
Arfan memasuki ruang Dekan, dia berjalan dengan sangat tenang dari sejak memasuki kampus. Aura dinginnya menguar mengisi ruangan. Di tempat itu sudah ada tiga orang yang akan berjumpa dengannya hari ini.
Diantaranya ketiga orang itu ada Ketua Program Studi, Ketua Jurusan dan Dekan Fakultas Keolahragaan universitas Z.
"Silakan duduk!" perintah Kepala Jurusan tempat Arfan mengabdikan ilmunya.
Arfan duduk menghadap ke arah Dekan yang tampak sangar memandangnya tanpa tersenyum sedikitpun.
"Sebelumnya kami mohon maaf pak Arfan atas ketidaknyamanan ini, tapi demi kebaikan bersama kami ingin meminta penjelasan dari anda sebelum semuanya terlanjur meluas."
"Kami juga tidak mau mahasiswa di sini merasa terbebani karena ulah anda yang tidak patut di contoh oleh mereka."
Arfan masih terdiam mendengarkan semua ucapan yang terdengar memusuhi dirinya tanpa tahu alasan apa yang mendasari kenapa dia sampai melakukan hal tersebut.
"Anda ini seorang pendidik, seharusnya bukan otot yang anda ke depankan melainkan otak dan akhlak yang terpuji."
Semua orang di ruangan itu terdiam, hanya bunyi detak jam dinding yang memberikan harmoni di dalam suasana yang cukup menegangkan.
"Mohon izin apakah saya boleh berbicara pak," Arfan menjeda kalimatnya di tengah keheningan yang tercipta dan memandang satu persatu orang yang ada dihadapannya.
Ketiga orang itu hanya mengangguk, "Saya tidak meminta simpati ataupun perhatian dari semua yang ada di sini atau siapapun yang ada di luaran sana tetapi silakan dinilai apakah apa yang saya lakukan salah ataukah benar menurut bapak-bapak yang tentunya masih memiliki hati nurani dan juga intuisi untuk membedakan mana sebuah kesalahan dan kebenaran!" Arfan berbicara sangat lantang.
Arfan menceritakan semua yang terjadi malam itu tanpa terlewat satu bagianpun. Sementara itu Mentari yang sedang berada di kelas sama sekali tidak dapat berkonsentrasi terhadap materi yang disampaikan oleh dosen yang sedang memberikan kuliah di kelasnya. Pikirannya melayang sangat jauh, dia sangat khawatir jika Arfan berada dalam kesulitan.
"Mentari kau dipanggil bu Mia!" Siska yang duduk di samping Mentari berbisik.
Mentari baru tersadar dari lamunannya ketika Siska menggoyang bahunya, "Ada apa Sis?"
"Mentari tolong jelaskan ini kepada teman-temanmu, ibu lihat kamu sama sekali tidak berkonsentrasi hari ini!" perintah bu Mia.
Mentari maju ke depan, teman-teman sekelasnya menatap tajam dirinya. Ada yang memberikan dukungan ada pula yang justru mengejeknya.
Mentari mulai menjelaskan materi yang dosennya pinta, dia melihat sekilas buku yang ada di meja dosen kemudian mulai menjelaskan kepada teman-temannya mengenai konsep yang sedang mereka pelajari. Mentari menjelaskan dengan caranya sendiri tanpa terpaku dengan buku.
Bu Mia tersenyum puas, begitu pula dengan semua teman-temannya yang justru lebih paham dengan penjelasan Mentari dibanding penjelasan bu Mia dosen mereka.
"Bagus Mentari kamu boleh duduk," bu Mia memuji Mentari di depan teman-temannya, sehingga yang tadi sempat meragukan Mentari jadi menciut nyali mereka karena Mentari memiliki kelebihan yang tidak mereka miliki.
Arfan baru saja selesai menjelaskan apa yang perlu dia jelaskan, "Kami memahami situasi anda pak Arfan, kami juga menilai apa yang anda lakukan itu benar menurut versi kami. Tetapi menurut versi hukum kami tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan dukungan kepada anda."
"Terimakasih pak," ucap Arfan.
Pak Dekan memberikan sebuah amplop yang masih tersegel rapi kepada Arfan kemudian menghela nafasnya, "Kami memutuskan tidak akan mengeluarkan anda dari kampus ini, tetapi kami memberikan tenggat waktu kepada anda untuk menyelesaikan semua permasalahan anda sebelum kembali lagi mengajar."
"Baik pak akan saya selesaikan segera permasalahan ini!" jawab tegas Arfan setelah membaca isi dalam amplop yang pak Dekan berikan kepadanya.
"Pak Arfan jika anda memerlukan bantuan silakan anda bisa menghubungi orang yang ada di dalam kartu nama ini!" pak Dekan yang tadi bermuka masam kini sudah terlihat sedikit lebih ramah.
"Kami rasa semua sudah selesai, jadi kami permisi dulu!" sambungnya.
"Sebentar pak, anda lihat ini semua berita di internet sudah menghilang seluruhnya bahkan diberitakan bahwa semua surat kabar yang memberitakan pak Arfan telah menarik semua berita mereka." Ketua Program Studi memperlihatkan berita yang baru saja dia akses melalui ponselnya.
"Benarkah?"
