My Old Star

My Old Star
#131 Kejutan untuk Mentari



Semakin malam suasana rumah Arfan dan Mentari semakin ramai, anak-anak masih ingin berada disana meskipun Tomi telah mengajak mereka untuk segera kembali ke club.


"Biarkan saja mereka Tom, mungkin ini saatnya mereka bersenang-senang dengan cara mereka sendiri."


"Tapi mereka harus beristirahat Fan, bukankah kalian juga harus beristirahat Fan?"


"Tidak masalah Tom, aku senang mereka ada disini."


"Baiklah akan aku tunggu mereka."


Tomi akhirnya menghampiri Sania yang sedang menidurkan Steven di kamar tamu rumah Arfan.


"Sa apakah Stev sudah tidur?"


"Sudah Tom, dia kelihatannya sangat lelah."


"Sa sepertinya kita juga harus memiliki rumah seperti Arfan dan Mentari agar anak-anak kita nantinya memiliki tempat tinggal yang nyaman."


"Tom dimanapun kita tinggal asalkan kita bersama-sama itu tidak akan menjadi masalah bagiku."


"Apakah aku tidak salah dengar Sa?"


"Bukankah kebanyakan perempuan ingin tinggal di rumahnya sendiri?"


"Aku tahu Tom, tapi aku tidak akan memaksakannya. Bisa hidup bersama laki-laki sepertimu, aku sudah sangat bersyukur."


Sania dan Tomi saling berpelukan haru, Sania memang wanita yang baik hanya saja di masa lalu cintanya terhadap Zaki telah membutakan mata hatinya sehingga bertahun-tahun dia harus menanggung akibat dari perbuatannya hingga harus tinggal di luar negeri untuk menghindari Zaki.


Tengah malam anak-anak asuh Arfan, Tomi, Sania, Steven, Ilyas dan Ibunya pamit dari rumah Arfan dan Mentari untuk kembali ke club. Hanya Arman dan Siska yang akan menginap karena sudah malam dan tidak memungkinkan untuk Siska kembali ke asrama. Sedangkan Zaki dan Marryana sudah sejak sore tadi pamit meninggalkan mereka semua sebab akan terbang malam ini juga ke luar negeri. Mereka akan menemui orangtua Marryana memohon do'a restu untuk bisa hidup bersama.


"Sayang apakah kau lelah?" Tanya Arfan ketika mereka telah berbaring di ranjang besar mereka.


"Aku bahagia Kak, bukan lelah. Mereka semua ternyata menyayangiku dengan tulus."


"Aku juga bahagia jika kau bahagia, perjalanan panjang kita selanjutnya akan segera dimulai."


"Kak terimakasih untuk semua yang telah Kakak lakukan untuk Ilyas, paling tidak aku lega sebab dia bisa berkumpul kembali dengan Ibunya."


"Ternyata kau juga memikirkannya sayang?"


"Selama ini aku merasa kasihan kepada Ilyas Kak karena aku yakin jika Ilyas tidak bersalah."


"Baiklah sudah tidak usah dibahas lagi ya, saatnya kita beristirahat sekarang."


Arfan membenarkan posisi selimut yang Mentari kenakan, kemudian mencium kening calon Ibu dari anaknya itu.


"Good night Mentari sayang."


Mentari tersenyum menjawab ucapan selamat tidur dari Arfan. Mereka akan mengarungi mimpi malam ini dan akan kembali menghadapi kenyataan hidup esok hari.


****


Hari terus berganti, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Mentari telah berada pada hari dimana dia akan menghadapi sidang tesisnya dengan perut yang sudah terlihat semakin membuncit karena semakin dekatnya hari kelahiran anak pertama mereka. Sedangkan Arfan sendiri sedang berada di luar negeri untuk mengantarkan anak-anak asuhnya di pertandingan tingkat Asia.


Berkali-kali Mentari selalu meyakinkan Arfan jika dirinya baik-baik saja, "Kak tidak perlu mengkhawatirkan aku karena disini banyak orang yang menyayangiku jadi Kakak bisa mengantarkan anak-anak dengan tenang, bawa kemenangan kalian sebagai hadiah kelulusanku Kak."


