
"Nenek kami datang!" ucap Arfan begitu membuka pintu rumah neneknya.
Suasana rumah tampak sepi, biasanya nenek akan datang menghampiri begitu tahu jika Arfan datang dengan membawa serta Mentari ke rumah.
"Mungkin nenek sedang beristirahat kak," Mentari menyampaikan pendapatnya.
"Iya sepertinya begitu, ayo kita masuk saja nanti biar aku tanyakan ke bibi!"
Arfan dan Mentari masuk ke dalam rumah, Arfan menyuruh Mentari untuk duduk di ruang keluarga, sedangkan Arfan langsung menuju ke dapur untuk menanyakan ke beradaan neneknya.
"Bik...," ucap Arfan yang membuat asisten rumah tangga nenek yang tengah memasak di dapur terkejut.
"Den Arfan mengagetkan bibi saja, untung bibi tidak jantungan!" wanita sepuh yang selalu menemani nenek wijaya di rumah itu memprotes Arfan yang malah ditanggapi Arfan dengan tertawa.
Bibi sudah sangat hafal dengan tabiat Arfan sehingga dia tidak pernah mengambil hati setiap bercandaan Arfan ataupun hinaan yang ke luar dari pemuda itu sebab bibi tahu Arfan selalu memiliki tujuan tertentu dalam setiap tindakannya hanya caranya saja yang kadang membuat orang yang pertama kali mengenalnya akan tersinggung.
"Ada apa to den mencari bibi, kangen ya?" Bibi menaikkan kedua alisnya menggoda Arfan.
"Idih enak saja bibi kegeeran tuh, genit sekarang bibi ya, makin tua bukannya makin solehah malah makin genit!" Arfan tertawa.
"Ono noh yang selalu aku kangenin!" Arfan menunjuk Mentari yang tengah duduk memainkan ponselnya.
Bibi ikut melihat Mentari yang tidak tahu jika dirinya sedang menjadi topik perbincangan di dapur.
"Oalah aden memang top markotop pinter milihnya, bibi kalah saing deh jadinya!"
"Bibi ingat umur bi, masa aku mau jadi brondongnya bibi sih, ogah banget aku bi!" Arfan pura-pura bergidik ngeri.
"Enak saja kamu den, ingat ya aden bisa cekep begini karena ada campur tangan bibi juga tentunya!" ucap Bibi membanggakan dirinya sendiri.
"Masa sih bi, aku kok nggak ingat ya?" Arfan bergaya seperti orang yang sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Lupa apa pura-pura lupa nih den, apa perlu bibi ingetin?" Bibi terus menggoda Arfan.
"Yang mandiin aden setiap hari itu siapa waktu kecil kalau bukan bibi, jadi bibi sudah hafal semua bagian-bagian tubuh aden termasuk yang ono noh!" bibi menunjuk bagian inti milik Arfan yang membuat Arfan menutupinya dengan kedua tangannya.
"Bibiiiiiiii mesum ih!" Arfan sedikit menahan suaranya karena khawatir jika Mentari mendengarnya tentu akan sangat memalukan bagi Arfan.
"Siapa suruh ngusilin bibi, ibarat kata ya den bibi itu punya semua kartu As nya aden jadi-"
bibi sengaja menggantung ucapannya.
"Sebenarnya aden cari nenek kan?" Bibi mengalihkan pembicaraan.
Arfan mengangguk, "Tidak biasanya nenek tidak ada di rumah bi?"
Bibi menceritakan jika nenek Wijaya belum pulang berbelanja bersama kakek Mahmud dari tadi siang.
"Mungkin sebentar lagi mereka pulang den,"
Baru saja bibi mengucapkan hal itu, ada suara mobil memasuki garasi rumah.
"Nah itu mereka datang den, ayo kita ke depan!"
Bibi mematikan kompor kemudian menyongsong nenek Wijaya ke garasi.
"Tolong angkat belanjaannya ya bi!"
"Baik nyonya," bibi mulai mengangkat belanjaan ke belakang dan merapikannya.
Nenek Wijaya masuk ke dalam rumah dan mengganti muka kusutnya menjadi tersenyum bahagia ketika melihat Arfan dan Mentari sudah ada di rumahnya.
"Kalian sudah datang cucu-cucu nenek?"
"Mentari kangen nenek," Mentari memeluk nenek Wijaya dengan sayang.
"Nenek juga sayang, sudah lama datangnya ya? Pasti kalian menunggu nenek ya?"
"Belum kok nek, kami baru saja datang!" jawab Arfan.
Kekek Mahmud masuk ke dalam rumah dan menyapa mereka kemudian langsung masuk ke kamarnya.
"Kalian malam ini menginap saja ya?" Pinta nenek Wijaya.
Arfan akhirnya mengalah sepertinya ada sebuah hal yang mengganjal di hati neneknya, tampak dari wajah nenek yang tersenyum tetapi tidak seperti biasanya. Mungkin ada sebuah hal yang akan neneknya bicarakan nanti malam sehingga ingin mereka menginap malam ini.
Selesai makan malam, kakek Mahmud langsung pamit untuk pergi ke kamarnya. Arfan melihat keanehan yang terjadi, apakah kakek dan neneknya sedang berseteru pikirnya.
Mentari juga pamit untuk ke kamar tamu karena ada tugas yang harus dia selesaikan setelah mencuci piring bekas makan mereka, sebenarnya tadi nenek mencegah Mentari untuk tidak melakukan hal itu karena ada bibi yang akan membereskan meja makan tetapi Mentari tetap ingin melakukannya.
