
Marryana menghampiri Zaki yang masih berdiri tidak percaya dengan apa yang sedang dia saksikan, putri dari bosnya itu yang selama ini ada di luar negeri adalah Marryana.
Marryana sendiri memeluk Papinya, "Papi kenapa ada di sini?"
"Seharusnya Papi yang tanya sama kamu, sedang apa kamu di sini Marry?"
"Aku menemui temanku Pa." Jawab Marryana melirik Zaki.
"Jadi club yang Papi maksudkan ada di kota Z apakah club ini Pa?"
"Iya Marry kamu benar sekali, Papi bolak-balik ke luar negeri ke sini itu karena urusan club."
"Kenalkan Marry ini Zaki," Papi Marryana memperkenalkan Zaki kepada putrinya.
"Dia yang memimpin club ini Marry. Awalnya Papi ingin memberikan kepemimpinan club ini kepada Arfan sebagai ucapan permintaan maaf Papi di masa lalu kepadanya sejak Papi tahu kalau Arfan menggeluti dunia futsal sebagai jalan hidupnya, tapi ternyata Arfan sudah membangun clubnya sendiri."
Marryana hanya tersenyum, dia teringat ucapan Arfan tempo hari yang masih menyimpan sakit hati kepada Papinya.
"Za ini putriku namanya Marryana, mungkin kalian bisa berteman baik."
"Papi... kami ini sudah saling kenal, iya kan Za?" Marryana melemparkan pertanyaan kepada Zaki untuk memperkuat pernyataannya.
"Iya bos kami sudah saling mengenal."
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Sejak Zaki menolongku malam itu Pa,"
"Jadi Zaki terluka karena menolongmu?"
Marryana mengangguk, "Baguslah kalau seperti itu, mungkin ini takdir untuk kalian!"
"Maksud Papi?"
Papi Marryana tertawa terbahak meninggalkan mereka berdua dan menepuk pundak Zaki kemudian terus melangkah menuju ke ruangannya.
"Bos aneh sekali." Gumam Zaki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, rasa bingung menyelimutinya.
Bos yang selama ini dia kenal dengan perangai yang sangat tegas dan kaku tidak mau dibantah ternyata memiliki sisi lain yang membuatnya sebingung ini.
"Kamu pasti bingung dengan Papiku kan Za?"
"Sama Za, aku juga. Biasanya Papi merahasiakan sesuatu kalau tingkahnya aneh begini." Sambung Marryana sebelum Zaki menjawab pertanyaannya.
"Marry maafkan aku karena tidak tahu jika kamu anak bos tempatku bekerja."
"Kenapa jadi sungkan begini sih Za, memangnya kenapa kalau aku anak dari bos kamu?"
"Aku hanya tidak enak saja, takut dikira memanfaatkan situasi ini untuk mempertahankan posisiku di club ini."
"Sudahlah tidak usah dipikirkan, ayo kita pergi ke luar mencari udara segar, bukankah hari ini kita akan menjemput anakmu di sekolah, ayo cepat nanti kita terlambat!"
"Marry... apa maksudnya tadi bos bilang jika dia mengenal Arfan sejak kecil?" Tanya Zaki saat mereka sudah berjalan ke luar.
"Iya Za, Arfan itu teman masa kecilku. Papi pernah membuat Arfan sakit hati. Sudahlah tidak perlu kita bahas lagi. Ayo kita pergi Za!"
Marryana berjalan di depan Zaki, wanita itu begitu menawan baginya bahkan setelah mengetahui jika dirinya sudah memiliki seorang anak sikap Marryana tidak berubah kepadanya.
"Ah Marry kenapa kamu seperti ini?" Pikirnya.
"Za kenapa melamun, ayo cepat!" Marryana menyuruh Zaki agar berjalan lebih cepat.
"Iya Marry aku akan bergegas."
Mereka akan menjemput Steven di sekolah setelah itu akan makan siang bersama, Zaki memang sudah meminta izin kepada Tomi dan Sania untuk membawa Steven hari ini bersamanya.
Mentari baru selesai membereskan tugas-tugasnya, besok dia harus maju untuk bimbingan kembali agar tesisnya bisa segera terselesaikan sebelum anaknya lahir. Sedangkan Arfan baru selesai mengecek email yang masuk dari Arman di ruang kerjanya. Mereka memang sangat sibuk akhir-akhir ini.
"Sayang malam nanti aku harus ke club, ada yang perlu diurus sebelum anak-anak bertanding di tingkat nasional."
Mentari mengangguk dan mendekati suaminya, "Apakah aku boleh ikut?" Mentari bergelayut manja di lengan Arfan.
