
Tomi memperhatikan wajah tegang istrinya saat ke luar dari dalam ruangan tadi, dia menangkap ada segurat kekecewaan dan ketidakrelaan dari mata istrinya.
"Sa kita harus cepat membawa Stev pulang setelah kondisinya pulih, tidak baik jika dia harus terlalu lama di rumah sakit."
Sania mengangguk, "Kamu benar Tom."
Sania dan Tomi segera kembali ke kamar Steven dan Arfan dengan Mentari yang menemani mereka di sana.
Steven sedang bermain-main dengan Mentari saat mereka berdua masuk.
"Bagaimana kondisi Zaki Tom?" Tanya Arfan kepada Tomi.
"Dia sudah sadar, saat ini ada Marryana yang menjaganya."
"Apakah mereka saling mengenal?" Tanya Arfan lagi.
"Aku tidak tahu Fan, sepertinya Marryana adalah wanita yang Zaki tolong tadi malam."
"Tadi malam?" Pikir Arfan.
"Tadi malam kami makan malam bersama Marryana dan juga Reza Tom,"
"Kalian juga saling mengenal Fan?" Tanya Sania.
"Dia teman masa kecilku Sa."
Sania memandang ke arah Mentari yang masih asyik bermain dengan Steven. Sania berpikir pantas saja Mentari pernah bertanya mengenai wanita bernama Marryana kepadanya.
"Apakah kalian memiliki hubungan di masa lalu Fan? Katakan dengan jujur kepadaku!" Sania bermaksud mengorek informasi dari Arfan.
"Tidak ada Sa, kami hanya teman bermain sewaktu kecil dan tidak pernah bertemu sampai beberapa hari yang lalu saat Marryana diterima di universitas Z menjadi dosen."
"Lalu tadi malam, apakah ada yang terjadi?"
"Dia memintaku dari Mentari Sa, tapi aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya selain teman masa kecil."
"Lalu apa yang kamu lakukan saat dia mengatakan hal itu?"
"Tentu saja aku menolaknya Sa, aku sudah punya Mentari. Kamu anggap aku gila apa dengan menerima begitu saja wanita itu!"
"Awas kamu Fan, sampai kamu menyakiti Mentari karena wanita itu atau wanita lain di dunia ini, maka orang pertama yang akan kamu hadapi adalah aku!" Sania mengancam Arfan.
"Iya... iya tidak akan Sa, jangan khawatir karena aku bukan orang yang suka ingkar janji!"
"Laki-laki mah biasa omongannya doang manis tapi begitu ketemu yang bening dikit saja langsung belok!" Sania bersedekap kesal.
"Curhat bu?" Goda Tomi kepada istrinya.
Sania menghentakkan kakinya kesal, "Sudah sore sebaiknya kita pulang!"
"Ada yang marah Fan!" Arfan dan Tomi tertawa di atas kekesalan Sania.
Mentari sebenarnya mendengar semua pembicaraan mereka, namun dia memilih untuk diam dan tetap bermain dengan Steven. Andai saja kata-kata Sania benar maka dia akan sangat kecewa dengan Arfan.
"Stev ayo kita pulang dulu, besok baru ke sini lagi menjenguk om baik." Sania mengajak Steven pulang.
Kini tinggal Arfan dan Mentari di dalam ruangan itu, "Kak sudah bisakah kita pulang?"
"Aku masih lemas sayang, butuh energi!" Arfan merentangkan kedua tangannya bermaksud agar Mentari memeluknya.
"Kakak...!" Mentari memukul lengan Arfan dan tidak sengaja mengenai bagian yang tadi ditusuk jarum saat proses pendonoran.
"Aaawww...," Arfan mengerang kesakitan yang membuat Mentari menjadi panik.
"Mana yang sakit kak?"
"Maafkan aku yang tidak sengaja mengenainya kak!"
Arfan tertawa karena dia berhasil membuat Mentari panik, "Dasar kamu kak, ayo kita pulang!"