Arfan memeluk Mentari, "Aku berjanji akan membawa kemenangan tim kita di tingkat Asia sebagai hadiah kelulusan untukmu sayang."


"Tunggu aku kembali dan kita akan merayakannya bersama."


Kini dua minggu sudah Arfan pergi mengantarkan anak-anak maju ke pertandingan bergengsi tingkat Asia. Mentari yang diantar oleh Siska dan Sania, melangkah maju memasuki ruangan yang akan menjadi saksi lulus tidaknya dirinya.


Mentari sedang bersiap sebelum sidang dimulai, panggilan video dari Arfan membuat dirinya harus menghentikan aktivitasnya.


Wajah Arfan langsung terlihat begitu Mentari mengangkat panggilan video itu.


"Semangat sayang, aku mendo'akanmu dari sini. Maafkan aku karena aku tidak bisa ada di sampingmu di saat penting seperti ini."


Mentari tersenyum, "Jangan khawatirkan aku Kak. Ada banyak orang yang membantuku dan menemaniku disaat Kakak tidak bisa melakukannya." Mentari memperlihatkan kepada Arfan jika ada Siska dan Sania bersamanya. Sedangkan Arman, Zaki dan Marryana juga nanti rencananya akan datang untuk menyusul.


"Iya sayang kalau seperti itu aku tenang, hari ini tim kita akan bertanding di babak final. Aku akan menepati janjiku untukmu!"


"Terimakasih Kak," senyum Mentari memberikan kekutan tersendiri bagi Arfan sebelum mereka mengakhiri panggilan mereka yang singkat karena Mentari harus segera memaparkan tesisnya.


Sidang Mentari berjalan selama kurang lebih dua jam, Mentari berhasil menjawab semua pertanyaan dari tim penguji dengan sangat baik hingga tim penguji memberikan standing uplouse untuknya sebab hasil karya yang Mentari sajikan di depan tim penguji sungguh luar biasa ditambah cara penyampaian yang dilakukan oleh Mentari sangat lugas dan mudah untuk dipahami.


Tim penguji menghampiri calon Ibu itu dan memberikan selamat kepadanya.


"Selamat atas keberhasilanmu Mentari, saya merasa tidak sia-sia menjadi pembimbing tesismu yang luar biasa. Bahkan saya merasa kamulah yang luar biasa dengan ide-idemu yang cemerlang. Kelak jadilah yang terbaik di bidangmu Mentari, jangan putus untuk mengambil pendidikan yang lebih tinggi." Pak Reza begitu bahagia melihat Mentari.


"Terimakasih Pak atas bimbingan dan kesabaran Bapak selama membimbing saya, maklum Ibu hamil terkadang moodnya kurang bagus Pak."


"Sama-sama Mentari, saya yang seharusnya berterimakasih kepadamu berkat kamu namaku sebagai dosen pembimbing juga ikut meroket karena berhasil membimbing mahasiswi sepertimu yang tidak lepas dari berbagai macam ujian, tapi kamu memang hebat karena selalu berhasil melewatinya dengan baik."


Mentari tersenyum, "Kak Arfan sedang berada di luar negeri Pak, timnya masuk babak final hari ini."


"Benarkah?"


"Sayang sekali dia tidak bisa melihat kehebatan istrinya, tapi memang kalian berdua sama-sama hebat dibidang kalian masing-masing dan penerus kalian berdua sebentar lagi akan lahir ke dunia."


"Pak Reza terlalu berlebihan, kami hanya berusaha yang terbaik sebisa apa yang dapat kami lakukan."


"Baiklah kamu boleh merendah tapi orang lain melihatnya, kalau begitu saya permisi dulu ya. Sekali lagi selamat Mentari."


"Terimakasih Pak Reza."


Reza meninggalkan mahasiswa bimbingannya itu dengan perasaan bangga sekaligus bahagia, apa yang dia perkirakan benar adanya. Mentari memang berbakat dan kemampuannya tidak diragukan lagi, seandainya Mentari mau bergabung untuk mengajar di kampus tentu akan menjadi sebuah anuegerah tersendiri bagi kampus mereka.


Sepeninggal Reza, kedua sahabat Mentari yang sudah seperti keluarganya sendiri menghampiri Mentari dan mengucapkan selamat kepadanya.


