
Arfan dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh pak Mahendra. Dia butuh infus agar tubuhnya tidak terlalu lemas. Beruntung Arfan diperbolehkan pulang setelah kondisinya berangsur membaik, jika tidak maka akan membuat kasihan Mentari yang dalam kondisi hamil muda harus menjaga suaminya yang sakit di rumah sakit, tentu tidak akan nyaman baginya.
Arfan memiliki fisik yang cukup kuat karena terbiasa berolahraga sehingga dia diperbolehkan pulang dengan syarat mau meminum vitamin yang dokter resepkan untuknya.
"Terimakasih ayah, maaf sudah merepotkan. Kalian datang untuk menjenguk kami malah kami jadi merepotkan." Ucap Arfan ketika sudah sampai di rumahnya kembali.
"Tidak perlu sungkan begitu nak, aku ini ayahmu. Kami beruntung memiliki menantu sepertimu, jadi hal begini bukan apa-apa buat kami. Justru kami akan menyesal jika kalian dalam keadaan kesulitan tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk kalian." Jawab pak Mahendra agar Arfan tidak terlalu sungkan.
"Iya betul kata ayah nak, kami sangat senang bisa membantu kalian." Bu Kartika menambahi ucapan suaminya.
Mentari dan ibunya tadi memang tidak ikut ke rumah sakit karena kasihan jika Mentari harus kesana kemari, khawatir jika dia terlalu capek. Meskipun di rumah Mentari menunggu kabar dengan sangat cemas.
Mentari dan ibunya memasak makan siang bersama, bu Kartika mengajari banyak hal kepada putrinya agar Arfan bisa makan dan tidak mual lagi termasuk dalam pemilihan bumbu yang tepat ketika memasak.
Tidak berselang lama, makan siang sudah siap. Mereka makan siang bersama dengan diselingi mengobrol santai.
Di tempat lain, kakek Mahmud sedang pergi bersama mantan istrinya dan juga Mona atas permintaan Mona yang bermaksud mendekatkan kembali bapak dan ibunya agar bisa rujuk kembali.
Sebenarnya jika kakek Mahmud tidak memiliki apa-apa tentu mereka enggan untuk melakukan hal itu, tapi kini keadaannya sudah berbeda kakek Mahmud tinggal di rumah nenek Wijaya, mereka sangat berharap jika nenek Wijaya bisa mengalihkan sebagian asetnya kepada kakek Mahmud setelah usaha Mona menghancurkan perusahaan nenek waktu itu gagal.
"Bapak aku tinggal dulu ya, kalian berbicaralah dari hati ke hati!" Mona mengerling licik kemudian pergi meninggalkan kedua orangtuanya untuk berbicara berdua saja.
"Mahmud maafkan aku yang waktu itu khilaf."
"Sudah jangan dibahas lagi karena semua itu sudah berlalu, aku tidak mau membuka luka lamaku kembali."
"Indah katakan kepadaku kenapa kamu bisa bercerai untuk kedua kalinya?"
"Mahmud laki-laki itu menipuku, setelah semua hartaku dia peroleh dia kabur dariku dengan wanita lain."
"Lalu sekarang apa yang kamu inginkan dariku?"
"Aku mau kita rujuk kembali, aku tidak bisa hidup sendirian."
"Kamu bisa tinggal bersama Mona, lagi pula kita sudah tua. Rasanya sudah tidak pantas lagi bagi kita membahas soal ini. Aku sudah terbiasa hidup sendiri dan kali ini aku hanya ingin berbakti pada kakakku dengan menemaninya di masa tua."
"Apakah kamu tidak memikirkanku sama sekali?"
"Aku bertanya kepadamu Indah, apakah kamu pernah berpikir bagaimana keadaanku ketika dulu kalian curangi?"
"Kamu masih dendam kepadaku?"
"Aku sudah memaafkanmu Ndah, tapi bukan berarti kita bisa kembali bersama."
"Jika ini demi Mona anak kita sekalipun?" Ibu Indah terus mendesak kakek Mahmud.
