
Mentari tiba di stasiun kota Z sekitar pukul lima pagi, tubuhnya terasa pegal-pegal karena berada di kereta semalaman, meskipun bisa beristirahat dengan memejamkan matanya namun nyatanya telinga dan otaknya bahkan masih bekerja dengan aktif sehingga hari ini merupakan hari dengan definisi lelah yang sesungguhnya.
Mentari berjalan keluar dari stasiun untuk mencari taksi menuju ke asrama dan siapa sangka ada Ilyas dengan senyum terbaiknya menyambut Mentari sepagi buta begini, Mentari bahkan tidak tahu jika Ilyas akan menjemputnya.
"Yas kenapa kau disini?" Tanya Mentari.
"Aku sengaja datang untuk menjemputmu, kau pasti lelah, ayo aku antar ke asrama supaya kau bisa istirahat terlebih dahulu,"
Mentari mengikuti langkah Ilyas masuk ke dalam mobil, Mentari tidak enak hati jika menolak Ilyas yang sudah mau menjemputnya pagi-pagi begini.
Acara demonstrasi hasil penelitian mereka dijadwalkan pukul tiga belas siang nanti sehingga Mentari bisa beristirahat sejenak untuk sekedar melepaskan rasa ngantuknya, Mentari tentu tidak ingin mengecewakan Pak Reza pembimbing mereka dan juga teman-teman kelompoknya yang selama ini sudah berjuang dan melewati banyak rintangan dan kesulitan bersama. Sehingga selelah apapun dia akan berjuang bersama mereka hingga akhir.
"Kau kenapa keluar kota tidak cerita kepadaku Tari?" Tanya Ilyas memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta diantara mereka, padahal sebelumnya Mentari akan sangat cerewet, mungkin karena saat ini dia sedang lelah atau alasan lain karena Ilyas pernah menyatakan perasaannya secara terang-terangan terhadapnya.
"Aku mendadak perginya Yas,"
"Apa karena pamanmu itu?"
"Paman yang mana Yas?"
"Oh berarti bukan ya, pemuda itu bukankah pamanmu?"
"Emmm Yas...sudah dekat asrama, sebaiknya aku turun disini saja ya, tidak enak pagi-pagi diantar laki-laki begini," Mentari mencoba mengalihkan pertanyaan Ilyas.
"Baiklah kalau itu mau kamu Tar," Ilyas menghentikan laju mobil yang dikendarainya.
"Aku turun dulu ya, terimakasih sudah mengantarku, maaf jadi merepotkan. Sampai jumpa nanti siang ya Yas," Mentari bergegas turun dari dalam mobil, melangkah menuju asrama yang masih sekitar lima puluh meter di depan sana.
"Baiklah Tari, akan aku tunggu seberapa kuat kalian bertahan dalam hubungan berbeda usia yang kalian jalani saat ini," ucap Ilyas pada dirinya sendiri, Ilyas memukul setir mobilnya, merasa dirinya telah kalah dengan laki-laki yang Ilyas anggap tua dan tidak pantas bersama Mentari sebab laki-laki itu pantas disebut paman oleh Mentari dan dirinya, tapi laki-laki itu bahkan mampu membuat Mentari harus pergi sejauh itu untuk mengikuti langkahnya.
Ilyas memutar balik mobilnya menuju ke asrama putra, sedangkan Mentari telah berada di dalam asrama bersama dengan Siska. Mentari akan tidur sejenak sebelum mempersiapkan dirinya untuk demonstrasi nanti siang. Dalam sekejap Mentari telah terpulas, Siska menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Mentari yang dia ajak berbicara namun tidak merespon ternyata sudah masuk ke dalam alam mimpi.
"Kau pasti lelah Mentari," Siska menyelimuti tubuh Mentari dan bergegas keluar dari kamar untuk mencari sarapan untuk dirinya dan juga Mentari jika nanti dia sudah bangun.
Sementara itu, Arfan yang sudah membaik dari demamnya semalam sedang bersama timnya dan masih berada di Banjarnegara hari ini untuk menyelesaikan kegiatan terakhir mereka. Namun, acara hari ini berjalan lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan.
Arfan mencoba menghubungi Mentari kecilnya berkali-kali dan tidak ada respon sama sekali dari gadis itu, Mentari juga sepertinya lupa dengan pesan Arfan kepadanya untuk memberikan kabar ketika sudah sampai di kota Z. Tentu saja Mentari lupa sebab dia berniat akan menghubungi Arfan setelah naik taksi, namun siapa sangka justru Ilyas yang menjemputnya pagi tadi.
Arfan memutuskan untuk membawa timnya pulang sore ini juga, padahal sesuai rencana esok hari mereka baru akan kembali. Tomi setuju dengan keputusan Arfan karena memang lusa beberapa diantara mereka sudah harus kembali ke sekolah dan juga kampus seperti biasanya, sehingga besok mereka masih bisa beristirahat sehari di club.
Arfan memutuskan pulang lebih dulu siang ini dengan menggunakan pesawat karena dia khawatir terjadi sesuatu dengan Mentari karena dialah yang paling bertanggungjawab akan hal ini, sebab dialah yang membuat Mentari harus berangkat dan pulang sendirian dengan perjalanan yang cukup jauh.
"Tom titip anak-anak ya, aku duluan."
"Tenang saja Fan, mereka urusanku kau kejarlah cintamu!" Tomi menertawakan Arfan yang sudah memasang muka masamnya.
