My Old Star

My Old Star
#33 Kembali Berbaikan



Mentari sedang bermain air bersama Siska di sebuah pantai yang terletak di pinggiran kota Z, sedangkan Arman mengawasi mereka dari dalam mobil yang disewanya secara mendadak tadi sepeninggal mereka dari club milik Arfan.


Mentari dan Siska ke sana ke mari bermain ombak, sejenak Mentari dapat tersenyum dan melupakan Arfan. Kedatangan Sania yang tiba-tiba membuat Mentari menganggap dirinya sebagai orang ketiga diantara Arfan dan Sania.


Matahari sudah berada di ufuk barat ketika langkah kaki Arfan yang mendekati mereka membuat Mentari terkejut, mendadak lengkungan indah di bibirnya menghilang.


"Di sini kau rupanya?!" Arfan bersedekap.


"Kenapa tidak mengangkat telfonku?" Cecar Arfan.


Mentari mengajak Siska pergi dari tempat mereka sekarang tanpa memperdulikan pertanyaan Arfan, "Ayo Sis sebaiknya kita pergi dari sini!"


Mentari melewati Arfan begitu saja, "Tunggu!" suara Arfan meninggi.


Mentari sudah berkaca-kaca hanya saja dia tidak ingin menunjukkannya, "Sis kamu duluan saja ya!"


"Baiklah... kamu hati-hati ya, aku duluan!" Siska melangkah meninggalkan Mentari yang diam di tempat.


Arfan melangkah mendekati Mentari dan memeluknya dari belakang, "Lepaskan aku Kak!"


"Tidak... aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


"Sebenarnya apa tujuanmu dengan memperlakukanku seperti ini Kak, bukankah Kakak sudah punya Kak Sania, bahkan diantara kalian sudah ada Steven. Apa kakak mau aku dicap sebagai perebut suami orang?"


Arfan membalik tubuh Mentari, "Tatap mataku dan lihatlah apakah aku seorang pembohong?"


Mentari tidak mau menatap Arfan, dia justru memandang lurus ke arah jakun Arfan yang naik turun.


"Kau hanya salah paham Mentari kecil, aku dan Sania tidak seperti apa yang kamu kira!" Arfan mencoba memberikan penjelasan kepada Mentari.


"Mataku belum rabun Kak, aku bisa melihat sorot mata saling menyayangi diantara kalian!"


"Apakah kau cemburu?" Tanya Arfan meledek.


"Cemburu?" Mentari balik bertanya.


"Tentu saja tidak, kenapa aku harus cemburu?"


"Karena kamu mencintaiku Mentari kecil!"


Arfan tanpa aba-aba mengangkat tubuh Mentari dan membawanya mengejar ombak. Mereka sama-sama tercebur di air laut dengan berhias senja yang indah.


Arman dan Siska yang berada tidak jauh dari tempat itu bersorak gembira melihat Arfan dan Mentari yang kembali berbaikan, bahkan tanpa sadar mereka berdua berpelukan karena saking girangnya. Kejadian itu membuat keduanya merasa malu setelah tersadar.


"Maafkan aku Siska, aku tidak bermaksud kurang ajar kepadamu!"


"Emmm... tidak apa-apa Kak," jawab Siska malu-malu.


Sementara itu Arfan dan Mentari masih sibuk bermain air laut hingga kumandang adzan maghrib membuat mereka harus mengakhirinya. Mereka menuju ke tempat di mana Siska dan Arman sedang duduk di samping mobil dengan beralaskan pasir pantai. Mentari bermaksud mengambil baju ganti miliknya yang dia taruh di dalam mobil.


"Siska... kenapa pipi kalian terlihat merah begitu?"


"Ah tidak ada apa-apa Mentari, sudah sana bersihkan dulu tubuhmu aku tunggu di dekat Surau!"


Mentari mengambil baju gantinya dan pergi meninggalkan semuanya untuk membersihkan tubuhnya.


Mentari tidak tahu jika ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, sedangkan Arfan masih asyik mengobrol dengan Arman dan Siska.


"Fan kau tidak pergi membersihkan diri dan ganti baju juga?" Arman mengingatkan Arfan karena mereka harus bergegas agar jangan sampai mereka terlambat untuk beribadah.


"Ah iya aku akan segera kembali!" jawab Arfan.


"Fan sebaiknya kau cari Mentari dulu, tadi saat kami ke sini penjaga pantai berpesan agar jangan membiarkan seorang gadis pergi sendirian karena ada orang aneh berkeliaran di sekitar pantai ini!" Arman tampak sedikit menyesal baru mengatakan hal sepenting itu kepada Arfan.


"Iya kenapa aku bisa lupa!" Siska menepuk jidatnya.


"Kenapa kalian tidak mengatakannya kepadaku?" Arfan berlari meninggalkan Arman dan Siska, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Mentari kecilnya.


Sebenarnya tadi sesampainya Arfan di pantai itu dirinya sempat melihat seseorang yang janggal dan berperilaku aneh menurutnya sedang mengintai Mentari dan Siska yang sedang bermain air.


Arman juga tadi mengatakan jika ada pengidap eksibisionisme yang berkeliaran di sekitar pantai. Orang itu akan menguntit para gadis ketika sendirian dan barulah melancarkan aksinya.


Mereka sering kali melancarkan aksinya di gang-gang sempit yang minim pencahayaan pada malam hari. Perilaku menyimpang ini bisa terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan. Bagi penderita laki-laki cenderung mencari seorang gadis yang sedang berjalan sendirian.