Arfan bermaksud melarang istrinya agar tidak ikut bersamanya karena khawatir jika mereka akan pulang larut malam, hanya saja saat Arfan memandang mata bening milik Mentari membuatnya tidak tega untuk meninggalkannya sendirian di rumah.
"Bagaimana kak, aku boleh ikut ya. Aku mau bertemu kak Sania, Stev dan juga ibu."
"Bukankah kemarin sudah bertemu mereka?"
"Iya tapi kan cuma sebentar, boleh ya kak?"
"Iya boleh deh, tapi kalau pulang larut malam apakah tidak apa-apa?"
"Yey... terimakasih kak, tidak apa-apa kak lagi pula tugasku sudah selesai!" Mentari memeluk Arfan dan menciumi wajah Arfan dengan gemas.
"Mentari kamu memancing yang di bawah sana!"
Pernyataan Arfan tadi sontak membuat Mentari terdiam dan refleks berdiri dari duduknya hendak menyelematkan diri karena jika sudah begini akan berbuntut panjang baginya, namun terlambat Arfan lebih sigap dari Mentari.
"Mau kemana?" Arfan menarik lengan Mentari yang membuat tubuh calon ibu itu terjatuh di pangkuan Arfan.
"A-aku mau memanaskan makanan di dapur kak!" kilahnya terbata.
"Aku yang akan memanaskanmu terlebih dulu sayang, lagi pula anak kita butuh dijenguk Papanya!" bisik Arfan di telinga Mentari yang membuat sekujur tubuhnya meremang.
Arfan mencium bibir Mentari bertubi-tubi dan mengarahkan tangannya ke bagian paling sensitif gadis itu hingga dia menyerah tidak lagi bisa memberontak karena sentuhan Arfan membuatnya menginginkan hal yang sama dengan suaminya.
Arfan mengangkat tubuh Mentari dan membawanya ke atas ranjang, pergulatan panas diantara mereka pun terjadi hingga banjir peluh di sore hari.
Arfan sudah rapi ketika Mentari terbangun, "Kak mau kemana, kok sudah rapi saja?" Mentari seolah tidak mengingat rencana mereka malam ini.
Arfan mendekati istrinya dan duduk di tepi ranjang, "Mandi dulu gih, aku tunggu di bawah!"
Mentari menyibak selimut dan menutupnya kembali karena baru sadar jika dia belum memakai sehelai benangpun. Dia sangat malu terlihat polos meskipun di depan suaminya sendiri.
"Kenapa harus malu sayang, bukankah aku sudah melihat semuanya bahkan aku sudah menikmatinya?" Arfan tersenyum smirk yang membuat pipi Mentari merona karena malu.
"Ih dasar mesum!" Mentari melempar bantal ke arah Arfan kemudian berlari ke kamar mandi dengan membawa serta selimut untuk menutupi bagian tubuhnya.
Arfan tersenyum menggigit jari bagian tengah jari telunjuknya karena merasa lucu dengan tingkah Mentari yang malah menggemaskan menurutnya.
"Kak Arfan benar-benar, dia mengerjaiku terus!" Mentari menatap dirinya di cermin sambil terus mengomel.
Arfan yang menunggu Mentari di bawah merasa istrinya terlalu lama tidak kunjung muncul juga. Dia kembali ke atas untuk menyuruh istrinya bergegas.
"Sayang mandinya sudah belum? Keburu malam, Tomi sudah menungguku sayang." Arfan mengetuk pintu kamar mandi agar Mentari jangan mandi terlalu lama, namun tidak terdengar jawaban dari dalam.
"Sayang kamu mandi apa pingsan sih kok lama banget?"
Mentari muncul di depan Arfan dengan rambut yang basah dan hanya mengenakan handuk saja untuk menutup tubuhnya, dia terlihat lebih segar setelah mandi, kulit putih bersihnya terpantulkan oleh cahaya lampu membuatnya terlihat begitu bersinar.
Arfan sebenarnya merasa sangat tergoda untuk menarik istrinya kembali ke atas ranjang jika saja dia tidak teringat dengan janjinya kepada Tomi karena waktu pertandingan juga sudah semakin dekat, jadi mereka harus merampungkan persiapan agar jangan sampai ada yang terlewat.
"Kak...!" panggil Mentari yang merasa jika Arfan justru menghalangi jalannya untuk segera berganti pakaian.
Arfan tersadar dari kekagumannya atas Mentari, "Maafkan aku sayang, aku menghalangi jalan kamu." Arfan menggeser tubuhnya agar Mentari bisa lewat untuk berganti pakaian.
