My Old Star

My Old Star
#134 Pesan Ayah



Mentari masuk ke dalam ruang tempatnya tadi beristirahat, dia mendapati suaminya tengah tertidur sangat pula, sepertinya Arfan sangat lelah, setelah pulang dari luar negeri bahkan dia tidak sedikitpun beristirahat.


Mentari duduk di samping Arfan dan mengusap wajah damai suamianya itu. Laki-laki yang sejak awal pertemuannya sudah membuat hatinya berdebar-debar tak menentu.


"Terimakasih sudah menjaga dan melindungiku sejauh ini Kak!" ucap Mentari lirih.


Mentari membelai alis mata Arfan yang tebal dan terlihat sangat tegas, dia merasa kasihan terhadap Arfan karena dia banyak menanggung beban yang berat bahkan sejak awal pertemuan mereka.


Mentari merebahkan dirinya kembali di samping Arfan, dia memejamkan matanya untuk beristirahat beberapa waktu sambil menunggu Arfan terbangun.


Mentari yang tengah hamil tua memang sudah sangat sulit untuk tidur, posisi yang dulu sangat nyaman untuknya ketika tidur tidak lagi dapat dia rasakan saat ini. Kondisinya memang kian melemah namun semangatnya tidak pernah putus untuk selalu mengerjakan hal-hal yang dia sukai.


Sekitar pukul sepuluh pagi, Arfan terjaga dari tidurnya sebab cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela menyilaukannya dan membuatnya harus terbangun.


Arfan juga sudah merasa cukup untuk beristirahat, badannya sudah lebih fresh ketimbang tadi pagi.


"Terimakasih Mentari sayang," Arfan mencium wajah ayu istrinya yang masih terlelap, tidak lupa dia mencium perut Mentari yang membuncit.


"Anakku sayang, baik-baik ya di dalam perut Ibumu. Kami sudah tidak sabar menantimu hadir ke dunia ini." Ucap lirih Arfan di perut Mentari yang kemudian beranjak turun dari tempat tidur untuk segera membersihkan diri.


Arfan kembali ke dalam ruang dimana mereka tadi beristirahat, dia mendapati Mentari sudah duduk di tepian ranjang.


"Kau sudah bangun sayang?" Tanya Arfan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Mentari tersenyum begitu melihat suaminya masuk, "Kau pasti sangat lelah Kak!"


"Jangan khawatirkan aku sayang, sana bersihkan dirimu dulu. Aku sudah pesan sarapan untuk kita, sepertinya sebentar lagi akan sampai." Arfan mengusap puncak kepala Mentari dan berbisik dengan lembut.


Mentari mematuhi perintah suaminya untuk segera membersihkan diri. Sekembalinya Mentari, ternyata Arfan sudah menyiapkan teh hangat untuk Mentari di atas meja sedangkan dirinya memilih meminum kopi hangat dengan sedikit gula.


"Sini duduklah sayang, kita tunggu makanannya datang." Arfan menepuk kursi di sebelahnya agar Mentari duduk.


Tidak seberapa lama ada notifikasi masuk ke dalam ponsel Arfan yang memberitahunya jika sarapan mereka sudah sampai.


"Kau tunggu di sini ya, minum tehmu. Aku akan ke bawah sebentar mengambil pesanan kita!"


Arfan meninggalkan Mentari untuk mengambil makanan mereka di bawah. Usai membayar via aplikasi, Arfan meninggalkan kurir yang mengantar makanan mereka setelah mengucapkan terimakasih dan memberikan sedikit tambahan pembayaran kepada kurir tersebut.


Arfan melewati kubikel para karyawan di perusahaan Neneknya yang hari ini kosong karena semua diliburkan olehnya.


Arfan berhenti sejenak, dia membayangkan jika semua masalah yang mereka hadapi tidak segera diselesaikan maka perusahaan yang Nenek dan Kakeknya bangun dengan susah payah pasti hanya akan tinggal kenangan.


Arfan mengepalkan tangannya, dia merasa tidak habis pikir dengan Mona yang selalu saja ingin menghancurkan kebahagiaan keluarganya dengan berbagai macam cara.


