My Old Star

My Old Star
#104 Berputar Setengahnya



Arfan tiba di rumah hampir subuh, dia membawa kunci sendiri sehingga tidak perlu membangunkan Mentari untuk bisa masuk ke dalam rumah. Arfan mengambil air minum di dapur sebelum menuju ke kamarnya.


Arfan membuka penutup makanan yang ternyata masih utuh, piring juga masih bersih yang artinya Mentari tidak makan malam karena dirinya tidak ada di rumah.


"Mentari pasti menungguku!"


Arfan menaiki tangga dan membuka pintu kamar yang juga tidak terkunci dari dalam. Mentari tertidur tanpa mengenakan selimut, sisa air mata masih melingkupi pipinya. Mentari menangis sampai terlelap tanpa sadar.


Arfan berjongkok di depan istrinya yang terlelap, "Maafkan aku sayang, kamu pasti menungguku bukan?" Arfan mencium kening Mentari dan mengambil ponsel di dada istrinya, sebab tidak biasanya Mentari tertidur dengan ponsel masih dalam genggaman. Arfan menyelimuti tubuh Mentari dengan selimut yang cukup tebal agar dia tidak kedinginan.


Arfan membuka ponsel Mentari karena merasa penasaran, betapa terkejutnya dia ketika membaca headnews yang tadi juga Mentari baca.


"Pasti hal ini yang membuat Mentari bersedih!" tebak Arfan karena berita itu sungguh tidak bisa dipertanggungjawabkan.


"Bos besar itu sungguh tidak bisa dipercaya ataukah ini sebuah provokasi?" Pikir Arfan.


Arfan berpikir jika berita tersebut sengaja dibuat untuk membuatnya sibuk dan tidak fokus dengan tim karena urusan pribadinya.


Arfan tersenyum miring, "Sungguh licik!"


Arfan berbaring di samping Mentari setelah membersihkan dirinya, dia tidak bisa terlelap selain karena hari sudah hampir pagi juga karena dia tidak tahu apa yang harus dia jelaskan kepada istrinya ketika nanti mereka terbangun.


Di apartemen, Mona geram karena dia juga membaca berita itu. Bisa-bisanya bos Zaki meminang Arfan sebagai menantunya, padahal Arfan saat ini sudah menikah. Akan semakin banyak pesaing dirinya untuk mendapatkan Arfan.


Mona tiba-tiba terbersit sebuah pemikiran, jika mungkin saja dia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk bisa memisahkan Arfan dengan Mentari. Dia harus bisa menyusun rencana dan menyelidiki siapa anak dari bos club itu yang bisa dia jadikan umpan.


Mona menelfon seseorang yang dia perintahkan untuk menyelidiki keluarga orang yang sedang dia incar.


"Lakukan segera dan berikan informasinya kepadaku!" perintah Mona dari balik sambungan telfonnya.


Menjelang pagi, Mentari terbangun dari tidurnya. Dia melihat Arfan sudah berada di sisinya, entah jam berapa Arfan sampai di rumah dan dia tidak mengetahuinya.


Mentari segera melaksanakan rutinitas paginya, dia masih teringat dengan berita tadi malam. Matanya ternyata sembab dan harus segera di kompres agar Arfan tidak tahu jika dirinya habis menangis semalam.


Mentari pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sedangkan Arfan masih tertidur pulas sebab dia baru bisa tidur setelah sholat subuh tadi.


Mentari kembali ke kamar setelah menyelesaikan semuanya, dia tidak berani membangunkan Arfan yang tampak sangat lelah. Guratan di wajahnya menyiratkan banyak beban yang harus dia pikul.


Mentari berkemas untuk berangkat ke kampus, dia memesan taksi online, menuliskan sebuah pesan untuk Arfan yang dia letakkan di atas nakas dan kemudian pergi ke kampus tanpa membangunkan suaminya.


Tengah hari Arfan terbangun dan mendapati jika sisi ranjang di sebelahnya telah kosong. Arfan terduduk di tepi ranjang melihat jika hari sudah berputar setengahnya. Arfan mencari-cari istrinya namun tidak menemukan Mentari dimanapun.


Arfan memeriksa setiap sudut rumah dengan masih mengenakan piyama tidurnya, namun tidak menemukan tanda-tanda adanya Mentari di rumah itu.


Makanan juga sudah siap di atas meja, masih utuh.


"Kemana Mentari, kenapa dia tidak membangunkanku?" Pikirnya.


Arfan teringat jika kemarin Mentari dan Reza sempat membicarakan soal penelitian yang belum sempat Arfan tanyakan langsung kepada Mentari.


Arfan membulatkan bola matanya, "Tidak... tidak mungkin jika Mentari pergi tanpa memberitahuku!" gumam Arfan menyangkal kenyataan jika dia tidak bisa membiarkan Mentari pergi begitu saja bahkan dengan lokasi penelitian yang tidak dia tahu sama sekali.


Arfan berkali-kali menghubungi Mentari namun tidak mendapatkan jawaban, pesannya pun tidak dibalas karena dibacapun tidak oleh istrinya.


"Sebenarnya kemana dia, kenapa begitu sulit untuk sekedar menjawab telfon atau membalas pesan?"


Di titik ini, Arfan mulai frustasi. Panik kini di rasakan olehnya, dia lari naik ke kamarnya kembali untuk membersihkan diri.