"Nek apakah ada masalah?" Tanya Arfan ketika mereka hanya tinggal berdua saja.
Nenek Wijaya meletakkan kedua tangannya secara bersilangan di atas meja makan, "Kakekmu itu tadi siang bertemu dengan anak durhakanya ketika berbelanja, makanya jadi murung begitu," Nenek Wijaya mulai bercerita.
"Maksud nenek, anak perempuan kakek?"
"Kau mengetahuinya?"
"Kakek pernah menyinggung soal itu nek, kalau tidak salah namanya Mona!" Arfan mengingat-ingat cerita kakek Mahmud malam itu.
"Nah itu Fan, namanya Mona dan kamu tahu Mona yang seperti apa anak kakekmu itu?"
"Dia Mona yang selama ini mengejar-ngejar kamu Fan!" nenek Wijaya tampak berapi-api, ada nada emosi di dalam setiap kata yang nenek Wijaya ucapkan.
"Apa?!!!" Arfan terkejut.
"Nenek tidak pernah menyangka jika wanita tidak punya urat malu itu keponakan nenek Fan!"
"Jadi dia tanteku nek?" Arfan merasa geli membayangkan wajah Mona yang seringkali mengaganggunya di setiap kesempatan.
"Nenek justru mengkhawatirkan hal ini akan menjadi masalah buat kamu nantinya Fan!"
"Maksud nenek?"
"Nenek tidak mau Mona menjadi batu sandungan pernihakan kamu dengan Mentari, nenek ingin segera bertemu dengan orangtua Mentari sebelum dia bisa masuk ke rumah ini."
"Aku akan ikuti semua yang nenek inginkan, aku yakin Mentari juga akan setuju nek."
Di tempat lain Mona sedang bersama teman-temannya termasuk Bram juga ada bersama mereka, "Bagaimana Mon, apakah sudah berhasil membuat laki-laki idamanmu itu jatuh ke dalam pelukanmu?" Tanya Ratu sambil meneguk isi di dalam gelas yang sedang dipegangnya.
"Sebentar lagi sayang, aku sudah punya cara agar bisa masuk ke dalam rumah neneknya!" Mona tertawa membayangkan jika dirinya akan masuk dengan mudah ke dalam rumah nenek Wijaya karena kini dia punya alat yang bisa dia manfaatkan.
"Oh ya ampun Mona, di sini ada Bram loh masa membicarakan pria lain di depannya?" Maya ikut menimpali.
"Bram sudah tidak akan cemburu lagi sayang, sudah tahu aku luar dalam. Iya kan Bram sayang?"
Bram hanya tersenyum karena selama ini dia mendapatkan apa yang dia butuhkan dari Mona, selain tubuh Mona dia juga mendapatkan uang dari Mona tanpa harus capek bekerja, jadi dia masa bodoh dengan apa saja yang Mona lakukan yang terpenting bagi Bram semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan dengan mudah.
"Ayo sayang kita pulang!" Setelah puas bersenang-senang dengan teman-temannya Mona yang setengah sadar mengajak Bram untuk pulang karena memang mereka saat ini tinggal satu atap.
"Hati-hati kamu Mona, pria disebelahmu itu ganas jadi siap-siap kamu dimangsa olehnya." Ucap Ratu sambil menertawakan Mona.
"Tanpa kalian ucapkanpun, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Tunggu saja giliran kalian sayang!" ucap Bram sebelum membawa Mona pergi.
Baik Ratu maupun Maya mereka pernah bermalam bersama Bram jadi mereka sama-sama pernah merasakan bagaimana sepak terjang dan ganasnya seorang Bram.
Malam ini Mona yang akan menjadi santapan empuk bagi Bram dan tidak akan ada yang bisa mengganggu mereka berdua.
Di rumah nenek, Mentari sudah menyelesaikan semua tugasnya. Dia ke luar dari kamar dan menemukan nenek dan Arfan masih berbincang serius di ruang keluarga.
Arfan juga tampak menuliskan sesuatu di secarik kertas yang langsung Arfan sembunyikan ketika Mentari datang menghampiri. Sepertinya sebuah rahasia yang hanya boleh diketahui oleh nenek dan dirinya saja.
"Kamu belum tidur sayang?" Tanya nenek Wijaya.
"Aku belum ngantuk nek, makanya aku ke luar dari kamar," jawab Mentari.
"Kalau begitu duduk sini nak!" nenek Wijaya menepuk kursi kosong di sampingnya agar Mentari duduk.
Mereka mengobrol cukup lama sambil menonton film komedi yang membuat mereka kerap tertawa dibuatnya, "Nenek ke kamar dulu ya, kalian teruskan menontonnya!" nenek Wijaya meninggalkan Arfan dan Mentari yang masih asyik menonton film yang mereka putar.
Lama kelamaan Mentari merasa mengantuk tetapi masih tidak mau beranjak dari layar datar yang sedang ditontonnya bersama Arfan. Tanpa sadar Mentari terlelap, Arfan yang melihatnya merasa gemas dengan wajah imut Mentari yang sedang tertidur, perlahan Arfan mendekatkan wajahnya.
"Cup...," Arfan menempelkan bibirnya ke bibir Mentari.
"Ini bibir yang cerewet sekali kalau pas bangun!" Arfan mengelap bibir Mentari dengan ibu jarinya.