"Kalau begitu itu lebih baik."
"Pak Arfan sekali lagi maafkan kami, dukungan kami akan selalu ada untuk anda. Kami permisi."
Ketiga orang itu meninggalkan ruangan, kini tinggalah Arfan di sana sendirian. Arfan mengambil kartu nama yang tergeletak di meja.
"Firma Hukum Akbar Group." Baca Arfan pada tulisan yang tertera di kartu nama itu.
Arfan menyimpan kartu nama itu kemudian ke luar dari ruangan. Dia tidak mengajar mulai hari ini sampai dengan permasalahannya terselesaikan. Kelas yang menjadi tanggungjawabnya sudah dilimpahkan oleh pak Dekan kepada rekan Arfan yang lain.
Di luar ternyata Mentari tengah menunggunya, Mentari duduk di tangga menunggu Arfan turun. Gadis itu termangu dengan gelisah. Setelah menyelesaikan kuliahnya dia bergegas menuju ke tempat Arfan. Senyum cerah menghiasi wajah cantiknya ketika melihat orang yang dia tunggu menuruni anak tangga.
"Mentari kau di sini?" Arfan setengah berlari menghampiri Mentari.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu kak," Mentari berkaca-kaca memeluk Arfan.
"Ada apa denganku? Lihat bukankah aku baik-baik saja?" Arfan merentangkan kedua tangannya untuk menunjukkan tidak ada yang kurang suatu apapun pada dirinya.
"Aku tahu kamu sedang dalam masalah besar kak, aku sudah tahu semuanya jadi jangan berpura-pura lagi kepadaku." Mentari terisak di dada Arfan.
"Mentari ayo kita ke rumah nenek, aku harus berbicara pada nenek."
Mereka tiba di rumah nenek Wijaya, "Akhirnya kalian datang juga, nenek sudah menunggu kalian sejak tadi."
"Ayo kalian duduklah!" perintah nenek Wijaya.
"Ada apa nenek memanggilku hari ini?" Tanya Arfan pada neneknya.
"Kamu anggap apa nenek kamu ini hah? Kamu punya masalah tapi tidak pernah mau berbagi pada nenek."
"Nek maafkan kak Arfan ya, mungkin dia tidak ingin merepotkan nenek." Mentari mencoba memberikan pengertian.
Nenek Wijaya mengusap punggung tangan Mentari yang menggenggam tangannya erat memohon pengertian dari dirinya.
Mentari paham suasana hati Arfan saat ini, tadi di perjalanan Arfan lebih banyak diam dan fokus pada jalan ketimbang berbincang dengannya seperti biasanya. Tampak jelas jika Arfan memiliki beban pikiran yang cukup berat.
"Aku ke atas dulu!" Arfan bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Mentari dan nenek Wijaya.
"Mentari kau lihat dia kan, selalu saja seperti itu." Nenek Wijaya tampak sedih bercampur kesal dengan sikap Arfan yang sebenarnya tidak ingin membebani nenek dengan permasalahannya.
"Jangan terlalu dipikirkan ya nek, sebab nenek harus menjaga kesehatan dan tidak boleh stres. Bukankah nenek ingin melihat cicit dari kami?" Mentari berusaha mengalihkan pembicaraan mereka agar nenek tidak terlalu sedih dengan sikap Arfan.
"Tentu saja Mentari sayang, nenek ingin menimang cicit yang lucu-lucu dari kalian."
"Do'a nenek pasti akan segera terkabul!"
"Benarkah?"
"Tentu saja nek, orangtuaku sudah mengizinkan kami hidup bersama, mereka justru menginginkan agar kami cepat menikah."
"Apakah nenek tidak salah dengar?"
Mentari mengangguk dan tersenyum, nenek Wijaya bangkit dari tempat duduknya kemudian berjingkrak kegirangan sambil berpegangan pada Mentari.
"Wijaya hati-hati dengan punggungmu!" kakek Mahmud yang baru selesai menunaikan ibadahnya memberi peringatan kepada nenek.
"Aku sangat bahagia Mahmud, cucuku akan segera menikah!"
Mentari berhasil membuat suasana di rumah itu kembali mencair, Arfan yang melihat pemandangan itu dari lantai atas tersenyum senang, ternyata dengan keceriaan Mentari mampu memberikan warna tersendiri di rumah neneknya yang sudah lama membeku.
"Aku memang tidak salah memilihmu Mentari, nenek sangat menyukaimu. Paling tidak aku bisa sedikit lega karena bisa membuat nenek tersenyum bahagia." Ucap Arfan lirih kemudian memasuki kamarnya.
Di dalam kamar, Arfan mengambil kartu nama yang dia selipkan di balik saku jasnya. Arfan teringat akan panggilan pemeriksaan yang dia terima tadi siang dari pihak kampus karena keluarga Ilyas membuat laporan yang menyebabkan Arfan harus memenuhi panggilan dari penyidik.
Arfan berpikir meskipun dirinya ada di pihak yang benar, tetap saja dia butuh seorang pengacara untuk menangani kasusnya.
Arfan menekan satu persatu nomor yang tertera pada kartu nama tersebut kemudian menekan tombol hijau untuk menghubungi pemilik nomor itu.
"Hallo...," sapa seseorang dari seberang telfon begitu telfon tersambung.