My Old Star

My Old Star
#42 Sesuatu yang Janggal



Kekek Mahmud memberikan tisu untuk Arfan, "Kamu tidak apa-apa Fan?" Tanya Kakek Mahmud.


"Aku baik-baik saja kek," jawab Arfan sambil mengelap wajahnya.


"Apa kamu mengetahui sesuatu mengenai nama itu?"


"Em... sebenarnya aku...," Arfan belum melanjutkan kalimatnya karena mendengar teriakan dari Steven yang tertidur di kamar memanggil mamanya.


"Aku tinggal dulu kek, sebaiknya kakek beristirahat karena hari sudah larut. Nanti kita pikirkan bersama bagaimana caranya kita bisa menemukan mereka." Arfan beranjak meninggalkan kakek Mahmud karena khawatir Steven menangis.


"Terimakasih atas kebaikanmu Fan," kakek Mahmud juga beranjak untuk menuju ke kamarnya.


"Stev kamu kenapa?" Arfan memeluk Steven.


"Stev bermimpi ada orang yang mau memisahkan Stev dari mama, orang itu mengaku sebagai papa Stev, tapi bukan papa Tomi." Steven menangis tersedu-sedu.


"Stev mimpi itu hanyalah bunga tidur, percayalah tidak akan ada yang bisa memisahkan Stev dari mama. Sekarang Stev bobo lagi ya, uncle akan temani Stev. Besok kita akan jalan-jalan bersama Kak Mentari, jadi Stev harus bobo agar bisa bangun pagi."


Arfan menyelimuti Steven dan menemani anak itu tidur.


****


Mentari tengah bersiap untuk bermain dengan Steven hari ini tatkala ibunya masuk ke dalam kamarnya.


"Tari ibu dan ayah akan pergi ke rumah Bintang, mungkin malam baru kembali," Bu Kartika berpamitan kepada Mentari.


"Bolehkah aku nanti pulang ke asrama bu?"


"Tidak bisa, masa hukumanmu belum selesai mau tidak mau setiap hari kamu harus pulang ke rumah ini!"


"Bu... aku mohon, aku tidak berani jika harus tinggal di rumah sendirian." Mentari memohon karena traumanya belum sepenuhnya hilang.


"Kalau begitu kamu ikut kami saja, bukankah hari ini libur?"


Mentari teringat akan janjinya kepada Steven, tidak mungkin jika Mentari tiba-tiba membatalkannya dan memilih ikut pergi bersama orangtuanya.


"Aku ada janji bu bersama Siska dan yang lainnya, tidak mungkin kalau aku membatalkannya."


"Ya sudah ibu dan ayah akan usahakan pulang lebih awal. Sekarang ayo turunlah, kita sarapan dulu!"


Selesai sarapan Mentari diantar oleh orangtuanya ke asrama untuk menjemput Siska. Mereka akan pergi ke rumah nenek Wijaya karena Arfan mengabari jika Steven ada di sana.


"Kak Mentari akhirnya kau datang, Stev sudah menunggu dari tadi kak."


"Iya Stev maafkan kakak ya karena terlambat datang ke sini." Mentari mengacak rambut Steven pelan.


Mentari dan Siska menyapa semua orang yang ada di dalam rumah nenek Wijaya. Hingga sampai pada seorang laki-laki yang tampak berusia tidak jauh dari nenek Wijaya. Mentari merasa sangat asing dengan laki-laki itu.


"Mentari kenalkan ini kekekku, adik dari nenek. Kami sudah sangat lama terpisah dan baru bertemu kembali." Arfan memperkenalkan kakek Mahmud kepada Mentari.


"Aku Mentari kek," Mentari menyalami kakek Mahmud yang disusul oleh Siska, "Aku Siska kek,"


Kakek Mahmud memandang ke arah Arfan, "Mentari calon istriku kek!" Arfan menjawab tatapan kakek Mahmud dengan menjawab keingintahuan orangtua itu.


"Kalau yang satunya tanya sendiri deh kek bagaimana hubungannya dengan sahabatku!" Arfan tertawa meledek sedangkan Siska tersipu malu.


"Dia ini calon cucu menantu kesayanganku, baru pertama kali ini Arfan mencintai seorang gadis seumur hidupnya." Nenek Wijaya ikut memperkenalkan Mentari kepada adiknya.


"Kalau begitu kamu pasti bukan gadis sembarangan," kakek Mahmud memuji Mentari.


Seharian mereka bermain di rumah nenek Wijaya hingga membuat Steven melupakan sejenak mamanya.


Bunyi panggilan telfon terdengar begitu nyaring ke dalam ponsel Arfan ketika mereka sedang bermain di taman belakang.


"Hallo...," ucap Arfan saat telfon tersambung.


"Fan apakah Steven baik-baik saja?" Tanya Sania.


"Dia baik bahkan dia sangat penurut."


"Apa kau menindasnya?" Tanya Sania menyelidik.


"Menindas anak kecil bukan keahlianku Sania!"


"Baiklah bagaimana kalau kamu segera menikah saja dan memiliki seorang bayi, jadi Steven bisa memiliki teman untuk dia ajak bermain dan dia tidak harus bermain dengan pria lapuk sepertimu." Sania tertawa puas berhasil membuat Arfan kesal.


"Heh... pria lapuk katamu?"


"Apa tujuanmu menghubungiku malam-malam begini, cepat katakan!"


"Ah ya... hampir saja lupa."


