My Old Star

My Old Star
#41 Anak Perempuan Kakek



Steven berjalan di lorong rumah sakit, dia ingin bermain di luar karena merasa bosan terus berada di dalam ruangan, itulah sebabnya dia memilih pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Steven bermain di taman sebentar dan setelah merasa puas dia ingin kembali kepada ibunya. Sementara itu, semua tengah panik karena Steven yang menghilang.


Arman dan Siska juga ikut mencari keberadaan Steven, hanya Sania saja yang tinggal karena dia tidak tega meninggalkan Tomi sendirian.


"Fan tolong temukan dia, aku tidak bisa hidup jika terjadi sesuatu padanya," Sania terisak, Tomi merasa dirinya tidak berguna karena disaat seperti ini dia tidak bisa membantu apapun.


"Kau tenanglah Sania, kami pasti akan menemukan Steven!" Arfan berjanji kepada Sania.


Arfan dan semuanya berpencar, ternyata mereka berselisih jalan dengan Steven yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Steven dengan rasa ingin tahunya masuk ke dalam ruang rawat yang bersebelahan dengan papanya.


Perlahan Steven membuka pintu kamar rawat. Saat itu Zaki sedang tertidur sehingga tidak mengetahui ada orang yang masuk ke dalam.


Steven memperhatikan wajah orang yang sedang tergolek lemah di ranjang dan tidak ada siapapun di kamar itu yang menamaninya.


"Om baik?!!!" Ucap Steven nyaring yang membuat Zaki menggercap-gercapkan matanya karena terusik dengan suara yang teramat sangat ingin didengarnya.


Steven menutup mulutnya sendiri karena merasa bersalah telah mengganggu Zaki.


"Maafkan aku om," ucap Steven menyesal.


"Stev kau kah itu?" Zaki tersenyum dan mengacak rambut Steven pelan dengan tangan yang terbebas dari selang infus.


Steven hanya mengangguk, "Apa yang terjadi pada om, kenapa om bisa dirawat di sini?"


"Om mengalami kecelakaan sayang, jadinya om harus mendapatkan perawatan." Jawab Zaki berbohong, Zaki tentu tidak mau jika Steven tahu jika dirinya baru saja berkelahi sebab itu bukan contoh yang baik untuk Steven.


"Stev sedang apa di sini?" Tanya Zaki karena merasa penasaran kenapa Steven seolah selalu ada di sekelilingnya.


"Papaku dirawat di sini om, jadi aku menemani mama."


"Papa kamu sakit Stev?"


"Iya om, mama sangat sedih karena papa sakit. Mama bilang papa nakal, jadinya sakit. Stev tidak mau nakal jadinya tidak sakit."


Zaki tertawa, "Anak ini sungguh lucu dan polos," pikirnya.


Zaki mengajak Steven bermain permainan sederhana seperti tebak nama buah-buahan dan hewan menggunakan huruf depannya yang dihitung dengan jari atau sering dikenal dengan nama permainan ABC.


Sekian lama mereka bermain dengan penuh keseruan, sekali-sekali mereka tertawa jika tidak bisa menemukan kata yang tepat.


"Apa mamamu tahu kau kemari Stev?" Tanya Zaki ditengah-tengah permainan mereka.


Steven menggeleng, "Kalau begitu mereka pasti akan khawatir, bagaimana kalau kamu pamit sama mama dulu nanti ke sini lagi."


Zaki memberikan saran karena dia tidak mau mama Steven mencari-cari anaknya.


Steven nampak cemberut, tetapi dia mematuhi perkataan Zaki, "Baik om, sampai jumpa lagi ya om, cepat sembuh om baik."


Zaki mencium kening Steven dengan sayang sebelum anak itu meninggalkan ruangan tempatnya dirawat. Sepeninggal Steven, laki-laki itu menitikkan air mata. Disaat bersamaan Arman masuk ke dalam ruangan dan segera menghampiri Zaki, "Hei Za kau kenapa?" Tanya Arman sedikit panik.


"Maafkan aku yang meninggalkan kamu sendirian karena tadi temanku meminta tolong mencari anaknya yang tiba-tiba menghilang."


"Aku tidak apa-apa Man, aku hanya teringat anakku."


"Sekarang istirahat saja ya Za, sudah jangan terlalu dipikirkan."


"Man tadi kau bilang mencari seorang anak?"


"Iya Za, anak itu sudah ketemu barusan. Dia ke luar untuk bermain karena merasa bosan menunggui papanya yang sedang sakit."


"Apa nama anak itu Steven?" Tanya Zaki.


"Dari mana kamu tahu Za?"


"Anak itu baru saja dari sini, dia tadi bermain bersamaku!"


"Wah benarkah? Pantas saja kamu teringat anakmu Za."


Arman tertawa, "Kamu tahu Za, anak itu memanglah darah dagingmu. Ternyata kalian sudah bertemu meskipun kamu sendiri tidak mengetahuinya," Arman membatin.


****


"Steven kau membuat mama khawatir," Sania memeluk Steven.


"Maafkan Stev ma, Stev nakal ya ma?"


Sania menggeleng, "Tidak sayang, tapi lain kali kalau mau ke luar harus pamit dulu sama mama ya,"


"Baik ma," jawab Steven penuh penyesalan karena telah membuat mamanya menangis.


Tomi menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu, betapa Sania sangat menyayangi Steven. Tomi tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti Zaki mengetahui jika Steven adalah anaknya dan membawa Steven dari kehidupan Sania akan jadi apa hidup Sania saat itu.