Mona seolah tidak pernah merasa puas, sebelum Arfan dan keluarganya benar-benar hancur setelah apa yang Mona inginkan selalu ditolak mentah-mentah olehnya.


"Aku tidak akan pernah melupakan semua yang telah kamu lakukan kepadaku Mona, tidak akan pernah!"


Arfan mengatur nafasnya kembali, dia harus tetap tenang. Perlahan Arfan masuk ke dalam lift untuk kembali ke ruangan paman Faisal, dia tidak mau Mentari menunggu terlalu lama.


Arfan masuk ke dalam ruangan dimana Mentari sedang menikmati teh hangatnya sembari rebahan di sofa.


"Kamu sudah semakin kewalahan sepertinya sayang," Arfan tersenyum.


"Aku baik-baik saja Kak." Jawab Mentari tidak ingin membuat Arfan khawatir.


"Kenapa wajah Kakak merah?" Tanya Mentari yang melihat perbedaan wajah Arfan ketika keluar tadi dengan saat ini.


Arfan memegang wajahnya, "Oh ini, mungkin tadi sedikit lari-lari jadi panas sayang." Jawab Arfan berbohong.


"Sekarang kita sarapan dulu, kita harus ke rumah sakit menjenguk Paman Faisal sayang!"


Mentari mengangguk mematuhi perkataan suaminya.


Mereka makan dalam diam, Mentari menikmati sarapannya dengan perasaan tidak menentu. Mentari yakin jika Arfan sedang menanggung sebuah beban di pikirannya.


"Kak katakan kepadaku, apa sebenarnya yang sedang Kakak pikirkan." Mentari memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Aku tidak memikirkan apapun sayang, cepat makanlah jangan berpikiran macam-macam!"


"Fan, Paman tidak pernah bisa membuka lemari itu. Kata Nenekmu ada sebuah berkas penting di dalamnya, namun tidak ada seorangpun yang bisa membukannya bahkan Nenekmu pun tidak bisa melakukannya, satu-satunya orang yang bisa membuka lemari itu adalah mendiang Ayahmu." Arfan teringat ucapan Paman Faisal kepadanya saat dia baru pulang dari luar negeri dan berkunjung ke perusahaan Nenek.


Saat itu, Arfan tidak terlalu perduli mengenai semua itu sebab dia tidak tertarik sama sekali dengan perusahaan. Namun, kali ini Arfan merasa dia yang harus bisa menjaga perusahaan milik keluarganya setelah banyak peristiwa yang terjadi, tentu hanya mengandalkan Paman Faisal saja tidaklah cukup.


"Aku sudah selesai sayang, aku akan memeriksa sesuatu sebentar. Kau teruskan saja makannya ya, jangan terburu-buru."


Arfan bangkit dari duduknya, meninggalkan Mentari yang belum menyelesaikan makanan yang sedang dia nikmati perlahan. Arfan berjalan mendekat ke arah sebuah lemari besi. Tiba-tiba saja dia ingin mencoba untuk membuka lemari itu karena penasaran dengan isi yang ada di dalamnya.


Arfan mencoba membuka kunci lemari itu dengan sidik jarinya dan ternyata cocok. Sesuatu hal yang sangat mengejutkan bagi dirinya.


"Aneh sekali kenapa aku bisa membukanya?" Tanya Arfan pada dirinya sendiri.


"Apa ini yang Nenek maksudkan?"


"Perusahaan ini sebenarnya adalah milik Ayah dan Ibuku?" Arfan semakin penasaran, sebab yang dia tahu Ayah dan Ibunya meninggal saat dia masih sangat kecil.


Arfan menemukan sebuah berkas yang disimpan sangat rapi di dalam lemari itu, tangan Arfan terasa gemetar saat dia membuka lembar demi lembar dokumen yang membuatnya menemukan sebuah fakta.


"Akta perusahaan ini atas namaku?"


"Apa maksudnya semua ini?"


Arfan menemukan secarik kertas yang berisi pesan dari mendiang Ayahnya, pesan yang ditulis menggunakan tangan.