"Tomi besok sudah boleh pulang jadi tolong bawa Steven ke sini ya, biar Tomi merasa bahagia karena Steven menjemputnya."


"Baiklah akan aku lakukan!" Arfan menutup panggilan dari Sania dan kembali ke halaman belakang untuk memanggil semuanya makan malam.


Steven sedikit cemberut, "Iya kak, tapi janji ya kapan-kapan main lagi dengan Stev," pintanya.


"Kakak janji sayang, sekarang bobo dulu ya bukankah besok mau jemput papa?"


"Iya kak, Stev juga mau daftar sekolah di sini. Berkas-berkas kepindahan Stev sudah sampai tadi siang kata kak Dio."


"Benarkah itu Stev? Baguslah kalau begitu kita akan sering bermain bersama."


Steven kemudian masuk ke dalam kamar, Mentari dan Siska sebelum pergi berpamitan kepada nenek dan kakek Arfan.


"Apa tidak sebaiknya aku antarkan kalian?"


"Tidak usah kak, kita sudah pesan taksi kok. Kasihan Stev kalau ditinggal kamu terlalu lama."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa cepat hubungi aku."


"Kabari aku kalau sudah sampai di rumah!" Arfan melambaikan tangan untuk melepas kepergian Mentari dan Siska, namun Arfan merasa ada sesuatu yang janggal.


Sebuah mobil tampak mengikuti taksi yang Mentari dan Siska tumpangi ke luar dari gang yang sama dengan mereka. Awalnya Arfan merasa jika itu hal wajar karena di jalan tentu saja banyak mobil yang bersliweran seolah mengikuti mereka.


Arfan sudah masuk ke dalam kamar untuk menemani Steven yang sudah terlelap, seharian bermain membuat anak itu kelelahan dan tidur cepat.


Arfan merebahkan dirinya di atas ranjang, namun suasana hatinya semakin tidak enak. Dia terduduk, di pelupuk matanya hanya ada Mentari. Di saat bersamaan Siska baru saja sampai di depan asrama, sedangkan Mentari akan pulang ke rumahnya. Mobil yang mengikuti mereka terus membuntuti taksi yang membawa Mentari.


Arfan bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya, "Nek aku titip Steven sebentar!" ucap Arfan terburu-buru.


"Kau mau ke mana Fan?"


Arfan sudah tidak menjawab pertanyaan neneknya, dia buru-buru mengeluarkan mobilnya dari garasi dan memacunya dengan kecepatan tinggi.


"Dasar anak muda, baru berpisah sebentar saja sudah tidak bisa menahan rindu!" nenek Wijaya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi bahagia.


"Biarkan sajalah mereka, tugas orangtua hanyalah mendo'kan."


"Kau benar Mahmud."


Nenek Wijaya dan kakek Mahmud kembali fokus dengan opera lawas yang sedang mereka tonton, tidak lupa dengan pesan Arfan untuk menjaga Steven siapa tahu anak itu terbangun dan mencari-cari mamanya seperti tadi malam.


Di jalan mobil Arfan melewati mobil yang di kendarai oleh ayah Mentari.


"Yah lihat itu mobil yang baru saja menyalip kita sepertinya mobil pria tua itu."


"Ibu bukankah dia punya nama, tidak baik memanggilnya seperti itu." Tegur Pak Mahendra kepada istrinya.


"Terus saja belain dia Yah dibanding istrimu sendiri,"


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, ayah capek pengin segera sampai di rumah dan beristirahat! Pak Mahendra kembali fokus menyetir dan tidak memperdulikan istrinya yang masih mengomel tidak jelas.


Mentari sudah sampai di depan rumahnya, dia masuk dan mengunci pintu dari dalam. Baru saja Mentari hendak melangkah menuju ke kamarnya, terdengar bunyi pintu depan di ketuk oleh seseorang. Mentari yang tidak curiga langsung membukakan pintu untuk Ilyas setelah melihat dari lubang pintu jika Ilyas yang datang bertamu.


"Hai Yas, ada apa malam-malam begini ke sini?" Tanya Mentari begitu pintu terbuka.


Ilyas tersenyum sinis, "Cepat tangkap dia!"


Dari belakang punggung Ilyas muncullah dua orang tinggi kekar seperti Bodyguard, mereka mematuhi perintah Ilyas untuk menangkap Mentari.


Salah satu dari mereka sejak kemarin sudah mengamati gerak gerik Mentari dan selalu mengikuti ke manapun Mentari pergi dan melaporkan setiap pergerakan gadis yang dia intai kepada Ilyas.


"Apa-apaan kalian, jangan macam-macam atau aku teriak!"


"Teriak saja Mentari karena tidak akan ada orang yang mendengarmu!" Ilyas tertawa.


"Cepat tangkap dia!"


Mentari memberontak, namun tubuh kecilnya tidak sanggup melawan dua orang suruhan Ilyas.


Dua orang itu membawa Mentari masuk ke dalam kamarnya dengan paksa, selanjutnya Ilyas ikut masuk ke dalam.


"Kalian ke luarlah dan jaga di depan, halangi siapa saja yang datang!"


"Baik Bos!"


Ilyas menutup pintu kamar Mentari dan menguncinya dari dalam.


"Mau apa kau sebenarnya hah?!!!"


"Aku mau kamu Mentari!"


"Tidak Ilyas jangan lakukan itu!" Ilyas terus mendekat ke arah Mentari.


Sedangkan gadis itu mencoba melempar apa saja barang-barang yang ada di kamarnya ke arah Ilyas.