
Ilyas membaca sebuah gelagat aneh dari Siska, "Siska ayo cepat katakan di mana Mentari sekarang!" desak Ilyas.
"Dia sedang pergi ke minimarket, sebentar lagi juga akan kembali!" jawab Siska sekenanya.
"Dengan siapa dia pergi, kenapa ibunya tidak bisa menghubunginya sama sekali?"
"Yas bisa nggak sih bicaranya biasa saja, kamu sudah kaya intel tahu nggak!"
"Aku akan biasa saja jika bukan menyangkut Mentari,"
Siska bersedekap, "Yas kamu menyerah saja deh, Mentari menyukai orang lain dan dia bahagia dengan orang itu, cinta itu tidak bisa dipaksakan!"
"Kamu tidak berhak mencampuri urusanku Sis!"
"Ya sudah kalau begitu kenapa masih di sini coba, Mentarinya kan sedang ke luar jadi tidak bisa ditemui kan ya?"
"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Mentari karena ibunya bilang aku harus memastikan sendiri keadaan Mentari!"
"Ya sudah kalau itu mau kamu, tunggu saja sampai Mentari kembali tapi maaf kamu tidak aku izinkan masuk ke dalam!" Siska masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
"Sudah jadi mata-mata sekarang kamu ya Yas, awas saja sampai membuat masalah, kamu akan tahu akibatnya!" Siska geram terhadap Ilyas yang benar-benar egois tidak melihat sisi bahagianya Mentari bersama siapa.
Siska bergegas mencari nomor Mentari untuk menghubunginya, namun memang benar ponsel sahabatnya itu sepertinya mati sehingga tidak bisa tersambung.
Siska mondar mandir di dalam kamar dengan sesekali mengintip Ilyas dari lubang kunci memastikan laki-laki egois itu masih ada di sana atau tidak.
Siska mencoba menghubungi Arfan, berharap ada pemecahan masalah yang bisa mereka lakukan segera saat ini.
"Hallo pak Arfan, mohon maaf Pak malam-malam begini saya mengganggu!" ucap Siska begitu panggilannya tersambung.
"Ada apa Sis?"
"Pak bisakah mengantarkan Mentari sekarang ke asrama, di depan ada Ilyas yang mencari-cari Mentari atas perintah dari Ibunya Mentari sendiri."
"Baiklah kami akan segera ke sana!"
"Terimakasih Pak, karena Ilyas tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Mentari. Sekarang dia masih di luar."
"Maaf merepotkanmu Siska!"
"Tidak apa-apa Pak," panggilan pun ditutup.
Arfan segera memanggil Mentari untuk mengikutinya.
"Ada apa Kak?"
"Akan aku jelaskan nanti, sekarang bergegaslah!"
Arfan seolah mengajak Mentari berlari, dia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat namun dia sangat tenang. Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di depan asrama.
"Kau turunlah aku akan menunggumu di sini!"
Mentari mengangguk kemudian turun dari mobil Arfan, "Jangan lupa katakan jika kau baru saja dari minimarket!"
Mentari membawa masuk kantong belanja yang sudah Arfan siapkan, dia berjalan cukup tenang. Mentari sudah mengira jika situasi seperti ini akan terjadi, jadi dia harus sudah siap kapan pun.
Mentari perlahan mendekati kamarnya, dari kejauhan Ilyas sudah melihat Mentari yang semakin mendekat.
"Hai Yas kamu di sini?" Sapa Mentari pura-pura tidak tahu dengan kehadiran Ilyas.
"Aku menunggumu, kamu dari mana Mentari?"
Mentari mengangkat kantong belanjaannya dan memperlihatkannya kepada Ilyas, "Aku baru saja membeli ini Yas!" Mentari tersenyum.
"Kenapa ponselmu tidak aktif, Ibumu sangat khawatir!"
"Tuh kan Yas, bukankah aku tidak berbohong kepadamu?"
"Iya Siska...," jawab Ilyas yang tadi tidak mempercayai Siska.
"Oh ya Yas, ini ponselku. Lihat saja, aku lupa tidak mengisi baterainya jadi seharian ini mati!"
"Sesibuk itukah dirimu Mentari? Bahkan aku tidak melihatmu hari ini di kampus!"
Mentari hanya menjawab dengan tersenyum, "Maafkan aku ya Yas, gara-gara aku jadi ibuku merepotkanmu!"
