My Old Star

My Old Star
#7 Situasi Sulit



Mentari duduk kembali di kursinya, dia merasa tidak enak hati dengan sepupunya itu karena Bulan sepertinya menyukai Arfan. Terlihat jelas dari sikap dan cara Bulan memandang Arfan.


Nenek Wijaya tersenyum melihat tingkah cucunya yang seperti itu, Nenek Wijaya menduga jika antara Arfan dan Mentari sudah saling mengenal satu sama lain.


"Baiklah semua bisa duduk kembali dan kita bisa mulai makan malamnya!"


Semuanya patuh terhadap perintah Nenek Wijaya, mereka makan dalam diam. Bulan merasa sangat kesal karena Arfan sama sekali tidak meliriknya.


"Fan ambilkan Mentari lauk!" Perintah Nenek Wijaya.


Tanpa menjawab ucapan Neneknya Arfan mengambilkan lauk untuk Mentari yang duduk disamping kirinya.


Ibu Kartika melirik Mentari yang tampak senang dengan perlakuan Arfan kepadanya, kini sang Ibu juga mulai curiga jika mereka memang sudah saling mengenal.


Makan malam pun usai, Nenek Wijaya merasa sangat bahagia malam ini. Mereka keluar dari dalam restoran secara beriringan. Mentari berjalan bersama kedua orangtuanya. Sedangkan Arfan berjalan di depan bersama Neneknya.


"Mentari sini Nak," Nenek Wijaya memanggil Mentari.


Mentari memandang Ibunya sebelum menghampiri Nenek Wijaya, Bu Kartika mengangguk tanda setuju.


"Iya Nek," Mentari menghampiri Nenek Wijaya dan Arfan.


"Besok-besok mainlah ke rumah Nenek, nanti Arfan yang akan menjemputmu." Nenek Wijaya menepuk pundak Mentari dan pergi meninggalkan Mentari yang masih mematung tidak percaya. Sedangkan Arfan sendiri mengikuti Neneknya menuju mobil Pak Mahendra.


Bulan dan Ibunya memperhatikan interaksi antara Nenek Wijaya dan Mentari.


"Bu lihat itu, bukankah seharusnya Nenek Wijaya memintaku berkunjung bukan Mentari." Ucap Bulan kepada Ibunya.


"Sudahlah Lan, masih banyak pemuda di luar sana dengan latar pendidikan dan karir yang lebih baik dari pada Arfan yang mau denganmu, kamu ini cantik jangan sia-siakan dirimu hanya untuk pemuda tidak tahu sopan santun itu."


"Tapi Bu...," rengek Bulan.


"Sudah ayo kita pulang!" ajak Bu Rima.


"Ibu benar Kak, sebaiknya relakan saja Kak Arfan untuk Mentari," ucap Bintang yang membuat hati Bulan semakin panas.


Bulan menghentakan kakinya karena kesal kepada Bintang dan Ibunya, mereka bukannya mendukung dirinya malah mendukung agar Arfan bersama Mentari saja.


Kini mereka sudah menaiki mobil masing-masing seperti formasi ketika berangkat tadi.


"Mentari kecil kau pindah depan!" perintah Arfan yang melihat Mentari sudah duduk bersama kedua sepupunya di jok belakang.


Mentari sedikit ragu untuk berpindah tempat duduk, dia merasa tidak enak hati terhadap Bulan yang sudah menekuk wajahnya sedari keluar restoran tadi.


"Sudah sana pindah saja, disini sempit tahu!" ucap Bintang tanpa dosa.


Mentari menghembuskan nafasnya kasar, kemudian berpindah ke depan karena Arfan mengancam tidak akan jalan jika Mentari tetap berada di belakang.


Perjalanan mereka hening tanpa ada yang berani membuka suara karena merasa canggung hingga sampai di depan rumah keluarga Mahendra.


Para orangtua sudah sampai lebih dulu dan sedang mengobrol di dalam rumah sambil menunggu para anak muda sampai di rumah sebelum Nenek Wijaya pamit untuk pulang.


Mentari hendak turun dari mobil Arfan karena Bintang dan Bulan sudah turun duluan kemudian mereka masuk ke dalam rumah, Mentari ingin mengikuti mereka, namun dicegah oleh Arfan.


"Tunggu!"


Mentari menoleh ke arah Arfan, "Ada apa?"


"Tolong bantu aku di depan Nenekku?" pinta Arfan.


"Aku harus menolong apa?" tanya Mentari.


"Jika Nenekku bertanya katakan saja kita saling mengenal dan cukup dekat, dengan begitu Nenek tidak akan lagi memaksaku untuk bersama dengan sepupumu itu."


"Bukankah dia cantik?"


"Ya...ya...aku akui dia cantik tapi aku tidak tertarik!" jawab Arfan sambil bersedekap dan memandang lurus ke depan.


"Baiklah...baik...terserah kau saja,"


"Terimakasih Mentari kecil,"


Mentari mencebik, "Aku bukan anak kecil lagi jadi berhenti memanggilku seperti itu!" protes Mentari kepada Arfan.


"Tidak mau!" jawab Arfan cuek sembari turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Mentari untuk mengajak Neneknya pulang.


Mentari mengikuti langkah Arfan, sesampainya di dalam rumah Nenek Wijaya langsung tersenyum sumringah melihat kedatangan mereka berdua yang tampak serasi meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh.


"Itu mereka," Nenek Wijaya menunjuk Arfan dan Mentari yang masuk secara beriringan.


"Sini Nak, duduk di sebelah Nenek!" Nenek Wijaya melambaikan tangannya kepada Mentari.


Mentari tersenyum dan duduk di sebelah Nenek Wijaya.


