My Old Star

My Old Star
#19 Pria Tua



Mentari berbalik ke arah Ibunya, menunggu apa yang akan Ibunya ucapkan kepada dirinya.


"Duduk!" perintah Bu Kartika.


Mentari duduk dengan menghadap ke arah Ibunya, "Apa kau masih terus bermain-main dengan pria tua itu?"


"Dia bukan pria tua Bu, hanya matang saja!" Mentari membela Arfan yang dianggap sebagai pria tua oleh Ibunya.


"Terserah apa saja yang kau katakan, yang jelas bagi Ibu pria itu tidak pantas untukmu, dia terlalu dewasa. Jarak usia kalian terlalu jauh, kedepannya akan lebih sulit tidak seperti yang kau bayangkan saat ini, kalian tidak akan pernah saling memahami satu sama lain!" cecar Bu Kartika panjang lebar.


"Bu aku baru saja memulainya, jadi belum tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tolonglah Bu jangan halangi kami,"


"Mulai sekarang kau harus tinggalkan dia, tak pantas bagi gadis belia sepertimu mencintai pria tua, sebaiknya kau bersama Ilyas, Ibu rasa kalian cocok."


"Bu kebahagianku bukankah aku sendiri yang menentukannya?"


"Tapi kewajiban Ibu untuk mengarahkanmu untuk mendapatkan yang terbaik,"


Ayah Mentari menghampiri keduanya, "Bu sudahlah tak baik memaksakan kehendak kepada anak apalagi sampai memarahinya berlebihan seperti itu!"


"Kau ini selalu saja memanjakannya," Bu Kartika bersedekap dan memalingkan wajahnya dari suaminya, kali ini dia benar-benar merasa kesal atas perkataan suaminya yang tidak mendukung keputusannya sama sekali.


"Mentari kau masuklah ke kamar, beristirahatlah bukankah besok harus ke kampus?"


"Baik Ayah,"


Mentari memasuki kamarnya, hatinya benar-benar hancur ternyata disaat dia merasakan bahagia bersama Arfan justru Ibunya tidak merestui.


Mentari mengecek ponselnya, ada panggilan tak terjawab dari Arfan. Mentari memutuskan untuk menelfon balik Arfan namun untuk panggilan kesekian kalinya tidak ada jawaban dari Arfan. Mentari tampak murung, dia tidak lagi bersemangat untuk melakukan apapun karena disaat seperti ini dia ingin sekali mendengar suara laki-laki yang telah mencuri hatinya sedari awal.


Mentari pada akhirnya terlelap, sedangkan Arfan dia sudah berada di club, dia baru saja selesai membaca berkas-berkas yang Tomi berikan kepadanya sekaligus mengecek anak-anak yang sudah sampai di club.


Arfan tampak terkejut membaca beberapa bagian yang Tomi tandai, "Benarkah club di Spanyol sedang tidak baik-baik saja Tom?"


"Iya Fan, menurut laporan managemen disana seperti itu. Terjadi goncangan yang mengarah pada club yang akan segera menuju kebangkrutan jika tidak dilakukan penanganan serius secepatnya!"


Arfan tampak berpikir dengan mengelus-elus janggutnya dan menghembuskan nafasnya secara kasar berkali-kali, "Kau sendiri yang harus turun tangan dengan datang kesana langsung Fan, jika tidak bisa semakin gawat kondisinya!"


"Aku juga berpikir hal yang sama Tom,"


"Kau aturlah keberangkatanku kesana, biar aku atur jadwalku disini!"


Tomi pergi meninggalkan Arfan di ruang rapat mereka, Arfan tampak sedikit lelah. Dia memijit-mijit pelipisnya sambil memejamkan matanya, sedari tiba di kota Z dia belum beristirahat sama sekali ditambah ada masalah yang dia sendiri harus turun tangan menyelesaikannya segera.


Keesokan paginya Arfan telah bersiap untuk ke kampus seperti biasa, dia akan segera mengatur pekerjaannya disini sebelum dia tinggalkan beberapa hari ke depan, dia teringat akan Mentari yang semalam pulang ke rumah orangtuanya. Arfan berinisiatif memberikan kejutan kepada gadis itu dengan menjemputnya untuk berangkat ke kampus bersama sekaligus berpamitan kepadanya jika mereka harus berpisah untuk beberapa hari.


Arfan tiba di depan rumah Mentari, setelah memarkirkan mobilnya Arfan mengetuk pintu rumah dan munculah seorang perempuan paruh baya yang tak di kenal oleh Arfan.


"Selamat pagi, mohon maaf apakah bisa bertemu dengan Mentari?" ucap sopan Arfan kepada perempuan itu.


"Iya...Anda siapa anak muda?"


"Saya temannya," jawab Arfan dan perempuan itu memandangi Arfan dari ujung kaki sampai ke ujung kepala seolah tak percaya jika pria dewasa di depannya itu adalah teman dari putri pemilik rumah yang sedang dia tumpangi sekarang.


"Baik tunggu sebentar," ucap Ibu Ilyas pada akhirnya.


Ibu dari Ilyas masuk ke dalam dan menyampaikan bahwa ada tamu untuk Mentari. Bu Kartika bergegas keluar untuk memastikan siapa yang datang pagi-pagi begini mencari putrinya.


"Nak Arfan rupanya, ayo masuk Nak." Bu Kartika mempersilahkan Arfan masuk ke ruang tamu.


"Duduklah," perintah Bu Kartika.


Arfan kemudian duduk yang diikuti oleh Bu Kartika, "Tante mau bicara sebentar kepadamu!"


"Tante mohon jangan kamu dekati putri tante lagi, kau tahu kan perbedaan usia kalian terlalu jauh, akan sangat sulit jika kalian harus saling memahami satu sama lain!"