Tidak ketinggalan Arman, Zaki dan Marryana yang baru datang ke tempat itu menghampiri Mentari dan yang lainnya.


"Pasti kamu lulus kan Mentari?" Tanya Arman kepada Mentari.


"Iya Kak atas do'a kalian semua."


Semua yang hadir turut bahagia, beberapa hari lagi Siska juga akan melakukan sidang. Mereka berdo'a untuk Siska agar bisa seperti Mentari.


"Kami punya kabar bahagia untuk kalian," senyum sumringah terlihat di wajah Marryana.


"Apa itu Kak Marry?" Tanya Mentari.


"Kami mengundang kalian semua ke pernikahan kami yang akan diadakan seminggu lagi." Marryana membagikan undangan untuk semuanya.


Sania sempat tersentak kaget mendengar berita bahagia dari Marryana dan Zaki, namun dia harus belajar menerima apa yang memang tidak ditakdirkan menjadi miliknya maka tidak akan pernah dia dapatkan.


Zaki menyadari perubahan wajah Sania, dia tahu jika Sania mungkin teringat masa kelam saat bersamanya dulu atau dia sedang memikirkan bagaimana perasaan Steven saat mengetahui jika Ayahnya akan menikah dengan Marryana.


Zaki mendekati Sania, "Sa maafkan aku." Ucap Zaki sembari mengulurkan tangannya kepada Sania dan disambut dengan senyum mengembang dari wajah Ibu Steven itu.


"Kamu tidak perlu minta maaf kepadaku Za. Aku ikut bahagia karena kamu telah menemukan tambatan hatimu, kalian pasangan yang serasi."


Marryana menghampiri keduanya, "Sania aku berjanji akan menjadi Ibu sambung yang baik untuk Stev dan Zaki pasti akan menunaikan kewajibannya untuk Stev sebagai seorang Ayah biologis yang bertanggungjawab. Aku sendiri yang akan memastikan itu semua untuk Stev."


Sania memeluk Marryana, "Terimakasih Marry, Stev sangat beruntung mendapatkan Ibu sambung sepertimu."


"Sama-sama Sa."


Keduanya saling mengurai pelukan mereka, rasanya sangat lega ketika semuanya telah menjadi jelas dan sama-sama saling menerima.


Mentari tersenyum dari kejauhan melihat pemandangan yang mengharukan tersebut, "Kak seandainya saat ini kau ada disini tentu kau akan sangat bahagia sepertiku." Batin Mentari.


"Apakah kau sedang merindukanku?" Suara Arfan membuyarkan lamunan Mentari.


"Kak Arfan?" Mentari langsung memeluk suaminya itu yang tiba-tiba datang padahal tadi sebelum Mentari melaksakan sidang, laki-laki itu mengatakan jika dirinya sedang mengawal anak-anak maju ke babak final.


Arfan memberikan bunga kepada Mentari yang meneteskan air mata menerima kejutan itu.


"Selamat atas pencapaianmu sejauh ini sayang."


"Kakak jahat kenapa membohongiku!"


"Bukankah ini sangat mengejutkan untukmu?"


"Tentu saja Kak, aku sangat terkejut sekaligus bahagia."


"Kau tahu aku menyaksikan kehebatanmu tadi."


"Benarkah Kak?"


"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu sayang."


"Aku masih memiliki kejutan lain untukmu. Ayo kita turun!"


Arfan mengajak Mentari turun dari gedung, ternyata Dio dan yang lainnya sudah menunggu Mentari di bawah. Mereka menyanyikan lagu kemenangan begitu melihat orang yang mereka nantikan datang menghampiri.


Mentari semakin dibuat terharu sebab banyak sekali orang yang menyayanginya.


"Kakak Ipar kami semua mengucapkan selamat kepadamu!" Dio mewakili teman-temannya mengucapkan selamat kepada Mentari.


"Terimakasih untuk kalian semua, aku sungguh tidak menyangka jika kalian bisa ada di sini hari ini."


"Ini kami persembahkan janji kami untuk Kakak Ipar." Dio memberikan piala kemenangan mereka kepada Mentari.


Mentari menerima piala itu, "Kalian berhasil memenangkannya?"