"Itu tidak masalah Mentari, aku juga ingin memastikan jika kamu ada di asrama bukan sedang bersama laki-laki tua itu!"
Mentari tersenyum kembali, dalam hati dirinya sangat tidak suka mendengar Ilyas menyebut kata tua untuk Arfan.
"Kalau begitu sekarang kamu sudah bisa melaporkan ke ibuku jika aku baik-baik saja kan Yas, aku akan mengisi daya baterai ponselku dulu, nanti akan aku hubungi juga Ibu." Mentari beranjak berdiri untuk mencharger ponselnya.
Ilyas kemudian pamit untuk kembali ke asramanya, meskipun Ilyas masih sedikit curiga sebab barang-barang Mentari hanya ada sebagian kecil saja di kamarnya. Namun, Ilyas berpikir jika memang kecurigaannya benar maka lain kali dia akan membongkarnya.
Mentari dan Siska bernafas lega, "Hampir saja Tari, kamu membuatku senam jantung!"
"Kau mungkin akan sering mengalaminya Sis, jadi kamu harus terbiasa!" Mentari tertawa.
"Kau ini memang selalu membawaku pada situasi sulit!" Siska berdecak.
"Eh ya Tari... kamu tidak datang ke sini sendirian kan?"
"Oh ya ampun aku melupakannya, Kak Arfan ada di depan!" Mentari berlari ke depan kemudian kembali pergi bersama Arfan.
Mentari dan Arfan tidak mengetahui jika Ilyas masih berada di sekitar asrama, "Sudah ku duga!" ucapnya menyeringai.
Di tempat lain, Zaki merasa sangat merindukan Steven malam ini. Entah apa yang membuatnya seperti itu, padahal biasanya meskipun dirinya bisa cepat akrab dengan anak kecil tidak seperti itu perasaannya. Zaki memandangi jalan di bawah gedung tempatnya berdiri dengan perasaan tidak menentu.
"Stev kamu selalu mengingatkan aku terhadap anakku yang bahkan hingga saat ini aku tidak tahu di mana keberadaannya," Zaki membatin.
Arman yang melihat Zaki sedang termenung kemudian mendekatinya, "Sedang apa Za?"
"A-aku hanya sedang merindukan anakku Man," jawab jujur Zaki.
Zaki tampak menyeka air matanya, Arman yang mengetahui jika Sania dan anaknya ada di kota Z merasa tidak tega jika menyembunyikan hal ini dari Zaki. Mungkin ini kesempatan bagi Zaki untuk meminta maaf kepada mereka.
"Mereka ada di kota ini Za!" Arman bersedekap memandang ke luar jendela, meyakinkan dirinya jika dia tidak salah ketika memberitahukan hal itu kepada Zaki.
"Kamu jangan bercanda Man, bahkan aku saja tidak tahu mereka ada di mana. Tidak mungkin jika mereka ada di sini saat ini!"
"Aku tidak pernah main-main jika semuanya tidak benar Za!" Arman menepuk bahu Zaki, kemudian ke luar dari ruangan Zaki untuk memberikan waktu kepada Zaki memikirkan tentang ucapannya barusan.
"Hei kau...!" seru Zaki yang melihat Arman berlalu pergi.
"Aku akan pergi berlatih!" ucap santai Arman.
Keesokan paginya Zaki benar-benar mencari Sania, semalaman dia telah memikirkan banyak kemungkinan, salah satunya adalah menemui Tomi di club milik Arfan. Mungkin saja Sania sengaja datang ke kota Z untuk bertemu dengan Tomi.
Zaki memikirkan bagaimana cara dirinya bisa diperbolehkan untuk masuk ke dalam club Arfan, sebab dengan kenangan mereka yang cukup kelam di masa lalu hingga saat ini Arfan terang-terangan memusuhinya.
Zaki termenung di sebuah taman, "Om baik?" suara anak kecil membuyarkan lamunan Zaki.
"Stev kau di sini?" Tanya Zaki dengan wajah sumringah seolah rindunya terobati sudah.
"Aku sedang jalan-jalan bersama kakak-kakak itu om!" Steven menunjuk Dio dan Rafi yang sedang asyik dengan sepeda mereka.
Zaki seperti mengenali dua pemuda itu, namun dia tidak terlalu ingat siapa mereka.