
Perjalanan menuju kampus Z tidak memakan waktu yang lama, kini mereka sudah berada disana. Mentari diminta untuk menamani Arfan ke fakultas tempat dia mengajar. Mentari yang masih berada dalam kebingungannya tetap berjalan mengikuti Arfan tanpa bertanya apapun.
Arfan memasuki ruangan Dosen, menuju ke mejanya dan tampak mengambil sebuah berkas. Disini Mentari baru paham bahwa Arfan adalah seorang Dosen, Mentari tanpa sadar tersenyum sendiri.
"Auwwww...," pekik Mentari yang dipukul pelan dengan berkas yang ada di tangan Arfan.
Mentari mengelus-elus kepalanya yang sebenarnya tidaklah sakit, "Jahat sekali!" gumamnya.
"Ayo kita turun!" perintah Arfan.
Mentari memilih mengikuti Arfan tanpa banyak bertanya. Arfan meminta Mentari untuk naik kembali ke dalam mobil. Dia membawa gadis itu untuk makan malam terlebih dahulu sebelum mengantarkannya kembali ke asrama.
"Kenapa kita kesini dulu?" tanya Mentari.
"Makan!" jawab Arfan singkat.
Mentari sebenarnya sudah ingin pulang ke asrama, sejak tadi siang dia sudah dibawa oleh Arfan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas menurutnya. Mau bertanya takut karena perangai Arfan yang sangat dingin. Meskipun Mentari sebenarnya merasa senang karena dia tidak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan Arfan.
"Selamat beristirahat Mentari kecil," ucap Arfan begitu Mentari hendak turun dari mobil.
"Kau juga hati-hati dijalan ya, terimakasih sudah mengantarku Pak Dosen!" Mentari tertawa kecil.
Spontan Arfan menarik tangan Mentari dan membawa gadis itu ke pelukannya. Arfan seolah tidak rela Mentari meninggalkannya.
Mentari merasa kaget dengan sikap Arfan yang tiba-tiba, Mentari masih diam dan tidak membalas pelukan Arfan. Sekujur tubuhnya terasa kaku, ada sebuah getaran lain yang bergemuruh di dalam dadanya.
"Jangan pergi Mentari kecil, tetaplah disini sejenak saja!" ucap Arfan lirih.
Arfan memeluk Mentari cukup lama, dia baru melepaskannya ketika seorang satpam memergoki mereka. Mentari merasa canggung karena kata-kata satpam itu yang cukup menohok.
"Bung ini kampus, jika ingin bermesraan sana cari hotel saja, jangan disini, merusak pemandangan!"
Arfan diam saja tanpa membalas perkataan satpam tadi yang berlalu pergi untuk melanjutkan tugasnya. Mentari akhirnya turun dari mobil dan masuk ke dalam asrama. Arfan baru menstater mobilnya ketika benar-benar memastikan Mentari sudah masuk ke dalam.
"Hei anak nakal, kemana saja kau seharian ini?!" tanya Nenek Wijaya ketika melihat Arfan memasuki rumah.
"Mengantarkan Mentari ke kampus Nek," jawab Arfan sengaja menggunakan nama Mentari agar Neneknya tidak marah dan karena memang benar seharian ini Arfan terus bersama dengan Mentari.
"Apakah kau ajak dia makan malam?"
"Tentu saja Nek,"
"Baguslah, kau beristirahatlah pasti sangat lelah bukan!" Nenek Wijaya mendorong pundak Arfan agar segera masuk ke kamarnya.
Nenek Wijaya mendadak mengubah nada bicaranya menjadi sangat lembut didengar.
Arfanpun naik ke kamarnya untuk berkemas, besok pagi-pagi sekali dia harus terbang ke Spanyol untuk urusan club karena sudah tidak bisa ditunda lagi, sebentar lagi dia juga harus masuk ke kampus untuk mengajar. Tentu saja urusan club harus segera terselesaikan sebelum kelas dimulai.
Mentari beberapa hari ini disibukkan dengan tugas jurnal yang belum dia selesaikan bersama kelompok seminarnya. Mentari sedikit lupa jika Arfan juga beberapa hari ini menghilang tanpa kabar. Arfan benar-benar sibuk di Spanyol.
Hari ini merupakan hari pertama Mentari masuk ke kampus setelah liburan usai, dia mulai teringat jika Arfan tak sekalipun menghubunginya sejak pertemuan terakhir mereka malam itu.
Mentari masih di dalam kelas padahal kelas sudah usai, berkali-kali dia mengecek ponselnya tak ada satupun pesan yang masuk.
Siska yang sudah selesai berkemas, memandang Mentari dengan heran.
"Tari kamu tidak pulang?" tanya Siska.
"Sebentar lagi Sis,"
"Aku pulang ke asrama dulu ya, mau tidur nih semalam nonton drakor sampai pagi. Mata ini ngantuk berat!" Siska sedikit terkekeh karena memang dia merasa konyol sendiri, pagi ini ada kelas malah begadang.
Mentari hanya mengangguk, "Jangan kelamaan disini!" pesan Siska kepada sahabatnya itu.
