My Old Star

My Old Star
#32 Berbalik Arah



"Steven... benarkah ini keponakan uncle yang ganteng itu?" Arfan memeluk Steven penuh rindu dan kasih sayang terhadap anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun itu.


Sania mendekati mereka, "Fan kami datang!"


Arfan mengangkat kepalanya, melepaskan pelukannya terhadap Steven. Mata Arfan tampak berkaca-kaca, "Kau juga kembali Sania?"


Sania tersenyum, mereka berdua berpelukan. Mentari yang melihat pemandangan itu menggigit bibir bawahnya, hatinya bergetar merasakan sakit, tapi Mentari sendiri tidak tahu kenapa hatinya bisa seperti itu atau mungkin dirinya sedang cemburu?


Siska yang melihat ekpresi terkejut di wajah Mentari mendekati sahabatnya itu dan merangkul bahunya untuk sedikit memberikan motivasi kepadanya.


"Mereka hanya bersahabat, jadi jangan berpikir terlalu jauh, ok!" Siska berbisik di telinga Mentari agar sahabatnya itu bisa berpikir positif.


"Tarik nafas pelan-pelan dan hembuskan sayangku, biar hati kamu lebih lega!" Siska memberikan saran.


Mentari mengikuti saran Siska, dia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri meskipun sebenarnya hatinya bergemuruh.


Arfan melepaskan pelukannya terhadap Sania. Dia juga sepertinya lupa jika dia datang ke club bersama Mentari sebab Steven sudah bergelayut manja kepadanya. Arfan mengajak Sania dan Steven ke ruangannya sebab Tomi belum kembali ke club karena sedang mengantar anak-anak melakukan pertandingan persahabatan.


"Sis apa aku harus mundur?" Celetuk Mentari yang membuat Siska terkejut dengan pernyataan itu.


"Maksud kamu Mentari?"


"Mereka terlihat seperti keluarga bahagia, sedangkan aku?" Mentari menunjuk dirinya sendiri dengan tertunduk, air matanya sudah tidak terbendung lagi.


"Jangan pernah berpikir untuk mundur Mentari hanya karena kau melihat mereka seperti itu!" Arman menimpali pernyataan Mentari yang terdengar rendah diri di telinganya.


"Aku takut Kak!" jawab Mentari.


"Kau akan tahu suatu saat nanti, jadi tetaplah di sisi Arfan jangan pernah berpikir untuk berbalik arah!"


"Ayo sebaiknya kita masuk!" Arman mengajak kedua sahabat itu masuk, awalnya Arman datang bersama Siska untuk menunggu Arfan dan menceritakan apa yang dia alami kepada Arfan, namun malah dia yang harus terkejut karena datangnya Sania ke kota Z setelah sepuluh tahun belakangan ini menghilang, bahkan dia membawa anak kecil yang tampan.


Arman menghembuskan nafasnya sebelum mengikuti langkah Mentari dan Siska dari belakang menuju ke ruang santai di club Arfan.


"Sepertinya akan terjadi masalah yang lebih besar!" Arman membatin.


Arfan masuk ke dalam ruangan pribadinya, Steven takjub dengan ruangan yang di desain dengan gaya maskulin nan rapi tersebut.


Steven langsung tertarik pada komputer yang ada di meja di ruangan itu, Steven menyalakannya dan bermain game kesukaannya yang ternyata juga ada di program komputer itu, game ikan kecil yang akan memakan ikan-ikan lain yang lebih kecil untuk menjadikan dirinya menjadi besar dan ikan itu juga harus berhati-hati jangan sampai dia juga dimakan oleh ikan yang lebih besar agar tidak game over.


Arfan merasa ada yang terlupa saat dia tengah duduk bersama Sania, dirinya terus mengingat apakah ada hal yang dia lupakan. Arfan berdiri dari duduknya kemudian ke luar untuk mencari keberadaan Mentari.


Arfan khawatir jika Mentari ngambek karena dia terlupakan olehnya.


Sementara itu, Mentari yang sedang berada di ruang santai bersama Siska dan Arman sedang mengobrol tentang banyak hal termasuk menceritakan persahabatannya dengan Siska yang sudah terjalin cukup lama, dengan begitu Mentari bisa sedikit meredam emosinya.


Arfan yang sudah mencari ke sana ke mari akhirnya tiba juga di ruang santai, dia lega karena menemukan Mentari ada di sana.


Ketika melihat Arfan masuk, Mentari langsung berdiri dari duduknya dan mengajak Siska untuk pergi bersamanya.


"Ayo Sis, sebaiknya kita pergi sekarang!"


"Kita mau ke mana Mentari?" Tanya Siska yang tidak paham dengan perubahan sikap Mentari ketika melihat Arfan masuk.


"Pulang!" Mentari mengayunkan langkahnya ke luar yang di ikuti oleh Siska.


"Biar aku antar!" Arfan menawarkan diri dan mencekal lengan Mentari yang akan melewati dirinya.


"Lepaskan aku!"


"Aku bisa pulang sendiri, bukankah Kakak sedang sibuk?"


"Tolong jangan buat aku merasa bersalah!"


Mentari terus memberontak agar Arfan melepaskan tangannya. Arfan mengalah dan membiarkan Mentari pergi.


"Kami pamit dulu ya Kak, Pak Arfan. Mohon maaf karena sikap Mentari mungkin sedikit berlebihan!" Siska mewakili Mentari meminta maaf sekaligus berpamitan sebelum meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


Arman yang melihat ekpresi tegang Arfan malah menertawakannya. Arfan melemparkan dirinya ke sofa untuk meredamkan emosinya.


