My Old Star

My Old Star
#55 Beri Aku Kesempatan



Zaki mengantarkan Steven untuk pulang, dalam perjalanan anak itu tertidur, mungkin Steven kelelahan setelah bermain cukup lama hari ini. Sania yang menunggu Steven tidak pulang-pulang merasa sangat cemas, dia khawatir jika Zaki membawa lari Steven darinya. Sania berkali-kali menelfon Steven tetapi tidak ada jawaban dari anak itu.


Hari semakin sore namun Steven tidak kunjung kembali, "Sania tenanglah!" Arfan yang baru ke luar dari kamarnya melihat Sania tengah gusar.


"Bagaimana aku bisa tenang Fan, sedangkan sudah sore begini Zaki tidak kunjung mengantarkan Stev pulang. Bagaimana jika-"


"Jangan pernah berpikir buruk Sania!" Arfan memotong ucapan Sania.


"Kau ibunya, do'amu menembus langit jadi berkatalah yang baik-baik saja terutama untuk Stev!" Arfan memperingatkan Sania yang sudah pasti berpikiran buruk tentang Zaki.


"Kau tidak mengerti Fan!"


Mentari menghampiri Sania, "Kak tenanglah dulu, Stev pasti akan segera pulang!"


Di saat Sania masih cemas terdengar deru mesin mobil memasuki halaman club, Zaki turun kemudian membuka pintu samping kiri mobilnya. Dia mengangkat tubuh Steven yang masih terlelap tidur dan membawanya masuk ke dalam club.


Sania menyongsong kedatangan Steven, "Kenapa dengan Stev, apa yang terjadi?" Tanya Sania panik melihat Steven dalam gendongan Zaki.


"Tunjukan di mana kamar Stev!" pinta Zaki tanpa memperdulikan pertanyaan Sania, dia yakin Sania sangat panik jadi Zaki sengaja melakukan hal itu.


Zaki membawa Steven ke kamarnya dan membaringkan anak itu di ranjang kemudian menyelimutinya.


Sania yang membuntuti Zaki hingga ke kamar Steven hanya bisa terdiam melihat Zaki yang sempat dia curigai ternyata menepati janjinya mengantarkan Steven bahkan Zaki terlihat sangat menyayangi anak mereka itu.


"Dia hanya tertidur, jangan cemas!" ucap Zaki setelah bangkit dari tempat tidur Steven.


Zaki memandang lurus ke arah Sania, "Kau masih seperti dulu Sania!"


"Apa maksud kamu Zaki?"


"Apakah aku masih memiliki kesempatan?"


"Demi anak kita Sania!"


"Aku sudah bersuamikan Tomi dan aku sangat mencintainya, jadi jangan berharap jika aku dan Steven akan menerimamu kembali setelah apa yang kamu lakukan kepada kami di masa lalu!" jawab Sania tanpa memberikan celah sedikitpun kepada Zaki.


"Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi Sania, aku akan memperbaiki semuanya. Aku janji Sania!"


"Semua sudah terlambat, jangan pernah ganggu aku lagi!"


Zaki ke luar begitu saja dari kamar Steven setelah mendengar jawaban dari Sania.


"Dasar tidak tahu diri, kemana saja kamu saat kami dulu membutuhkanmu!" umpat Sania yang sempat di dengar oleh Mentari.


Mentari ingin bertanya namun dia urungkan mengingat suasana hati Sania tampak sedang tidak baik-baik saja.


Zaki sempat bertemu dengan Arfan di depan, "Terimakasih mau menjaga mereka untukku Fan!" ucap Zaki sebelum ke luar dari dalam club.


Tomi baru saja tiba setelah berlatih bersama anak-anak di lapangan, "Apakah Stev sudah pulang?"


"Sudah, dia ada di kamarnya bersama Sania."


Tomi mencari anak dan istrinya ke kamar, dia ingin memastikan jika Steven baik-baik saja.


Keesokan paginya Arfan pergi ke kantor Ayesh untuk memberikan bukti rekaman yang berhasil dia copy dari ponsel milik Mentari.


"Akan aku berikan pada penyidik rekaman ini Fan!" ucap Ayesh yakin jika Arfan akan terbebas dari tuduhan.


"Baiklah Yesh, aku percayakan kepadamu."


Arfan kembali ke club setelah mengantarkan Mentari bertemu dengan Siska, malam ini Mentari akan menginap di asrama bersama Siska karena ada tugas kelompok yang harus mereka kerjakan. Arfan sendiri akan bersiap untuk pertandingan antar club minggu depan.


Beberapa hari kemudian Arfan menerima surat yang menyatakan bahwa dirinya terbebas dari segala tuduhan. Sedangkan Ilyas akan segera di sidangkan esok lusa, berkas kelengkapan kasusnya sudah lengkap jadi sudah siap untuk maju ke persidangan ditambah dengan bukti rekaman yang Ayesh serahkan kepada penyidik sudah barang tentu akan memberatkan Ilyas.


Hari ini Arfan mengajak Mentari menjenguk Ilyas sebelum persidangannya di gelar esok hari. Arfan merasa perlu berbicara dengan anak itu.


"Kak aku kasihan pada Ilyas," ucap Mentari sebelum masuk ke ruang tunggu untuk menjenguk Ilyas.


"Apa kamu lupa, dia hampir saja merusakmu?"


