My Old Star

My Old Star
#16 Demam



Arfan terus berjan menuju ke tempat Mentari berada dengan mengikuti arah yang ada di ponselnya. Arfan merasa lega karena Mentari tidak bergerak kemanapun, namun Arfan juga khawatir jika ternyata ponsel Mentari terjatuh.


Arfan tersenyum senang ketika melihat Mentari kecilnya sedang asyik mengunyah makanan di depannya.


"Kenapa kesini tidak memberitahuku?" ucap Arfan kemudian duduk di samping Mentari, dia sedikit melirik Mona yang duduk di seberang Mentari.


"Aku tahu Kakak sedang sibuk," jawab Mentari dengan senyum manisnya.


"Kau benar-benar memahamiku gadis kecil," Arfan mencubit hidung Mentari gemas.


"Fan aku mohon maaf karena telah membawanya tanpa izin," Mona mencoba menjelaskan, namun Arfan hanya cuek saja tidak menanggapi.


"Kau baik-baik saja kan, apa yang dia katakan? Apakah dia menyakitimu? Adakah yang terluka?" Arfan menggeser posisi duduk Mentari agar menghadap ke arahnya.


"Hatiku yang tak baik Kak saat ini," lapor Mentari kepada Arfan.


Arfan mengernyitkan dahi, menatap Mentari intens lurus ke manik mata gadis itu, "Katakan!"


"Dia bilang Kak Arfan memiliki kekasih lain, Kakak telah berbohong terhadapku!"


"Wah benarkah? Dia bilang siapa kekasihku?"


"Fan aku bisa jelaskan!" Mona bermaksud menjelaskan, namun Arfan tidak memberinya kesempatan sedikitpun karena tatapan Arfan hanya fokus kepada Mentari.


"Dia bilang kalau Kak Mona sebenarnya adalah kekasihmu yang lain, dia juga bilang kalau jadi kekasih Kakak harus bisa membawa diri makanya dia baik kepadaku agar kau tak marah kepadanya, lihatlah makanan ini dia mentraktirku banyak sekali. Bukankah dia sangat baik?"


"Wah baik sekali ya, ayo kita makan, kamu mau yang mana, aku suapi ya?" Arfan membuat Mona semakin terprovokasi apalagi dengan Mentari yang super jujur membuatnya semakin malu kepada Arfan karena telah mengaku-aku sebagai kekasih Arfan.


"Mentari aku pamit duluan ya, terimakasih sudah mau keluar bersamaku!"


"Tapi Kak, ini belum habis makanannya."


"Kau makanlah!" Mona meninggalkan saung tempat mereka makan siang hari ini, dia sangat kesal karena Arfan yang mengetahui dimana keberadaan mereka, "Kenapa Arfan bisa tahu aku membawanya, apa ikatan hati mereka sangat kuat?" Mona berbicara kepada dirinya sendiri karena dia tahu Mentari tidak memberikan kabar sedikitpun kepada Arfan akan kepergiannya dan dia sudah menanyakan langsung kepada Mentari tadi.


"Mentari kecil apakah kau percaya dengan ucapan Mona kepadamu?" tanya Arfan setelah Mona berlalu pergi dari hadapan mereka.


Mentari menggeleng, "Tidak...aku yakin Kak Arfan tidak akan berbohong kepadaku, kalau Kakak membohongiku awas saja aku tinggal nanti!" Mentari terkekeh.


"Kenapa kau sepercaya diri itu?" tanya Arfan menatap gadis kecilnya yang menggemaskan.


"Tentu saja aku percaya diri, aku lihat Kak Arfan itu orang yang dingin kaya es balok, siapa sih yang tahan jika bersama kamu Kak!"


"Tentu saja hanya kau," mereka tertawa bersama.


"Nah itu Kakak tahu, bahkan aku lihat meskipun Kak Mona sepertinya menyukaimu tapi sikapmu tak lebih seperti duri yang siap menusuknya jika nekat maju!"


