
Hari terus berganti kini putra pertama Arfan dan Mentari sudah berusia satu tahun, dia tumbuh dengan cepat dan menjadi anak yang tampan lagi menggemaskan.
Anak laki-laki yang Arfan beri nama Arshaka Dian Wijaya ini memberikan warna baru dalam kehidupan mereka. Arfan yang setiap hari mengurus perusahaan akan selalu pulang ketika jam makan siang karena dia merindukan putranya.
Mentari fokus mengurus Arshaka sendiri, dia tidak ingin anaknya diurus oleh orang lain sehingga Mentari memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja, meskipun dia berkali-kali mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen di Universitas Z atau tawaran menjadi guru di sekolah.
"Mentari apa tidak sebaiknya kau mengambil tawaran itu sebagai sebuah pengalaman?" Tanya Arfan disuatu malam ketika mereka sedang bersantai karena Arshaka sudah tertidur pulas.
"Aku yakin Kakak dapat memberikanku segalanya, jadi tanpa aku bekerjapun segala kebutuhanku dan Arshaka juga pasti akan terpenuhi. Sedangkan Arshaka akan cepat sekali tumbuh besar, aku tidak ingin melewatkan masa-masa Arshaka kecil seperti ini barang sedetikpun Kak, jadi aku hanya ingin di rumah."
Arfan tersenyum dan mengecup kening istrinya, "Aku bangga terhadapmu sayang, kau tidak pernah tinggi hati karena gelarmu. Kau lebih memilih untuk menjadi Ibu bagi Arshaka dengan mengurusnya sepenuh hati."
"Sekarang sebaiknya kita tidur, mengurus Arshaka tentu bukan hal yang mudah jadi ratuku harus tetap sehat dengan beristirahat yang cukup."
"Oh ya Kak, ada undangan untuk kita dari Siska."
Mentari menyodorkan sebuah undangan pernikahan kepada suaminya, "Ini Kak bacalah!"
Arfan membuka undangan itu, "Arman memang serius dengan Siska sejak awal."
"Bagus dong Kak, bukankah laki-laki yang baik seperti itu fokus pada satu wanita."
"Bukankah aku juga begitu?" Tanya Arfan penuh selidik.
"Mana ada Kak, dulu Kakak bahkan sepertinya sangat membenciku."
"Karena aku belum mengenalmu saja sayang, dah ah aku jadi malu kalau sekarang jadi sebucin ini sama kamu."
"Ini juga ada undangan dari Zaki!" Arfan memberikan undangan itu kepada Mentari.
"Wah sepertinya mereka menikahnya janjian."
"Mungkin mau balapan bikin anak kali." Arfan berseloroh.
"Kakak ini pikirannya kemana-mana." Jawab Mentari kesal dengan jawaban suaminya yang justru terlihat sangat santai.
"Kalau begitu kita saja yuk bikin adik buat Arshaka." Arfan menaik-turunkan alisnya dengan genit.
"Kakak iiihhhh...,"
"Katanya aku harus beristirahat dengan cukup?"
"Tanggung sayang, kamu membuatku tergoda."
"Lah aku tidak melakukan apapun Kak!"
Arfan tidak lagi mendengarkan ucapan istrinya dan langsung menyambar bibir istrinya itu, dia sedari tadi sudah menunggu kesempatan sampai Arshaka tertidur agar jangan sampai menganggu mereka berdua. Namun, sangat disayangkan ketika Arfan sudah dengan hasratnya sampai ke ubun-ubun, tangis Arshaka membuat keduanya harus cepat mengakhiri olahraga malam mereka dengan terpaksa.
Arfan bangkit kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya menggunakan air dingin. Arfan harus berusaha keras menurunkan suhunya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan Arshaka yang terbangun sebab anak itu memang masih harus sering-sering berada dekat dengan Ibunya.
Mentari bergegas mengambil Arshaka untuk dia nina bobokan kembali. Mentari paham jika suaminya kecewa karena tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Tidak seberapa lama Arshaka kembali terlelap dengan sangat damai.
"Bobo yang nyenyak ya sayang, Mama mau menjinakan Papamu dulu. Jika tidak nanti pasti akan uring-uringan sepanjang malam." Tutur Mentari kepada putranya yang gembul menggemaskan.