Arfan membantu Mentari untuk mengeringkan rambutnya, "Sudah beres!" ucapnya.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju ke club dan tidak sempat untuk makan malam terlebih dahulu tadi, "Nanti kita makan malam di club saja ya, apakah dia tidak sampai kelaparan?" Arfan menunjuk perut Mentari.
"Dia sangat penurut kak, jadi jangan khawatir."
Mentari mencoba meyakinkan Arfan agar jangan terlalu mengkhawatirkan mereka.
Setibanya di club, Arfan langsung menemui Tomi karena sudah ditunggu anak-anak juga. Sedangkan Mentari langsung menemui Ibu Ilyas dan Sania yang masih sibuk di dapur mempersiapkan makan malam untuk anak-anak.
"Ada yang bisa aku bantu?"
Mentari mengagetkan Ibu Ilyas dan Sania karena tiba-tiba muncul.
"Ya ampun Mentari kamu membuat kami kaget saja!" Sania menyambut Mentari dengan senang hati.
Mentari kemudian membantu mereka memasak makan malam dan menata makanan di atas meja makan.
"Kak Sania dimana Stev kok tidak kelihatan, apa dia sedang belajar?" Mentari mencari-cari Steven yang biasanya akan langsung mengajak dirinya bermain begitu melihat dia datang ke club.
"Dia hari ini pergi bersama Zaki, tapi sudah malam begini belum pulang juga."
"Apakah kakak sudah menelfonnya?"
"Sudah tapi katanya mereka baru saja ke luar dari pusat perbelanjaan, sepertinya sedang dalam perjalanan pulang."
"Ayo kita panggil anak-anak dulu buat makan malam sambil menunggu Stev datang." Sania menuju ke ruang rapat untuk memberitahukan jika makan malam sudah siap.
Arfan dan Tomi menghentikan rapat mereka sementara karena anak-anak harus makan malam terlebih dahulu.
Selesai makan malam mereka kembali ke ruang rapat, sedangkan Sania dan Mentari masih menunggu Steven pulang.
Tidak seberapa lama, terdengar bunyi mesin kendaraan yang memasuki halaman club. Sania menyongsong kedatangan Steven di pintu depan bersama Mentari.
Sania dan Mentari dibuat kaget karena Marryana ada bersama Zaki dan Steven.
"Mama aku dibelikan banyak mainan sama Papa Zaki," Steven melapor kepada Mamanya.
"Wah benarkah, bilang apa sama Papa?"
"Terimakasih Pa?"
"Sama-sama Stev," jawab Zaki.
"Stev kamu masuk dulu terus bersih-bersih ya, jangan lupa cepat bobo karena besok harus sekolah!" Sania menyuruh Steven untuk masuk dan mengurus dirinya sendiri yang diangguki oleh anak kecil itu.
"Mentari kamu di sini juga?" Marryana bertanya kepada Mentari.
"Iya kak, aku menemani kak Arfan yang sedang rapat di dalam."
"Mari silakan masuk dulu, kita ngobrol di dalam!" Sania mempersilakan mereka masuk, ini untuk pertama kalinya Marryana berkunjung ke club milik Arfan. Memang tidak sebesar dan semegah club milik Papinya tapi bagi Marryana dia sangat bangga terhadap Arfan yang sudah mampu membangun clubnya sendiri di usianya yang masih tergolong muda dan sudah berhasil meraih beberapa gelar kejuaraan.
Arfan ke luar dari ruang rapat bersama Tomi dan melihat ada Zaki dan juga Marryana duduk di ruang tamu club mereka.
"Kalian ada di sini?"
"Aku mengantar Stev, hari ini dia bersamaku Fan!"
"Aku pergi bersama mereka Fan!" tambah Marryana.
Di dalam hati Arfan merasa senang karena Marryana sudah tidak lagi menganggu hidupnya seperti tempo hari saat pertama kali dia kembali dari luar negeri. Hanya saja dia juga merasa khawatir jika apa yang terjadi pada Sania terjadi juga pada Marryana. Dalam hal ini bukan berarti Arfan menginginkan Marryana tapi dia merasa perduli dengan wanita itu, bagaimanapun juga mereka tetap berteman baik.
Zaki sepertinya menangkap nada khawatir dari raut muka Arfan, air mukanya mengisyaratkan masih ada keraguan terhadap Zaki meskipun Zaki sudah banyak berubah.
"Jangan khawatirkan Marry Fan, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Lagi pula kami hanya berteman biasa." Bisik Zaki saat menjabat tangan Arfan dan berpelukan dengannya.