
Mentari dan Arfan sampai di rumah mereka, Mentari langsung menata belanjaan ke tempatnya masing-masing. Sedangkan Arfan langsung mengecek pekerjaannya di ruang kerja.
Ada email dari Tomi yang harus segera dia baca karena menyangkut urusan club. Dia tidak bisa mengabaikan begitu saja jika menyangkut club yang dia dirikan dengan kerja keras hingga bisa berkembang seperti sekarang.
Selesai menata belanjaan, Mentari kemudian memasak untuk makan malam. Meskipun sudah sangat terlambat untuk makan malam, Mentari tetap memasak untuk suaminya.
Arfan sebenarnya tadi mengajak Mentari untuk makan malam sewaktu pulang dari supermarket, tetapi Mentari menolak karena sudah ingin segera sampai di rumah.
Mentari mengetuk pintu ruang kerja Arfan kemudian masuk ke dalam karena tidak ada jawaban dari Arfan.
"Kak kamu tidur ya?" Tanyanya.
"Yah kan beneran sudah tidur," Mentari sedikit cemberut.
Mentari memasangkan jas Arfan ke punggungnya, dia tidak mau suaminya itu kedinginan, Mentari tidak tega membangunkan Arfan karena wajah Arfan terlihat sangat lelah.
Mentari mematikan laptop Arfan dan menyimpannya. Dia keluar dari ruangan untuk membereskan meja makan karena dia tidak jadi makan malam sekaligus membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelahnya Mentari kembali ke ruang kerja Arfan dan berbaring di sofa, dia sebenarnya memiliki tugas yang harus segera dia selesaikan tapi dia merasa sudah sangat lelah dan harus segera beristirahat.
Tengah malam Arfan terbangun dari tidurnya, "Ya ampun ternyata aku ketiduran, kasihan Mentari pasti dia menungguku." Arfan berbicara pada dirinya sendiri.
Arfan tersenyum sendiri ketika tahu di punggungnya tersemat jas miliknya, dia tahu pasti Mentari yang melakukan hal itu kepadanya.
Begitu Arfan hendak menuju ke pintu keluar dia melihat Mentari tertidur di sofa ruang kerjanya. Arfan mendekati gadis itu dan berjongkok di sampingnya.
"Terimakasih sayang," ucapnya penuh arti.
Arfan mencium kening Mentari dan mengangkat tubuh gadis itu untuk dia bawa ke kamar. Arfan tidak mau besok pagi tubuh istrinya pegal-pegal karena tidur di tempat yang sempit.
Arfan meletakkan tubuh Mentari di atas ranjang besar mereka, dia menyelimuti tubuh Mentari dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arfan kembali bermunajat kepada sang pencipta, memohon kekuatan agar dijauhkan dari segala mara bahaya, Arfan juga berdo'a agar selalu bisa bersama Mentari hingga maut memisahkan mereka.
Arfan sudah memantapkan hati sejak dirinya memilih Mentari menjadi bagian dari hidupnya, atas dukungan nenek dan motivasi dari neneknya itu, Arfan memberanikan diri untuk memperjuangkan Mentari di tengah-tengah ibu Mentari yang tidak menyetujui hubungan mereka hingga pada akhirnya mereka bisa bersatu.
Arfan kembali membuka laptopnya, dia juga harus membaca laporan perusahaan nenek sambil menjaga Mentari hingga dia terbangun karena Arfan sendiri tidak mungkin tertidur lagi.
Mentari terbangun saat adzan subuh berkumandang, "Kakak sudah bangun?"
"Kenapa aku jadi tidur di sini, bukankah semalam kita ada di ruang kerja kamu kak?" Tanya Mentari yang disambut oleh Arfan dengan senyum.
"Selamat pagi Mentari sayang, bukankah kamu sudah merasakan sendiri jika suamimu ini perkasa, jadi tidak akan jadi masalah hanya sekedar menggendong tubuh mungilmu itu." Arfan berseloroh jumawa pada dirinya sendiri.
"Ayo bangun sayang, sudah saatnya kita beraktifitas!" Arfan mencium kening Mentari dan mematikan laptopnya, mereka akan bersiap untuk sholat berjama'ah dan melakukan rutinitas pagi mereka.