"Ingat jangan bikin masalah lagi dengan Zaky disini!" pesan Arfan kepada Tomi.
Tomi hanya tersenyum getir mengingat masalahnya dengan Zaky, "Percaya saja kepadaku Fan, kau pergilah!"
Arfan berniat untuk pergi namun ada Mona yang mendekat ke arahnya, "Fan kau mau kemana, bukankah jadwal kepulangan kalian esok hari?"
"Bukan urusanmu Mona, urusanku disini sudah selesai!" jawab ketus Arfan.
"Aku tidak tertarik!" Arfan bergegas pergi meninggalkan Mona dan Tomi yang justru menertawakan Mona yang tadi menggeliat-liat menggoda Arfan seperti ulat bulu kegatelan tapi sayang Arfan malah mengacuhkannya.
"Bisa berhenti tidak!" ucap sadis Mona.
"Oh ya maaf...maaf, aku permisi!" Tomi meninggalkan Mona yang sepertinya sangat kesal.
'Percumah aku menyusun rencana dan membuat acara selesai lebih cepat kalau ujung-ujungnya dia malah pergi duluan! Awas kau Mentari, kau yang sudah membuat Arfan mengabaikanku!' batin Mona mengumpat dan memaki-maki Mentari, padahal Mentari dalam hal ini sama sekali tidaklah bisa dipersalahkan.
Mona mengacak-acak rambutnya dan menhentak-hentakan kakinya di lantai. Mona sebenarnya sudah menyusun rencana untuk membawa semua yang mengikuti kegiatan di Banjarnegara ini untuk bersenang-senang menurut versinya, setelah itu dia akan menjebak Arfan agar masuk ke dalam pelukannya, namun semua itu harus gagal karena Arfan memutuskan untuk kembali lebih dulu.
Padahal Mona sudah mengeluarkan banyak uang untuk rencananya tersebut sebab acara yang dia buat diluar agenda kegiatan mereka, sehingga di luar budget yang telah dianggarkan.
"Arfan pasti aku akan mendapatkanmu, jangan harap bisa lolos begitu saja dariku!" ucap geram Mona pada dirinya sendiri, jangan tanyakan bagaimana muka Mona saat ini yang lebih tepatnya mirip seperti lahar panas yang keluar dari letusan gunung berapi.
Arfan sudah tiba di kota Z sekitar pukul empat sore, begitu pula dengan Mentari yang sudah menyelesaikan demonstrasi penelitiannya dengan sangat memuaskan, banyak yang memuji hasil penelitian kelompok Mentari.
Kini banyak diantara orang-orang yang menyaksikan bagaimana tadi mereka melakukan demonstrasi meminta tanda tangan atau sekedar meminta foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Mentari sangat sibuk melayani para fans dadakan mereka hingga tidak sadar jika Arfan sudah berada di depannya. Mentari menandatangani sebuah note yang disodorkan kepadanya tanpa mengetahui jika Arfan lah orang yang menyodorkan note itu.
"Siapa yang mengizinkanmu memenuhi permintaan mereka untuk berfoto bersama dan memberikan tanda tangan?" Suara megnetis Arfan membuat Mentari terlonjak kaget sekaligus senang karena tidak menyangka jika Arfan sudah berada di kota Z hari ini.
Mentari reflek bangun dari tempat duduknya sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, rasa bahagia seketika membuncah di dalam dadanya. Wajah berbinar Mentari ketika melihat Arfan berbeda saat memandang Ilyas atau yang lainnya, kentara sekali jika Mentari mencintai pemuda di depannya itu dari relung hati terdalamnya dan Ilyas yang melihatnya sadar akan hal itu.
"Apakah kau merindukanku Mentari kecil?" tanya Arfan dengan senyumnya.
Siska yang berada di dekat Mentari menyenggol siku gadis itu agar segera sadar dari kekagumannya terhadap pemuda berbeda usia tersebut yang kini berada di hadapannya.
Mentari menggaruk wajahnya yang tidak gatal merasa kikuk dengan pertanyaan Arfan.
"Apakah mau makan malam bersamaku?" sambung Arfan.
Mentari memandang ke arah Siska yang justru memberikan kode agar Mentari menerima ajakan Arfan.
Mentari mengangguk, "Iya aku mau," jawab Mentari malu-malu.
"Tapi aku harus izin dulu dengan Pak Reza,"
Kebetulan disaat itu Pak Reza mendekat ke arah mereka, "Hai Fan lama tidak berjumpa, kau semakin tampan saja," Pak Reza berkelakar.
"Apa ada mahasiswiku yang menarik perhatianmu?" Goda Pak Reza, sedangkan Mentari merasa was-was karena Pak Reza sudah melirik ke arahnya.
"Apa kabar Za?" Arfan merangkul pundak Reza sehingga menambah keakraban diantara mereka.
"Aku baik Fan," Pak Reza melihat jam tangan dibalik kemejanya.
"Jaga mahasiswiku baik-baik ya. Aku pamit dulu karena ada urusan yang tidak bisa ditunda, jika ada waktu lain kali kita minum kopi bersama," Pak Reza pergi meninggalkan mereka semua.
Siska juga pamit bersama Ilyas dan yang lainnya, kini tinggal Mentari dan Arfan saja yang masih ada di tempat itu.
"Ayo!" ajak Arfan agar Mentari segera meninggalkan tempat itu.