"Peluk dulu dong?"
"Nggak ada peluk-pelukan, itu hukuman buat kamu kak!"
"Aduh sakit sekali ini," Arfan berpura-pura.
"Sudah tidak mempan kak!" Mentari ke luar dari dalam ruangan meninggalkan Arfan yang kemudian mengikutinya dari belakang.
Di koridor rumah sakit Mentari dan Arfan bertemu dengan Arman dan Siska yang berniat menjenguk Zaki.
"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Siska.
"Iya Sis, tapi karena ada kamu balik arah juga bisa, lagian kita juga belum melihat kak Zaki secara langsung." Mentari merasa memiliki teman karena sedang kesal dengan suaminya.
"Lha terus apa yang kalian lakukan seharian ini sampai bolos kuliah?"
"Ceritanya panjang Sis, nanti deh aku ceritakan ya?"
Mereka masuk ke dalam kamar rawat Zaki secara bergantian. Sedangkan Marryana memilih ke luar dari ruangan karena ada yang menjenguk Zaki.
Setelah Mentari dan Siska ke luar, kini giliran Arfan dan Arman yang masuk ke dalam, tentu ini akan menjadi pertemuan yang dramatis bagi mereka, serasa kawan lama dalam satu tim berkumpul kembali.
"Fan terimakasih karena kamu mau menjadi pendonor untukku selain Stev, aku tidak akan pernah melupakannya Fan," ucap Zaki tulus kepada Arfan.
Arfan hanya tersenyum menjawab ucapan terimakasih dari Zaki.
Arman sendiri merasa terkejut karena Arfan ternyata mau menjadi pendonor bagi Zaki, orang yang selama sepuluh tahun terakhir ini sangat dia benci bahkan untuk berbicara dengan Zaki pun dia enggan, tapi kini justru Arfan lah yang menolong nyawa Zaki secara tidak langsung.
"Hei Za makanya jangan sok pahlawan akhirnya jadi gini kan?" Arman berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku.
Zaki hanya tersenyum karena belum bisa membalas Arman, tubuhnya masih lemah, dia tahu jika Arman pasti akan mengatakan hal itu
"Fan kamu tahu di mana Stev?" Zaki mengarahkan pertanyaan kepada Arfan.
"Stev sudah pulang tadi," jawab Arfan.
Zaki tampak kecewa karena dia ingin melihat Steven sekaligus berterimakasih kepadanya secara langsung.
"Kamu tidak usah khawatir, besok dia akan datang lagi. Hari ini dia harus beristirahat untuk memulihkan kondisinya." Sambung Arfan yang tahu jika Zaki sangat kecewa tapi Zaki juga tidak bisa memaksakan kehendaknya karena Steven memang membutuhkan istirahat yang cukup saat ini.
Zaki menarik nafasnya, "Baiklah aku akan menunggunya datang besok!" Zaki sedikit tersenyum dan berharap Steven benar-benar akan datang esok hari.
"Hei kenapa kalian sepertinya selalu tegang ketika bertemu, rileks lah. Kita memang tidak berhasil menjadi tim yang solid di masa lalu, tapi kita masih tetap bisa menjadi keluarga saat ini." Arman kembali membuat onar dengan ucapan-ucapannya.
"Diam kau Man!" ucap Arfan dan Zaki bersamaan.
"Dasar tukang pembuat onar!" imbuh Arfan.
"Fan aku minta maaf kepadamu atas kejadian di masa lalu yang berujung tidak baik untuk tim kita."
"Aku akan memaafkanmu jika Sania juga memaafkanmu!"
"Tapi Fan ak--"
"Cepat sembuh dan minta maaflah kepada mereka!" Arfan memotong ucapan Zaki dengan ucapannya kemudian berjalan ke luar dari ruangan itu.
