
Dio mengantarkan Mentari di depan kamar yang telah Arfan persiapkan untuknya, Arfan muncul di belakang mereka dengan sedikit bersungut.
"Dio kau kembali berlatih!" perintah Arfan.
"Sepagi ini?"
"Iya tentu saja, kalau bisa sekarang kenapa harus menunggu nanti!"
"Aku masih ingin bersama Kakak Ipar Bos,"
"Latihanmu diperpanjang menjadi tiga jam hari ini!"
"Tapi Bos...," Dio membantah.
"Kalau begitu empat jam!"
Dio pun akhirnya pergi untuk berlatih, Arfan memang bertujuan mengusir Dio agar jangan dekat-dekat dengan Mentari dulu karena Mentari juga harus beristirahat, tetapi mengenai latihan Arfan tetap serius memberikan tambahan waktu untuk Dio.
Dia ingin Dio berlatih lebih keras untuk meningkatkan kemampuannya, sebagai kapten tim Dio memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Sepeninggal Dio dari hadapan mereka, Arfan mempersilahkan Mentari untuk masuk ke kamarnya.
"Semoga kamu suka kamar ini Mentari," ucap Arfan sembari membukakan pintu kamar dan membawa koper Mentari ke dalam.
Mentari berkeliling, "Kamar ini sangat nyaman, aku suka Kak!"
"Baguslah kalau begitu, aku memang belum paham seleramu tapi kalau kamu menyukainya itu lebih baik,"
"Terimakasih Kak, kamu sudah banyak menolongku."
"Bukankah itu kewajibanku sebagai seorang laki-laki yang tulus menyayangimu?"
"Sekali lagi terimakasih Kak, aku berjanji ke depan akan lebih kuat lagi agar tidak selalu membuatmu kerepotan."
"Cukup berada di sisiku, itu sudah membuat aku bahagia. Direpotkan olehmu itu pertanda bahwa aku berguna untukmu Mentari kecil."
"Sekarang istirahatlah, hari ini tidak perlu ke kampus karena aku sudah meminta izin pada Reza agar kamu bisa beristirahat beberapa hari."
"Tapi Kak...,"
"Bagaimana kalau aku tambah lagi hari membolosmu?" Arfan mendekati Mentari, aura dinginnya memenuhi ruangan seketika.
Mentari mundur dan mentok di tembok, Mentari memejamkan matanya karena khawatir Arfan akan berbuat sesuatu kepadanya. Arfan membelai rambut Mentari dengan seringai nakalnya.
Arfan mendekatkan wajahnya ke arah Mentari yang membuat gadis itu memalingkan wajahnya ke kanan.
"Patuh dengan pengaturanku, ok!" bisik Arfan di telinga Mentari, setelahnya laki-laki itu menarik tubuh dan wajahnya dari hadapan Mentari.
"Beristirahatlah, aku pergi dulu!" ucapnya kemudian ke luar dari kamar yang sekarang di tempati oleh Mentari.
Mentari menghembuskan nafasnya kasar, "Dingin sekali, sungguh menakutkan!"
Mentari merebahkan dirinya di kasur, dia teringat jika ada Sania juga di club ini tapi tadi dia tidak melihat keberadaan wanita satu anak itu ada di club pagi ini.
"Apakah mereka sudah tidak lagi tinggal di sini?" Batin Mentari.
Mentari berusaha mengabaikan semua itu, saat ini Mentari harus bisa mengatasi ketakutannya terlebih dahulu, Mentari ingin fokus pada recovery pikirannya yang tidak ingin mengingat wajah orang yang menganggunya kemarin. Dia juga tidak mungkin berlama-lama ada di club milik Arfan karena orangtuanya pasti akan tahu hal ini jika dirinya tidak pandai menjaga rahasia.
Tanpa terasa Mentari pun terlelap, hampir semalaman tidak bisa tidur karena dihantui wajah sang peneror membuat Mentari kini menjadi mengantuk dan terpulas.
Arfan masuk membawakan sarapan untuk Mentari karena mereka memang belum sarapan sama sekali. Niat Arfan sarapan bersama gadis itu, tetapi begitu masuk malah Mentari sudah nyenyak tidur.
"Teman si kucing biru dari abad 22 memang mudah sekali untuk tidur!" Arfan mengingat kartun yang pernah ditontonnya sewaktu kecil dan tidak pernah dewasa tokohnya hingga sekarang usianya memasuki kepala tiga.
Arfan meletakkan nampan berisi susu hangat dan roti tawar dengan selai cokelat di atas nakas.
"Dasar tukang tidur, baru ditinggal sebentar sudah nyenyak. Apanya yang ketakutan coba?" Arfan berbicara sendiri.
"Ah ya aku tahu pasti karena kau nyaman tinggal di sini kan ya, makanya kamu bisa cepat tertidur begitu!" sambung Arfan sembari mencubit hidung Mentari pelan dan menyelimuti gadis itu.
"Tidur nyenyak sayang, karena kau aman di sini."
Arfan ke luar dari kamar Mentari dan menutup pintu kamar dengan sangat pelan.
"Bos apakah Kakak Ipar kelelahan?" Tanya Rafi yang kebetulan melintasi kamar itu.
"Iya dia sangat lelah, jangan berisik ya karena dia sedang tidur!"
"Wah benarkah Bos, pasti Bos sudah berusaha sangat keras!" Rafi tertawa kecil memandangi Arfan yang biasa-biasa saja, sedangkan pikiran Rafi sebenarnya sudah traveling kemana-mana.
"Raf kamu tahu ke mana Tomi, istri dan anaknya?"
"Tadi pagi ketika Bos ke luar dari club, manager bilang akan ke luar sebentar karena ada urusan bersama Nyonya Sania dan Steven."
