My Old Star

My Old Star
#50 Permata



"Selamat pagi semua, bagaimana pertandingan kalian tadi malam?" Mentari yang berjalan dari arah dapur menyapa semua anak-anak yang tengah berkumpul di meja makan untuk menunggu sarapan mereka.


"Kami menang kakak ipar," jawab Dio dengan senyum merekah penuh kebanggaan.


"Kalian memang hebat!" Mentari mengacungkan kedua jempolnya setelah meletakkan nasi goreng yang tadi di bawanya dari dapur di atas meja makan.


"Kalau begitu ini masakan spesial yang aku buat untuk kalian, ayo cepat dicoba ya!" Mentari masuk kembali ke dapur untuk mengambil minuman hangat yang sudah dibuatnya.


"Wah kakak ipar baik sekali, sering-sering saja begini kak."


"Beres... bisa diatur," Mentari tersenyum puas karena anak-anak menyukai masakannya walau hanya sekedar nasi goreng biasa.


Tidak lama kemudian Steven yang sudah berseragam sekolah rapi turun bersama Tomi untuk sarapan.


"Wah kamu ganteng sekali Stev," Mentari berjongkok di depan Steven.


Steven tersenyum memandangi dirinya sendiri mendengar pujian dari Mentari, "Kak Mentari menyukainya?"


"Tentu saja Stev,"


"Ayo Stev sarapan dulu nanti terlambat ke sekolah!" Sania muncul dengan membawa sarapan Steven.


Steven mengangguk kemudian berlari ke arah mamanya, sebelumnya Steven mencium pipi Mentari sembari berucap, "Kak Mentari tunggu aku dewasa ya, jadilah pengantinku di masa depan!"


Ucapan Steven tadi berhasil membuat seisi meja makan tertawa karena tidak menyangka Steven yang baru berumur sepuluh tahun sudah berpikir sejauh itu. Dia sudah mulai menyukai seorang gadis. Tomi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Steven yang sangat polos.


Mentari sendiri tidak ambil hati ucapan bocah itu tadi, mungkin memang Steven menyukainya sebagai seorang kakak sehingga mengucapkan hal yang mungkin pernah didengarnya tanpa tahu maksud dari ucapannya itu.


Mentari tidak melihat Arfan ada bersama yang lainnya di meja makan, "Dimana kak Arfan?" pikirnya.


"Mentari kamu mencari Arfan?" Sania tahu apa yang Mentari pikirkan.


Mentari mengangguk, "Dia mungkin masih di kamarnya, coba cari saja dia disana!"


Mentari mengetuk pintu kamar Arfan, namun tidak ada jawaban dari dalam sehingga Mentari masuk saja ke dalam kamar karena merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada Arfan sebab bisa saja Arfan demam akibat terlalu lelah dengan banyak hal yang harus dia urus kemarin.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa...," teriak Mentari dan berbalik memunggungi Arfan.


Arfan yang mendengar teriakan Mentari kemudian membekap mulut gadis itu menggunakan tangannya. Arfan baru ke luar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk saja untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


Mentari perlahan kembali tenang, dia bisa mengatur derap jantungnya yang berdetak tidak karuan.


"Cepat kenakan pakaianmu kak!" ucap Mentari tanpa mau melihat Arfan sedikitpun, dia masih memejamkan matanya.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Arfan menggoda Mentari.


"Ih dasar mesum!"


"Salah sendiri masuk ke kamar orang tanpa izin!"


"Aku sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada yang menyahut!"


Arfan berjalan perlahan ke arah lemari pakaiannya, mengenakan kaos dan celana rumahan namun dia tetap ingin mengerjai Mentari.


"Aku masih memakai handuk, apa kamu mau tetap begitu memejamkan matamu? Apa kamu tidak mau melihatnya?" Goda Arfan padahal dia sudah berpakain lengkap.


"Kalau begitu aku akan keluar!" Mentari masih memajamkan matanya sambil mencari arah pintu keluar.


"Eits mau kemana?" Arfan mencegah Mentari agar jangan keluar dari kamarnya.


Arfan menarik tangan Mentari kemudian mendekapnya, "Kau mengerjaiku kak, dasar menyebalkan!" Mentari memukul-mukul dada Arfan karena baru sadar jika dia dikerjai oleh Arfan.


Arfan memandang lurus ke arah manik mata hitam milik Mentari, dia mendekatkan wajahnya yang membuat Mentari berhenti memukul-mukul dadanya.


"Karena kau sudah disini jadi kamu harus memberikan sarapan pagi untukku!" Arfan berbisik sangat pelan, membuat bulu kuduk Mentari meremang. Mentari memelototkan matanya ketika bibir Arfan mendarat tiba-tiba di bibirnya.