"Tentu aku tidak akan pernah melupakan hal itu kak,"


"Kalau begitu biarlah dia menerima segala konsekuensi dari apa yang pernah dia perbuat!" jawab Arfan lugas tanpa mau dibantah.


"Ayo masuk!" Arfan mengajak Mentari masuk ke dalam, mereka menunggu Ilyas yang sedang dijemput oleh petugas.


Tidak berselang lama, Ilyas dengan didampingi oleh petugas lapas datang menghampiri mereka.


"Ada apa kalian datang, mau menertawakanku hah?" Ucap Ilyas begitu melihat siapa yang datang menjenguknya.


"Yas kami tidak bermaksud begitu," jawab Mentari.


"Lalu untuk apa kalian datang?"


"Aku hanya ingin melihatmu Yas, aku akan lega jika melihatmu baik-baik saja."


"Apakah kamu baru sadar sekarang jika aku yang benar-benar pantas untukmu setelah aku seperti ini?"


"Jaga bicaramu Ilyas!" Arfan sedikit membentak.


"Kamu orang yang menyebabkanku berada di sini, ingat aku pasti akan membalasmu suatu saat nanti!"


Arfan hanya tersenyum, "Yas tolong jangan begini, kami datang dengan niat baik." Mentari masih berusaha membujuk Ilyas setelah melihat ekpresi Arfan.


"Mentari tolong jaga ibuku selama aku ada di sini, sering-seringlah menjenguknya. Aku akan sangat berterimakasih kepadamu." Suara Ilyas melemah saat mengingat ibunya.


"Ibumu ada dalam penjagaanku, kamu tenanglah. Aku datang ke sini hanya ingin meminta izin kepadamu untuk membawa ibumu tinggal bersama kami di club, dia bisa membantu kami mengurus keperluan anak-anak." Arfan menjelaskan maksud kedatangannya hari ini, Mentari terkejut mendengar ucapan Arfan kerena mereka tidak pernah membicarakan soal ini sebelumnya.


"Apa kamu tidak berbohong?"


"Tentu saja tidak!"


Arfan mengajak Mentari meninggalkan tempat itu, sedangkan Ilyas dibawa kembali oleh petugas ke dalam tahanan.


"Maafkan aku Mentari, aku hanya ingin kamu membenciku setelah apa yang aku lakukan padamu, terimakasih pak Arfan kamu sudah banyak membantuku dalam menjaga ibu, harta satu-satunya dalam hidupku yang telah aku kecewakan." Ilyas bermonolog di dalam hatinya, jika saja dia tidak mengikuti ambisi dan bisikan orang yang menghasutnya mungkin dia tidak akan pernah berakhir seperti itu.


Hari persidangan pun akhirnya tiba, setelah melalui berbagai macam agenda persidangan dengan menghadirkan beberapa orang saksi maka telah diputuskan bahwa Ilyas bersalah dalam kasus yang menjeratnya. Ibu Ilyas tidak kuasa menahan air mata setelah mendengar putusan hakim untuk anaknya, dia tidak pernah menyangka anak yang dia besarkan sepenuh hati justru mencoreng namanya setelah dewasa.


"Aku titip ibuku pak Arfan!" ucap Ilyas sebelum pergi meninggalkan ruang sidang.


Dia berpelukan dengan ibunya, "Maafkan aku bu, maaf!"


Ibu Ilyas terus berderai air mata hingga Mentari dan Arfan mengajak wanita paruh baya itu untuk pulang bersama mereka.


"Biarlah Ilyas menjalani masa penahanannya bu, agar dia bisa berpikir dewasa dan merenungi bahwa apa yang dia lakukan salah. Mungkin dengan begini dia bisa menyadari jika segala perbuatan pasti ada konsekuensinya."


"Maafkan anak ibu ya nak,"


"Kami sudah memaafkannya bu, jadi jangan khawatirkan itu. Sekarang ibu akan aman bersama kami."


"Terimakasih nak, kalian sungguh berhati baik."


Mentari menunjukkan di mana kamar ibu Ilyas, dia mempersilakan beliau untuk beristirahat karena sepertinya beliau sangat lelah setelah menangis cukup lama.


Air mata seorang ibu yang jatuh berderai sungguh membuat Arfan merasa ngilu, dia yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, justru di titik ini merasa iri dengan Ilyas yang sangat dicintai oleh ibunya, oleh sebab itu, Arfan ingin merawat ibu Ilyas sepenuh hati dengan mengajak beliau tinggal bersamanya dan mencukupi segala keperluannya.


Arfan meninggalkan Mentari yang masih berada di dalam kamar ibu Ilyas karena menerima panggilan dari Dekan di kampusnya, "Pak Arfan mulai besok anda sudah bisa mengajar kembali di kampus!"


"Baik pak terimakasih!"


Mentari melihat ekpresi bahagia dari Arfan setelah panggilan diakhiri, "Sepertinya ada kabar baik kak?"


"Iya Mentari, mulai besok aku sudah bisa kembali ke kampus."


"Wah benarkah?" Wajah Mentari ikut berbinar.


"Tentu saja, tapi ada sebuah hal yang masih mengganjal di hatiku."


"Apa itu kak?"


"Aku ingin pernikahan kita dipercepat!"


Wajah Mentari bersemu merah karena ucapan Arfan.