"Oh ya sudah mungkin mereka sedang ingin berjalan-jalan bersama, jika sudah besar nanti pasti kau akan paham karena lama dipisahkan oleh jarak."
"Berarti aku juga akan bisa merasakan bagaimana berusaha menerobos gawang dengan goal-goal yang cantik kan Bos?"
"Tentu saja, jika berlatih dengan keras kau pasti dalam waktu dekat bisa mewujudkannya!" Arfan menepuk bahu Rafi.
"Benarkah Bos, bukankah kalau ingin melakukannya harus cukup umur dulu?"
"Kenapa harus menunggu cukup umur kalau bisa dilakukan sekarang!"
"Wah kalau begitu aku akan menemui pacarku sekarang!" Rafi berlari menuruni tangga.
"Hey tunggu Raf... apa maksud kamu dengan menemui pacar kamu?"
"Kembali berlatih, tidak aku izinkan kau ke mana-mana hari ini apalagi menemui pacar kamu sampai kamu paham dengan apa yang aku maksudkan tadi!"
"Tapi Bos...,"
"Saya tidak menerima bantahan!"
Rafi pada akhirnya mengalah karena dia tidak akan pernah menang melawan Arfan.
Arfan teringat dengan ucapan Rafi, ternyata ada kesalahpahaman yang membuat mereka tidak nyambung ketika tadi berbicara karena maksud mereka rupanya bersebrangan. Arfan tersenyum tipis mengingat anak sekecil itu sudah berpikir sangat jauh di atas pikiran orang dewasa.
Sementara itu, Tomi berniat mengajak Sania dan Steven ke taman bermain. Namun, karena mereka datang terlalu pagi sehingga taman bermain itu belum beroperasi.
Tomi mengajak Sania dan Steven jalan-jalan di sekitaran taman bermain itu setelah mereka selesai sarapan sambil menunggu dibuka.
"Papa aku mau permen kapas!"
"Boleh sayang, tapi ingat jangan lupa gosok gigi ya agar gigi kamu tidak berlubang!"
"Baik Papa, stev janji sama Papa!"
"Anak baik!" Tomi mengelus rambut Steven dengan penuh rasa sayang.
Steven meninggalkan Papa dan Mamanya untuk membeli permen kapas, kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat Tomi dan Sania tengah duduk.
Steven saking bersemangatnya tidak sengaja menabrak seorang laki-laki yang kebetulan melintas di depannya.
"Maafkan saya om karena tidak sengaja menabrak om," Steven meminta maaf.
"Tidak apa-apa anak tampan, om juga salah karena jalan tidak lihat-lihat." Jawab Zaki yang merasa menyayangi anak itu, jantungnya berdebar sangat kencang.
"Terimakasih om!"
"Kamu mau ke mana Nak?"
"Aku mau membeli permen kapas di sana!" Steven menunjuk pedagang permen kapas di seberang jalan.
"Apakah kamu sendirian?"
"Tidak om, aku bersama Mama dan Papa. Mereka sedang menungguku om untuk bermian bersama. Kami sedang menunggu taman bermain buka!"
"Bagaimana kalau om traktir kamu beli permen kapas!"
"Tidak perlu om, terimakasih. Kata Mama aku tidak boleh menerima pemberian dari orang asing!"
"Kalau begitu perkenalkan nama om Zaki, kita berteman bagaimana?"
Steven tampak berpikir sejenak, "Baiklah om, sekarang kita teman."
Mereka berdua menautkan jari kelingking sebagai tanda persahabatan, tidak lupa Zaki memberikan nomor telfonnya kepada Steven dan sebaliknya. Zaki merasa sayang dengan bocah laki-laki itu.
Anak itu mengingatkan diriya akan anak dalam kandungan Sania yang dibawa pergi oleh Sania meninggalkan kota Z sekitar sepuluh tahun ke belakang karena kebodohannya di masa lalu.
"Om kenapa melamun? Om menangis ya?" Steven mengamati mata Zaki yang memerah.
"Om hanya kelilipan saja, mana mungkin sudah gede menangis kan sudah tidak pantas!"
"Baiklah Om, kalau begitu ayo kita beli permen kapasnya!"
Zaki mengikuti langkah bocah itu, dirinya merasa bahagia sebab anaknya juga pasti sudah sebesar Steven jika mungkin mereka ditakdirkan untuk bertemu kembali.
Tomi cemas karena Steven sangat lama hanya karena membeli permen kapas, padahal taman bermain sudah dibuka.
"Sayang kau hubungi Steven, aku khawatir dia nyasar!"
"Dia itu anak yang cerdas jadi tidak mungkin dia nyasar di tempat ini!"
"Hubungi saja, suruh dia cepat karena taman bermain sudah dibuka!"
Sania menuruti ucapan Tomi, pada panggilan pertama Steven langsung menjawab.
"Hallo Ma...,"
"Apakah sudah selesai?"
"Sudah Ma,"
"Kalau begitu cepat kembali, bukankah kita akan bermain?"
"Baik Ma, aku akan segera kembali. Tunggu aku ya Ma!"
Sania menutup telfonnya, sedangkan Steven berpamitan kepada Zaki.
"Om baik, Mama bilang aku harus kembali karena taman bermain sudah buka, aku pergi dulu ya om."
"Baiklah selamat bermain ya, jangan lupa nanti hubungi om kalau sudah di rumah ya ganteng!" Zaki berpesan kepada Steven.
"Siap Om, kapan-kapan aku kenalin sama Mama dan Papaku ya om!"
"Dengan senang hati ganteng."
Steven berlari meninggalkan Zaki yang semakin sedih karena hatinya kembali kosong.
"Sania kau bawa anakku kemana?!" Ucap frustasi Zaki.