Bu Kartika menjeda ucapannya, "Mentari tidak cocok denganmu, dia lebih cocok bersama laki-laki yang lebih muda darimu, Tante harap kamu paham maksud Tante."


Arfan paham akan kekhawatiran seorang Ibu terhadap putrinya, tidak akan ada seorang Ibu pun di dunia ini yang akan membiarkan putrinya tidak bahagia, kekhawatiran Ibu Mentari mungkin bukan tanpa alasan sebab Arfan memang cocok disebut paman oleh Mentari, mungkin saja kedepan akan banyak perbedaan pendapat yang akan muncul diantara mereka. Mentari berhak mendapatkan yang lebih baik dari pada dirinya.


"Baik Tante, saya paham. Kalau begitu saya permisi!" Arfan pamit undur diri kepada Bu Kartika. Padahal Mentari yang mengetahui jika Arfan datang ke rumahnya sudah sangat antusias dan mempercepat persiapannya untuk pergi ke kampus. Betapa kecewanya Mentari ketika melihat Arfan sudah tidak ada di ruang tamu rumahnya.


"Bu apa yang terjadi, dimana Kak Arfan?"


"Dia sudah pergi!" jawab singkat Bu Kartika.


"Pergi?" Bu Kartika hanya mengangguk, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kepada putrinya yang terlihat sangat kecewa, tapi ini lebih baik dari pada Mentari harus kecewa di kemudian hari.


"Kenapa pergi tidak menungguku, kau tega sekali Kak!" gumam Mentari lirih sambil menendang-nendang udara.


Mentari kembali merasa tidak bersemangat dan kembali ke kamar untuk mengambil tasnya kemudian dengan malas pergi ke kampus.


Di depan, Arfan yang sudah keluar dari halaman rumah Mentari melihat Ilyas keluar dari taksi dan masuk ke halaman rumah yang baru saja di lewatinya tadi. Mentari yang hendak berangkat ke kampus bertemu dengan Ilyas di depan pintu rumah. Mereka tampak berbincang dengan senyum yang mengembang padahal sejatinya hanya sekedar saling menyapa untuk berbasa-basi, Arfan melihat pemandangan itu. Saat ini hatinya seolah sudah tak berbentuk, retak berkeping-keping tertancap sembilu.


Arfan pada akhirnya berpikir yang seolah membenarkan ucapan Bu Kartika kepadanya bahwa dia tidaklah pantas untuk Mentari. Arfan merasa khawatir jika nantinya Mentari tidak akan bahagia jika terus bersama dengan dirinya.


Arfan melajukan mobilnya ke kampus, dia memasang wajah seriusnya kembali. Selesai mengajar, Arfan mengecek ponselnya yang dia silent sedari pagi. Ada banyak sekali panggilan dari Mentari kecilnya, Arfan sama sekali tidak berniat untuk menghubungi balik Mentari. Arfan justru mengganti sim card ponselnya dengan sim card cadangan yang biasa dia gunakan.


Arfan malam ini memutuskan untuk berangkat ke Spanyol setelah semua persiapan selesai. Mentari masih berusaha menghubungi Arfan namun tetap tidak bisa tersambung, malam ini Mentari kembali pulang ke rumah karena permintaan dari Ibunya, Arfan sendiri kini tengah terbang ke Spanyol untuk menyelesaikan urusan clubnya yang sedang bermasalah.


Mentari masuk ke dalam rumah dengan wajah ditekuk, ternyata ada Bintang bersama Ibunya datang berkunjung. Mentari menarik tangan Bintang agar mengikutinya ke kamar, sedangkan di ruang tengah tampak keluarga Mentari sedang berbincang dengan Ibu dari Ilyas, suasana semakin riuh karena kehadiran Bu Rima yang biasa menambahkan bumbu-bumbu penyedap disetiap ucapannya.


"Nyonya apakah kau tahu hubungan anakmu dengan Mentari?" tanya Bu Rima kepada Ibunya Ilyas.


"Saya hanya tahu jika mereka berteman,"


"Oh benarkah?"


"Nyonya harus terus tinggal disini agar pria yang seharusnya bertunangan dengan putriku itu tidak akan datang lagi kesini mengganggu Mentari,"


"Rima tolong jaga ucapanmu, gagal bertunangan dengan Bulan bukan berarti Mentari yang harus terus kau salahkan!" Bu Kartika tampak kesal dengan pernyataan saudaranya yang sepertinya masih terus menganggap kegagalan putrinya karena ulah Mentari.


"Apa maksudnya anak muda yang tadi pagi datang kemari?"


"Apakah dia datang lagi?"


"Sudah-sudah tidak usah dibahas lagi, sebaiknya kita bicarakan saja jadwal pemeriksaan Nyonya ya, jadi tidak perlu terbebani dengan ucapan kakakku barusan Nyonya. Masalah anak-anak biarlah mereka sendiri yang menyelesaikannya," ucap Ayah Mentari mencoba melerai agar pembicaraan tidak semakin panjang.


Di kamar Mentari sedang meminta pendapat Bintang terkait tiba-tiba Arfan tidak ada kabar sama sekali.


"Apa kau yakin jika kalian tidak sedang bertengkar?"


"Kami baik-baik saja Bin, bahkan malam sebelumnya kami makan malam bersama, eh tapi tunggu dulu...," Mentari menghentikan ucapannya.


"Bin tadi pagi Kak Arfan datang kesini, tapi tanpa menungguku dia pergi begitu saja."


"Ibumu menemuinya?"


"Aku rasa begitu, Ibu hanya bilang dia pergi!"


"Hanya itu saja?"


Mentari mengangguk, "Pasti telah terjadi kesalahpahaman disini!"


"Ibu...," ucap Mentari dan Bintang bersamaan.