My Old Star

My Old Star
#10 Menyatakan Cinta



Pagi ini Arfan menjemput Mentari di asrama, sesuai janjinya Arfan akan membawa Mentari menemui Nenek Wijaya. Mentari dengan senyum manisnya keluar dari dalam asrama setelah sebelumnya Arfan sudah menghubungi Mentari mengabarkan jika dia sudah berada di depan asrama.


"Apakah kau siap bertemu dengan Nenek?" tanya Arfan ketika Mentari sudah duduk di atas mobil yang dikendarainya.


"Tentu saja, jika tidak mana mungkin aku mau pergi denganmu," jawab Mentari tetap dengan senyum bahagianya.


"Baiklah, kalau begitu kita akan segera sampai di rumah Nenek."


Sementara Arfan dan Mentari masih dalam perjalanan, Nenek Wijaya yang sudah mengetahui jika Mentari akan datang berkunjung sibuk mengatur para pelayan agar menyiapkan hidangan terbaik untuk mereka.


"Kau kemarilah!" perintah Nenek Wijaya ketika seorang pelayan melintas dihadapannya.


"Saya Nyonya," jawab pelayan itu.


"Apakah sudah siap semuanya? Cucuku akan segera sampai!"


"Sudah Nyonya, hanya tinggal hidangan penutup saja yang masih kami siapkan."


"Ah kalau begitu bagus, kau boleh pergi, selesaikan pekerjaanmu!"


"Baik Nyonya," jawab pelayan itu kemudian pergi meninggalkan Nenek Wijaya yang masih terus memandang ke arah luar, sembari menajamkan telinganya kalau-kalau cucu yang ditunggu telah tiba.


Terdengar deru mobil Arfan memasuki halaman rumah, Nenek Wijaya berhambur ke arah pintu depan untuk menyambut keduanya.


Nenek Wijaya betul-betul merasa sangat bahagia, sudah sejak lama dirinya menginginkan cucu perempuan tetapi sebelum semuanya terwujud kedua orangtua Arfan telah pergi meninggalkannya dan Arfan di dunia ini untuk melanjutkan hidup tanpa kehadiran mereka.


Arfan kecil harus diasuhnya dari pada harus terkungkung dalam kesedihan yang mendalam, Arfan kecil harus mendapatkan kasih sayang yang cukup meski tanpa kedua orangtuanya.


Kehilangan Kakek Wijaya yang disusul dengan Putra dan menantu satu-satunya dalam hidup Nenek Wijaya sebenarnya memberikan luka tersendiri yang sangat dalam dan merupakan pukulan telak bagi jiwa Nenek Wijaya sendiri, namun karena kehadiran Arfanlah yang membuat Nenek Wijaya kuat menanggung semuanya.


"Nenek...," sapa Mentari kepada Nenek Wijaya yang langsung memeluknya.


"Bagaimana kabar kamu Nak?"


"Aku baik-baik saja Nek, Mentari kangen Nenek!"


"Nenek juga kangen sayang, ayo masuk kita bicara di dalam!" ucap Nenek Wijaya sembari mengurai pelukannya.


Arfan merasa dilupakan oleh Neneknya karena kehadiran Mentari, ia kemudian menyusul masuk ke dalam setelah mengedikkan bahunya sendiri, kini dia merasa ada pesaing untuk kasih sayang Neneknya yang sedari dulu hanya miliknya seorang, tapi hal ini malah membuat Arfan senang sebab dengan begini Neneknya bisa tersenyum kembali dan dia tidak perlu direpotkan lagi dengan pertanyaan yang setiap kali dilontarkan kepadanya terkait kapan dia bisa membawakan Neneknya itu cucu menantu.


"Duduklah sayang," ucap Nenek Wijaya kepada Mentari begitu mereka sampai di ruang tengah.


"Kamu mau minum apa?" sambung Nenek Wijaya.


"Tidak perlu repot-repot Nek, Mentari sudah minum tadi."


"Tidak repot sayang," Nenek Wijaya kemudian memanggil Arfan untuk mendekat kepadanya.


Baru saja Arfan akan duduk, Neneknya sudah menyeru, "Kamu belum boleh duduk, perlakukan cucu perempuan Nenek sebaik mungkin agar betah tinggal di rumah ini. Sekarang layani dia dengan baik!" perintah Nenek Wijaya dengan nada tidak mau dibantah.


"Maksud Nenek?" Arfan menautkan kedua alisnya.


"Kau gantikan tugas pelayan hari ini, sana ambilkan minum untuk Mentari dan makanan ringan untuknya juga!"


"Tapi Nek, kan ada pelayan kenapa aku harus turun tangan sendiri?" tanya Arfan dengan muka ditekuk.


"Kau nantinya yang akan melakukan semuanya, jadi sudah harus berlatih mulai hari ini!"


"Biar Mentari saja Nek," Mentari bangkit dari duduknya.


"Mana boleh begitu sayang, kamu kan tamu di rumah ini jadi kaulah ratunya," cegah Nenek Wijaya dengan suara lembut.


Nenek Wijaya memberikan kode kepada Arfan untuk bergegas melakukan apa yang diperintahkan, Arfan dengan terpaksa masuk ke dapur untuk memenuhi permintaan Neneknya itu.


Arfan kembali dari dapur dengan nampan yang berisi penuh minuman dan makanan kecil, tentu Arfan hanya membantu membawakan saja yang menyiapkan semuanya adalah pelayan.


