My Old Star

My Old Star
#81 Pindah Rumah



"Bagaimana apakah kau berhasil?" Tanya nenek Wijaya dari seberang telfon.


"Ini semua pasti rencana nenek kan?"


Nenek Wijaya tertawa, "Apa rencana nenek membuat kau bahagia?"


Arfan tersenyum smirk, "Sangat bahagia nek, bahkan malam ini aku akan memintanya lagi."


"Dasar kau ini, sekali mencobanya terus ketagihan!"


"Bukankah nenek yang membuat aku seperti itu?"


"Ah sudahlah kalian bersenang-senanglah, nenek tutup dulu!"


Nenek Wijaya memutuskan sambungan telfonnya, dia merasa sangat bahagia. Pada akhirnya cucu kesayangannya itu mendapatkan kebahagiaan dari gadis yang dicintainya, perbedaan usia yang cukup jauh bukanlah penghalang untuk mereka dan bagaimanapun juga Arfan bukanlah bujang lapuk yang tidak lagi tangguh, nyatanya dia masih mampu membobol gawang Mentari dalam sekali percobaan saja.


Nenek Wijaya tersenyum sendiri membayangkan saat dulu dia masih muda juga melakukan hal yang sama dengan kakek Arfan, saat itu mereka sangat bahagia. Meskipun mautlah yang pada akhirnya memisahkan mereka bahkan putra tercinta pun turut pergi meninggalkannya sendirian di dunia ini membawa serta istrinya sedangkan Arfan kecil mereka tinggalkan bersamanya.


Arfanlah penyemangat hidup nenek dan Arfanlah yang mampu membuat nenek bisa bertahan sejauh ini. Waktu memang cepat sekali berlalu, Arfan telah tumbuh dewasa dan kini dia sudah menikah. Nenek Wijaya akan pergi dengan tenang jika saatnya tiba karena Arfan tidak lagi sendirian.


Nenek Wijaya menitikkan air matanya, dia bahagia sekaligus sedih mengenang kisah hidupnya.


"Kak kau kenapa?" Kakek Mahmud yang baru sampai di rumah menghampirinya.


Nenek Wijaya mengusap air matanya, "Ah tidak Mahmud, aku hanya kelilipan saja tadi. Kau baru pulang?"


"Iya kak, aku menginap di apartemen Mona. Anak itu benar-benar tidak bisa diandalkan. Dia tidak bisa melakukan apapun sendiri."


"Bagaimana keadaannya Mud?"


"Dia sudah membaik sekarang, mantan istriku juga datang menjenguk tadi."


"Apa kalian saling bicara?"


"Aku hanya berbicara sedikit dengannya."


"Lalu kenapa kau tampak tidak bahagia, wajahmu mengisyaratkan sebuah beban."


"Kak aku tidak tahu apa yang telah Mona lakukan hingga dia terluka seperti itu, ditambah mantan istriku memintaku untuk rujuk dengannya. Dia baru saja bercerai dengan suaminya karena suaminya berselingkuh dengan wanita yang lebih muda darinya."


Nenek Wijaya sebenarnya mengetahui semua yang dilakukan Mona karena Arfan sudah menceritakan semuanya kepada nenek bahkan orang-orang kepercayaan nenek ikut turun tangan dalam melakukan pengejaran Mona tapi nenek tidak ingin memperpanjang masalah yang terpenting Arman sudah baik-baik saja sekarang dan sudah kembali bekerja sehingga nenek tidak mau menceritakan apapun kepada adiknya itu mengenai perangai anaknya yang kurang baik khawatir menjadi beban mental bagi kakek Mahmud.


"Kak kenapa diam saja, apa pendapatmu kak mengenai hal ini?"


"Aku tidak tahu apa yang Mona lakukan Mud, yang penting dia sudah baik-baik saja. Mengenai mantan istrimu, aku khawatir jika dia akan menipumu lagi. Tapi aku serahkan segala keputusan kepadamu karena kamu yang akan menjalaninya, saranku lebih baik jangan kau ulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Pikirkanlah dulu baik-baik!"