Seperti biasa Arfan mengantarkan Mentari sampai di depan pintu gerbang fakultasnya, "Kak hari ini aku ada jadwal bimbingan sama pak Reza, nanti aku telfon ya kak kalau sudah selesai," ucap Mentari sebelum ke luar dari mobil Arfan.
"Iya semoga bimbingannya lancar sayang, aku pergi dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik." Pesan Arfan kepada Mentari sebelum meninggalkan gadis itu.
"Siap pak bos, sampai jumpa nanti ya."
Mentari masuk ke kelasnya untuk mengikuti kuliah pagi seperti biasanya.
Siska sudah ada di kelas saat Mentari datang, "Hai Sis kemarin ke mana saja hayo?"
"Cuma makan siang doang Tari, kan kak Arman sekarang sibuk."
"Benar juga sih, mana mungkin kalian bisa pergi lama kalau pas jam kerja ya."
"Eh iya Sis, kamu ingat nggak dengan kak Marry?"
"Wanita yang ketemu kita saat pertandingan?"
Mentari mengangguk, "Kenapa dengan dia Tari?"
"Ternyata kak Arfan mengenalnya Sis, mereka sepertinya sudah kenal lama." Mentari mengungkapkan pernyataannya.
"Trus apa salahnya kalau mereka saling kenal? Bukankah suami kamu itu memang terkenal sayang?"
Mentari terdiam, "Sis nanti siang aku ada jadwal bimbingan sama pak Reza, kamu ikut aku ya?"
Mentari memilih mengalihkan pembicaraan mereka karena dia tidak ingin berpikir terlalu jauh mengenai Arfan dan Marryana karena benar kata Siska jika suaminya cukup terkenal di masa lalu dan sekarang pun masih sama, dia memiliki tim yang patut diperhitungkan di kancah nasional jadi wajar jika banyak orang yang mengenalnya.
"Wah kayaknya nggak bisa deh, aku sudah ada janji." Siska nyengir kuda karena dia memang akan di jemput Arman untuk makan siang bersama, itulah cara mereka untuk menjalin kedekatan karena memang Arman sangat sibuk jadi kalau tidak seperti itu mana mungkin mereka bisa pergi bersama.
"Baiklah Sis, selamat bersenang-senang ya?" Mentari mengerlingkan matanya.
Di tempat lain, Arfan juga sedang memberikan mata kuliah praktik di lapangan.
Dia semakin terlihat gagah dengan peluh yang mengucur di tubuhnya, pagi ini matahari memang sangat terik sampai rambutnya pun ikut basah karena banyaknya keringat yang dikeluarkan olehnya. Di balik kaos yang laki-laki itu kenakan terlihat jelas otot-otot yang kekar membuat kaum hawa klepek-klepek jika melihatnya.
Marryana mengamati Arfan dari atas, dia semakin tidak bisa menahan diri untuk mendekat ke arah Arfan dan memberikan air mineral kepadanya saat kelas usai.
"Untukmu!" Marryana menyodorkan sebotol air mineral kepada Arfan yang sedang duduk untuk beristirahat sejenak.
"Terimakasih An!" ucap Arfan menerima pemberian Marryana.
Arfan tidak serta merta meminum air yang Marryana berikan kepadanya sebelum memastikan jika air itu aman untuk diminum.
Arfan memeriksa seal botol air mineral itu apakah masih tersegel atau sudah terbuka tentu saja tanpa sepengetahuan Marryana karena khawatir jika menyinggung wanita itu.
Mereka berdua naik ke lantai atas menuju ruang dosen, "Apakah kamu sudah selesai mengajar Fan?"
"Untuk hari ini aku sudah selesai An, aku mau membersihkan diri dulu." Arfan meninggalkan Marryana, tidak lupa dia membawa botol air mineral yang sudah dia minum setengahnya.
Arfan tidak ingin kecolongan, dia hanya ingin menjaga dirinya dengan baik. Marryana yang dia kenal sewaktu kecil belum tentu sama ketika dewasa apalagi wanita itu sudah lama tinggal di luar negeri dengan pergaulan yang mungkin saja jauh berbeda dengan dimana saat ini mereka tinggal.