Kini mereka mengobrol santai di ruang tengah dengan penuh canda tawa cukup lama.


"Fan kamu bawalah Mentari berkeliling, Nenek mau istirahat dulu sebentar. Nanti pelayan yang akan memanggil kalian kalau makan siang sudah siap!" Nenek Wijaya berjalan dengan tongkatnya sambil memegangi pinggangnya, mungkin saja saat bercengkrama tadi ada salah urat yang seketika membuat Nenek Wijaya menghentikan kegembiraannya yang meluap-luap saat bertemu dengan Mentari.


"Kau tenanglah Nenek baik-baik saja hanya butuh beristirahat saja sejenak, maklum Nenek kan sudah tua tapi belum juga punya cicit!" Nenek Wijaya berbicara dengan sangat enteng dengan nada seolah penuh penyesalan di depan cucunya yang merasa ngilu kembali merasuk ke hatinya karena belum bisa mewujudkan keinginan Neneknya saat ini.


"Ayo aku bawa kamu ke taman belakang, disana banyak pohon buah. Kau pasti suka!"


Mentari mengikuti langkah lebar Arfan, kini keduanya sudah sampai di gazebo taman belakang, "Aku akan ambilkan buah untukmu, kamu mau apa?"


Mentari menggeleng, "Ayolah tidak perlu sungkan begitu," ucap Arfan yang melihat Mentari tampak meragu, sebab dari kedatangannya ke rumah ini dia merasa sangat diistimewakan.


"Kalau begitu biar aku yang pilihkan, kau tunggu disini!"


Tidak berselang lama, Arfan datang dengan beberapa buah Pir di tangannya. Buah itu yang tadi dipetik olehnya kemudian dia cuci.


"Ini terimalah, masih segar dan manis!" Arfan memberikan buah itu kepada Mentari.


"Terimakasih Pak," Mentari menerima buah itu dari tangan Arfan.


"Kok sekarang panggilnya Pak? Setua itukah aku?"


"Pak Dosen, benar bukan?"


"Iya tapi tolong ganti panggilanmu itu ketika di luar kampus lagian aku juga bukan Dosen kamu kan?" protes Arfan karena merasa dirinya sangat tua dengan panggilan itu.


"Panggil saja Kakak, itu lebih baik!" sambung Arfan.


Mentari patuh dengan apa yang Arfan perintahkan, "Kak Arfan,"


Arfan tersenyum senang, "Tari aku ingin kita bisa lebih dekat, kamu tahu bukan Nenekku sangat menyukaimu!"


"Apa hanya karena alasan Nenek saja?"


"Aku belum yakin kita bisa saling memahami dengan baik, selama ini aku tidak mengerti perempuan kecuali Nenek!" ucap Arfan jujur.


"Jadi sekarang kita...?" Mentari bertanya dengan malu-malu.


"Tentu saja, sesuai dengan yang kau pikirkan. Apakah kau senang?" Arfan menatap tajam Mentari dengan senyumnya yang menawan.


Wajah Mentari merona, "Apakah dia baru saja menyatakan cinta kepadaku?" batin Mentari berbunga-bunga, serasa ribuan bunga mawar bermekaran dihatinya.


"Hei kenapa kamu melamun?"


"Senang tidak?"


Mentari menunduk malu dengan wajah sudah seperti kepiting rebus, "Sini mendekatlah kepadaku!" Arfan menarik pergelangan tangan Mentari dan membawa gadis itu ke pelukannya.


"Mulai sekarang kita akan selalu bersama, kali ini memang karena Nenek tapi bisa jadi besok atau lusa aku akan benar-benar takut jika kehilangan kamu, paham tidak?" Bisik Arfan di telinga Mentari yang sedang ia dekap, rasa hangat menjalar ke hati mereka masing-masing.


Arfan sebenarnya sudah menyayangi Mentari sejak bermain hujan bersama tempo hari, hanya saja dia masih belum yakin akan perasaannya sendiri. Selama ini dia hanya fokus dengan futsal dan Nenek saja.


"Maaf Tuan, Nyonya memanggil Anda dan Nona Mentari untuk makan siang." Pelayan itu menunduk karena khawatir salah sebab telah mengganggu Tuan mereka. Sontak saja Mentari melepaskan pelukan Arfan, Mentari tampak salah tingkah karena kepergok tengah berpelukan. Sedangkan Arfan terlihat santai seolah tidak terjadi apapun.


"Katakan pada Nenek, kami akan segera masuk!"


"Baik Tuan," Pelayan itu pamit undur diri kepada Arfan, Mentari malah terlihat sangat canggung karena kejadian barusan.


"Tidak perlu dipikirkan, anggap saja pelayan tadi tidak melihat apapun dan bukankah malam itu kita pernah kepergok Pak Satpam saat berpelukan di dalam mobil? Ini bukanlah yang pertama kan, lalu kenapa harus merasa malu begitu?" Hibur Arfan karena Mentari masih menunduk karena saking malunya.


"Kalau Nenek mengetahuinya bagaimana?"


"Itu akan lebih baik jika Nenek mengetahuinya,"


jawab Arfan santai.


"Apa maksudnya?" pikir Mentari.


"Ayo kita masuk!" ajak Arfan karena Nenek tengah menunggu mereka untuk makan siang bersama.