"Aku tidak bisa lagi untuk kembali kepadamu, aku sudah memutuskan itu sejak lama. Bahkan sebelum kakakku memberiku banyak saran untuk bisa berpikir dengan jernih."
"Apa harus kakakmu itu selalu ikut campur urusan kita?"
Kakek Mahmud memilih pergi dengan menggunakan taksi, meladeni wanita seperti Indah membuatnya muak. Kali ini dia hanya ingin fokus pada resepsi pernikahan Arfan dan Mentari yang akan segera digelar minggu depan, dia harus membantu nenek Wijaya dalam mempersiapkan segala sesuatunya secara maksimal.
Arfan bagi kakek Mahmud adalah pahlawannya, jika saja malam itu dia tidak bertemu dengan Arfan entah masih seperti apa kehidupannya saat ini. Meskipun semua itu tetap tidak terlepas dari yang namanya takdir.
Arfan menyampaikan kepada mertuanya jika resepsi pernikahan mereka dimajukan karena alasan kehamilan Mentari disela-sela perbincangan santai mereka.
"Baguslah kalau seperti itu Fan, semakin cepat akan semakin baik. Tapi bagaimana dengan kondisimu yang seperti ini?"
"Aku tidak apa-apa, ayah dan ibu jangan khawatirkan aku."
Pak Mahendra dan Bu Kartika pamit pulang setelah makan siang karena harus menjenguk teman yang sakit di rumahnya.
Mona mendapati jika ibunya ditinggalkan sendirian oleh bapaknya, "Bapak kemana bu, kenapa ibu sendirian?"
"Bapakmu itu sungguh tidak bisa dirayu, dia benar-benar sudah sangat patuh dengan nenek tua itu."
"Kurang ajar nenek, benar-benar wanita tua itu sudah terlalu jauh mengurusi kehidupan bapak, lihat saja pembalasanku!"
"Ayo kita pulang dulu bu, nanti kita pikirkan cara lain untuk merebut hati bapak kembali!"
"Serahkan saja kepadaku bu!"
Di rumah kakek Mahmud bertemu dengan nenek, dia menceritakan semua kejadian itu kepada kakaknya.
"Baguslah jika kamu sudah bisa mengambil keputusan sesuai dengan hati nuranimu Mahmud."
"Aku hanya ingin tidak mau tertipu lagi kak, karena pada kenyataannya Mona bukanlah anak kandungku!" wajah kakek Mahmud menegang karena menahan emosi.
"Maksud kamu Mud?" Nenek Wijaya merasa penasaran dengan maksud ucapan adiknya.
"Aku dulu sudah pernah memeriksakan diriku kak tanpa sepengetahuan Indah, dan aku divonis tidak bisa mempunyai anak tapi semua itu aku tepis karena pada kenyatannya aku memiliki anak yaitu Mona." Kakek Mahmud menarik nafasnya berat.
"Aku berpikir jika vonis dokter itu salah, aku bertahan dalam kenyataan hingga hidupku hancur ketika mereka meninggalkanku kak. Tapi setelah hidupku kembali baik, mereka datang lagi."
Kakek Mahmud menceritakan jika beberapa hari lalu, dia mendatangi Apartemen Mona tanpa sepengetahuan mereka karena kakek Mahmud sengaja tidak mengabari jika dia akan datang seperti yang Arfan sarankan kepadanya.
Ketika kakek Mahmud datang, dia mendengar langsung ketika Indah mantan istrinya sedang berbicara dengan Mona bahwa Mona bukanlah anak dari kekek Mahmud.
Pada saat menikah ternyata Indah sudah dalam keadaan hamil anak mantan pacarnya. Dari awal Indah ternyata sudah berkhianat karena dia masih berhubungan dengan mantan pacarnya padahal waktu itu dia sudah hampir menikah dengan kakek Mahmud.
Bahkan mereka sampai berbuat hal yang tidak sepantasnya dilakukan dan tidak ada pilihan lain bagi Indah untuk tetap menikah karena mantan pacarnya tidak mau bertanggungjawab. Namun, anehnya Indah sama sekali tidak kapok dengan semua itu. Begitu susahya merubah watak seseorang.
