
Marryana masih terus mendesak Arfan agar mau kembali padanya, dia juga tidak henti memberikan provokasi kepada Mentari agar gadis itu mau melepaskan Arfan dengan sukarela.
Sayangnya Mentari tidak semudah itu terprovokasi dengan ucapan-ucapan Marryana, dia tetap berbicara dengan santun.
Reza yang merupakan dosen Mentari cukup bangga dengan mahasiswinya itu karena dia mampu berpikir dewasa tanpa bermaksud menyakiti siapapun.
"Mohon maaf kak Marry, aku tidak bermaksud merebut kak Arfan darimu hanya saja takdirlah yang mempertemukan kita dan akhirnya kami bisa bersatu. Apakah kakak bermaksud melawan takdir?"
"Omong kosong macam apa itu, jelas-jelas kamu sudah merebut Arfan dariku!" Marryana seperti orang kehilangan akal.
"Sudah hentikan, jangan diperpanjang lagi masalah ini. Sebaiknya kita tanyakan kepada Arfan karena kunci utama masalah ini adalah Arfan." Reza yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara karena Marryana terlihat sangat ambisius dan terus memojokkan Mentari.
"Bagaimana Fan, apa pendapatmu?" Reza mengarahkan pertanyaan kepada Arfan.
"Seperti yang aku bilang dari awal Za, aku dan Ana tidak ada hubungan apapun. Sejak kecil kita memang berteman baik karena kita sering bersama, tetapi apakah perkataan anak kecil bisa menjadi sebuah hal yang serius ketika dewasa?"
"Aku menganggapnya serius Fan!" jawab Marryana.
"Lalu berapa banyak pria di luar sana yang sudah kamu ajak berkencan?"
"A-aku...,"
"Aku tahu apa yang kamu lakukan disana, pergaulanmu, pendidikanmu, keluargamu aku tahu semuanya An. Jadi jangan anggap aku ini bodoh!"
"Tapi Fan...,"
"Maafkan aku An, tapi aku hanyalah anak yatim piatu seperti yang papamu katakan kepadaku, aku sampai kapanpun tidak akan pernah pantas untuk bisa bersamamu. Jadi semenjak saat itu aku memutuskan untuk tidak berteman denganmu lagi."
"Papa... apa maksud perkataanmu Fan?"
"Papamu datang kepadaku agar aku menjauhimu karena aku anak yatim piatu, saat itu aku menangis sejadi-jadinya karena aku tidak memiliki orangtua. Kata papamu aku hanyalah anak yang tak memiliki masa depan, aku merasa hancur bukan karena aku tidak lagi bisa bertemu denganmu karena orangtuamu membawamu ke luar negeri tapi karena aku anak yang berbeda dari teman-temanku, anak yang harus hidup meski tidak memiliki orangtua. Aku marah pada nenek, aku mogok makan dan aku jatuh sakit," Arfan menjeda kalimatnya.
"Neneklah yang membuatku bangkit lagi, nenek menjadi satu-satunya sumber semangatku, aku dibawa ke Spanyol untuk bisa melupakan hinaan dan cacian dari papamu. Lalu sekarang kamu datang untuk memintaku kembali?"
"Itu perbuatan papaku, bukan aku Fan!"
"Sekarang apa bedanya kamu dan papamu An, kamu tetaplah bagian dari papamu. Aku tidak mungkin membohongi diriku sendiri dari apa yang telah papamu tancapkan dihatiku sejak aku masih kecil. Lukanya masih sama seperti dulu, apa salahku jika aku tidak memiliki orangtua?" Suara Arfan bergetar menahan gemuruh emosi di dalam dadanya.
"Kak...," Mentari mengusap lembut tangan Arfan yang mengepal di atas meja hingga dia terlihat rileks kembali.
"Kamu tahu An, gadis ini kenapa sekarang aku sangat mencintainya karena dia mencintaiku sejak pertama kali kita bertemu, sebelum dia tahu seperti apa latar belakangku. Kamu tahu betapa dingin dan cueknya aku kepadanya tapi dia tulus mencintaiku. Nenek bahkan sangat menyukainya, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkannya hanya karena aku harus kembali kepadamu!"
"Jadi mulai sekarang aku tegaskan sekali lagi kepadamu hubungan kita hanyalah rekan kerja di kampus, selebihnya kita tidak ada hubungan apapun."
"Fan... tidakkah kamu buka kembali hatimu untukku?"
"Aku sudah menjadi milik Mentari dan selamanya akan tetap seperti itu!"
Arfan bangkit dari duduknya, merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dia katakan. Dia yakin Marryana mengerti apa yang dia ucapkan. Hal yang selama ini dia simpan sendiri rasa sakitnya. Kehilangan orangtua bukanlah keinginannya tapi takdir yang maha kuasa yang membuatnya demikian.
"Mentari sayang ayo kita pulang!"
Mentari mengikuti langkah Arfan di belakangnya setelah berpamitan dengan Pak Reza dan juga Marryana.
"Marry sudahlah Arfan bukanlah jodohmu, kamu masih bisa mencari laki-laki lain yang tulus mencintaimu." Reza mencoba menenangkan Marryana yang tengah menangis, ucapan Arfan bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Hal yang selama ini tidak pernah diketahuinya sama sekali.