Arshaka menggeliat, seolah paham dengan permintaan Mamanya agar dia tidak mengganggu dulu.
"Kak... Apakah baik-baik saja?" Mentari mengetuk pintu kamar mandi, Mentari sangat khawatir karena Arfan sejak Arshaka terbangun tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
Arfan membuka pintu kamar mandi dengan rambut basah kuyup, Arfan justru menarik tangan Mentari agar masuk ke dalam.
"Eiiits Kak... Ada apa ini?"
"Kita lakukan disini saja sayang, aku butuh kamu untuk menjinakan yang di bawah."
Mentari menarik nafasnya, "Baiklah Kak!" Mentari tidak mungkin menolak suaminya itu, justru dia merasa kasihan jika keinginan suaminya itu tidak terpenuhi.
Selesai dengan ritual mereka, keduanya langsung mandi bersama dan keluar dengan tubuh yang sudah segar. Mereka melihat Arshaka masih terlelap dengan damai.
"Kau hampir saja membuat Papa uring-uringan semalaman sayang." Arfan berbicara sendiri dengan Arshaka yang tertidur.
"Jangan salahkan dia Kak."
"Aku tidak menyalahkannya, aku hanya ingin gantian diperhatikan olehmu saja sayang, masa semuanya untuk Arshaka, akunya kapan?"
"Baiklah bayi besarku, yang penting tidak boleh berebut!"
"Gampang itu," jawab Arfan yang kemudian keluar dari kamar untuk ke dapur mengambil minum.
Kebiasaan Arfan dan Mentari memang banyak berubah semenjak hadirnya Arshaka dalam kehidupan mereka. Arfan memang sangat sibuk mengurus perusahaan, namun setiap akhir pekan dia akan membawa Arshaka ke club, rumah Nenek dan rumah orangtua Mentari secara bergantian. Jika jadwal Arfan sedang padat, maka Nenek atau orangtua Mentari yang akan datang ke rumah untuk bermain dengan Arshaka.
Kesehatan Nenek Wijaya sejak adanya Arshaka semakin membaik, semangatnya tumbuh lagi untuk bisa selalu bahagia agar bisa melihat cicit yang sudah lama dinantikan olehnya tumbuh hingga besar nanti.
"Fan Nenek sangat bahagia, Nenek minta maaf jika selama ini Nenek terlalu keras terhadapmu, tapi semua itu Nenek lakukan demi kebaikanmu. Nenek ingin kamu menjadi orang yang disiplin dan sukses di masa depan."
"Jangan begitu Nek, aku yang seharusnya minta maaf karena belum bisa membalas kebaikan Nenek kepadaku. Jika tidak ada Nenek entah apa yang akan terjadi padaku."
Arfan dan Nenek saling berpelukan sangat lama, saling mengaharu biru dalam perasaan mereka masing-masing.
****
Hari-haripun terus berlalu dan hari ini merupakan hari pernikahan Arman dan Siska digelar setelah sebelumnya seminggu yang lalu mereka menghadiri pernikahan Zaki dan Marryana, kini saatnya keluarga Arfan hadir dalam pernikahan Arman dan Siska.
Keluarga kecil Arfan dengan Arshaka digendongan Mentari datang mengenakan pakaian dengan motif yang senada. Arshaka semakin terlihat menggemaskan dengan balutan baju berwarna biru muda yang semakin membuat kulitnya terlihat putih bersih dan wajahnya yang gembul semakin membuat siapa saja yang melihatnya merasa gemas.
Mentari memeluk haru sahabatnya yang hari ini menikah dengan laki-laki pilihannya.
"Terimakasih Mentari sayang, aku pasti akan hidup bahagia sepertimu."
"Jangan lupa lahirkan anak perempuan ya Sis, biar kita bisa jadi besan." Mentari berseloroh sembari mencubit pipi Siska yang hari ini terlihat sangat cantik.
"Mulai buat saja belum Mentari masa sudah mau melahirkan saja, tapi baiklah biar kita jadi besan." Jawab Siska setuju dengan ucapan Mentari.
Arfan juga memeluk Arman, sahabat sekaligus orang kepercayaannya di perusahaan.
"Selamat ya Man, akhirnya sold out juga."
"Terimakasih Bos, tapi mana hadiahnya?"
"Mau hadiah?"
"Ya maulah, masa enggak!"
