
Arfan tersenyum melihat ekpresi Mentari yang terlihat menggemaskan, gadis itu berlari ke kamarnya karena merasa malu. Ibu Ilyas yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam kamar akhirnya ke luar menghampiri Arfan yang sedang berdiri menghadap arah yang berlawanan dengannya.
"Kalian memang sangat serasi nak, ibu akan sangat bahagia jika kalian bisa segera menikah, maafkan anak ibu yang pernah mengganggu hubungan kalian dan hampir saja rusak karena ulahnya, anak itu memang tidak tahu diri. Ibu telah salah dalam merawat dan mendidiknya selama ini." Ucapan ibu Ilyas membuat Arfan membalikkan tubuhnya menatap lawan bicara di belakangnya.
"Bu jangan pernah berkata seperti itu, pasti ada hikmah di balik semua ini. Ibu tidak boleh menyalahkan diri sendiri karena semua yang terjadi bukan salah ibu dalam merawat Ilyas. Aku yakin Ilyas adalah anak yang baik hanya saja dia sedang salah dalam memilih jalan, sehingga lebih mengedepankan ego ketimbang hati nuraninya sendiri."
Ibu Ilyas sangat terharu, dia bisa tinggal bersama orang-orang baik seperti Arfan, meskipun anaknya telah berbuat jahat tetapi tidak menutup hati nuraninya untuk menolong sesama. Ibu Ilyas bertekad akan mengabdi pada Arfan untuk membalas budi baiknya.
Saat makan malam, Arfan memperkenalkan Ibu Ilyas kepada semua yang ada di club termasuk Steven yang menyambut orangtua itu dengan sangat gembira, anak itu merasa punya nenek saat ini.
"Maafkan aku bu, jika di sini kurang nyaman karena suasananya akan sangat ramai jika anak-anak sedang berkumpul."
"Ibu justru bahagia bisa berkumpul bersama kalian semua, paling tidak ibu akan sedikit melupakan Ilyas sejenak."
Steven mendekat ke arah ibu Ilyas, "Bolehkah aku memanggilmu nenek?"
"Tentu saja sayang," jawab Ibu Ilyas.
"Nama kamu siapa anak ganteng?" Imbuhnya.
"Namaku Steven nek, panggil saja aku Stev!"
"Iya Step," jawab ibu Ilyas kesusahan memanggil nama Steven.
"Stev nek bukan Step!" protes Steven yang membuat semua orang yang ada di meja makan tertawa karena wajah imut Steven yang merasa kesal neneknya kesusahan mengucapkan huruf V pada namanya.
Suasana di meja makan malam ini terasa sangat hangat, semua larut dalam canda tawa. Ibarat sebuah keluarga yang utuh dan Arfan seolah menemukan kembali keluarganya, meskipun tanpa nenek di sampingnya saat ini. Tiba-tiba Arfan merindukan neneknya.
Hari ini Arfan mulai masuk kembali ke kampus, setelah mengantarkan Mentari sampai di depan fakultas gadis itu, Arfan menuju ke tempat yang sudah sangat lama dia rindukan. Kampus yang beberapa bulan ini dia tinggalkan.
Beberapa mahasiswa yang mengenalnya menyapa Arfan dengan ramah, mereka sangat menghormati Arfan yang meskipun mereka anggap sebagai dosen yang killer tetapi mereka menyukai Arfan yang selalu objektif dalam memberikan penilaian sehingga benar-benar di dasarkan dari kemampuan setiap mahasiswa bukan karena kedekatan mereka dengan Arfan.
Sedekat apapun jika kemampuannya belum maksimal maka Arfan akan memberikan nilai sesuai dengan takaran yang objektif.
"Selamat datang kembali pak Arfan!" Pak Dekan menyambut Arfan begitu melihatnya memasuki ruangan.
"Terimakasih pak, berkat dukungan dari bapak dan yang lainnya saya bisa terbebas dari segala tuduhan!" Arfan menjabat tangan Dekan dan ketua jurusan secara bergantian serta teman-temannya yang lain yang ada di ruangan dosen.
"Saya yakin pak Arfan memang tidak bersalah jadi kami sangat bersyukur karena anda bisa kembali lagi ke kampus ini."
Arfan memang memiliki skill yang mumpuni dalam bidang olahraga terutama futsal sekaligus dia memiliki kualitas diri yang cukup tinggi sebagai seorang dosen sehingga kampus akan sangat rugi jika menyia-nyiakan talenta yang jarang dimiliki oleh orang seperti Arfan.
Hari pertama mengajar kembali di kampus waktu terasa begitu cepat berputar bagi Arfan, mungkin kerinduannya terhadap kelas dan mahasiswa yang membuat dirinya merasa begitu.
Kini dia sudah ke luar dari kelas dan akan pergi menjemput Mentari untuk mengajaknya makan siang. Arfan akan membawa Mentari ke rumah nenek sepulang dari kampus, Arfan sudah berjanji akan mengunjungi neneknya sore ini untuk membicarakan kelanjutan rencana yang tengah mereka susun.