Mentari hanya diam saja tidak membalas dan juga tidak melawan, sentuhan lembut bibir Arfan membuatnya terbuai, dia baru tersadar ketika tangan Arfan mulai turun ke arah aset berharganya. Mentari mendorong tubuh Arfan dan mundur beberapa langkah, "Bukankah kakak sudah pernah mengatakan tidak akan pernah melampaui batas?" Protes Mentari.


"Kakak sepertinya sedang mabuk!" Mentari berlari keluar kamar Arfan yang ternyata di depan pintu tengah berjajar anak-anak asuh Arfan mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Mereka mungkin penasaran dengan apa yang terjadi setelah mendengar teriakan Mentari ketika di kagetkan oleh Arfan yang baru keluar dari kamar mandi.


Mentari memandang mereka sebentar kemudian menuju ke kamarnya, Mentari sangat malu jika sampai anak-anak berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan Arfan.


Arfan keluar dari kamar dan melihat anak-anak sedang berjajar di depan kamarnya, "Sedang apa kalian disini, bukankah kalian sudah harus pergi ke sekolah dan juga kampus kalian masing-masing!" Arfan memasang muka datar menyebalkannya seperti biasa.


"Emmm... Itu bos, Rafi kehabisan uang saku!" Yudi memberikan alasan.


Rafi memandang kesal Yudi yang menjadikan dirinya sebagai alasan, "Kenapa aku yang jadi kambing hitam!"


"Benar bos, Rafi tidak berani meminta sendiri jadi mengajak kita!" Dio membenarkan ucapan Yudi.


Arfan masuk ke dalam kamar mengambil beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan, kemudian keluar lagi untuk memberikannya kepada anak-anak.


"Apakah segini cukup?"


"Lain kali bilang saja pada manager, tidak perlu langsung menemuiku!"


"Baik bos, terimakasih!" mereka mengambil uang yang diberikan oleh Arfan kemudian pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing.


Mereka sangat senang, sebab tidak disangka akan mendapatkan uang semudah itu dari bos mereka padahal tujuan awal mereka adalah untuk mengintip, tidak disangka alasan yang mereka buat malah membuat mereka ketiban rezeki.


Arfan merasa telah membuat kesalahan yang cukup fatal kepada Mentari, dia tahu jika Mentari sangat menjaga dirinya. Bahkan tidak pernah tersentuh oleh siapapun selain dirinya, untuk sekedar berciuman dan berpelukan Mentari memang tidak pernah menolaknya, tetapi kejadian tadi membuat Mentari pasti sangat marah.


Arfan merasa frustasi, tidak mungkin dia menceritakan hal ini kepada Sania maupun Tomi karena sudah pasti dia akan ditertawakan oleh keduanya.


Arfan merasa harus meminta maaf kepada Mentari atas perbuatannya yang kurang ajar. Arfan melangkah ke depan kamar Mentari dan mengetuk pintu kamar gadis itu, "Mentari sayang bolehkah aku masuk?"


Mentari sebenarnya enggan bertemu Arfan saat ini, dia masih ingin sendiri. Dia merasa kecewa dengan Arfan yang tidak menghormatinya sebagai seorang perempuan.


"Mentari maafkan aku ya, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong buka pintunya sayang." Arfan mengiba meminta belas kasih.


Mentari masih diam, "Mentari aku akan pergi jika kamu memang tidak menginginkanku lagi, tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk meminta maaf."


"Aku akan bilang pada nenek jika kita memang tidak bisa bersama karena aku tidak mampu menjagamu, bahkan tangan ini malah justru akan merusakmu."


"Mentari aku pergi sekarang ya!"


Mendengar kata-kata Arfan yang menyebut nenek Wijaya membuat Mentari teringat dengan perempuan sepuh itu yang sangat menyayanginya dan berharap dirinya bisa terus bersama Arfan.


Mentari menuju ke arah pintu, dia mengintip dari lubang kunci dan melihat Arfan sudah tidak ada di sana. Mentari perlahan membuka pintu kamarnya, keluar dan mencari kemana Arfan pergi. Air mata Mentari sudah mengucur deras, dia tidak bermaksud membuat Arfan pergi hanya saja dia ingin dihormati sebagai seorang perempuan.


"Kamu mencariku?!" suara Arfan terdengar menggema di belakang punggung Mentari, gadis itu berbalik dan berhambur ke arah Arfan untuk memeluknya.


"Jangan tinggalkan aku kak!"


Arfan tersenyum tipis sambil mengusap rambut gadis itu, "Mana mungkin aku akan meninggalkanmu Mentari sayang, kau adalah permata bagiku!"


"Ayo kita menikah Mentari!"