Nenek Wijaya menepuk pundak adiknya, kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan kakek Mahmud sendirian.


Arfan masih bersantai di depan televisi bersama Mentari, dia menjaga istrinya yang tertidur pulas di pangkuannya.


"Kamu begitu manis kalau sedang tidur begini istriku," Arfan mencubit gemas hidung Mentari yang membuat gadis itu terbangun karena merasa terusik.


"Selamat sore putri tidur, akhirnya bangun juga ya."


"Ya ampun sudah sore kak?" Mentari merubah posisinya menjadi duduk.


"Aku akan membersihkan diri dulu kak, tunggu aku ya!"


Mentari masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, dia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Dia memandangi wajahnya di cermin ternyata ada bekas cupangan di lehernya yang cukup banyak.


"Aduh bagaimana ini, kenapa banyak sekali?"


Mentari memikirkan cara agar bekas-bekas merah di lehernya bisa sedikit tersamarkan, meskipun dia sudah menikah tetapi kalau sampai dilihat oleh orang lain tentu saja dia akan sangat malu.


Arfan mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali karena Mentari cukup lama di dalam padahal hanya mencuci muka saja, Mentari membuka pintu dengan wajah cemberut.


"Kenapa cemberut begitu sayang?"


"Lihat ini kak, leherku penuh dengan stempel merah kehitaman!" jawab Mentari kesal.


Arfan hanya tersenyum melihat keluhan Mentari, "Ih kakak nyebelin!" Mentari dengan cepat meninggalkan Arfan.


"Eh hati-hati jalannya bukankah masih sakit?" Arfan menyusul Mentari ke kamar.


"Sakit nggak?"


"Apanya kak?" Tanya Mentari bingung.


Arfan menunjuk bawah perut Mentari sambil menaik turunkan alisnya.


"Kakak...," Mentari bersedekap.


"Aku cuma khawatir sayang, jangan ngambek ya?" Arfan berjongkok di depan Mentari memohon agar Mentari jangan ngambek kepadanya.


"Masih sedikit perih kak, tapi sudah tidak sesakit tadi pagi."


"Jangan katakan lagi kak, aku malu." Mentari menutup wajahnya.


"Nah sekarang pakai ini untuk menutupi bekas merah di lehermu!" Arfan memberikan foundation yang dia ambil di laci meja rias kepada Mentari.


"Nenek benar-benar berpengalaman sampai hal sekecil itu nenek juga menyiapkannya," pikir Arfan memuji semua yang sudah nenek lakukan untuknya.


Mereka memutuskan untuk pulang malam ini setelah makan malam dulu di rumah itu.


Nenek menyambut mereka dengan antusias, "Bagaimana apakah kalian suka dengan rumah itu?"


"Aku suka nek, rumahnya sangat luas dan nyaman," jawab Mentari.


"Syukurlah kalau kalian menyukainya."


"Nek kami akan pindah segera ke sana, mungkin besok setelah dari kampus kami akan langsung menempati rumah itu."


"Baguslah lebih cepat akan lebih baik untuk kalian."


Arfan membawa Mentari ke kamarnya, baru pertama kali ini Mentari masuk ke kamar Arfan di rumah neneknya. Kamar itu sangat rapi dan terkesan maskulin dengan desain yang sederhana namun menonjolkan sisi Arfan yang sangat menyukai olahraga.


Di dalam kamar Arfan terdapat rak berisi buku-buku yang tersusun sangat rapi, sama seperti dirinya Arfan juga senang membaca banyak buku.


"Malam ini kita menginap disini saja, besok pagi-pagi baru ke rumah ayah dan ibu untuk kamu bersiap ke kampus." Ucap Arfan sembari membaringkan tubuhnya di kasur.


Mentari masih melihat-lihat isi kamar Arfan, dia melihat-lihat koleksi buku milik Arfan.


Mentari tertarik pada sebuah buku dan mengambilnya untuk dia baca isinya.