Di tempat lain, nenek Wijaya dan kakek Mahmud sedang berbelanja kebutuhan bulanan mereka di supermarket, biasanya mereka tidak ikut turun tangan sendiri untuk berbelanja tetapi kali ini nenek Wijaya ingin sekedar mengajak adiknya berjalan-jalan agar tidak terlalu jenuh berada di rumah terus menerus.
Kakek Mahmud sehari-hari berkebun di belakang rumah nenek Wijaya untuk menyalurkan hobi bercocok tanamnya, meskipun sejak tinggal bersama nenek Wijaya hidupnya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Namun, jika dia tidak mengerjakan apapun hidupnya akan terasa sangat membosankan.
Nenek Wijaya melihat kakek Mahmud yang biasanya ceria, akhir-akhir ini sering termenung seperti sedang merindukan seseorang sehingga nenek berinisiatif untuk mengajak kakek Mahmud pergi berbelanja untuk sekedar membuang penat pikirannya.
"Mahmud pilih saja semua yang kamu butuhkan!" ucap nenek Wijaya yang melihat adiknya tampak ragu untuk memilih apa yang dia butuhkan.
"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu Mahmud, kamu tidak perlu sungkan begitu, kita itu saudara. Cepat pilih saja dan ambil sesukamu!" nenek Wijaya mendorong adiknya untuk mengambil troli belanja dan memilih apa saja yang dia butuhkan nantinya di rumah.
Saat mengambil beberapa barang yang memang kakek Mahmud butuhkan, tidak sengaja dia menabrak seorang wanita dari arah yang berlawanan.
"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja menabrak anda!" kakek Mahmud sontak meminta maaf sebelum melihat wajah wanita itu.
"Enak saja minta maaf, lihat ini kulit mulus saya tergores troli belanjaan anda!" jawab wanita itu dengan nada yang tidak mencerminkan sebagai seorang wanita terhormat.
"Sekali lagi saya minta maaf nona!" kakek Mahmud yang masih merasa rendah diri tidak berani mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat wajah wanita yang dia tabrak tadi.
"Ada apa ini Mahmud?" Nenek Wijaya datang menghampiri adiknya karena tadi sempat mendengar sedikit ribut-ribut di sebelah tempat dia sedang berbelanja.
"Nenek Wijaya?" Ucap wanita itu.
"Nenek mengenal laki-laki ini?"
"Rupanya kamu Mona, pantas saja sepertinya aku tidak asing dengan suara orang ribut-ribut tadi!"
Mendengar nama Mona disebut oleh kakaknya, kakek Mahmud memberanikan diri untuk melihat wajah wanita itu dan betapa terkejutnya sang kakek ketika melihat wajah Mona yang ternyata adalah anak kandungnya sendiri.
"Mona?" Ucap kakek Mahmud saat benar-benar itu adalah Mona, anak yang telah meninggalkan sekaligus menguras habis seluruh hartanya bersama dengan istri durhakanya namun kakek Mahmud tetap merindukan Mona anak perempuannya.
"Benarkah ini kau Mona, anak perempuanku?" Kakek Mahmud ingin meraih tangan Mona namun ditampik oleh wanita tak berhati itu.
"Jangan asal ngaku-ngaku kamu ya orangtua, lihat apakah aku pantas menjadi anakmu hah?" Mona memelototi kakek Mahmud dan terus memakinya.
"Lihat baik-baik nak, ini aku Mahmud bapakmu!" pinta kakek Mahmud.
Mona memperhatikan laki-laki tua itu, memang benar itu adalah bapaknya, namun di dalam hatinya Mona tetap tidak mau mengakui jika itu adalah bapak yang telah dia tinggalkan bersama ibunya.
"Ngaca dong kamu kakek tua, kita itu terlalu berbeda mana mungkin jika aku itu anakmu, anda salah mengenali orang!"
"Aku akan buktikan jika aku ini bapakmu nak!"
kakek Mahmud mengeluarkan dompetnya dan ingin memperlihatkan foto Mona yang ada di dalam dompetnya untuk membuktikan bahwa Mona benar-benar anaknya.
Di titik ini Mona dibuat panik, khawatir jika rahasianya akan terbongkar di depan nenek Wijaya. Dia tidak mau nenek Arfan itu tahu bahwa bapaknya adalah orang yang dekil dan tidak punya apa-apa. Mona merebut dompet itu dan melemparkannya ke lantai.
"Kamu memang tidak pernah berubah Mona, terhadap orangtua saja kamu kasar, wanita tidak memiliki adab!" nenek Wijaya geram melihat adiknya yang dihina oleh Mona, apalagi di tempat umum dan menjadi tontonan banyak orang.
Nenek Wijaya mengambil dompet milik Mahmud dan memberikan dompet itu kepada pemiliknya agar dia simpan kembali.
"Ayo Mahmud kita pulang saja, tidak perlu diambil hati ucapan wanita ini!" nenek Wijaya mengajak kakek Mahmud untuk pulang dari pada semakin menambah sakit hati karena kata-kata Mona yang seperti wanita tidak pernah sekolah.
"Pulang?" Ucap Mona lirih sambil mencerna kata-kata dari nenek Wijaya.
"Apa maksudnya mereka tinggal bersama?"
"Oh ya ampun aku telah melewatkan peluang emas!"