siska sudah mendekat ke arahnya.


Siska melihat jam di tangannya, "Aku hanya punya waktu lima belas menit sebelum kelas pertama dimulai kak!"


"Baiklah tidak masalah, ayo ikut aku!" Arman mengajak Siska ke gazebo yang agak jauh dari tempatnya berdiri.


"Sis maafkan atas sikapku kemarin."


"Apa perlu kak Arman meminta maaf?"


"Kamu jangan salah paham Sis, aku melakukan hal ini demi kebaikan Arfan dan Mentari."


"Maksud kak Arman?"


Arman menceritakan semuanya kepada Siska, "Tolong pegang rahasia ini, jangan sampai Arfan dan Mentari tahu soal ini karena Arfan pasti akan bertindak sendiri!"


"Baiklah kak, percayakan saja kepadaku. Aku akan jaga Mentari dengan baik. Kak Arman hati-hati ya."


"Aku bersama paman Faisal Sis, jaga diri kamu baik-baik ya. Do'akan aku agar bisa melindungi kalian semua."


Siska mengangguk, meskipun dia juga sedih karena harus terpisah beberapa waktu dengan Arman.


"Sudah masuk sana, nanti kamu terlambat. Aku pergi dulu Sis!"