
Arfan terus mendesak Mentari untuk menceritakan apa yang dia ketahui kepadanya.
"Baiklah akan aku ceritakan tapi tidak dengan menonton video itu!"
"Memangnya kenapa sayang?"
"Aku saja jijik melihatnya kak!"
Arfan sebenarnya sudah paham dengan arah pembicaraan mereka, namun kali ini Arfan ingin tahu seberapa jauh Mentari tahu mengenai Mona dan Arfan juga merasa salut dengan istrinya yang dengan berani melawan Mona kemarin.
Arfan sudah mengetahui sejak lama semua sepak terjang Mona di luar karena pergaulannya yang juga kurang etis bagi perempuan ditambah Mona suka sekali dengan dunia malam, hanya saja dia tidak memiliki bukti apapun untuk dapat menjerat Mona agar jangan terus-terusan mengganggunya.
Bahkan sebenarnya Arfan ingin agar kakek Mahmud tahu kelakuan Mona tetapi jika hanya sekedar ucapan dia khawatir kakek akan menganggapnya sebagai seorang pembohong.
"Apa aku boleh minta salinannya?"
Permintaan Arfan kali ini langsung membuat Mentari merasa hatinya sangat panas namun dia mencoba menahannya.
"Maksud kakak nanti mau ditonton begitu?"
Mentari mencubit perut Arfan karena kesal hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan.
"Makanya dengarkan dulu sayang," Arfan masih memegangi bekas cubitan Mentari yang terasa panas di kulit.
"Dasar laki-laki semuanya sama saja!" Mentari cemberut.
"Begini sayang, aku tidak memintanya sekarang atau begini saja tolong simpan itu dan bantu aku memberikan video itu kepada kakek Mahmud jika nanti saatnya tiba, bagaimana? Jadi kamu tidak perlu curiga aku akan menontonnya!"
Wajah Mentari kembali menjadi cerah, "Baiklah kak, lebih baik seperti itu!"
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan club, begitu turun dari mobil Mentari langsung disambut oleh Steven yang berlari ke arahnya.
"Kak Mentari sini deh Stev punya kabar gembira!"
"Wah benarkah, kabar apa itu Stev?"
"Stev sekarang punya dua papa!"
Mentari yang tidak paham dengan maksud ucapan Steven mengerutkan dahinya karena bingung.
"Kak Mentari pasti kaget ya, coba tebak kak!"
"Eeemmm... Yang pertama jelas papa Tomi, tapi yang kedua...," Mentari berpikir keras, meskipun awalnya dia berpikir mungkin saja Zaki tapi Mentari ragu untuk mengatakannya.
"Papa Zaki," ucap Arfan membantu Mentari menjawab.
"Wah uncle hebat bisa tahu papa Stev yang satunya lagi!"
"Kak apakah itu benar?" Mentari memandang ke arah Arfan.
Arfan mengedikkan bahunya, "Kak Mentari tidak percaya ya, coba tanya sama mama Stev pasti mama akan mengatakan hal yang sama seperti aku!"
"Kakak percaya kok Stev," Mentari memilih percaya dengan ucapan Steven karena anak kecil biasanya tidak akan pernah berbohong.
Hanya saja dia masih bingung dengan semua itu apalagi selama ini yang dia tahu justru baik Tomi maupun Sania sangat membenci Zaki.
"Mungkin ada alasan yang aku tidak tahu apa-apa!" Mentari membatin.
"Sayang kenapa melamun, ayo kita masuk!"
Arfan membuyarkan lamunan Mentari yang kemudian menyusul masuk ke dalam club mengikuti Arfan dan langkah kecil Steven.
Hari ini Mentari disuruh untuk menghitung seberapa efektif strategi yang mereka terapkan di lapangan karena lusa mereka sudah harus bertanding di babak final.
Setelah makan malam bersama anak-anak di club Arfan dan Mentari pamit untuk pulang karena sudah malam. Arfan berpesan kepada anak-anak agar berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan pertandingan sebab ada bonus tambahan dari Arfan jika mereka berhasil mengharumkan nama club dengan prestasi yang baik.
Marryana tetap setia menunggui Zaki di rumah sakit hingga menginap di sana. Sekian hari berlalu yang dia lewati bersama Zaki menimbulkan degub tersendiri bagi wanita itu, sepertinya dia mulai menyukai Zaki yang sebenarnya tampan dan tidak kalah dengan Arfan, tubuhnya atletis karena merupakan seorang mantan atlet.
"Za boleh aku bertanya?" Marryana memberanikan diri untuk bertanya kepada Zaki.
"Silahkan Marry, apa yang mau kamu tanyakan?"
"Apakah kamu sudah menikah?"
"Kalau misalnya sudah kenapa istrimu atau keluarga kamu yang lain tidak ada yang menjagamu di sini Za?"
"Keluargaku jauh Marry, untuk istri aku tidak punya karena aku belum pernah menikah hanya saja aku punya seorang anak laki-laki."
"Apakah kamu tahu ibu dan anak itu sekarang ada di mana?"
"Aku tahu bahkan aku sangat mengenal mereka!"