Arfan menceritakan semua hal terkait Mona dan alasan kenapa dia tidak menyukainya, ditambah kejadian tempo hari yang menyebabkan Mentari harus datang jauh-jauh hingga ke Banjarnegara ini.


Mereka melanjutkan makan dengan sesekali diselingi bercanda, Arfan memang tengah menikmati kebersamaannya dengan Mentari karena setelah ini dia harus fokus pada club dan juga kampus, mungkin akan sangat jarang bisa bertemu dengan gadis kecilnya ini. Kepribadian Mentari yang ceria membuat Arfan semakin menyukainya.


Ponsel Mentari berdering, "Angkatlah!" perintah Arfan.


"Hallo Sis ada apa?" tanya Mentari ketika panggilan dari Siska sudah tersambung.


"Kau dimana sekarang Tari?"


"Aku masih di luar kota Sis,"


"Ih...kau ini kenapa lama sekali belum kembali, besok kita ditugaskan untuk mendemonstrasikan tugas penelitian kita!"


"Kenapa mendadak seperti ini Sis?" Mentari terkejut mendengar kabar dari Siska.


"Pak Reza dan Ilyas baru saja menghubungiku tadi, katanya mereka tidak bisa menghubungimu sejak kemarin."


"Anak-anak lain bagaimana apakah sudah siap?"


"Mereka sedang kembali ke kampus hari ini juga, kau bagaimana?"


"Aku akan segera kembali Sis," janji Mentari kepada Siska.


Panggilanpun ditutup, "Kenapa Mentari kecil, apakah ada masalah?" tanya Arfan penuh selidik.


"Memangnya ada apa kok mendadak begini?"


Mentari menceritakan semua informasi yang Siska sampaikan kepadanya, "Tak apa kau pulanglah dulu, lusa kami juga harus pulang."


Arfan mencoba meyakinkan Mentari, meskipun dirinya sendiri justru merasa ragu harus berada disini hingga lusa tanpa ada Mentari disisinya.


"Akan aku pesankan tiket untukmu," sambung Arfan yang sebenarnya juga kecewa sebab dia masih ingin mengajak Mentari ke Dieng seperti janjinya kepada gadis itu.


Mereka kembali ke hotel karena harus mengemas barang-barang Mentari yang akan dia bawa pulang, rencananya Mentari akan naik kereta malam sehingga pukul tiga sore nanti Arfan akan mengantar Mentari ke stasiun terdekat.


Semua sudah dikemas, Mentari siap memulai perjalanannya kembali ke kota Z. Sepanjang perjalanan ke stasiun tidak ada yang membuka suara, masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Hingga memasuki stasiun Arfan masih terdiam, "Kau hati-hati di jalan ya, jangan lupa kabari aku jika sudah sampai." Suara Arfan dingin dan terasa sedikit bergetar ketika didengar.


"Apakah Kakak marah?"


Arfan tersenyum kecut, dia mendekat kemudian memeluk Mentari yang akan segera meninggalkannya, "Tidak...aku tidak marah, hanya saja aku tidak tega melepaskan kamu pulang sendirian," Arfan merekatkan pelukannya, bahkan dia sama sekali tidak perduli dengan pandangan orang-orang sekitar terhadapnya.


"Aku akan baik-baik saja Kak," janji Mentari.


Mentari masuk ke dalam kereta, dia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahannya dengan Arfan, 'Besok akan bertemu kembali bukan, tidak boleh merasa sedih begini!' Mentari mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Arfan memandangi kereta yang ditumpangi oleh Mentari kecilnya sampai menghilang dari pandangan matanya. Arfan kembali ke hotel dengan wajah yang tidak seceria tadi pagi, apalagi ketika di loby dia berpapasan dengan Zaky, orang yang sangat dia hindari, menambah berantakan suasana hatinya.


"Fan...kau dari mana?" tanyanya ramah.