"Za kenapa papaku sendiri yang justru menghancurkan masa depanku, kenapa Za?" Marryana masih terus menangis.
"Jangan pernah menyalahkan papamu, karena dia ingin yang terbaik bagi putrinya."
"Ayo sebaiknya kita pulang, aku akan mengantarmu!"
Reza mengajak Marryana pulang karena dia tidak mau jika orang-orang menganggap dirinya yang telah menyakiti Marryana hingga wanita itu menangis. Sedangkan Reza sendiri sudah memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Dia ikut datang karena undangan dari Marryana yang memintanya selaku teman lamanya sekaligus sebagai sahabat Arfan untuk ikut makan malam bersama mereka.
Arfan tiba-tiba menghentikan laju mobilnya saat mereka baru menempuh separuh perjalanan. Arfan memukul kemudi beberapa kali, dia teringat akan kedua orangtuanya dan ucapan papa Marryana yang seolah melengking kembali di telinganya.
"Mentari apakah kau takut kepadaku?" Tanya Arfan yang terlihat menyedihkan di mata Mentari, ternyata orang sekuat Arfan memiliki sisi sensitif tersendiri yang tidak banyak orang mengetahuinya. Dia terlihat sangat rapuh kali ini.
Mentari memandang lurus ke arah suaminya, "Apa aku terlihat takut kak!" tantangnya, meskipun sebenarnya hatinya bergemuruh.
"Mentari kenapa kamu memilihku, anak yatim piatu sejak kecil, aku tidak memiliki orangtua Mentari, aku tidak memiliki masa depan!" Arfan menangis dengan membenturkan kepalanya di kemudi mobilnya.
Mentari menarik tubuh Arfan dan memeluknya, dia sebenarnya juga ingin ikut menangis tetapi dia harus tegar kali ini.
"Kak tidak ada alasan lain bagiku selain karena aku mencintaimu. Aku menerimamu apa adanya, kak Arfan masih memiliki nenek, aku dan kakek Mahmud. Kedua orangtuaku juga sangat menyayangimu kak karena kamu anak yang baik. Nyatanya sampai saat ini kakak bisa hidup dengan sangat baik meskipun tanpa orangtua sejak kecil."
"Lihatlah anak-anak asuh kakak juga, mereka sangat mengandalkanmu kak. Apa itu yang dinamakan tidak memiliki masa depan?"
Arfan sedikit lega setelah mendengarkan ucapan istrinya, Mentari benar ada banyak orang yang harus dia urus. Jadi dia tidak boleh lemah karena hal sepele yang sebenarnya sudah dia lupakan sejak lama karena tidak ingin menaruh dendam.
Mentari menghapus air mata di pipi suaminya, laki-laki juga butuh menangis agar hatinya lega.
Arfan mencium kening Mentari sedikit lebih lama, dia ingin merasakan ketulusan hatinya terhadap gadis di depannya yang sekarang berstatus sebagai nyonya Arfan.
"Aku mencintaimu Mentari."
"Aku juga mencintaimu kak!"
Arfan kembali melajukan mobilnya, mereka harus segera sampai di rumah untuk beristirahat karena esok hari masih banyak tugas yang menanti.
Di club Arfan, anak-anak baru saja menyelesaikan latihan mereka. Tomi berpesan jika besok Arfan akan datang untuk mengecek hasil latihan mereka sekaligus strategi permainan yang sedang mereka uji coba di lapangan.
"Kami mengerti manager, kami akan melakukan yang terbaik untuk club ini." Jawab mereka serempak.
"Bagus... sekarang kalian boleh beristirahat!"
Tomi meletakkan catatan latihan hari ini, dia hendak membersihkan diri ketika Sania menghampirinya.
"Apakah kalian sudah selesai?"
"Iya Sa, kami sudah selesai latihan. Ada apa?"
"Tom tadi Zaki mengirim pesan kepadaku jika dia ingin bicara dengan kita mengenai Steven."
"Dimana?"
"Aku belum tahu Tom, dia hanya menanyakan apakah kita setuju untuk bertemu."
"Katakan padanya Sa setelah pertandingan bapak final usai kita baru bisa bertemu dengannya. Kali ini aku hanya ingin fokus pada pertandingan."
Sania mengirimkan pesan balasan kepada Zaki sesuai dengan apa yang tadi Tomi katakan kepadanya.
Marryana yang sudah diantarkan oleh Reza ke apartemen merasa hatinya masih sangat kacau sehingga dia memutuskan untuk pergi menemui Mona di apartemen temannya itu.
Dia ingin menceritakan banyak hal kepada Mona karena biasanya hanya dia yang memberikan dukungan untuknya.
Di tengah jalan, tiba-tiba mobil Marryana dihadang oleh segerombolan orang yang tidak di kenalnya di jalan yang cukup sepi.
Marryana merasa kalut dan takut karena dia hanya sendirian.
Para preman itu menggedor pintu mobil Marryana dengan sangat keras, dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa saat ini.
Marryana sepertinya akan menyerah dan berniat memberikan semua harta yang dimilikinya kepada preman-preman itu.
Marryana ke luar dari dalam mobil karena dipaksa oleh mereka.
"Serahkan semua barang-barang kamu jika ingin selamat. Jika tidak kamu serahkan, kami tidak segan untuk menghabisimu nona!" ancam salah satu dari komplotan itu.