Siska keluar dari dalam kelas meninggalkan Mentari sendirian. Mentari merasa hatinya begitu kosong. Kebahagiaan sesaat yang dia lalui bersama seorang Arfan yang dia rasakan betul-betul membekas dihatinya, meskipun Arfan sangat datar dan kaku tapi Mentari justru menyukainya.
Mentari berjalan dengan gontai keluar dari kelas, menyusuri lorong-lorong kelas sebelum memasuki jalan taman untuk bisa keluar dari kampus. Di taman, Ilyas yang menunggu Mentari sejak tadi menghampirinya.
"Tar...Tari...," panggilnya.
Mentari menoleh ke sumber suara, "Ilyas?"
"Apakah kau sibuk hari ini?"
"Aku mau pulang ke asrama,"
"Kalau begitu aku antar," tawar Ilyas.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula asrama sangat dekat dari sini," tolak Mentari sopan.
"Tari ayolah," Ilyas terus memaksa, bahkan dia menghadang Mentari yang hendak melangkah.
"Tolong minggirlah Ilyas!"
"Tar...Tari...aku menyukaimu, terimalah ini!" Ilyas berkata tanpa basa-basi sembari menyodorkan sebuah kado kepada Mentari.
Mentari merasa tenggorokannya tercekat, entah sejak kapan Kakak tingkatnya itu menyukai dirinya, yang dia tahu mereka berkerjasama dalam sebuah proyek penelitian. Mentari tidak pernah menganggap Ilyas lebih dari seorang sahabat dan rekan.
"Jangan asal bicara Ilyas,"
"Aku serius Tar, terimalah aku dan kita akan menjadi sepasang peneliti yang handal."
Mentari merasa kebingungan bagaimana harus bersikap terhadap Ilyas, nampak ada harapan yang begitu besar dari Ilyas terhadap dirinya.
"Maaf Ilyas, aku masih terlalu kecil untuk ini. Ak...aku...," Mentari merasa tercekat untuk melanjutkan ucapannya.
"Mentari kecil benar!" ucap Arfan dari arah belakang Ilyas.
"Kau?" tanya Ilyas ketika membalikan tubuhnya.
Ilyas mencoba mengingat-ingat wajah Arfan yang pernah menemui mereka ketika seminar waktu itu. Sedangkan Mentari tersenyum senang karena kedatangan Arfan, pria matang yang dia rindukan beberapa hari ini. Mentari merasa semangatnya kembali, padahal tadi dia merasa sangat murung.
"Tari kenapa paman kamu bisa ada disini?" tanya Ilyas.
"Ayo aku antarkan kau ke asrama!" ajak Arfan kepada Mentari tanpa memperdulikan Ilyas.
Arfan menggandeng tangan Mentari dan membawanya pergi dari hadapan Ilyas.
"Maafkan aku Ilyas, aku harus pergi."
Ilyas hanya bisa memandangi Mentari yang berlalu dari hadapannya bersama Arfan.
Arfan membawa Mentari ke sebuah toko buku, Arfan tahu jika Mentari sangat menyukai buku sama seperti dirinya.
"Kau pilih saja mana yang kau suka!" perintah Arfan begitu mereka sudah masuk ke dalam toko buku yang tidak jauh dari kampus.
Mentari mengikuti Arfan, memilih-milih buku yang dia sukai. Namun, Mentari meletakkan kembali semuanya ke tempatnya.
Mentari merasa tidak pantas sebab diantara dia dan Arfan tidak punya hubungan apapun, tentu dia tidak mau jika Arfan yang akan membayar untuknya. Mentari hanya mengambil beberapa buku yang akan dibayarnya di kasir.
"Kenapa diletakkan kembali?" tanya Arfan.
Mentari menggeleng, "Ambillah, aku yang akan membayar semuanya!"
"Tidak...tidak...tidak usah, aku masih memiliki banyak buku yang belum sempat terbaca!"
"Ini sudah cukup," ucap Mentari sambil menunjuk buku yang dia bawa.
Arfan kembali ke rak dimana tadi Mentari mengambil beberapa buku, kemudian mengambil semua buku yang tadi Mentari letakkan dan membawanya ke kasir kemudian membayarnya.
"Ini kau bisa baca semuanya!" Arfan memberikan kantong berisi buku yang dibawanya.
"Kau membelinya?"
"Tentu, untukmu!"
Mentari menerima buku-buku yang Arfan berikan kepadanya, "Terimakasih."
Kini mereka sudah sampai di depan asrama. Arfan memarkirkan mobilnya tak jauh dari halaman asrama.
"Apakah kau merindukanku?" tanya Arfan kepada Mentari.
Mentari hanya diam saja, meskipun sebenarnya dia sangat merindukan Arfan.
"Katakanlah!" desak Arfan.
Mentari mengangguk, "Maafkan aku karena aku pergi tanpa berpamitan kepadamu," ucap Arfan.
"Kau dari mana?"
"Spanyol...,"
Mentari menggebungkan pipinya, dia tampak begitu menggemaskan bagi Arfan.
"Bersiaplah...akhir pekan aku akan ajak kau menemui Nenek," janji Arfan kepada Mentari.
"Benarkah?" tanya Mentari dengan wajah berbinar.
"Tentu saja, Nenek sangat menyayangimu!" ucap Arfan.
"Aku juga mulai menyayangimu Mentari kecil," ucap Arfan di dalam hatinya.