Semakin seorang gadis ketakutan maka akan semakin membuat penderitanya bersemangat sehingga agar orang itu malu sendiri adalah dengan cara mengejek orang tersebut. Namun, hal ini harus juga dilakukan dengan hati-hati sebab bisa saja orang tersebut akan berubah menjadi brutal. Jadi lebih baik hindari berpergian pada malam hari sendirian.


Arfan berpacu dengan waktu untuk bisa menemukan Mentari, sedangkan gadis itu hampir sampai di sebuah kamar mandi umum untuk membersihkan diri. Namun, Mentari ragu untuk masuk karena kondisi di dalam gelap dan suasana sangat sepi.


Mentari sedari tadi juga sudah merasa tidak nyaman karena sepertinya ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang.


"Seharusnya aku mengajak Siska untuk menemaniku," Mentari berbicara pada dirinya sendiri.


"Bagaimana kalau aku saja yang menemanimu Nona?" Seseorang tak dikenal tiba-tiba muncul di hadapan Mentari, orang itu mengenakan mantel panjang selutut dan tidak terlihat celana menempel di kedua kakinya.


Mentari merasa panik sebab berteriakpun sepertinya tidak akan ada yang mendengarnya, "Mau apa kau?" Mentari memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku mau kau membantuku Nona!" laki-laki itu tertawa.


"Apa maksudmu hah?!"


"Tolonglah Nona, sekali saja. Aku mohon!"


"Aku tidak mau, pergi saja kau dari sini!" usir Mentari.


"Aku tidak mau pergi sebelum kau bersedia melihat milikku!"


"Melihat apa?"


"Apa kau sudah gila, kamu kira aku akan menurut padamu!" Mentari mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri.


Mentari menjatuhkan baju gantinya dan berlari sekencang mungkin tak tentu arah. Arfan tiba di tempat tadi Mentari berada, dia melihat bungkusan yang tergeletak di pasir. Arfan mengambilnya dan memeriksanya untuk memastikan itu milik Mentari ataukah bukan.


"Kurang ajar, aku pasti akan menemukanmu orang gila!"


Arfan mengikuti jejak langkah di pasir, Arfan melihat Mentari yang sedang berlari, dari kejauhan Mentari terlihat sedang di kejar oleh seseorang. Arfan mengambil jalan pintas untuk memperpendek jarak. Mentari yang sudah lelah berlari terjerembab ke pasir karena tersandung akar tanaman Bakau.


"Aaaawwwwwww...," pekik Mentari.


"Bagaimana Nona, sebaiknya kau mengalah saja kepadaku. Hanya melihat sekali saja Nona, bagaimana?"


"Tidak... aku bilang tidak ya tidak!"


"Tapi aku memaksamu, bukankah sekarang kau sudah tidak bisa berlari?" Orang itu tergelak mengejek.


Mentari berusaha untuk bangkit berdiri meskipun pergelangan kaki kirinya terasa sakit. Orang itu bersiap melepaskan tali pengait mantel panjangnya.


"Stop... jangan kau lakukan itu!" Mentari berusaha mencegah aksi orang itu yang tampak tidak memperdulikan ucapan Mentari.


"Bersiap Nona...,"


"Satu... dua... tiga...!!!"


Disaat yang bersamaan Arfan datang dan membalik tubuh Mentari menghadap ke arahnya dengan menutup mata Mentari dengan telapak tangannya sehingga gadis kecilnya itu tidak perlu melihat pemandangan yang belum sepantasnya dia lihat saat ini sehingga tidak menyisakan trauma mendalam baginya.


Orang itu sangat terkejut sebab dia tidak menduga jika akan ada orang lain yang datang ke tempat itu. Orang itu mencoba melarikan diri, Arfan mengejarnya hingga laki-laki itu tertangkap.


"Kalau kau berani melakukan hal ini lagi, maka anak dan istrimu akan tahu jika kau memiliki perilaku menyimpang!" Arfan mengancam laki-laki itu.


"Dari mana kau tahu aku memiliki anak dan istri?"


"Kau lihat ini?" Arfan menunjukkan dompet laki-laki itu yang terjatuh, kebetulan di dalamnya berisi foto keluarga kecilnya. Nampak seorang gadis kecil imut di dalam foto itu.


"Maafkan aku Tuan, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tapi aku mohon jangan sampai anak dan istriku tahu akan kelakuan burukku ini sebab mereka hanya tahu aku laki-laki normal yang sempurna di hadapan mereka."


Laki-laki itu memohon ampun dengan meneteskan air matanya, teringat putri kecilnya yang pasti akan kecewa jika tahu kelakuan Ayahnya yang menyimpang.


"Baiklah kali ini aku ampuni kau, tapi jika sekali lagi kau berbuat seperti ini aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu dan keluargamu hancur, sekarang sebaiknya pergilah!" Arfan mengancam dengan nada biasa saja namun menusuk, orang itu lari ketakutan meninggalkan pantai.


Arfan kembali menghampiri Mentari dan menggendong gadis itu karena Mentari kesulitan berjalan. Arfan menunggui Mentari di depan kamar mandi umum hingga gadis itu selesai membersihkan dirinya, lalu diapun membersihkan diri dan bersiap menunaikan ibadah mereka yang sudah sangat terlambat.


Arfan kembali menggendong Mentari hingga ke mobil, "Terimakasih Kak!" ucapnya.