Kakek Mahmud sampai meneteskan air matanya ketika menceritakan semua itu kepada nenek Wijaya.
"Ternyata tragis sekali kehidupan kamu Mud, aku tidak pernah menyangka jika Indah wanita yang sangat kamu cintai dulu ternyata wanita kotor yang urat malunya sudah putus."
"Kak saat ini aku hanya ingin fokus padamu, Arfan dan juga Mentari. Aku sudah tidak berharap kepada mereka. Lagi pula Mona bukanlah anakku jadi aku tidak perlu lagi perduli kepadanya."
"Mud saranku pilihlah jalan yang menurut kamu paling benar, meskipun kamu marah tetap maafkan mereka."
Waktu berjalan begitu cepat, Mentari dan Arfan kini tinggal hitungan jam saja untuk menggelar resepsi pernikahan mereka.
Acara digelar di sebuah hotel berbintang, semua tamu undangan hadir di tempat tersebut begitu pula dengan Ayesh dan Hyorin yang juga datang bersama putri mereka.
Steven terlihat begitu mempesona dengan balutan jas berwarna putih lengkap dengan dasi kupu-kupu yang melingkar apik di lehernya ditambah jas yang dia kenakan sangat pas dengan tubuhnya.
Semua itu sangat menarik hati bagi Yesherly yang baru pertama kali bertemu dengan Steven. Berulang kali Yesherly tersenyum ke arah Steven namun anak laki-laki berusia hampir sebelas tahun itu sangat cuek yang sedikit membuat Yesherly kecewa.
Mentari dan Arfan sendiri tampak cantik dan tampan dengan balutan gaun dan jas berwarna senada.
Kini acara dimulai dengan Mentari yang berjalan di atas karpet merah dan disambut oleh Arfan untuk dibawa ke pelaminan.
Mereka duduk disana dengan senyum yang terus tersungging untuk menyambut para tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka. Tidak ketinggalan Siska dan Arman yang juga datang secara bersama-sama.
"Selamat Mentari akhirnya go public juga." Mentari dan Siska saling berpelukan, begitu pula Arman yang memeluk Arfan erat sembari mengucapkan selamat.
Tidak berselang lama Marryana juga tiba bersama Zaki, dia terlihat sangat anggun dan cantik seperti biasanya.
Mereka naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat, kini Marryana seperti sudah tidak meninggalkan rasa apapun kepada Arfan dia justru fokus dengan Zaki yang berjalan di sebelahnya.
Mentari yang sedari tadi menahan nafas sejak kedatangan Marryana dan Zaki kini bisa bernafas lega.
Nenek dan kedua orangtua Mentari sangat berbahagia hari ini karena acara sangat meriah dan berjalan dengan lancar.
Tiba-tiba Mona datang bersama ibunya membuat kekacauan dalam acara hari ini.
Dia mengambil alih microphone yang sedang di pegang oleh host dan berdiri di atas panggung tanpa rasa malu.
"Bapak dan ibu semua, seluruh tamu undangan hari ini. Ada sebuah hal penting yang akan saya sampaikan kepada kalian dan mungkin selama ini kalian tidak mengetahuinya." Mona menjeda ucapannya.
"Kalian perlu tahu jika sebenarnya gadis yang berdiri di atas pelaminan ini tengah hamil muda karena mereka merupakan pasangan yang sudah tinggal bersama sebelum menikah. Jadi kalian bisa simpulkan sendiri jika dia hamil sebelum pernikahan di gelar sehingga baru kali ini digelar acara resepsi."
Arfan sangat geram dengan ucapan Mona, tapi dia mencoba untuk menahan emosinya karena jika tidak maka sama saja dia membenarkan ucapan Mona.
Kasak kusuk para tamu undangan mulai terdengar. Mau tidak mau mereka harus bisa membuktikan jika semua itu tidaklah benar.
Semua itu hanya fitnah yang Mona buat karena kedengkiannya terhadap kebahagiaan orang lain.