Mentari mendekati Steven, "Stev sekarang pulang dulu sama uncle ya, mama biar menjaga papa di sini."


Mentari memandang ke arah Arfan, dia tidak bisa memutuskan karena untuk sementara setiap hari dia harus pulang ke rumah orangtuanya.


"Stev besok saja mainnya ya sama kak Mentari, ini sudah sore jadi kak Mentari harus pulang ke rumahnya dulu." Arfan mencoba memberikan pengertian pada Steven.


"Tapi kakak janji ya sama Stev besok kita main?"


"Iya Stev sayang, besok kan hari libur kita bisa main sepuasnya."


Mereka pada akhirnya meninggalkan rumah sakit, Arfan mengajak semuanya makan malam terlebih dahulu sebelum pulang.


"Hai Fan kamu di sini juga?" Mona yang ternyata ada di tempat yang sama dengan mereka tiba-tiba menghampiri.


Arfan tampak dingin menanggapi Mona, "Oh kalian selalu saja membuntuti Arfan rupanya ya?" Mona berkata dengan sinis kepada Mentari dan Siska.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan yang lain hah, selain membuntuti calon suami orang?" Sambung Mona.


"Geser sana, aku mau duduk di sini!" Mona mendorong Mentari.


"Kamu kasar sekali Mona!" Arfan membantu Mentari berdiri.


"Tante jangan ganggu kak Mentari!" Steven memeluk Mentari.


"Kamu adiknya gadis tengik ini rupanya, kamu juga minggir sana!"


"Mona kamu benar-benar sudah keterlaluan!"


"Aku tidak menyangka wanita yang menganggap dirinya terhormat sepertimu ternyata tidak memiliki etika seperti wanita terhormat!" Arfan jengah dengan kelakuan Mona yang sudah tidak bisa dimaklumi.


"Semuanya ayo kita pergi dari sini, kita cari restoran lain saja!"


Arfan mengajak semuanya pergi dari tempat itu, rasa lapar mereka tiba-tiba menghilang karena kelakuan Mona yang membuat mereka muak.


Mona merasa kesal karena Arfan tidak membelanya sama sekali, "Dasar kamu Fan, tidak bisakah kamu melihatku sedikit saja. Apa kurangnya aku di matamu sebenarnya sih!" Mona mengumpat.


"Maafkan uncle sayang, kamu tidak jadi makan malam di tempat itu!"


"Tidak apa-apa uncle kita cari tempat lain saja," Steven memang anak yang cerdas dan mudah memahami situasi.


"Kamu tahu Tari, tadi itu rasanya aku geram sama si Mon Mon itu. Ingin rasanya aku jambak-jambak!"


Mentari tertawa, "Kamu ini Sis, kebiasaan bar-bar."


Arfan melihat Mentari baik-baik saja sudah membuatnya bahagia, meskipun dia tidak tahu bagaimana hati Mentari sebenarnya. Pada akhirnya mereka menemukan tempat yang pas untuk makan malam, tapi tanpa mereka sadari ada seseorang yang tampak sedang mengamati Mentari dari kejauhan.


Selesai makan malam, Arfan mengantarkan mereka satu persatu. Setelah mengantarkan Siska ke asrama. Arfan mengantarkan Mentari sampai ke depan rumahnya.


"Mimpi indah Mentari kecil!" ucap Arfan sebelum meninggalkan rumah orangtua Mentari.


"Iya kak, jaga Steven baik-baik ya kak!"


Arfan memandang wajah polos Steven yang tertidur pulas di kabin belakang, "Aku akan menjaganya!"


"Kau masuklah!" perintah Arfan.


Mentari masuk ke dalam rumah, seseorang yang tadi bertemu mereka di restoran ternyata membuntuti mereka hingga ke depan rumah Mentari.


"Kena kau gadis kecil!" ucap orang itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Arfan membawa Steven ke rumah nenek Wijaya, dia menggendong Steven yang tertidur pulas ke kamarnya.


Arfan kembali ke bawah untuk mengambil minum, "Fan kau pulang nak?" Kakek Mahmud menyapa Arfan.


"Kakek belum tidur?"


"Kakek belum bisa tidur, rasanya kakek kepikiran anak perempuan kakek. Seandainya kakek bisa bertemu dengannya." Kakek Mahmud menopang dagu dengan ke dua tangannya, ada nada putus asa dalam setiap kata yang terucap olehnya.


"Kek bukankah mereka sudah membuangmu?"


"Kakek hanya khawatir jika anak kakek menikah, siapa yang akan jadi wali nikahnya."


"Jangan pikirkan itu kek, kalau mereka butuh kakek mereka pasti akan mencarimu." Arfan mencoba membesarkan hati kakek Mahmud.


"Kau benar nak, mereka seharusnya mencariku jika merasa membutuhkanku."


"Ngomong-ngomong anak kakek itu namanya siapa?" Arfan meneguk kembali air putih yang tadi dia ambil.


"Mona... namanya Mona," Kakek Mahmud mengulangi ucapannya.


"Usianya tidak berbeda jauh denganmu Fan, karena saat Mona berusia dua tahun, ayah dan ibumu menikah, meskipun saat itu aku tidak bisa menyaksikan kelahiranmu." Kakek Mahmud menuturkan.


Arfan menyemburkan air yang sedang dia minum karena kaget dengan nama yang disebutkan oleh kakeknya, padahal baru saja dia juga bertemu dengan wanita bernama Mona yang membuatnya jengkel beribu-ribu kali lipat.