My Old Star

My Old Star
#128 Terdengar Putus Asa



Arfan meninggalkan Mentari tanpa mengatakan apapun, dia tidak mungkin menukarkan Mentari dengan Ibu Ilyas. Bagi Arfan keduanya sama-sama sangat berarti dalam hidupnya.


Mentari hanya bisa terdiam, dia tahu jika suaminya sedang dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.


Sania yang baru saja keluar dari kamar setelah menenangkan dirinya sendiri dan juga Steven mendekati Mentari yang terduduk lesu di kursi ruang tamu.


"Mentari kenapa duduk di sini sendirian, dimana Arfan?"


"Kak Arfan di kamar Kak," jawab Mentari.


"Kenapa kamu tidak menyusulnya, kamu juga harus beristirahat Mentari setelah melakukan perjalanan jauh, kasihan bayi kalian yang masih di dalam perut."


"Kak Arfan sepertinya marah kepadaku Kak."


"Mana mungkin dia marah, dia sangat menyayangimu Mentari."


"Apa masalahnya sehingga dia harus marah kepadamu?"


Mentari menceritakan semuanya kepada Sania, "Jadi ini perbuatan Mona!" geram Sania ketika mendengar cerita dari Mentari.


"Apa aku salah jika aku mengatakan bersedia bertukar tempat dengan Ibu?"


Sania berpikir sejenak, dia tidak bisa menyalahkan Arfan sebab dia tahu jika Arfan tentu berada pada posisi yang sangat sulit kali ini. Sania tidak ingin mengucapkan kata yang salah kepada Mentari sebab dia khawatir jika perkataannya nanti justru akan memperkeruh keadaan mereka yang sedang genting.


"Mentari dengarkan aku, percayalah Arfan sedang mencari solusi yang paling tepat untuk mengurai masalah ini. Baik kamu maupun Ibu bagi Arfan sama-sama berarti dalam hidupnya, jadi dia tidak mau ada seorangpun yang menjadi korban."


"Kak Sania benar, aku seharusnya bisa memahami keadaannya saat ini dan tidak menambah beban pikirannya."


"Sekarang masuklah ke kamarmu, jangan katakan apapun sampai Arfan mau menceritakannya sendiri kepadamu. Arfan biasanya akan meminta pendapat setelah dia memikirkan banyak hal dan memilih salah satu yang paling tepat."


Mentari mengangguk kemudian menuruti saran dari Sania, dia diam saja ketika memasuki kamar kemudian dia naik ke atas ranjang untuk beristirahat sedangkan Arfan tatkala Mentari masuk ke dalam kamar, dia sedang duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah luar yang sudah terlihat gelap, hanya lampu-lampu yang terlihat menerangi beberapa sudut di luar sana. Arfan sempat menoleh ke arah Mentari untuk beberapa saat kemudian kembali ke posisinya semula.


Arfan masih enggan untuk berbicara hingga pada akhirnya dia juga ikut naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Mentari.


Arfan mengira jika Mentari yang terbaring memunggunginya sudah terlelap karena kelelahan setelah hampir seharian menempuh perjalanan yang cukup jauh.


"Mentari sayang aku tidak akan pernah mungkin mengorbankan kamu dan menukarnya dengan Ibu. Tapi Ibu juga harus pulang dengan selamat sebagai bentuk tanggungjawabku terhadap Ilyas."


"Apa yang harus aku lakukan Mentari, saat ini seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi kita usai memenangkan pertandingan tingkat nasional, tapi nyatanya kita harus menelan pil pahit setelah kembali dengan kemenangan." Arfan terisak di punggung istrinya.


Mentari yang mendengarkan perkataan Arfan ikut menitikkan air mata, rasanya tidak tega membiarkan Arfan menanggung semua bebannya sendirian.


Mentari membalik tubuhnya dan memeluk Arfan, "Kau belum tidur?" Tanya Arfan yang mengira jika Mentari sudah terlelap.


"Bagaimana aku bisa tidur sedangkan suamiku menanggung bebannya sendirian."


"Kak tatap mataku!" Mentari memegang wajah Arfan dan menyuruhnya untuk menatap matanya.


"Percayalah kepadaku Kak, aku akan baik-baik saja."


"Besok antarkan aku untuk bertemu dengan Tante Mona Kak!"


"Dia tidak lagi Tanteku Mentari, dia bukan anak dari Kakek Mahmud."


"Bagaimana mungkin Kak?"


"Kakek telah melakukan tes DNA, jadi sudah terbukti dengan sangat jelas."


"Aku tidak akan ragu lagi untuk membuatnya menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya selama ini."


"Kak kau juga harus ingat, keselamatan Ibu Ilyas tergantung bagaimana cara kita bisa membuat Mona mempercayai kita."


"Maksud kamu?" Tanya Arfan tidak paham dengan ucapan istrinya.


Mentari berbisik di telinga Arfan, "Apa kau yakin sayang?" Tanya Arfan.