"Gadis yang mencintaimu pasti akan bersikap demikian!"


"Maksud kamu Man?"


"Bukankah kau tadi melupakannya?"


"Aku tidak sengaja Man, aku sungguh terkejut dengan kedatangan mereka berdua."


"Kalau begitu jelaskan padanya!"


Arman menepuk bahu Arfan sebelum dirinya juga meninggalkan ruangan itu.


Arfan hendak kembali menemui Sania di ruangannya, tepat saat Tomi dan rombongannya masuk.


"Kau sudah kembali Tom?" Sapa Arfan kepada Tomi.


Tomi mengangguk, "Bagaimana pertandingannya?"


"Tim kita menang meskipun dengan skor tipis Fan."


"Tidak masalah Tom yang terpenting mereka tetap harus berlatih rutin untuk meningkatkan kemampuan mereka."


"Aku akan lebih memperhatikan mereka Fan," janji Tomi.


"Baiklah Tom, sekarang kau masuklah ke ruanganku. Aku akan pergi bertemu seseorang!"


"Ke ruanganmu Fan?" Tomi bertanya sebab selama ini dia tidak pernah sekalipun masuk ke ruangan Arfan jika tidak ada Arfan di dalam.


"Iya... sudah sana pergilah!"


Tomi yang masih dengan kebingungannya, memutuskan untuk patuh dengan perintah Arfan. Sedangkan Arfan sendiri keluar dari club untuk menyusul Mentari kecilnya.


Tomi perlahan membuka pintu ruangan Arfan, mata Tomi berkaca-kaca ketika melihat Sania dan Steven ada di sana, Sania yang melihat kedatangan Tomi di ambang pintu langsung berdiri dan menyongsong kedatangan Tomi.


Mereka berdua saling berpelukan yang diikuti dengan Steven yang meminta Tomi menggendongnya. Tomi mengangkat tubuh Steven dan menciumi anak kecil itu dengan penuh kasih sayang.


"Apakah kau baik-baik saja?" Sania mengabsen setiap inci wajah Tomi dengan tangannya, dia sangat khawatir jika Tomi terluka.


"Aku tidak apa-apa Sania, jangan khawatirkan aku!"


"Papa kenapa sudah lama tidak datang menjenguk kami?" Steven bertanya dengan polosnya.


"Maafkan Papa sayang karena Papa sangat sibuk, bahkan kau datang kesini pun Papa tidak tahu. Kenapa anak ganteng Papa yang satu ini tidak mengabari Papa jika mau datang?" Tomi menoel hidung Steven gemas.


"Kata Mama untuk membuat Papa terkejut!"


"Ah benarkah, kalian berhasil membuat Papa terkejut!" Tomi mengusap lembut rambut Steven.


"Kalau begitu kamu lanjutkan main game nya ya, Papa mau bicara sama Mama dulu sebentar."


Steven mengangguk, "Baik Papa!" jawab Steven patuh.


Tomi mengajak Sania ke luar dari ruangan Arfan untuk berbicara berdua saja dengannya. Sementara itu, Arfan sudah berada di depan asrama putri universitas Z, namun dia tidak bisa menemukan Mentari di sana. Kata penjaga asrama baik Siska maupun Mentari belum ada yang sampai di asrama.


Arfan mencoba menghubungi nomor keduanya namun mereka tidak ada yang bisa dihubungi satupun.


"Kemana mereka, kenapa ponsel mereka tidak ada yang aktif!" Arfan bermonolog dengan dirinya sendiri.


Arfan memutuskan untuk menghubungi Arman, dia mengira mungkin saja mereka bersama Arman saat ini. Arfan hampir putus asa sebab Arman juga tidak bisa ia hubungi.


Arfan berpikir sejenak, dia akan mencari Mentari ke rumahnya meskipun resikonya dia harus bertemu dengan orangtua Mentari.


Arfan tiba di depan rumah Mentari, namun juga tidak ada tanda-tanda keberadaan Mentari maupun Siska di sana.


Arfan memberanikan diri untuk mengetuk pintu, seorang perempuan yang dulu pernah dia lihat di rumah orangtua Mentari membukakan pintu untuknya.


"Maaf cari siapa ya Mas?" Tanya Ibu Ilyas.


"Apakah Mentarinya ada?"


Sebelum Ibu Ilyas menjawab pertanyaan Arfan, Bu Kartika keluar bersama dengan Ilyas.


"Mentari tidak ada di sini, untuk apa kamu mencarinya?" Ucap Bu Kartika ketus.


"Dia calon istriku, jadi stop untuk mencarinya lagi!" Ilyas berkata sangat lantang.


"Ilyas kamu jangan bicara sembarangan!" cegah Ibunya.


"Maaf Tante kalau begitu saya pamit!"


Arfan pamit undur diri, dia sudah menduga sikap Bu Kartika akan seperti itu terhadapnya ditambah keberadaan Ilyas yang diterima dengan baik di keluarga Mentari membuat hatinya memanas, namun sebagai laki-laki matang dia harus bisa bersikap lebih dewasa. Fokusnya saat ini adalah menemukan Mentari kecilnya.


Arfan teringat sebuah tempat yang berpeluang besar sedang mereka kunjungi saat ini.


"Aku menemukanmu Mentari!"