"Ambil sendiri, di kantong jasku!"
Arman merogoh kantong jas yang Arfan kenakan dan menemukan dua buah kunci sekaligus.
"Ini maksudnya apa Fan?"
"Yang ini kunci rumah, yang ini kunci mobil. Semua surat-suratnya sudah atas nama kamu bisa langsung diambil di Firma Hukum Akbar Group atau hubungi Ayesh saja untuk mengantarkannya ke kantor."
"Ini beneran?"
"Aku tidak salah dengar ini kan Fan?"
"Kapan aku tidak serius Man?"
Arman kembali memeluk Arfan, hadiah yang Arfan berikan kepadanya sungguh diluar ekspektasinya. Arfan benar-benar orang yang sangat dermawan.
"Terimakasih sekali lagi Fan, aku tidak pernah salah dalam menilai kamu. Semoga kamu selalu bahagia bersama keluarga kecilmu Fan."
"Sama-sama Man, aku juga berterimakasih kepadamu Man dan kau juga aku harap bisa semakin bahagia, jaga Siska dengan baik, jangan sampai kau kecewakan dia."
"Satu lagi, bekerjalah lebih baik lagi karena aku ingin kita bisa sukses bersama."
"Pasti Fan, aku janji."
Arfan dan Mentari turun dari pelaminan karena melihat sudah banyak orang yang mengantri untuk mengucapkan selamat kepada pengantin yang hari ini sedang berbahagia.
Arfan memilih kursi untuk duduk anak dan istrinya sembari menikmati hidangan. Mereka bertemu dengan keluarga Tomi dan anak-anak di club. Arshaka langsung dibawa oleh Dio bermain keluar bersama Steven yang diikuti oleh anak-anak yang lain.
Zaki dan Marryana juga terlihat datang dan menghampiri Arfan dan Tomi yang masih mengobrol bersama tentang club dan banyak hal lain.
Marryana menyalami Sania dan Mentari, "Kalian sudah lama?"
"Sudah lumayan Kak."
"Nanti kita foto bersama ya!" pinta Marryana.
"Baiklah Kak," jawab Mentari.
"Sania bisakah kita menjadi teman baik?" Pinta Marryana.
"Tentu saja Marry, aku bahkan sangat menyukaimu dan bersyukur kaulah yang menjadi Ibu sambung Stev."
"Terimakasih Sania."
"Sania aku juga minta maaf atas semua penderitaan yang aku torehkan dalam hidupmu di masa lalu, aku sungguh menyesal telah melakukannya." Zaki mengulurkan tangannya untuk meminta maaf kepada Sania.
Sania menyambut uluran tangan Zaki dengan tersenyum setelah mendapatkan izin dari Tomi.
"Aku sudah melupakannya Za, jadi sekarang kita keluarga. Kita berempat berkewajiban mendidik dan merawat Steven dengan baik."
"Tentu saja Sa, dengan senang hati. Bukankah begitu Marry?"
Marryana mengangguk tanda setuju dan tersenyum bahagia sebab mereka juga memiliki hak atas Steven.
"Fan aku juga minta maaf kepadamu, atas semua yang sudah aku lakukan hingga kita menjadi musuh."
"Aku sudah memaafkanmu Za."
"Tom aku minta maaf dan terimakasih karena kau sudah menjaga Sania dan Steven disaat aku tidak bisa melakukannya."
"Sudahlah Za, lupakan saja. Aku melakukan semua itu karena aku memang sangat mencintai Sania dengan sepenuh hatiku."
"Kalian memang orang-orang yang sungguh berjiwa besar," puji Zaki.
Arfan, Tomi dan Zaki saling berpelukan. Rasanya sangat melegakan setelah semua bisa kembali normal seperti awal mereka bertemu untuk menjadi sebuah tim yang solid.
Kini mereka naik lagi ke pelaminan untuk berfoto bersama, Steven dan Arshaka juga sudah kembali bersama mereka dan ikut berfoto bersama.
Saat hampir jepret, Mentari tiba-tiba mual membuat Arfan memandang ke arahnya.
"Jangan-jangan Arshaka akan punya adik?"
Mentari membulatkan matanya tidak percaya dengan penuturan suaminya, sehingga foto mereka berdua terlihat sangat lucu dengan Arshaka yang justru tertawa sangat bahagia.
~Tamat~