"Jika kau tidak bermaksud untuk menghianatiku tentu aku akan merasa yakin Kak."


"Apa Kakak tidak ingat jika Mona begitu menyukaimu?"


"Tentu saja aku ingat."


"Untuk apa sayang, bukankah aku yang akan dijadikan sebagai umpan?"


"Keselamatan Ibu adalah prioritas kita, sedangkan barang bukti itu tersimpan di tempat yang aman, jadi kita hanya perlu mencari kelemahan Mona saja Kak." Mentari mengerling, dia sudah mendapatkan cerita dari Marryana terkait kejadian pagi itu yang dialami oleh Arfan.


"Mencurigakan sekali kedengarannya." Arfan merasa janggal dengan rencana istrinya.


"Kita pikirkan besok lagi saja Kak, Mona pasti akan menghubungimu lagi besok. Jadi siapkan mentalmu ya Kak." Mentari sengaja mencairkan suasana agar Arfan tidak terlalu tegang, meskipun dia sendiri sebenarnya tidak bisa berhenti memikirkan nasib Ibu Ilyas saat ini. Mentari hanya bisa berdo'a semoga Ibu Ilyas baik-baik saja berada di tangan Mona.


Keesokan paginya, Mentari telah bersiap. Setelah menyiapkan sarapan untuk anak-anak dia menelfon Marryana agar mengirimkan foto yang berhasil dia ambil pagi itu.


"Akan aku kirimkan kepadamu segera, aku dan Zaki juga akan segera datang ke club. Siapa tahu kami bisa sedikit membantu masalah kalian." Janji Marryana kepada Mentari melalui sambungan telfon.


"Terimakasih Kak Marry, aku banyak berhutang budi kepadamu."


"Jangan sungkan begitu Mentari bukankah kita sudah menjadi keluarga?"


"Kau benar Kak, sekali lagi terimakasih.".


"Aku akan bersiap, tunggu kami sampai di club."


Mentari menutup sambungan telefon mereka, dia sedikit bisa bernafas lega karena dikelilingi orang-orang yang baik.


Mentari bergabung bersama anak-anak di meja makan, dia harus mengurus dirinya sendiri dulu.


"Apakah Ana dan Zaki akan membantu kita?" Tanya Arfan begitu Mentari duduk di sampingnya.


"Tentu saja mereka akan datang untuk membantu kita Kak!"


"Mereka akan segera datang kemari."


"Baguslah kalau begitu, semakin banyak yang membantu akan semakin baik."


"Kami juga siap membantu Bos!" ucap Dio mewakili teman-temannya.


"Terimakasih Dio dan yang lainnya, tapi ini terlalu berbahaya. Jadi aku tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian karena kalian masa depan club ini."


"Apa Bos ingin kami hanya berpangku tangan saja di sini sedangkan Ibu Ilyas yang selalu menyayangi kami sedang berada dalam bahaya?"


"Baiklah kalian boleh membantu tapi ingat sekiranya berbahaya jangan maju, dengarkan instruksi dan jangan gegabah."


"Kami mengerti Bos!" jawab mereka serempak.


Arfan bisa bernafas sedikit lega, dia memiliki banyak orang yang siap membantunya di kala dia tertimpa masalah.


Arfan menghampiri Mentari yang sedang membersihkan piring kotor di dapur, "Mentari sayang, apa kamu yakin akan rencana kamu itu?"


Mentari berbalik setelah mencuci tangannya, "Kak aku yakin, jadi jangan meragukan apapun ya. Kita berdo'a saja semoga Ibu baik-baik saja dan kita bisa membawanya pulang bersama kita."


Arfan memeluk istrinya, "Maafkan aku yang selalu membawamu dalam bahaya Mentari."


"Kak jangan khawatirkan aku karena aku akan selalu berdiri di sampingmu apapun yang terjadi."


"Sebaiknya kita ke depan Kak, sepertinya Kak Marry dan Zaki sudah datang."


Mereka berdua kembali ke ruang tamu, "Kak Marry, terimakasih karena sudah mau datang untuk membantu kami."


"Tidak perlu sungkan Mentari, kita bereskan Mona dan bebaskan Ilyas yang tidak bersalah. Baru kita akan lega, ingat club ini akan bertanding ke tingkat Asia jadi jangan sampai konsentrasi kalian terpecah karena masalah Mona."


"Kak Marry benar," Mentari mengajak Marryana dan Zaki untuk duduk sembari menunggu Arfan yang sepertinya sedang menerima telfon.


Arfan menarik nafasnya usai menutup sambungan telfon, "Mona ingin hari ini juga aku menyerahkan kamu Mentari untuk ditukar dengan Ibu."


"Kamu gila Fan, jangan pernah lakukan itu. Tidak mungkin kamu mengorbankan istrimu sendiri kan?" Marryana memprotes Arfan.


"Aku tidak memiliki pilihan lain An."


Ucapan Arfan tadi terdengar sangat putus asa, namun Mentari tetap tersenyum seolah dia tidak khawatir sedikitpun.