"Kau masih sangat muda, tapi tak apalah usia bukanlah sebuah penghalang dalam menjalin sebuah hubungan,"


Bulan tersedak air mineral yang sedang di sesapnya mendengar ucapan Nenek Wijaya.


Bulan berpikir jika Nenek Wijaya sudah menyukai Mentari, lalu bagaimana dengan dirinya. Sedangkan Mentari memandang Arfan yang masih berdiri, Arfan tersenyum simpul lalu mengangguk.


"Iya Nek," jawab singkat Mentari.


"Baguslah!"


"Kalian harus sering bersama agar bisa semakin dekat," ucap Nenek Wijaya lagi.


"Maaf Nek, bukan kami bermaksud lancang tapi Mentari kami masih sangat kecil, dia masih harus belajar, dia belum pantas untuk menjalin sebuah hubungan dengan seorang pemuda." Ucap Bu Kartika karena merasa khawatir dengan Rima Adiknya dan juga Bulan sepupu Mentari akan tersinggung padahal yang lebih pantas untuk hal ini adalah Bulan jika dilihat dari usia Bulan sendiri yang jauh di atas Mentari.


"Tak apa, biarkan mereka saling mengenal dulu hingga saatnya tiba nanti," jawab Nenek Wijaya dengan kekehnya.


Bu Kartika memilih diam dan akan menanyakan terkait hubungan putrinya dengan Arfan kepada Mentari nanti setelah tamu mereka pulang.


"Nenek sudah waktunya kita pulang," ucap Arfan karena melihat Neneknya masih betah berbicara dengan Mentari sambil mengusap-usap tangan Mentari.


"Baiklah Mentari, Nenek pulang dulu ya jangan lupa kamu harus main ke rumah Nenek." Pesan Nenek Wijaya.


Mentari hanya tersenyum dan mengangguk.


Nenek Wijaya dan Arfan pamit untuk pulang, sedangkan Mentari sudah otomatis akan dicecar banyak pertanyaan oleh orangtuanya.


Sebelum semua itu terjadi, Mentari bermaksud menghindar dangan naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Mentari sudah naik di anak tangga kelima, namun dicegah oleh Ibunya.


"Mau lari kemana kau Tari?" tanya Bu Kartika.


"Aku ngantuk Bu, capek. Aku mau istirahat, boleh ya Bu, Tari mohon." Jawab Mentari dengan sedikit memelas.


"Kau hutang penjelasan kepada kami,"


"Cepat turun!" perintah Ibunya.


Mentari menuruni kembali anak tangga yang tadi telah dipijaknya dengan rasa sangat malas.


"Cepat katakan kepada kami kenapa kau sepertinya akrab sekali dengan cucu dari Nenek Wijaya!" ucap Bu Rima tanpa basa-basi bermaksud mengintrogasi keponakannya itu.


"Tante Rima dan Kak Bulan jangan salah paham, hubunganku dengan Arfan tidak sejauh yang kalian pikirkan hanya saja memang kami pernah bertemu,"


"Dimana kalian bertemu?" tanya Bulan.


"Di toko bukunya Bintang dan pada saat aku mengadakan seminar bersama teman-temanku di luar kota," jawab Mentari jujur.


"Kau jangan bohong Tari," ucap Bulan lagi sedikit memojokkan Mentari.


"Mentari benar Kak, Arfan pernah datang ke toko saat malam hari dan kebetulan Mentari sedang berada disana karena membantuku," Bintang mencoba membela Mentari.


"Kalian sama saja, pasti kalian sudah bersekongkol!" tuduh Bulan.


"Sudah...sudah...kalian jangan bertengkar," cegah Pak Mahendra.


"Mentari benarkan yang kau katakan tadi?" tanya Pak Mahendra lembut.


"Benar Ayah," jawab Mentari.


"Baiklah Ayah percaya kepadamu, sekarang istirahat sana, besok bukankah kau harus kembali ke asrama untuk menyelesaikan tugas selama liburan semester?"


"Iya Ayah,"


Mentari patuh terhadap perintah Ayahnya yang memang sangat menyayangi Mentari sejak kecil. Mentari merasa lega karena Ayahnya membantu dirinya terlepas dari situasi sulit seperti tadi.


Ayah Mentari kemudian memberikan nasehat kepada Bulan dengan kata-kata yang cukup bijak, supaya Bulan tidak merasa sakit hati karena ternyata Arfan tidak tertarik dengan Bulan.


"Bulan cantik jangan bersedih ya, masih banyak pemuda di luar sana yang menyukai kamu dengan tulus, jadi biarkan saja Arfan. Kita juga tidak pernah tahu apakah Arfan benar-benar menyukai Mentari atau tidak, sedangkan kalian sudah dengar sendiri bukan keterangan dari Mentari,"


"Jadi jangan pojokkan Mentari dengan kata-kata kalian, sebab Mentari juga tidak pernah tahu semua akan terjadi seperti ini, Mentari masih kecil tidak pantas memperoleh perlakuan yang tidak adil dari kalian karena kesalahan yang tidak dia lakukan, mengerti kalian?!"


Semua terdiam karena ucapan Pak Mahendra benar adanya, semua bukan salah Mentari sebab dia juga tidak pernah tahu jika hal ini akan terjadi.


Kini Arfan sudah sampai di rumah bersama Neneknya, tidak ingin mendapat petuah panjang dari sang Nenek, Arfan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


"Hei kau dasar anak nakal, Nenek mau bicara sebentar!" teriak Nenek Wijaya yang melihat Arfan berlalu dengan menaiki anak tangga.


Arfan menjawab dengan lambaian tangan tanpa menoleh ke arah Neneknya.