Arfan berlalu tanpa membalas sapaan Zaky, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia hanya ingin ke lapangan melihat anak-anaknya menyelesaikan pertandingan terakhir mereka malam ini. Lusa mereka akan bertolak ke kota Z, namun saat ini bagi Arfan lusa masih sangatlah lama. Entah sejak kapan Arfan menjadi secengeng ini dan tidak sabaran.


"Fan...apakah kau baik-baik saja? Kamu terlihat pucat, pasti kau sangat lelah. Sebaiknya istirahat saja, mereka biar aku saja yang mengurusnya!" ucap Tomi kepada Arfan yang datang dengan muka pucat dan tampak tidak bersemangat.


"Aku baik-baik saja Tom, kalian lanjutkanlah biar aku tetap disini," kekehnya.


"Mentari apakah sudah dalam perjalanan pulang?"


"Aku tadi mengantarnya ke stasiun,"


"Dia pasti akan baik-baik saja, kau tenanglah jangan khawatirkan dia." Tomi berkata demikian seolah tahu apa yang sedang Arfan rasakan kali ini.


Mona yang menguping pembicaraan antara Tomi dan Arfan, tentu saja merasa kegirangan karena Mentari sudah pergi, itu artinya dia akan lebih leluasa ketika mendekati Arfan.


Malam semakin larut, pertandingan dalam sesi latihan kali ini disudahi dan akan dilanjutkan besok sebagai pertandingan penutupan sebelum mereka kembali pulang ke kota Z.


Pertandingan persahabatan ini bertujuan agar lebih mengakrabkan para pemain sekaligus menguji dan mengasah seberapa jauh skill mereka di lapangan ketika menghadapi lawan yang tangguh.


Arfan memasuki kamarnya, merebahkan diri di atas ranjang. Arfan merasa tubuhnya semakin panas tetapi terasa sangat dingin. Arfan tidak mau mengambil resiko dan bergegas menghubungi Tomi untuk mengabarkan jika dirinya sepertinya terserang demam.


Tomi memanggil tim medis untuk memeriksa kondisi Arfan yang panasnya belum mau turun, karena khawatir dehidrasi tim medis memasang infus untuk Arfan. Diagnosis Dokter, Arfan mengalami masalah lambung karena makan tidak teratur dan kelelahan. Dia malam ini dirawat di kamarnya sebab dia menolak jika harus di rawat di klinik.


Mona yang mengetahui jika Arfan demam dan sedang diperiksa oleh Dokter, memaksa masuk ke dalam kamar dan memberikan perhatiannya.


"Fan apakah kau tidak apa-apa, bagian mana yang sakit? Biarkan aku yang akan merawatmu malam ini!" ucap Mona dibuat sedramatis mungkin dalam memberikan perhatiannya.


"Kamu tidak perlu repot-repot Mona, ada tim Dokter yang merawatku!"


"Aku mengkhawatirkan kamu Fan," Mona berpura-pura prihatin dengan terisak mengeluarkan air mata buayanya.


"Fan dimana gadis itu, kenapa kau sakit begini dia tidak ada?" Arfan tak bergeming mendengar ucapan Mona yang penuh dengan nada provokasi.


Dokter yang paham situasinya angkat bicara, "Sebaiknya Anda keluar dulu Nona karena kami belum selesai!" ucap Dokter yang sedang merawat Arfan.


"Aku tidak mau pergi, aku mau disini saja hingga pagi." Jawab Mona kekeh tak tahu malu lebih tepatnya.


"Mona aku akan semakin sakit jika kau tetap disini!"


"Tapi...,"


"Suntik saja dia Dok kalau tidak mau keluar, Tom tolong cepat bawa dia pergi. Aku muak melihat mukanya disini!"


Tomi dengan paksa membawa Mona keluar dari kamar Arfan, sementara itu tim Dokter telah menyelesaikan tugasnya, merekapun pamit undur diri. Arfan bisa beristirahat kali ini, karena demamnya berangsur turun.