Arfan anakku, maafkanlah Ayah dan Ibumu ini jika ketika saat kau besar nanti tidak menemukan kami berada di sisimu, kami mungkin telah tiada namun do'a kami akan selalu menyertaimu. Kami titipkan engkau kepada sang Pemilik Hidup dan pengatur segala kehidupan disaat penjagaan kami tak sampai kepadamu Nak.


Arfan sayang ketika kau dapat membaca tulisan Ayahmu ini, disaat itulah kami menyerahkan apa yang kami miliki kepadamu, begitu pula dengan perusahaan ini. Kami berharap engkau bisa menjadi pewaris yang mampu mengembangkan perusahaan dengan baik. Jagalah perusahaan ini dengan sepenuh hatimu, kami mengandalkanmu Nak.


Ingatlah Nak, jika di luar sana banyak orang-orang yang tidak menyukai kesuksesan kita. Maka berhati-hatilah, sebab sesuatu yang terlihat baik belum tentu sebenarnya baik dan sesuatu yang terlihat buruk belum tentu buruk pula kenyataannya. Sebab, dalamnya lautan dapat kita gali, namun dalamnya hati manusia tidak dapat kita selami.


Ingatlah pula bahwa, musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Maka, tetaplah bijak dan selalu hargailah orang lain, jangan pandang mereka dari sebelah sisi namun pandanglah dari berbagai macam sudut.


Ayah dan Ibu mencintaimu Nak, tumbuhlah besar dan bijak. We Love U so much 💗💗💗


Arfan tersungkur ke lantai saat membaca tulisan tangan Ayahnya, air matanya mengalir begitu saja. Dia yang tidak pernah perduli dengan perusahaan ternyata memiliki tanggungjawab besar yang harus dia pikul.


"Maafkan aku Ayah, maafkan aku Ibu. Selama ini aku masih sibuk dengan urusanku hingga lupa dengan apa yang sebenarnya menjadi tanggungjawabku." Arfan masih terus menangis di lantai.


Mentari yang melihat suaminya tidak baik-baik saja, berlari ke arah Arfan dan memeluk suaminya itu agar bisa lebih tenang.


Mentari membaca tulisan di dalam kertas yang dipegang oleh Arfan setelah mengambilnya dari tangan Arfan.


Mentari ikut menangis sesenggukan, "Kak jangan sedih lagi, kita mulai semuanya dari awal. Ayah dan Ibu pasti akan sangat bahagia di atas sana jika melihat Kakak berhasil menjaga perusahaan ini dengan baik Kak."


"Mentari aku hampir saja menghancurkan semuanya, aku tidak tahu bagaimana aku harus meminta maaf kepada Ayah dan Ibu juga Nenek."


"Kak ini bukan salahmu, jadi lebih baik sekarang kita perbaiki semuanya."


Arfan memeluk Mentari lebih erat, "Bantu aku memulainya sayang."


"Pasti Kak, aku akan selalu berada di belakangmu dan mendukung semua yang kau lakukan selama itu sesuatu hal yang baik."


"Sebaiknya Kakak simpan lagi dokumen-dokumen itu karena kita harus ke rumah sakit menjenguk Paman Faisal."


"Kau benar Mentari, kita harus memberitahu Paman Faisal jika kita sudah berhasil menyelamatkan perusahaan. Paman Faisal harus segera pulih dari sakitnya."


Arfan menyimpan kembali dokumen yang tadi diambilnya, dia hanya mengambil kertas berisi pesan yang Ayahnya tuliskan untuknya kemudian mengunci lemari besi itu kembali.


"Ayo Mentari sayang, sebaiknya kita bergegas."


Arfan menggandeng tangan istrinya kemudian meninggalkan perusahaan yang hari ini berhenti beroperasi sehari dan akan aktif kembali esok hari.


"Mentari apakah ini saat yang tepat untukku masuk ke dalam perusahaan?" Tanya Arfan saat keduanya masih setengah perjalanan menuju ke rumah sakit.


Mentari menjawab pertanyaan Arfan dengan seulas senyumnya yang menawan.


"Lakukan apa yang kau sukai Kak, jika masuk ke perusahaan adalah jalan yang kau pilih maka aku tahu jika pilihan itu adalah pilihan yang tepat menurutmu." Mentari membatin sembari memandang lekat wajah suaminya yang terlihat sangat lelah.