Ternyata di dalam buku itu terdapat sebuah foto yang mirip sekali dengan Arfan sedang bersama seorang gadis kecil di sebelahnya. Mereka sepertinya seumuran.


Mentari berpikir mungkin saja mereka berdua adalah saudara sehingga mengabadikan moment mereka di saat kecil untuk dikenang ketika dewasa. Mentari urung menanyakan siapa gadis itu kepada Arfan karena tidak mau dianggap sebagai orang yang lancang.


Mentari memilih mengembalikan buku itu ke dalam rak sebelum benar-benar membaca isinya karena Arfan memanggilnya untuk segera tidur.


Keesokan paginya mereka bersiap untuk pergi ke kampus seperti biasanya. Arfan mengantarkan Mentari ke rumah untuk mengambil keperluan yang akan dia bawa ke kampus sekaligus meminta izin akan membawa Mentari pindah rumah nanti sore ke rumah baru mereka.


"Apakah tidak sebaiknya kalian tinggal di rumah ini saja dulu sampai Mentari menyelesaikan kuliahnya?"


"Kami akan belajar hidup mandiri bu, jadi kami mohon untuk bisa diizinkan pindah secepatnya."


"Baiklah kalau itu keputusan kalian, tentu kami tidak akan keberatan."


Arfan mengantarkan Mentari ke kampusnya, dia juga akan mengajar seperti biasanya.


"Duh pengantin baru auranya sangat berbeda." Siska menyambut kedatangan Mentari dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Mentari hanya tersenyum, dia tidak ingin menghebohkan seisi kelas jika dia menanggapi Siska.


"Bagaimana kondisi kak Arman Sis?"


"Dia sudah bisa masuk kantor lagi, kondisinya sudah pulih namun belum bisa mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat dulu."


"Syukurlah kalau seperti itu Sis, aku turut bahagia."


Sore harinya setelah dari kampus Arfan dan Mentari disibukkan dengan kepindahan mereka ke rumah baru, meskipun hanya pakaian mereka dan beberapa barang keperluan mereka di kampus yang mereka bawa ternyata cukup menguras energi keduanya.


Steven sendiri tidak rela jika Arfan dan Mentari harus pindah dari club, saat mengambil barang-barang Arfan di club Steven sedikit merengek ingin ikut mereka ke rumah baru namun Sania tidak mengizinkan Steven untuk ikut hari ini.


"Stev besok saja kita ke rumah uncle dan aunty, mama janji akan membawa kamu kesana setelah papa selesai membawa timnya bertanding."


"Sania maafkan aku yang sibuk dengan urusanku sendiri akhir-akhir ini jadi Tomi harus mengurus semuanya sendirian."


"Tidak apa-apa Fan, lagian Tomi bisa melakukan semuanya dengan baik."


Arfan dan Mentari masih sibuk membereskan barang-barangnya, beruntung besok weekend sehingga mereka tidak harus pergi kemana-mana dan bisa beristirahat seharian.


"Mentari sayang apakah kita perlu asisten rumah tangga untuk mengurus rumah ini?"


"Aku rasa aku belum membutuhkannya kak, jadi mari kita urus rumah ini bersama."


Di tempat lain, seorang wanita yang terlihat sangat anggun baru saja turun dari pesawat dengan menyeret koper besarnya. Dia mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuhnya yang indah dan juga kaca mata hitam yang bertengger di atas hidungnya yang mancung.


"Arfan aku sudah kembali!" ucap wanita itu lirih sembari menghirup udara kota Z yang telah lama dia tinggalkan.


Arfan yang disebut namanya oleh wanita itu tiba-tiba bersin berkali-kali.


"Istirahat dulu kak, mungkin hidung kakak kemasukan debu." Mentari memberikan tisu untuk suaminya.


"Kita lanjutkan saja, tinggal sedikit lagi."


Arfan membereskan semuanya, hatinya tiba-tiba gelisah terasa tidak nyaman seperti ada sesuatu yang akan terjadi dalam hidupnya, namun dia tidak mau jika Mentari mengetahui apa yang dia rasakan saat ini.