"Ah kebiasaan sekali manusia yang satu itu, kamu cepat sembuh ya Za. Aku ke luar dulu, sampai jumpa Za." Arman mengejar Arfan ke luar, Zaki sendiri merasa salut dengan Arman yang sangat berjiwa besar setelah kejadian pengunduran diri Arman dari club ternyata Arman tetap bersikap baik kepadanya.
"Terimakasih Man, teman sejati tidak akan pernah saling menyakiti." Ucap Zaki pada dirinya sendiri.
Ketika mereka ke luar ternyata bersamaan dengan Mona yang baru saja datang setelah dikabari oleh Marryana bahwa telah terjadi sesuatu pada dirinya.
"Loh Fan kamu di sini juga? Kebetulan sekali kalau begitu." Mona tetap dengan sikap manjanya.
Arfan tidak menggubris ucapan Mona, "Eh ada gadis perebut calon suami orang juga ternyata di sini!" Mona memasang wajah sinis kepada Mentari.
"Tante juga ke sini?" Mentari berkata dengan sangat tenang dan seolah dia seorang gadis yang polos.
"Eh kamu panggil aku apa tadi? Tante? Kapan aku menikah sama om kamu hah?"
"Kemarin mungkin tan!" jawab Mentari sekenanya.
"Kamu ini ya dasar gadis tidak punya sopan santun, awas kamu ya!"
"Uhhh... Takut!" Mentari semakin meledek Mona meskipun dalam hati dia berkata jika ternyata dunia ini terlalu sempit bahkan Mona seperti sangat mengenal Marryana karena mereka sangat akrab.
Arfan senyum dikulum melihat kelakuan istri kecilnya yang tidak takut sama sekali dengan Mona.
"Fan lihat istri kamu kurang ajar sekali kepadaku!" Mona mengadu kepada Arfan seolah dia tidak menyaksikan kejadian itu.
"Seharusnya kamu jangan nikahi dia, tapi nikahi Marryana yang sudah jelas-jelas baik untuk kamu!"
"Ayo sayang kita pulang!" Arfan tidak mau meladeni Mona dan justru mengajak Mentari pulang karena Mona akan semakin menjadi toxic buat mereka kalau diberikan kesempatan.
Mona kesal dengan sikap Arfan, "Mon nggak salah tuh, sikap Arfan sama kamu kok cuek sekali, seperti kamu bukan tantenya!"
"Sudahlah Marry biarkan saja, di depan istrinya jadi dia begitu tapi kalau di belakang dia bilang cintanya tetap sama kamu dari dulu, kamu sabar saja ya!" Mona mengucapkan kebohongan kepada Marryana yang tidak tahu jika Mona sebenarnya juga mengincar Arfan sejak dulu.
Marryana yang tidak paham bagaimana sepak terjang Mona percaya saja dengan ucapan wanita itu.
Kini Arfan dan Mentari sudah berada di jalan besar, mereka berpisah dengan Arman dan Siska yang juga memakai mobil sendiri.
Arman memang belum bisa membeli mobil untuk dirinya sendiri, tapi beruntung perusahaan memberinya sebuah mobil dinas yang bisa dia gunakan atas kinerjanya yang sangat bagus sehingga perusahaan memberikan kepercayaan penuh kepadanya.
"Tuh kan kak, aku jadi lupa tidak menanyakan materi kuliah hari ini kepada Siska." Mentari menggebungkan pipinya karena menyesal telah melupakan sesuatu yang sangat penting baginya.
Arfan mengacak rambut Mentari dengan tangan kirinya, "Tanyakan nanti saja kalau kita sudah sampai di rumah sayang!" jawab Arfan menenangkan Mentari.
"Eh kak rasanya gimana tuh bertemu dengan dua orang wanita yang menyukaimu secara bersamaan?"
"Ini serius nanya kak, apakah jantung kakak jadi berdetak lebih kencang dari biasanya?"
Arfan tiba-tiba mengerem mendadak mobilnya, "Jangan memancingku Mentari!"