Marryana merasa ada sembilu yang menancap di hatinya ketika mendengar jawaban dari Zaki, dia merasa sudah tidak memiliki harapan dengan Zaki karena dengan adanya anak mungkin saja Zaki akan menikahi wanita itu secara sah.
"Wanita itu sudah menikah dengan orang lain Marry!" Zaki menyambung ucapannya karena melihat wajah Marryana yang berubah mendung seolah akan turun hujan.
"Za aku sungguh tidak paham dengan maksud kamu."
"Aku hanyalah seorang pengecut Marry, aku meninggalkan wanita yang mengandung darah dagingku karena aku tidak mau karierku hancur dengan menikahinya, tetapi semua itu ternyata membuat timku bubar."
"Aku menyesalinya karena ternyata sekarang aku mencintai mereka tetapi semua itu sudah terlambat karena mereka sudah bahagia hidup dengan laki-laki yang jauh lebih baik dariku."
Zaki menitikkan air matanya padahal bagi seorang laki-laki pantang menjatuhkan air mata meskipun masalah yang mereka hadapi sangat berat sekalipun. Tetapi penyeselan Zaki yang membuat dirinya pantas dikatakan sebagai laki-laki lemah karena tidak bisa menahan air matanya.
Marryana reflek memeluk Zaki, "Kamu jangan sedih ya Za, ada aku di sini. Kamu bisa bercerita apapun kepadaku mulai sekarang."
"Apakah aku bisa mempercayaimu?"
"Tentu saja Za, mari kita jadi sahabat!"
Zaki tersenyum melihat wanita cantik nan anggun di depannya bisa berbuat konyol dengan menautkan jari kelingking mereka sebagai tanda persahabatan.
"Terimakasih Marryana,"
"Tidak perlu sungkan Za."
Keesokan harinya dokter yang menangani perawatan Zaki paska operasi menyatakan jika Zaki sudah membaik dan bisa dibawa pulang hari ini dengan tetap kontrol satu minggu sekali.
Marryana mengantarkan Zaki hingga ke depan club, "Kamu tinggal di sini Za?" ucap Marryana yang mengamati sebuah gedung yang tidak mirip sama sekali dengan rumah tinggal.
"Iya aku tinggal di sini sekaligus bekerja di sini, jadi jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku atau datang saja kemari!"
"Baiklah Za, aku pergi dulu ya mau bobo cantik sudah kangen sama kasur empuk di apartemen!" Marryana berseloroh.
Mereka akhirnya berpisah, Zaki masuk ke dalam club setelah memastikan mobil Marryana tidak lagi terlihat setelah melewati tikungan.
Arfan dan Mentari seperti biasa melakukan aktivitas mereka di kampus, hari ini adalah jadwal Mentari bimbingan dengan pak Reza sehingga dia tidak langsung pulang begitu selesai mengikuti mata kuliah.
Mentari ditemani oleh Siska menemui pak Reza di ruang dosen setelah membuat janji dengan pak Reza terlebih dahulu.
Pada saat bimbingan tiba-tiba Mentari merasa pusing dan sangat lelah. Dia mencoba menahan agar tubuhnya tidak ambruk karena bimbingan belum selesai.
"Mentari apakah kamu tidak apa-apa?"
"Wajah kamu pucat sekali Mentari!" pak Reza langsung menelfon Arfan agar segera menyusul Mentari di ruangannya.
Siska membantu Mentari untuk berpindah duduk di sofa ruangan pak Reza sambil menunggu Arfan datang.
"Sayang kamu kenapa?" Arfan merasa khawatir dengan kondisi Mentari yang semakin pucat dan lemas.
Mereka memutuskan untuk segera membawa Mentari ke rumah sakit, Siska membantu membawakan barang-barang Mentari untuk di bawa ke luar dari ruangan pak Reza.
Arfan menggendong Mentari hingga ke mobil dan langsung tancap gas, dia ingin agar istrinya segera diperiksa oleh dokter dan mengetahui apa penyebab yang membuat istrinya tiba-tiba sakit padahal tadi pagi masih baik-baik saja.
Dokter menyuruh Arfan untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan sedangkan Siska menunggu di luar.
"Apakah anda suami dari pasien?"
"Iya benar dok saya suaminya!" Arfan dengan bangga menyebut jika dirinya adalah suami dari Mentari.
"Tampaknya kalian berbeda jauh secara umur, karena saya pikir gadis itu belum menikah!"
"Kami menikah secara sah baik agama maupun negara dok!"
"Baiklah kau begitu mari ikut saya!" Dokter wanita bernama Sandra menyuruh Arfan mengikuti dirinya ke dekat pasien.
"Saya menduga jika istri anda ini sedang hamil muda, jadi untuk memeriksanya lebih lanjut saya ingin melakukan tindakan USG kepada pasien untuk memastikan benar-benar hamil atau tidaknya."
Dokter Sandra tersenyum saat melihat gambar di layar, "Selamat pak Arfan karena sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya."
"Maksud dokter, istri saya hamil dok?"
"Yap betul sekali!"