Arfan merasa jika Marryana mencoba mendekatinya dengan banyak memberikan perhatian kepadanya.
Lima belas menit kemudian Arfan sudah selesai dan keluar dari kamar mandi. Arfan terlihat lebih segar sekarang dan semakin tampan di mata Marryana.
"Fan kamu mau pergi?" Tanya Marryana yang melihat Arfan sedang berkemas.
"Iya aku mau ke fakultas MIPA!" jawab Arfan yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya.
"Wah kebetulan sekali Fan, aku juga mau kesana. Aku mau bertemu Reza, dia temanku sewaktu dulu kuliah di kampus yang sama. Aku belum menyapanya sampai hari ini padahal aku sudah beberapa hari disini." Marryana merasa memiliki kesempatan untuk pergi bersama Arfan.
"Kamu mengenalnya An?"
"Iya aku mengenalnya, bahkan dulu dia banyak bercerita tentangmu Fan."
"Kamu ke fakultas MIPA mau menemuinya bukan?"
Arfan tidak bisa menolak Marryana kali ini, kebetulan tadi pagi Mentari juga ada jadwal bimbingan dengan Reza. Jadi dia mau menjemput Mentari di sana.
Arfan menolak dengan halus Marryana yang ingin satu mobil dengannya, sehingga Marryana terpaksa memakai mobilnya sendiri.
Saat turun dari mobil, Marryana menjadi pusat perhatian para mahasiswa di fakultas MIPA. Dia memang terlihat cantik dan anggun, apalagi di sebelah Marryana ada Arfan yang juga sering datang ke fakultas MIPA untuk menjemput Mentari. Banyak kasak kusuk mahasiswa terhadap mereka berdua.
[Wah jangan-jangan itu saingan Mentari, mereka terlihat serasi]
Cuit seorang mahasiswi yang berpapasan dengan mereka berdua.
[Iya benar mereka sangat cocok, lihat si wanitanya cantik dan anggun. Apalagi terlihat sangat dewasa membuat auranya terpancar. Mentari mah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wanita itu]
Ucap mahasiswa yang lainnya dan masih banyak lagi pembicaraan mereka, beruntung Mentari tidak mendengar ucapan mereka jika tidak gadis itu bisa merasa sakit hati.
Arfan tiba di depan ruang kerja Reza, dia mengetuk pintu dan setelah dipersilakan untuk masuk kemudian dia masuk ke dalam ruangan bersama Marryana.
Mentari yang baru saja selesai bimbingan merasa terkejut karena Arfan datang bersama Marryana, senyum di wajahnya perlahan memudar seiring dengan keterkejutannya itu.
"Silakan duduk Fan dan Marryana!" Reza mempersilakan mereka duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Apa kabar Marry, lama sekali kita tidak bertemu!"
"Aku baik Reza, kamu sendiri bagaimana?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik bahkan sangat baik."
"Pak Reza mohon maaf saya permisi, terimakasih untuk bimbingannya hari ini!" Mentari memohon izin untuk bisa ke luar dari ruangan itu, nafasnya terasa sesak. Mungkin dengan tidak melihat mereka akan membuatnya lebih baik sehingga dia memilih cepat-cepat untuk pergi ke luar.
"Kenapa buru-buru Mentari, duduklah dulu," cegah Reza.
"Saya ada urusan pak, mau ke perpustakaan karena ada referensi yang kurang," kilahnya membuat alasan.
Mentari mengangguk ke arah Marryana dan buru-buru pergi ke arah pintu. Arfan meraih tangan Mentari sebelum sampai ke pintu, "Tinggalah dulu sejenak di sini Mentari sayang, aku harus menyapa teman-teman lamaku dulu sebelum kita pergi!"
Arfan sengaja memanggil Mentari dengan panggilan seperti biasanya agar Marryana bisa paham jika dia sudah tidak sendirian lagi, tidak seperti saat mereka bertemu di depan supermarket semalam. Arfan ingin menjaga perasaan Marryana, tetapi kali ini Arfan lebih memilih untuk mengungkapkan status dirinya sebelum Marryana terlampau jauh berharap kepadanya.
"Sayang?" Batin Marryana.