Keluar dari kamar mandi, Arfan baru teringat jika Siska mungkin bisa memberikan informasi kepadanya. Arfan mendekati nakas untuk mengambil ponselnya dan terlihatlah secarik kertas yang dilipat dan diletakkan di bawah ponsel miliknya.


Arfan membuka surat itu dan membaca isinya.


Kak aku pergi ke kampus, maaf aku tidak berani membangunkanmu.


Mungkin hari ini aku akan sibuk jadi maafkan aku jika sulit untuk dihubungi karena aku menyimpan ponselku untuk sementara.


Aku sudah siapkan sarapan, jika kakak bangun nanti jangan lupa makan ya sebab kalau kakak tidak makan aku pasti akan sedih.


Mentari


Arfan membaca kata demi kata yang Mentari tuliskan, sendi-sendinya kini terasa lemas setelah beberapa saat tadi sempat menegang karena kekhawatiran yang cukup tinggi.


Arfan duduk di meja makan untuk mengisi perutnya yang mulai lapar, dia menatap kursi kosong di depannya yang biasa digunakan Mentari untuk duduk.


"Sayang jika kamu benar-benar pergi, aku mungkin tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyusulmu sebab tidak melihatmu saja barang sejenak seakan membuatku menjadi gila." Arfan bebicara dengan bangku kosong di depannya.


Arfan baru saja menyelesaikan makannya dan mencuci piring yang tadi dia gunakan. Terdengarlah bunyi bel pintu depan di pencet oleh seseorang.


Arfan ke depan untuk membukakan pintu untuk tamunya yang terkesan tidak sabar karena memencet bel sampai berkali-kali.


"Kenapa kamu kemari An, bukankah hari ini kamu seharusnya ada di kampus?" Tanya Arfan begitu melihat Marryana ada di depan pintu rumahnya.


"Apa kamu pikir aku bisa tenang sebelum menemukanmu, aku tidak melihatmu di kampus hari ini. Jadi mana mungkin aku bisa tahan menunggumu sampai kamu datang Fan!" Marryana berbicara dengan nafas yang tidak beraturan seolah ada hal besar yang terjadi dan terburu-buru untuk segera dia sampaikan kepada Arfan.


"Istriku sedang tidak ada di rumah, jadi sebaiknya kita berbicara di teras saja!"


"Kamu pikir aku masih menginginkanmu, sehingga kamu berprasangka buruk kepadaku akan mengambil kesempatan dalam kesempitan?" Marryana sangat kesal karena Arfan mencegahnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Aku hanya antisipasi saja An, tidak ada maksud lain!" Arfan berbicara sangat datar dan tanpa ekspresi kemudian duduk di kursi yang ada di teras rumahnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Marryana duduk bersebrangan dengan Arfan, "Katakan apa yang mau kamu sampaikan An?!"


"Ini soal Papiku Fan, kamu sudah membaca beritanya?"


Arfan mengangguk, "Aku sudah membacanya semalam."


"Benarkah dia mendatangimu?"


"Tentu saja benar, jika tidak benar mana mungkin akan muncul berita itu An!"


"Papiku benar-benar membuatku merasa tersudut, apa dia menganggapku tidak laku sampai harus meminang suami orang untuk dia jadikan sebagai menantu, bahkan rela jika anaknya menjadi istri kedua!"


"Sudut pandang orang tua dan sudut pandang kita itu berbeda An, tapi yang jelas Papi kamu mengingikan yang terbaik untuk kamu An."


"Lalu apa jawaban kamu Fan?"


"Aku memiliki sudut pandangku sendiri An, bukankah kamu juga sudah mengatakan kepadaku jika kamu menginginkan Zaki dan akan melepasku?"


"Apa itu artinya kamu menolakku?"


Arfan tersenyum, "Aku hanya ingin memiliki seorang istri, Mentari bagiku sudah lebih dari cukup!"


Marryana tampak sedikit kecewa mendengar jawaban dari Arfan sebab itu artinya jika dirinya tidak pernah ada di hati Arfan barang sekalipun.


"Aku harus ke kampus sekarang, apakah kamu mau ikut sekalian An?" Arfan menarik jam di pergelangan tangannya yang ada di balik kemeja lengan panjang yang dia kenakan.


"Aku bawa mobil sendiri Fan, lagi pula aku ada kepentingan lain yang harus segera terselesaikan."


"Baiklah An, minta pada Papimu untuk menarik berita itu, jika tidak maka kamulah yang akan menanggung sendiri malunya!"


Marryana menggigit bibir bawahnya, tergambar kecemasan di sudut mata bening miliknya.


"Aku pergi dulu An, jaga dirimu baik-baik!"


Arfan melajukan mobilnya di jalan besar setelah berpisah jalan dengan Marryana. Saat ini tujuan wanita itu adalah ke club milik Papinya, dia harus bertemu dengan Zaki segera agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka setelah tersebarnya berita semalam yang terkesan sangat meresahkan bagi dirinya.


Mona baru saja mendapatkan informasi dari orang yang dia perintahkan untuk melakukan penyelidikan.


"Marryana?" Baca Mona.


"Benarkah Marryana putri dari pemilik club itu, kenapa dia tidak pernah memberitahuku sebelumnya?"